Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singgasana Kehampaan: Pertemuan Dua Kegelapan
[Bagian 1: Kedalaman Tanpa Cahaya]
Langkah kaki Arkan bergema di lorong yang menuju inti Sektor Aether. Lorong ini bukan terbuat dari batu atau kristal seperti bangunan di atas, melainkan dari material hitam legam yang seolah menyerap segala jenis cahaya. Di sini, hukum fisika Dunia Tengah seolah tidak berlaku. Gravitasi terasa seribu kali lebih berat, namun bagi Arkan yang memiliki Garis Darah Kehampaan, tekanan ini justru terasa seperti pelukan hangat yang menyambut kepulangannya.
Liem-Banyu dan Srikandi-Tan tampak kesulitan. Keringat dingin mengucur dari dahi mereka. "Arkan... tempat ini... energinya terlalu padat. Aku merasa jantungku akan meledak hanya dengan menghirup udaranya," bisik Liem-Banyu sambil menancapkan pedang petirnya ke lantai untuk menopang tubuh.
Arkan berhenti sejenak. Ia melambaikan tangannya, melepaskan sebuah kubah transparan berwarna ungu pekat yang menyelimuti rekan-rekannya. "Tetap di dalam jangkauan Domain Kehampaan-ku. Tempat ini adalah penjara yang dirancang oleh Tujuh Leluhur Planet. Setiap partikel udara di sini dirancang untuk menghancurkan jiwa siapa pun yang tidak memiliki izin."
Cici, yang biasanya lincah melayang, kini hinggap di bahu Arkan. Sayap apinya meredup, berubah menjadi bara kecil yang mencoba bertahan hidup. "Tuan... di depan sana... ada sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang jauh lebih tua dari seluruh peradaban Planet Benih," cicitnya ketakutan.
Arkan menatap lurus ke depan. Di ujung lorong, sebuah pintu raksasa yang terbuat dari Logam Bintang Terkutuk berdiri kokoh. Di permukaan pintu itu, terukir ribuan segel emas yang terus berdenyut, mencoba menahan tekanan dari sisi lain.
[Bagian 2: Suara Dari Masa Lalu]
"Akhirnya... kau datang juga, tunas kecilku..."
Sebuah suara serak, berat, dan dipenuhi dengan otoritas yang tak terbantahkan menggema di dalam kesadaran Arkan. Itu bukan suara fisik, melainkan getaran Dao yang langsung menghantam jiwanya.
Arkan menyipitkan mata. "Kaisar Dark?"
"Itu adalah nama yang diberikan oleh musuh-musuhku. Nama yang mereka gunakan untuk menakuti anak-anak mereka agar patuh. Tapi bagimu... aku adalah asal-usulmu. Aku adalah akhir dari segalanya."
Dengan satu sentuhan telapak tangan Arkan, segel emas di pintu raksasa itu berteriak nyaring. Percikan energi suci mencoba membakar kulit Arkan, namun energi Black Hole miliknya jauh lebih rakus. Arkan menelan segel-segel itu seolah mereka hanyalah camilan kecil.
BRAKK!
Pintu itu terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan yang luasnya tidak masuk akal. Di tengah ruangan, terdapat sebuah singgasana yang melayang di atas kolam cairan hitam pekat. Dan di sana, terikat oleh tujuh rantai cahaya yang menembus jantung, paru-paru, dan anggota tubuhnya, duduklah seorang pria.
Wajahnya mirip dengan Arkan, namun dengan aura yang ribuan kali lebih mengintimidasi. Rambutnya putih panjang, kontras dengan jubah hitamnya yang robek-robek. Meski dirantai, pria itu tetap memancarkan aura seorang penguasa semesta.
[Bagian 3: Rahasia Garis Darah]
"Jadi, ini 'Ayah' yang mereka bicarakan?" Arkan berjalan mendekat, mengabaikan teriakan peringatan dari instingnya. "Seorang dewa yang jatuh, dirantai seperti binatang oleh kutu-kutu yang menyebut diri mereka Leluhur Planet?"
Pria di singgasana itu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya tidak memiliki pupil, hanya kegelapan abadi yang seolah bisa menelan seluruh galaksi. "Jangan tertipu oleh rantai ini, Arkan. Aku membiarkan mereka merantaiku agar aku bisa mengamati bagaimana dunia ini membusuk tanpa kehadiranku. Dan sekarang, aku melihat hasilnya padamu. Kau adalah mahakaryaku yang paling sempurna."
"Apa maksudmu?" tanya Arkan dingin.
"Dunia Bawah bukan sekadar penjara bagi para pendosa. Dunia Bawah adalah inkubator. Aku membuang sebagian dari esensiku ke sana, menunggu jiwa yang cukup kuat untuk menyatukannya kembali dengan hukum Dao Kehampaan. Kau bukan hanya mewarisi kekuatanku, kau adalah reinkarnasi dari kehendakku yang ingin meratakan langit yang munafik ini!"
Arkan terdiam sejenak. Memorinya tentang masa lalu yang kabur mulai menyatu. Ia ingat rasa sakit saat dibuang, ia ingat dinginnya Dunia Bawah. Ternyata semua itu adalah bagian dari rencana besar makhluk di depannya ini.
[Bagian 4: Pilihan Sang Dao Master]
Tiba-tiba, tujuh rantai cahaya yang mengikat pria itu bersinar terang. Suara raungan Leluhur Planet terdengar dari langit-langit ruangan. "Jangan dengarkan dia, Arkan! Jika kau melepaskannya, seluruh Dunia Tengah akan musnah! Kau akan menjadi penghancur, bukan penyelamat!"
Arkan tertawa kecil, tawa yang penuh dengan penghinaan. Ia menatap ke arah langit-langit, lalu kembali menatap pria di singgasana.
"Menjadi penyelamat?" Arkan mengangkat tangan kanannya, menciptakan bola energi Event Horizon yang sangat stabil. "Aku tidak pernah meminta untuk menjadi penyelamat. Dunia Tengah merampas segalanya dariku, dan sekarang mereka memintaku untuk menyelamatkan mereka?"
Arkan berbalik ke arah teman-temannya. Liem-Banyu dan Srikandi-Tan hanya bisa terpaku. Mereka tahu, pilihan Arkan saat ini akan mengubah peta kekuatan seluruh alam semesta.
"Kaisar Dark... aku tidak akan melepaskanmu karena aku anakmu atau pewarismu," Arkan berkata sambil melangkah maju ke arah rantai pertama. "Aku melepaskanmu karena kau adalah kunci untuk menghancurkan panggung sandiwara ini. Dan setelah panggung ini hancur... hanya akan ada satu penguasa kegelapan. Dan itu adalah aku."
CRAKK!
Arkan menghantamkan tinjunya ke rantai cahaya pertama. Seluruh Sektor Aether berguncang hebat. Gempa kosmik melanda Dunia Tengah, membuat pulau-pulau melayang mulai berjatuhan satu per satu.
[Keraguan di Ambang Kehampaan]
Liem-Banyu terbatuk, darah segar merembes dari sudut bibirnya. Energi di ruangan ini terlalu korosif bagi pengguna elemen petir murni seperti dirinya. Ia menatap punggung Arkan yang tampak semakin asing, seolah-olah sahabat yang selama ini bertarung bersamanya perlahan-lahan sedang ditelan oleh bayangan raksasa di depan mereka.
"Srikandi..." bisik Liem-Banyu, suaranya parau. "Apakah kau merasakannya? Aura Arkan... itu bukan lagi aura manusia yang sedang berkultivasi. Itu adalah haus darah yang murni. Seolah-olah dia adalah lubang hitam yang ingin menelan seluruh Dunia Tengah ini tanpa sisa."
Srikandi-Tan tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang memegang tinju gravitasi gemetar hebat. Matanya yang tajam kini dipenuhi ketakutan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku tahu, Liem. Kekuatan gravitasi di sekitarnya sudah tidak bisa kukendalikan. Ruang di sekitar Arkan sudah hancur. Jika kita melangkah satu senti saja lebih dekat, kita akan terurai menjadi partikel atom."
Srikandi menatap Arkan dengan tatapan memohon. "Arkan! Berhenti! Jangan biarkan kegelapan itu mengambil alih akal sehatmu! Ingat tujuan kita ke sini! Kita ingin kebebasan, bukan kehancuran total!"
Arkan tidak menoleh. Kepalanya tetap tegak menatap pria yang dirantai di singgasana. Namun, suaranya terdengar dingin, melewati bahunya dan menghantam mental kedua rekannya.
"Kebebasan tanpa kekuatan adalah ilusi, Srikandi," jawab Arkan pelan. "Dunia Tengah ini dibangun di atas pondasi kebohongan. Kalian melihat kemewahan pulau-pulau melayang ini, tapi aku melihat jutaan jiwa yang dikorbankan untuk memberi makan 'kristal' yang kalian puja. Jika aku harus menjadi iblis untuk menghancurkan penjara ini, maka biarlah."
Liem-Banyu mengepalkan tinjunya, mencoba bangkit meski tulang-tulangnya terasa seperti diremukkan oleh tekanan gaib. "Tapi bukan dengan cara membangkitkan dia, Arkan! Kaisar Dark adalah alasan kenapa sejarah kuno dihapus! Dia adalah bencana! Jika kau melepaskannya, tidak akan ada tempat bagi kita—bagi manusia biasa—untuk hidup!"
Cici, yang meringkuk di bahu Arkan, tiba-tiba mengeluarkan suara tangisan kecil. Api ungunya bergetar hebat. "Tuan... ada sesuatu yang aneh. Pria di singgasana itu... dia tersenyum. Dia tidak melihat kita sebagai manusia. Dia melihat kita sebagai bahan bakar."
Mendengar itu, Arkan sedikit menghentikan langkahnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini mulai ditumbuhi sisik hitam tipis—tanda bahwa Garis Darah Kehampaan-nya sedang berevolusi menuju tahap yang tidak diketahui manusia.
"Dengarkan mereka, tunas kecilku..." Kaisar Dark tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Teman-temanmu takut. Itu wajar. Domba selalu takut pada serigala, dan serigala selalu takut pada naga. Kau adalah naga di antara para cacing. Apakah kau akan mengorbankan takhta abadimu hanya demi simpati dari makhluk-makhluk lemah ini?"
Arkan menutup matanya sejenak. Di dalam batinnya, terjadi perang hebat. Ia teringat saat-saat ia masih di Dunia Bawah, dikucilkan dan dianggap sampah. Ia teringat janji yang ia buat pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah tunduk lagi pada siapa pun.
"Diamlah," desis Arkan, entah ditujukan pada rekannya atau pada pria di singgasana. "Aku tidak butuh nasihat dari mereka yang dirantai, maupun mereka yang ketakutan. Aku adalah Arkan. Aku adalah penguasa takdirku sendiri."
Arkan menarik napas dalam-dalam. Setiap tarikan napasnya menyedot energi hitam dari kolam di bawah singgasana. Tubuhnya memuai, otot-ototnya mengeras, dan aura di belakangnya membentuk sayap kegelapan yang sangat lebar, menutupi seluruh ruangan.
Tolong bantu like nya ya biar arkan semakin semangat buat update nya🙏