Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
Tujuh hari sebelum Ujian Nasional dimulai, suasana di Blok 4 terasa lebih pengap dari biasanya. Bukan karena polusi, melainkan karena keheningan yang dipaksakan. Di rumah-rumah sempit itu, orang tua mulai merendahkan suara televisi agar anak-anak mereka bisa belajar. Namun, bagi Senara, kebisingan dunia luar tidak pernah benar-benar menjadi masalah. Masalah terbesarnya adalah rasa lelah yang mulai menggerogoti konsentrasinya.
Senara duduk di meja belajarnya, dikelilingi oleh tumpukan buku latihan soal yang sudah ia kerjakan hingga tiga kali. Meskipun ia sudah memegang "Undangan Emas" dari SMA Garuda, Senara tidak mengizinkan dirinya untuk bersantai sedikit pun. Baginya, menyerah pada rasa malas sekarang berarti mengkhianati seluruh perjuangannya sejak kelas satu.
"Nara, makan dulu, Nak. Ibu sudah buatkan telur dadar," suara ibunya terdengar lembut dari balik pintu.
Senara mendongak, matanya sedikit memerah karena terlalu lama menatap angka-angka. "Iya, Bu, sebentar lagi Nara selesai."
Senara merogoh saku jaketnya, mengambil robot biru kecil itu. Ia menatap robot itu sejenak, lalu meletakkannya di samping penghapusnya. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, seseorang sedang menghitung mundur. Bukan hari untuk ujian, melainkan untuk sebuah pertemuan terakhir di jenjang SMP ini.
Di SMP Super Internasional, Bima tidak lagi terlihat membawa perangkat detektor atau jam tangan pintar yang dimodifikasi mandiri. Sejak kejadian di gedung Garuda, ia berubah menjadi sosok yang jauh lebih pendiam dan tertutup. Ia mengerjakan soal-soal latihan dengan kecepatan yang menakutkan, namun matanya tidak menunjukkan kepuasan.
Bima sedang melakukan eksperimen baru. Eksperimen Keheningan. Ia ingin melihat apakah dengan menghentikan semua serangan digital dan teknis, Senara akan memberikan celah secara alami.
"Tuan Muda, Anda mengabaikan pesan dari tutor internasional Anda semalam," ujar sopirnya saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Katakan padanya, aku tidak butuh bantuannya lagi, materi UN ini terlalu sederhana jika dibandingkan dengan apa yang sedang kupelajari sekarang," jawab Bima tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatan fisika tingkat lanjut.
Pikiran Bima sebenarnya terbagi, ia sedang menyusun sebuah rencana untuk hari terakhir sekolah sebelum minggu tenang. Ia ingin memberikan sesuatu kepada Senara, sesuatu yang bukan jebakan teknologi, melainkan sebuah ujian psikologis. Ia ingin tahu, apakah Senara yang polos ini benar-benar tidak menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas jurang rahasia yang sama.
Tiga hari sebelum minggu tenang dimulai, sebuah pengumuman mengejutkan datang ke SMP Negeri 12. Pihak sekolah mengumumkan bahwa akan ada "Pertukaran Pelajar Simulasi Akhir" selama satu hari antara SMP 12 dan SMP Super Internasional. Ini adalah program formalitas dari dinas pendidikan untuk menyetarakan standar ujian antara sekolah negeri dan swasta elit.
Senara mengerutkan kening saat mendengar pengumuman itu di lapangan upacara. "Pertukaran pelajar? Di saat seperti ini?"
Maria mendekati Senara dengan wajah cemas. "Nara, sekolah menunjukmu untuk mewakili SMP 12 pergi ke sekolah Super Internasional besok. Hanya satu hari. Mereka ingin kamu melihat fasilitas ujian di sana, sekaligus berbagi metode belajarmu."
Senara menghela napas panjang. Ia tahu ini bukan kebetulan, nama Wijaya pasti ada di balik rencana ini. "Baik, Bu. Saya akan pergi."
Keesokan harinya, Senara melangkah masuk ke gerbang SMP Super Internasional sebagai tamu resmi. Lagi dan lagi, Senara merasa seperti seorang alien yang mendarat di planet asing. Lantai marmer yang mengkilat, pendingin udara di setiap koridor, dan teknologi pengenalan wajah di setiap pintu kelas.
Senara dibawa menuju ruang belajar mandiri di perpustakaan lantai atas. Di sana, Bima sudah menunggunya. Laki-laki itu duduk sendirian di sudut ruangan yang menghadap ke taman yang indah. Tidak ada perangkat elektronik di sekitarnya, hanya tumpukan buku tua.
"Selamat datang kembali di duniaku, Senara," ujar Bima pelan. Suaranya tidak lagi mengandung ejekan, melainkan sebuah nada yang sulit diartikan, seperti rasa hormat yang dipaksakan.
Senara duduk di depan Bima, meletakkan tas lusuhnya di atas meja kaca yang mahal. "Aku tidak datang untuk menikmati fasilitasmu, Bima. Aku datang untuk menyelesaikan tugasku."
"Aku tahu, dan aku juga tidak berencana untuk mengganggumu hari ini," balas Bima. Ia menggeser sebuah buku jurnal riset asli tentang Artificial Intelligence yang masih dalam bahasa Jerman. "Aku hanya ingin kita belajar bersama, sebagai sesama calon siswa Garuda. Tanpa alat, tanpa gangguan."
Senara menatap buku itu, lalu menatap Bima. "Kenapa kamu tiba-tiba berubah, Bima?"
Bima menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit perpustakaan yang megah. "Aku sadar bahwa menyerangmu dengan cara yang biasa tidak akan pernah berhasil. Kamu punya pertahanan yang... unik. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti menyerang. Aku hanya ingin melihat, seberapa jauh kamu bisa melangkah jika aku tidak menjadi penghalangmu."
Selama enam jam berikutnya, mereka belajar dalam keheningan yang sangat intens. Tidak ada satu kata pun yang terucap, namun pena mereka menari di atas kertas dengan irama yang saling bersahutan. Bima memperhatikan cara Senara bekerja, Senara tidak menggunakan kalkulator. Bahkan, untuk perhitungan desimal yang rumit, ia melakukan semuanya di kepala, matanya sedikit bergerak setiap kali ia memproses data.
"Dia benar-benar sebuah prosesor manusia," batin Bima.
Di saku Senara, robot biru itu tetap diam. Namun, Bima menyadari sesuatu. Setiap kali ia mendekatkan tangannya ke arah meja Senara untuk mengambil buku, ia merasakan semacam tarikan statis yang sangat halus di udara. Bukan dari tas Senara, tapi seolah-olah ada perisai yang melindungi gadis itu.
Saat jam menunjukkan pukul empat sore, Senara membereskan barang-barangnya. "Terima kasih atas bukunya, Bima. Teorinya sangat menarik, meski beberapa poinnya terlalu teoritis untuk diterapkan di lapangan."
Bima berdiri, mengantar Senara menuju gerbang. Saat mereka berdiri di depan mobil jemputan sekolah, Bima berkata tanpa menoleh, "Ujian Nasional nanti, mari kita lihat siapa yang akan mendapatkan nilai tertinggi di antara kita. Jika aku menang, kamu harus menjawab satu pertanyaanku dengan jujur."
Senara berhenti, menoleh ke arah Bima dengan sorot mata yang tak gentar. "Dan jika aku yang menang?"
"Maka aku akan berhenti mengikutimu, dan aku akan memberikan akses server pusat Wijaya Tech untuk risetmu di SMA Garuda nanti," jawab Bima dengan taruhan yang sangat besar.
Senara terdiam sejenak. Akses server Wijaya Tech adalah mimpi bagi setiap peneliti. "Setuju."
Senara masuk ke dalam mobil, meninggalkan Bima yang berdiri sendirian di bawah matahari sore. Bima tersenyum tipis. Ia tidak peduli jika ia kehilangan akses servernya. Baginya, satu kejujuran dari mulut Senara jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan ayahnya.
Minggu yang tenang pun dimulai. Kota itu seolah menahan napas. Dua remaja paling jenius di provinsi itu, sedang bersiap untuk pertempuran terakhir mereka di jenjang SMP. Sebuah pertempuran yang akan menentukan siapa yang memegang kendali saat mereka akhirnya menginjakkan kaki di menara gading SMA Garuda Nusantara nanti.