Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suasana di set kembali tegang. Kali ini, mereka harus mengulang adegan klimaks yang kemarin sempat tertunda, sebuah ciuman yang seharusnya penuh dengan rekonsiliasi dan gairah yang tertahan.
Marcus, sang sutradara, memberikan instruksi terakhir dengan penuh semangat, sementara kru teknis memastikan hujan buatan turun dengan ritme yang tepat.
Andreas berdiri di bawah lampu sorot, tampak sangat tenang. Namun, matanya tidak bisa lepas dari Sera. Dia tahu, setelah konfrontasi semalam dan ketegangan dengan Caroline pagi tadi, dinamika di antara mereka telah berubah total.
"Action!"
Hujan buatan mulai mengguyur. Andreas melangkah maju, menangkap pinggang Sera dan menariknya ke dalam dekapan yang erat. Sesuai naskah, dia membisikkan kata-kata permintaan maaf yang dalam.
Sera menatapnya, ada kilatan amarah yang masih tersisa, namun dia melakukan tugasnya sebagai aktris profesional.
Saat bibir mereka bertemu, Andreas memberikan segalanya. Kali ini, tidak ada aroma alkohol. Hanya ada kehangatan yang jujur dan teknik yang sempurna. Dia ingin membuktikan bahwa dia bukan lagi pria pecundang yang dilihat Sera di bar semalam. Untuk beberapa detik, waktu seakan berhenti. Bahkan kru di balik layar menahan napas, chemistry mereka begitu nyata hingga terasa menyakitkan.
"Cut! Brilliant! Itu yang aku cari!" teriak Marcus puas.
Begitu kata "Cut" terdengar, Andreas perlahan melepaskan dekapannya. Dia baru saja akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, mungkin sebuah permintaan maaf yang tulus namun gerakannya terhenti.
Sera tidak memberinya kesempatan.
Dengan wajah yang sangat datar, bahkan cenderung menunjukkan ekspresi jijik, Sera segera memberi kode kepada asisten pribadinya. Sang asisten berlari membawakan sekotak tisu premium.
Tanpa memedulikan Andreas yang masih berdiri hanya beberapa sentimeter di depannya, Sera mengambil selembar tisu.
Srett.
Sera menggosok bibirnya dengan kasar. Sekali. Dua kali. Dia mengambil tisu baru lagi dan menggosoknya berulang-ulang, seolah-olah ada noda hitam yang sangat sulit dihilangkan dari kulitnya. Dia melakukannya dengan gerakan yang begitu berlebihan hingga bibirnya yang merah menjadi sedikit bengkak.
Andreas terpaku. Dia merasa harga dirinya sebagai "pria paling diinginkan di New York" hancur berkeping-keping.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Andreas, suaranya rendah dan penuh ketidakpercayaan.
Sera berhenti menggosok sejenak, menatap tisu yang kini ternoda oleh sisa lipgloss dan sedikit sisa ciuman mereka. Dia menatap mata Andreas dengan dingin.
"Menghilangkan residu," jawab Sera singkat.
"Residu?" Andreas mendengus sinis. "Kau bersikap seolah aku ini virus, Sera."
Sera membuang tisu bekas itu ke tempat sampah kecil yang dibawa asistennya, lalu mengambil tisu baru untuk menekan sudut bibirnya sekali lagi. "Virus itu menyebar lewat kontak fisik, Andreas. Dan setelah melihatmu meracau menjijikkan semalam di bar, aku merasa perlu melakukan dekontaminasi. Aku tidak mau sisa-sisa alkohol atau keputusasaanmu menular padaku."
Para kru yang berada di dekat mereka mendadak pura-pura sibuk. Mereka bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari Andreas. Caroline, yang menonton dari kursi aktornya, menutup mulut dengan tangan, menahan tawa kemenangan melihat Andreas diperlakukan seperti itu oleh "gadis manis" yang dia remehkan.
Andreas mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dia adalah seorang St. Clair; tidak ada wanita yang pernah menghapus ciumannya seolah itu adalah racun.
"Kau benar-benar luar biasa, Vanderbilt," desis Andreas.
"Kemarin kau kaku karena itu ciuman pertamamu, dan sekarang kau bertingkah seolah aku ini kotoran?"
Sera mengangkat bahu dengan elegan, tidak membantah soal fakta ciuman pertama itu, yang membuat Andreas semakin yakin dugaannya benar. "Anggap saja aku sedang belajar melindungi diri. Profesionalitas di depan kamera, privasi di luar kamera. Dan secara pribadi? Bibirmu tetap membuatku mual."
Sera berbalik dan melangkah pergi menuju trailer-nya, meninggalkan Andreas yang berdiri mematung di tengah set yang mulai dibongkar. Kali ini, bukan Sera yang merasa terhina, melainkan Andreas.
Pria itu menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa dingin dari air hujan dan sisa harga diri yang baru saja diinjak-injak oleh seorang gadis yang selama ini dia anggap remeh.
Sera masih menggenggam tisu terakhir di tangannya, siap untuk menggosok bibirnya kembali jika perlu. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu trailer-nya saat matanya menangkap sebuah pemandangan yang sangat tidak kontras dengan kejadian beberapa menit lalu.
Di dekat area katering, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar lima tahun mungkin putri dari salah satu kru lighting sedang berdiri kebingungan sambil memegang boneka kelinci yang telinganya nyaris lepas.
Sera terpaku. Andreas, pria yang baru saja dia hina sebagai "virus" dan "pecundang mabuk", tiba-tiba berlutut di atas tanah berdebu agar tingginya sejajar dengan anak itu.
Tidak ada lagi wajah angkuh. Tidak ada lagi sorot mata tajam yang menghancurkan mental lawan mainnya.
Andreas tersenyum, senyum tulus yang bahkan tidak pernah dia perlihatkan di depan kamera.
"Hei, kelihatannya kelincimu butuh pertolongan medis," suara Andreas terdengar lembut, jauh dari nada baritonnya yang biasanya sarkastik.
Sera memperhatikan dari kejauhan, tersembunyi di balik bayangan tenda. Dia melihat Andreas mengambil sapu tangan sutra dari saku jas mahalnya, sapu tangan yang mungkin seharga gaji bulanan kru biasa, dan dengan telaten mengikat telinga boneka itu agar tidak lepas. Anak kecil itu tertawa, dan Andreas membalasnya dengan binar mata yang hangat, sebuah binar kebapakan yang tampak begitu alami.
Pria itu kemudian mengusap puncak kepala si anak dengan kasih sayang yang jujur, seolah dunia elit New York dan skandal kekasihnya yang menghilang sama sekali tidak ada di sana.
Sera merasakan sesuatu yang aneh berdesir di dadanya. Sebuah perasaan yang lebih sulit dihapus daripada bekas ciuman dengan tisu. Dia selalu menganggap Andreas sebagai pria satu dimensi, aktor hebat, kaya raya, arogan, dan hancur.
Namun, melihat Andreas berinteraksi dengan anak kecil itu merusak seluruh persepsi yang sudah Sera bangun dengan susah payah.
"Ternyata... dia suka anak kecil," bisik Sera dalam hati.
Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap. Dia baru saja mempermalukan pria itu secara terang-terangan di depan semua orang, menyebutnya menjijikkan, padahal pria itu ternyata memiliki sisi lembut yang sangat tersembunyi. Sera teringat bagaimana Andreas semalam meracau karena dikhianati, mungkin keangkuhannya hanyalah benteng besar untuk melindungi hati yang sebenarnya sangat mendambakan ketulusan, seperti ketulusan seorang anak kecil.
Saat Andreas berdiri dan melambaikan tangan pada anak itu yang berlari kembali ke orang tuanya, dia secara tidak sengaja menoleh ke arah trailer.
Matanya bertemu dengan mata Sera yang sedang memperhatikannya.
Sera dengan cepat membuang muka, berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan masuk ke dalam trailer dengan jantung yang berdegup tidak keruan. Dia menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup rapat.
"Sial," umpat Sera pelan.
"Jangan jadi baik sekarang, Andreas. Itu membuatku sulit untuk membencimu."
Suasana di dalam trailer pribadi Andreas terasa seberat timah. Ruangan mewah itu mendadak terasa sempit saat sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Bukan panggilan suara, bukan pula surat penjelasan yang panjang. Hanya sebuah pesan teks singkat yang muncul di layar, namun kekuatannya cukup untuk menghancurkan apa yang tersisa dari harga diri Andreas St. Clair.
"Andreas, jangan cari aku lagi. Kita sudah selesai. Aku sudah menemukan seseorang yang punya waktu untukku, bukan pria yang lebih mencintai naskahnya daripada kekasihnya sendiri. Tolong jangan buat ini jadi sulit. - V"
Andreas menatap layar itu hingga cahaya ponselnya meredup dan mati. Dia tidak berteriak. Dia tidak melempar barang. Dia hanya duduk diam di sofa kulitnya, membiarkan keheningan Long Island menelannya bulat-bulat.
Tangannya yang tadi begitu lembut mengusap kepala anak kecil di set, kini gemetar hebat. Kata "selesai" itu terasa seperti vonis mati bagi egonya. Di luar, dia adalah aktor puncak, pria elit yang dikejar semua orang. Namun di sini, dia hanyalah pria yang dicampakkan melalui pesan singkat saat dia sedang berjuang menjaga profesionalitasnya.
Luka semalam di bar yang sempat dia tutup rapat dengan topeng segar pagi ini, kini menganga kembali. Rasa sesak itu menghimpit dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Tiba-tiba, pintu trailer-nya diketuk pelan. Andreas tidak menjawab. Dia tidak ingin siapa pun melihatnya dalam kondisi ini, terutama bukan Luke atau Nayya yang akan menatapnya dengan rasa kasihan.
Pintu terbuka sedikit. Bukan asistennya yang muncul, melainkan Seraphina.
Sera berdiri di sana, memegang sebuah naskah tambahan. Dia awalnya ingin membahas perubahan dialog untuk adegan besok, namun langkahnya terhenti saat melihat Andreas.
Pria itu menunduk, menyandarkan sikunya di lutut, dengan ponsel yang tergeletak pasrah di lantai.
"Andreas?" panggil Sera lirih. Nada bicaranya tidak lagi tajam atau penuh racun seperti saat dia menghapus bibirnya tadi.
Andreas tidak mendongak. "Pergilah, Sera. Jika kau ke sini hanya untuk menghapus sisa virus dariku, aku sedang tidak punya energi untuk meladeni sindiranmu."
Sera melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Dia melihat ponsel di lantai yang masih menampilkan potongan pesan terakhir. Sebagai sesama kalangan elit New York, Sera tahu siapa "V" dan bagaimana kejamnya dunia romansa di lingkaran mereka.
Dia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di seberang Andreas. Dia melihat bahu pria itu naik turun, mencoba menahan emosi yang meluap.
"Dia tidak pantas mendapatkan air matamu, jika itu yang sedang kau lakukan," ucap Sera pelan.
Andreas akhirnya mendongak. Matanya yang biasanya penuh otoritas kini tampak kosong dan hancur.
"Dia memutuskanku lewat pesan teks, Sera. Setelah tiga tahun. Dia bahkan tidak punya nyali untuk melihat mataku."
Andreas tertawa getir, tawa yang membuat hati Sera mencelos. "Kau benar semalam. Aku memalukan. Aku adalah tontonan bagi seluruh New York."
Sera menatap Andreas lama. Dia teringat bagaimana Andreas tertawa bersama anak kecil tadi, betapa tulusnya pria itu saat tidak ada kamera yang menyorot. Rasa benci yang dia pupuk sejak tadi pagi seolah luruh begitu saja.
"Kau bukan tontonan, Andreas," Sera mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh lengan Andreas dengan lembut.
"Kau hanya mencintai orang yang salah dengan cara yang terlalu benar. Dan jika dia tidak bisa melihat itu... maka dialah yang amatir, bukan kau."
Andreas tertegun merasakan sentuhan hangat Sera. Itu adalah kontak fisik pertama mereka di luar skenario yang tidak diakhiri dengan tisu atau penghinaan. Di dalam trailer yang sunyi itu, sang aktor puncak dan sang aktris baru menyadari satu hal, di balik semua kemewahan New York, mereka berdua hanyalah jiwa yang sama-sama kesepian.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰