Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Lupa
Emailnya datang pukul sebelas lewat tiga puluh.
Aku sedang di meja kerja dengan tiga jendela browser terbuka dan draft desain yang sudah masuk revisi keempat ketika notifikasi itu muncul di sudut layar — nama klien yang sudah dua bulan ada di daftar prospek tanpa perkembangan yang meyakinkan, subject line yang singkat: Project Confirmation — Brand Identity System.
Aku membuka emailnya.
Membaca paragraf pertama.
Membaca lagi.
Lalu berdiri dari kursi, berjalan ke dapur, menuangkan air minum, meminum setengahnya, kembali ke meja, dan membaca emailnya untuk ketiga kalinya untuk memastikan aku tidak salah membaca angka di baris keempat.
Aku tidak salah membaca.
Klien itu — firma arsitektur berbasis di Singapura dengan proyek-proyek yang fotonya selalu muncul di majalah desain yang dulu cuma bisa kubaca di perpustakaan kampus — menginginkan sistem identitas visual lengkap. Bukan sekadar logo, bukan sekadar panduan warna. Sistem penuh: logo, tipografi, sistem warna, template aplikasi untuk semua media, panduan penggunaan, dan tiga iterasi konsep awal dalam waktu enam minggu.
Angkanya ada di baris keempat.
Angka yang, kalau dibagi dengan estimasi jam kerja yang kuperlukan, menghasilkan rate per jam yang belum pernah aku dapatkan dari proyek freelance manapun dalam empat tahun terakhir.
Aku menelepon Nara.
Dia mengangkat di nada kedua. "Hei, ada—"
"Nara." Suaraku keluar dengan nada yang rupanya sudah cukup berbicara sendiri karena Nara langsung berhenti.
"Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?"
"Sangat baik-baik saja." Aku duduk di lantai ruang kerja karena kursi terasa terlalu jauh untuk dijangkau. "Aku baru dapat proyek."
"Proyek?"
"Proyek besar. Sangat besar. Klien dari Singapura, Nara, firma arsitektur yang—" aku menyebut namanya.
Hening dua detik.
"Yang fotonya ada di—"
"Iya."
"Yang proyeknya pernah masuk nominasi—"
"Iya."
"ARIANA."
"IYA."
Kami berteriak bersama di telepon selama mungkin lima detik, yang secara profesional tidak bisa dipertanggungjawabkan tapi secara manusiawi sangat bisa dimengerti.
Aku menghabiskan dua jam berikutnya dalam kondisi yang bisa paling akurat dideskripsikan sebagai bahagia produktif — mengirim balasan email konfirmasi, membuat folder proyek baru, mulai membuat timeline kasar, mencari referensi awal yang relevan dengan estetika firma arsitektur itu dari portofolio mereka yang bisa kuakses publik.
Otak yang sudah lama bekerja dalam mode bertahan — mengerjakan proyek yang cukup, dengan rate yang cukup, untuk cicilan yang tidak pernah cukup — tiba-tiba beroperasi di kapasitas yang berbeda. Lebih ringan, lebih cepat, seperti mesin yang selama ini berjalan dengan satu silinder yang tidak berfungsi dan baru sekarang semua silindernya menyala.
Aku tidak makan siang.
Bukan karena lupa lapar — aku lapar, tapi lapar terasa seperti detail kecil yang bisa ditunda di antara semua yang sedang terjadi di kepala. Aku minum kopi kedua, makan biskuit dari laci meja yang sudah ada sejak entah kapan, dan terus bekerja.
Pukul tiga, aku membuka kalender untuk mencatat deadline pertama.
Dan melihat entri yang sudah ada di sana sejak seminggu lalu, dengan warna biru gelap yang berarti jadwal Revano yang berdampak ke keduanya:
Makan Malam Keluarga Aldrich — 19.00. Formal. Lokasi: Rumah Menteng. KONFIRMASI HADIR.
Aku menatap entri itu.
Lalu menatap jam di pojok layar.
Pukul 15.47.
Tiga jam dua belas menit.
Itu waktu yang tersisa antara sekarang dan pukul tujuh, dan dalam kondisi normal itu cukup — cukup untuk mandi, bersiap, sampai di Menteng sebelum terlambat.
Dalam kondisi normal.
Yang terjadi adalah aku menutup kalender, membuka kembali folder referensi yang tadi kutinggalkan, dan mulai menyortir dengan sistem yang baru kuhipotesiskan lima menit lalu berdasarkan pola estetika firma arsitektur itu yang ternyata lebih konsisten dari yang kukira di awal dan memerlukan analisis yang lebih—
Pukul 17.23.
Aku melihat jam.
Menghitung.
Satu jam tiga puluh tujuh menit.
Aku berdiri terlalu cepat dan hampir menabrak kursi.
Mandi — sepuluh menit kalau cepat. Bersiap — gaun yang mana, yang hitam A-line sudah pernah dipakai ke gala bulan lalu, ada gaun navy baru yang belum pernah dipakai, itu harus dicoba dulu untuk memastikan pas — dua puluh menit optimistis. Perjalanan ke Menteng dengan kondisi Jakarta sore hari menjelang malam — minimum empat puluh menit, lebih mungkin lima puluh.
Total: tujuh puluh menit minimum.
Untuk waktu yang tersisa satu jam tiga puluh tujuh menit.
Masih bisa. Kalau mulai sekarang.
Aku ke kamar mandi.
Masalahnya adalah gaun navy itu resletingnya ada di belakang.
Aku berdiri di depan cermin kamar mandi dengan resleting yang naik tiga perempat dan tidak mau naik lebih — bukan karena kekecilan, tapi karena ada bagian kecil di mekanisme resletingnya yang rupanya tidak mau bekerja sama dengan tangan yang mencapai dari bawah.
Pukul 17.51.
Satu jam sembilan menit.
Aku menarik napas, mencoba dari atas, dari bawah, dari sudut yang berbeda. Resleting naik satu sentimeter, berhenti, turun lagi satu sentimeter.
Aku menyerah pada gaun navy. Menggantinya dengan gaun hitam yang sudah pernah dipakai — resleting samping, jauh lebih bersahabat — dan kembali ke cermin untuk riasan yang harus diselesaikan dalam waktu yang tidak cukup untuk riasan yang seharusnya.
Ponselku bergetar di meja rias.
Pesan dari Revano: Kamu sudah di jalan?
Pukul 18.09.
Aku mengetik balik sambil satu tangan masih memegang maskara: Sebentar lagi.
Balasannya datang dalam dua puluh detik: Aku jemput. Sepuluh menit.
Revano tiba persis sepuluh menit kemudian.
Aku baru selesai memakai sepatu ketika mendengar pintu utama terbuka — dia masuk ke wing kiri, berdiri di pintu kamarku yang terbuka, melihat aku yang masih memegang tas kecil hitam yang sedang kupindahkan isinya dari tas sehari-hari ke ukuran yang lebih sesuai untuk malam ini.
Penampilan Revano: jas hitam, dasi putih gelap, rambut sempurna, sudah siap sejak entah jam berapa. Penampilan yang terkoordinasi untuk acara yang sudah dijadwalkan dan disiapkan.
Penampilan aku: gaun hitam yang sudah pernah dipakai, riasan yang delapan puluh persen selesai, satu anting sudah terpasang dan satunya masih di tangan.
Dia menatapku.
Tidak berkata apapun.
Dan itulah yang membuat sesuatu di dadaku bereaksi dengan cara yang berbeda dari kalau dia langsung menegur — karena diam Revano bukan diam yang kosong. Diamnya punya berat, punya tekstur, punya sesuatu di bawahnya yang lebih banyak bicara dari kata-kata.
"Aku tahu," kataku sebelum dia buka mulut. "Proyek baru datang tadi dan aku kehilangan waktu."
"Kita harus berangkat sekarang."
"Aku tahu." Aku memasang anting yang kedua — tangan yang sedikit terburu-buru tapi berhasil. Mengambil tas kecil. "Ayo."
Di lift turun, tidak ada yang bicara.
Bukan keheningan yang nyaman seperti yang sudah mulai jadi karakter tetap kami — keheningan ini punya sesuatu di dalamnya yang belum selesai, seperti kalimat yang dimulai tapi tidak dilanjutkan.
Aku menatap pantulan kami di cermin lift.
Revano berdiri dengan postur yang sama seperti selalu — tegak, terkontrol, tangan di samping. Tapi ada sesuatu di garis bahunya yang lebih rapat dari biasanya. Sesuatu yang, kalau aku tidak sudah dua bulan menghapal cara tubuhnya bergerak dan diam, mungkin tidak akan kulihat.
"Kamu marah?" tanyaku.
"Tidak."
Jawaban yang terlalu cepat untuk meyakinkan sepenuhnya.
"Kamu—"
"Kita akan terlambat tujuh menit," katanya. "Itu masih dalam batas yang bisa dijelaskan. Tidak ada masalah."
Tapi ada sesuatu di cara mengatakannya — bukan marah, Revano tidak berbohong tentang itu — yang terasa seperti sesuatu yang lebih susah didefinisikan dari marah.
Lift terbuka. Kami masuk ke mobil.
Di mobil, Revano menelepon seseorang — Kenzo, dari konteks percakapan singkatnya — untuk memberitahu estimasi keterlambatan. Tiga menit, efisien, tidak ada elaborasi yang tidak perlu.
Setelah menutup telepon, dia tidak membuka ponsel lagi. Tidak membuka laptop. Hanya menatap keluar jendela di sisinya dengan cara yang tidak membaca apapun di luar tapi juga tidak di dalam.
"Proyek barunya besar?" tanyanya akhirnya.
Aku menatapnya dari sisi. "Besar. Klien dari Singapura."
"Yang Hartono rekomendasikan?"
"Bukan. Yang ini datang sendiri, dari portofolio online." Aku memegang tas kecil di pangkuan. "Firma arsitektur. Proyek identitas visual penuh."
Revano mengangguk pelan. Satu kali.
Dan kembali ke jendela.
Keheningan itu bertahan sampai sepuluh menit ke perjalanan, ketika Revano akhirnya berkata sesuatu yang tidak aku antisipasi:
"Aku sudah di depan pintu penthouse pukul enam lebih."
Aku menatapnya.
"Menunggu dua menit sebelum memutuskan untuk masuk." Suaranya tetap datar — bukan menuduh, bukan dramatisasi. Hanya menyampaikan fakta dengan cara yang sangat khasnya. "Saat itu aku tidak tahu apakah kamu tidak ingat, tidak mau hadir, atau ada sesuatu yang terjadi."
"Aku ingat," kataku pelan. "Aku hanya—"
"Aku tahu." Dia akhirnya berpaling dari jendela. Menatap ke depan, ke arah supirnya yang sudah sangat hapal menjadi tidak terlihat di situasi yang bukan urusannya. "Yang aku tidak tahu adalah mana yang terjadi. Dan tidak tahu itu—" dia berhenti sejenak, "—tidak nyaman."
Aku memproses itu.
Bukan marah. Ini bukan marah.
Ini sesuatu yang berbeda — sesuatu yang hanya bisa muncul dari seseorang yang sudah belajar bahwa ketidaktahuan tentang orang-orang yang ada di hidupnya adalah kondisi default yang paling aman, dan kemudian tiba-tiba dihadapkan pada situasi di mana ketidaktahuan itu terasa seperti bukan pilihan tapi ketiadaan informasi yang tidak menyenangkan.
"Lain kali," kataku hati-hati, "kalau aku tenggelam dalam pekerjaan dan ada jadwal yang mendekati — kirimi aku pesan. Aku tidak akan tersinggung diingatkan."
Revano menatapku. "Itu tidak seharusnya menjadi tugasku."
"Tidak. Tapi lebih baik dari menunggu di depan pintu tanpa tahu."
Jeda yang tidak terlalu panjang.
"Baik," katanya.
Satu kata. Tapi dikatakan dengan cara yang berarti lebih dari satu kata.
Mereka terlambat sembilan menit.
Bukan tujuh seperti perkiraan Revano, karena ada kemacetan kecil di tikungan terakhir yang tidak masuk kalkulasi awal. Sembilan menit yang di dunia makan malam keluarga Aldrich berarti semua orang sudah duduk dan percakapan sudah dimulai ketika kami masuk.
Revano membuka pintu untukku — bukan untuk penampilan, tapi karena dia yang lebih dekat ke gagang pintu dan sudah bergerak sebelum aku sempat menjangkaunya.
Di dalam, semua kepala menoleh sebentar.
Revano meletakkan tangannya di punggung bawahku — sudah jadi caranya menavigasi ruangan dalam situasi seperti ini, sinyal kecil yang mengomunikasikan bahwa kami datang bersama dan sengaja seperti itu.
"Macet," katanya ke arah meja secara umum. Satu kata yang menjelaskan semuanya tanpa memberi detail yang tidak perlu.
Beberapa orang mengangguk. Percakapan kembali ke ritmenya.
Aku duduk. Mengambil serbet, meletakkannya di pangkuan, dan mengangkat muka ke arah Revano yang baru duduk di sebelahku.
Dia tidak melihat ke arahku. Tapi di bawah meja, tangannya yang ada di atas pahanya bergerak satu sentimeter ke arah tanganku yang ada di atas pahaku — tidak menyentuh, hanya bergerak ke arah itu.
Gestur yang tidak selesai. Yang tidak perlu selesai.
Aku menatap ke depan dan memutuskan bahwa sembilan menit terlambat, dengan konteks yang mengawalinya dan cara mengakhirinya, sudah lebih dari cukup mengajarkan dua hal sekaligus malam ini.
Pertama: pasang alarm kalau ada jadwal penting.
Kedua: ada orang yang mengungkapkan kekhawatirannya dengan cara yang tidak menggunakan kata khawatir — dan belajar membaca bahasa itu adalah sesuatu yang perlu waktu, tapi layak untuk dipelajari.
— Selesai Bab 21 —