seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
happy reading semuaa
Malam pun datang, devi dapat melihatnya melalui celah celah jendela yang sudah nampak tua dan usang.
Perut devi kosong.
Tubuhnya penuh luka dan lebam.
Tadi pagi preman preman itu kembali masuk dan memukul Devi dengan sebuah cambuk rotan, tentu saja itu atas suruhan Clarissa. perempuan licik itu.
Malam ini pun sama, clarissa datang tepat di hadapan devi.
"gue denger denger keluarga Lo lagi nyariin Lo, sampe nyebarin poster kehilangan Lo." ucap Clarissa
"dan afan kenapa harus ikut nyari Lo sihh?" tanya Clarissa geram.
"itu tandanya Afan cinta sama gue bukan sama Lo" jawab devi santai.
"apa Lo berfikir mereka bakal bisa nyelamatin Lo?" tanya Clarissa sambil tersenyum sinis.
"gak akan devi. gak akan." Clarissa menjawab ucapan nya sendiri.
"gue bakal pindahin lokasi Lo, supaya mereka akan lebih sulit mencari keberadaan lo, devi."
"Clarissa! Lo licik Clarissa." teriak devi.
Clarissa tertawa pelan.
"licik?" tanya nya.
"kalo Lo gak bakal deketin Afan gua gak bakal ngelakuin ini ke Lo dev" sambung Clarissa.
"Lo gila clar? cinta Lo ke Afan itu obsess bukan cinta!" ucap Devi penuh penekanan.
"gua gak perduli, yang penting jika Afan gak bisa jadi milik gue, maka orang lain juga gak akan bisa miliki dia." jelas Clarissa.
Clarissa memberi isyarat dengan tatapan nya kepada preman preman itu, preman itu lalu mengangguk.
Dan menutup mulut Devi dengan sebuah kain yang sudah di semprot kan obat bius.
"Bawa dia ke mobil, kita bawa dia pergi sebelum yang lain menemukan keberadaan nya."
"siap bos" jawab mereka serentak.
Lian datang menghampiri afan dan juga fathir Salma, ia datang dengan langkah tergesa.
"kita kehilangan jejak devi." ucap Lian
"apa? kok bisa pah?" tanya afan
"bagaimana mungkin?" tanya Fathir juga.
"apa mereka tahu kalo kita sedang berusaha mencari keberadaan devi" ucap lian
Salma, ia semakin khawatir dengan devi.
"fan apa ini ada sangkut pautnya dengan Clarissa?" tebak Lian, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan clarissa.
"clarissa istrimu itu fan?" tanya Fathir
"jika devi kenapa napa, saya bisa saja memasukan Clarissa ke penjara." ucap Fathir
"benar. jika memang dia pelakunya kita bisa saja memasukan nya ke penjara tanpa fikir panjang." ucap salma
"masukkan saja. jika memang dia pelakunya" ucap afan
"benar kata Afan. jika memang Clarissa yang salah dan dia pelakunya, masukkan saja dia ke penjara. biar jera."
"bukan kah Clarissa menantu kesayangan istri mu itu? kenapa kau berfikir akan menjebloskan nya ke penjara" ucap liat penasaran
"jika dia salah, maka Clarissa baik di beri pelajaran biar jera."jawab lian santai.
"pah, bagaimana jika mamah marah?" tanya Afan.
"marah ya marah. hati mamah kamu sudah di penuhi dengan dendam fan, kita harus sembuhkan mamah. kamu mau kan? punya keluarga seperti dulu?" tanya lian
Afan mengangguk. tentu saja Afan ingin keluarga nya kembali seperti dulu.
dulu hidup Afan belum kacau seperti sekarang, dulu hidupnya sangat bahagia. begitupula dengan adanya mamah dan papahnya yang selalu ada di sampingnya. lalu ada juga tantenya, Tante rara.
"sekarang kita fokus mencari keberadaan devi." ucap Lian
yang lain mengangguk.
"kita bekerja sama kali ini. walaupun awalnya kau musuhku, fathir." ucap lian
Fathir terkekeh. "kau pun, Lian baskara."
Devi membuka matanya perlahan, kepalanya terasa cenut cenut dan pusing.
"gue dimana lagi..." gumamnya pelan
Kali ini tempatnya, tidak ada pencahayaan yang masuk sama sekali. hanya ada cahaya lampu remang-remang yang menemannya.
Devi sendirian. sendirian di tempat kumuh ini, ada bau amis yang menyengat di hidungnya.
Sebenarnya di mana dirinya?
"ayahh...bunda..." lirih devi, matanya berkaca-kaca.
"tolongin akuu yah...bun.."
Satu tetes air mata jatuh perlahan, devi menangis.
Ia sudah tak tahan lagi, ia ingin pergi dari sini. tubuhnya sudah penuh luka dan lebam, perutnya kosong dan juga sakit.
Clarissa benar benar ingin menyiksa devi disini, apakah clarissa punya otak? mengapa ia setega ini.
Clarissa datang, kali ini ia membawa sebuah cambuk rotan. sama seperti preman tadi yang memukul nya memakai cambuk rotan itu.
"duhh sakit banget yahh?" ejek Clarissa.
"tuan putri ada yang nangis nih kek nya" ejek Clarissa sekali lagi.
Devi diam. ia diam bukan berani takut dengan clarissa tetapi tenaga nya sudah terkuras habis.
Clarissa yang menyadari keterdiaman devi, ia tersenyum licik dan kemenangan.
Clarissa mengangkat cambuk rotan itu, dan mengarahkan nya ke arah Devi.
ctaks!
ctaks!
ctaks!
Cambuk rotan itu mendarat di punggung devi sebanyak tiga kali, Devi menahan nyeri pada punggung nya.
punggungnya terasa panas dan nyeri, darah segar mulai mengalir dari punggung devi. namun devi hanya diam, air matanya jatuh perlahan, tanpa suara.
setiap detik terasa begitu panjang. devi memejamkan mata, mencoba bertahan dari rasa sakit di punggungnya.