Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Jebakan Malam dan Kamar Tamu
Malam telah melarut di kawasan Dharmawangsa. Setelah makan malam sederhana yang disiapkan Kathryn yang akhirnya terbangun dengan wajah merah padam saat menyadari ia tertidur di bahu Dimas suasana rumah terasa jauh lebih hangat. Paul sudah tampak segar kembali, sementara Sean sudah terlelap di kamarnya sejak satu jam yang lalu.
Dimas melirik jam tangan klasiknya. Sudah pukul sepuluh malam. Ia merasa tidak enak jika harus terus bertamu, apalagi statusnya saat ini di mata mereka adalah seorang dokter yang sedang "sulit" dan tinggal di kos-kosan.
"Paul, Kathryn, sepertinya aku harus pamit sekarang. Besok pagi aku ada jadwal visit pasien lebih awal," ujar Dimas sambil berdiri dan meraih jaketnya.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Mas Dimas. Benar-benar bantuan yang luar biasa," ucap Kathryn tulus. Ia mengantar Dimas sampai ke teras rumah, diikuti oleh Paul yang berjalan di belakang mereka sambil bersedekap.
Dimas melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan pagar. Namun, saat ia mendekat, ia menyadari posisi mobilnya sedikit miring. Dimas menyipitkan mata, lalu berjongkok.
"Ada apa, Dim?" tanya Paul yang ikut keluar karena melihat gelagat aneh sahabatnya.
"Ban mobilku... kempis. Keempat-empatnya," desis Dimas.
Ia memeriksa permukaan ban dan menemukan bekas tusukan benda tajam yang rapi. Ini bukan kecelakaan karena paku di jalan, ini adalah sabotase yang terencana. Dimas segera teringat pada Reina. Wanita itu pasti sudah menyuruh orang untuk mengikutinya dan melakukan hal rendah ini sebagai bentuk teror kecil.
"Sial," umpat Dimas pelan. Di dalam hatinya ia geram, bukan karena bannya rusak ia bisa membeli sepuluh mobil baru malam ini juga tapi karena ia tidak ingin melibatkan keluarga Danola dalam drama gila mantan istrinya.
Kathryn menutup mulutnya dengan tangan, tampak cemas. "Ya ampun, siapa yang tega melakukan ini di lingkungan setenang ini?"
Paul memeriksa ban itu dan langsung mendengus. "Ini sengaja disayat, Dim. Kamu tidak mungkin pulang dengan kondisi seperti ini. Telepon bengkel langganan pun tidak akan ada yang datang jam segini ke daerah sini."
Dimas merogoh ponselnya, hendak menelpon Adrian atau asisten pribadinya untuk menjemput dengan mobil lain, namun ia teringat perannya. Seorang "dokter kos-kosan" tidak akan punya asisten pribadi yang siap siaga 24 jam dengan limusin.
"Aku akan panggil taksi online saja," ujar Dimas.
"Jangan gila," potong Paul tegas. "Ini sudah hampir tengah malam. Kau baru saja merawatku seharian, dan sekarang kau mau pulang ke kosan sempit itu naik taksi sementara mobilmu ditinggal di sini dalam keadaan rusak? Tidak. Menginaplah di sini malam ini."
Dimas tersentak. "Paul, tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan."
"Merepotkan apa? Kamar tamu di atas kosong dan sudah rapi. Kathryn baru saja mengganti spreinya kemarin, kan, Kath?" Paul menoleh ke arah adiknya.
Kathryn mengangguk cepat, meski jantungnya berdegup kencang mendengar Dimas akan menginap. "Iya, Mas Dimas. Menginap saja di sini. Di luar sedang dingin, dan mencari taksi jam segini juga sulit. Besok pagi baru kita panggil tukang ban untuk memperbaikinya."
Dimas menatap Kathryn, lalu kembali ke Paul. Ia merasa terjebak dalam situasinya sendiri. Di satu sisi, ia sangat ingin tinggal dekat dengan Kathryn, namun di sisi lain, ia merasa sandiwaranya semakin dalam.
"Baiklah, jika kalian tidak keberatan," ucap Dimas akhirnya.
Paul meminjamkan satu set piyama miliknya yang masih baru kepada Dimas. "Kamar tamunya ada di sebelah kamar Sean. Kalau butuh apa-apa, panggil saja aku atau Kathryn," ujar Paul sebelum masuk ke kamarnya sendiri untuk beristirahat kembali.
Dimas berdiri di tengah kamar tamu yang harum aroma lavender. Ia baru saja selesai mengganti pakaiannya ketika pintu kamar diketuk pelan. Ia membukanya dan mendapati Kathryn berdiri di sana membawa segelas susu hangat dan sebuah handuk bersih tambahan.
"Ini untuk Mas Dimas, supaya tidurnya lebih nyenyak," ucap Kathryn lembut.
Dimas menerima gelas itu, tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Kathryn, menciptakan percikan listrik yang membuat mereka berdua terdiam sejenak di ambang pintu.
"Terima kasih, Kathryn. Maaf aku jadi benar-benar merepotkan keluarga kamu," bisik Dimas.
Kathryn menggeleng pelan, ia menatap Dimas dengan tatapan yang sangat dalam. "Mas Dimas tidak pernah merepotkan. Justru... kehadiran Mas di sini membuat rumah ini terasa lebih lengkap. Selamat istirahat, Mas."
Kathryn berbalik dan berjalan menuju kamarnya, namun Dimas terus menatap punggung gadis itu sampai pintu kamarnya tertutup. Dimas menutup pintu kamar tamunya, lalu meletakkan susu itu di nakas. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar, ke arah ban mobilnya yang kempis.
Ia tahu Reina tidak akan berhenti sampai di sini. Tapi malam ini, di bawah atap rumah keluarga Danola, Dimas merasa memiliki alasan yang sangat kuat untuk mengakhiri segalanya. Ia tidak akan membiarkan kegelapan Reina menyentuh cahaya yang terpancar dari diri Kathryn.
Dimas berbaring di tempat tidur, menghirup aroma lavender yang menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa kesepian meskipun ia sedang berada di rumah orang lain. Ia merasa, pelan tapi pasti, ia sedang pulang ke tempat yang seharusnya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰