Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonasi kematian
Udara di dalam aula The Ark of Silence mendadak terasa lebih berat, seolah-olah molekul oksigen di dalamnya telah digantikan oleh partikel logam yang mendingin. Adam Satria berdiri tegak di tengah ribuan tabung porselen yang kini mulai bergetar. Getaran itu bukan berasal dari mesin, melainkan dari aktivitas otak kolektif para Nephilim yang baru saja dipaksa bangun. Suara dengungan rendah seperti jutaan lebah yang terjebak di dalam ruang hampa mulai mengisi setiap sudut ruangan, menyusup ke dalam gendang telinga Adam dan mencoba mencakar kesadarannya.
"Kau merasakannya, bukan?" Suara Dr. Maru kembali bergema, kali ini nampak lebih dekat. Proyeksi hologramnya berdiri hanya beberapa meter dari Adam, menatapnya dengan rasa ingin tahu yang dingin, seperti seorang entomolog yang sedang mengamati serangga langka di bawah mikroskop. "Itu adalah suara persatuan. Tidak ada lagi ego, tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi dosa. Hanya ada tujuan."
Adam mencengkeram tongkat kayu kunonya hingga buku jarinya memutih. "Persatuan yang kau bicarakan adalah kuburan massal bagi kehendak bebas. Kau tidak menciptakan manusia baru, Maru. Kau menciptakan sistem operasi biologis yang bisa kalian buang kapan saja jika sudah tidak berguna."
"Kami tidak membuang aset, Adam. Kami mengoptimasinya," Maru melangkah mendekat, meski ia hanyalah cahaya yang terproyeksi. "Unit 731 di masa lalu gagal karena mereka terlalu fokus pada raga. Mereka menyiksa tubuh untuk mencari tahu batas kematian. Kami di sini telah melampaui itu. Kami menemukan bahwa kematian hanyalah masalah frekuensi yang salah. Jika kau menyetel frekuensinya dengan tepat, kau bisa membuat seseorang hidup selamanya dalam pengabdian. Dan Liora... dia memiliki struktur saraf yang sangat sinkron dengan prototipe Nephilim generasi keempat kami. Dia tidak akan mati. Dia hanya akan... berganti identitas."
Kemarahan Adam mendidih, namun ia ingat peringatan Bunda di Antartika: Jika kau menggunakan kebencian, kau menggunakan frekuensi mereka. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia harus menjadi tenang, setenang permukaan danau di puncak gunung sebelum badai datang.
"Lepaskan dia," kata Adam, suaranya kini rendah namun bertenaga.
"Hanya jika kau menyerahkan dirimu ke kursi sinkronisasi," Maru menunjuk ke sebuah kursi perak di tengah aula yang dikelilingi oleh ribuan kabel sensor yang menjuntai seperti tentakel gurita. "Masuklah ke sana, biarkan kami menyalin frekuensi 'kemurnian' yang kau bawa, dan aku berjanji Liora akan tetap memiliki ingatannya saat ia menjadi ratu dari pasukan ini."
Adam menatap kursi itu. Ia tahu itu adalah jebakan yang akan menghapus jiwanya. Namun, ia juga melihat satu hal yang Maru abaikan: keangkuhan teknokratis mereka. Mereka sangat yakin dengan sistem mereka sehingga mereka tidak menyadari bahwa sistem yang terlalu teratur adalah sistem yang paling mudah hancur oleh satu elemen acak.
"Baiklah," bisik Adam.
Ia melangkah menuju kursi itu. Setiap langkahnya terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Namun, di dalam batinnya, Adam sedang melakukan sesuatu yang tidak diajarkan di universitas mana pun. Ia sedang memanggil kembali setiap memori tentang rasa sakit, tentang cinta ayahnya, tentang pengorbanan Hendrawan, dan tentang air mata manusia yang ia temui di selokan Singapura. Ia mengumpulkan semua "kebisingan" emosional manusia yang dianggap kotor oleh para elit.
Saat Adam duduk di kursi perak itu, tentakel-tentakel kabel segera menyambar kepalanya, lehernya, dan pergelangan tangannya. Jarum-jarum mikroskopis menusuk kulitnya, masuk ke dalam aliran darah untuk mencari koneksi saraf.
"Memulai sinkronisasi," suara sistem otomatis mengumumkan.
Di layar monitor raksasa, grafik kesadaran Adam muncul. Awalnya, itu adalah garis yang tenang dan harmonis frekuensi yang diinginkan Maru. Namun perlahan, garis itu mulai berubah menjadi kacau.
"Tunggu, apa ini?" Maru mengerutkan kening. "Kenapa ada lonjakan aktivitas di lobus temporal? Adam, hentikan! Kau sedang mencoba melakukan bunuh diri mental!"
"Aku tidak sedang bunuh diri," gumam Adam, matanya terpejam rapat. "Aku sedang memberikan kalian apa yang paling kalian takuti: Kebenaran yang tak terfilter."
Adam melepaskan seluruh emosinya secara serentak. Rasa duka karena kehilangan orang-orang tercinta, rasa bersalah karena pernah bekerja untuk Hage emon, dan harapan yang membara. Ia mengirimkan "badai" perasaan ini langsung ke dalam jaringan server pusat The Ark of Silence.
Karena semua Nephilim terhubung secara kolektif, apa yang dirasakan Adam dalam sekejap menyebar ke ribuan tabung itu.
Suara dengungan lebah yang teratur tadi mendadak berubah menjadi jeritan kolektif yang memilukan. Di dalam tabung-tabung porselen, para Nephilim mulai meronta. Mata mereka yang putih tanpa pupil mulai mengeluarkan air mata darah. Sistem mereka tidak dirancang untuk memproses emosi manusia yang begitu kompleks dan berat. Bagi mereka, emosi adalah virus yang merusak algoritma kepatuhan.
"Hentikan! Kau akan menghancurkan seluruh muatan kita!" teriak Maru dengan wajah panik yang kini nampak sangat manusiawi. "Putuskan koneksi! Putuskan sekarang!"
Namun sistem itu terkunci. Adam telah menggunakan protokol feedback-loop yang ia pelajari di lantai 88 untuk mengunci jalur data. Ia menjadi "jangkar" yang menarik seluruh sistem menuju kehancuran.
kruk ! Satu tabung pecah. Lalu tabung lainnya. Cairan bening membanjiri lantai laboratorium. Para Nephilim yang jatuh ke lantai tidak bangkit sebagai prajurit; mereka bangkit sebagai manusia yang hancur, yang hanya bisa merintih karena mendadak merasakan beratnya eksistensi dunia.
Di tengah kekacauan itu, Adam merasakan tekanan hebat di kepalanya. Ia merasa jiwanya seolah-olah ditarik keluar dari tubuhnya. Namun, di saat kritis itu, pintu baja di lantai terbuka secara paksa dari bawah.
Bukan oleh mesin, tapi oleh ledakan dari dalam.
Liora melompat keluar dari lubang itu, memegang sebuah alat pemacu jantung yang ia modifikasi menjadi MP manual. Ia melihat Adam yang tersiksa di kursi dan segera menghantamkan alat itu ke konsol kendali utama.
ZAP!
Percikan listrik biru raksasa meledak, memutus seluruh kabel yang menempel pada tubuh Adam. Adam jatuh tersungkur, napasnya tersedak-sedak.
"Adam! Bangun, sialan! Kita harus pergi!" Liora menarik bahu Adam.
Adam membuka mata, pandangannya kabur. "Liora... kau selamat?"
"Aku menemukan sisa-sisa laboratorium Unit 731 di bawah sana. Mereka menggunakannya sebagai ruang pembuangan limbah biologis. Aku berhasil merakit ini dari barang bekas," Liora menunjuk ke alat MP-nya. "Tapi tempat ini sedang menuju fase self-destruct. Maru tidak akan membiarkan kegagalan ini keluar ke dunia."
Di atas mereka, proyeksi Maru mulai berkedip-kedip tidak stabil. "Kau pikir kau menang, Arsitek? Kau hanya mempercepat keberangkatan kami. Jika bumi sudah tidak bisa menampung harmoni ini, maka kami akan membawanya ke tempat yang lebih tinggi. Proyek Nephilim hanyalah umpan. Proyek yang sebenarnya adalah Exodus."
Lantai aula itu mulai bergetar hebat. Kali ini, getarannya bukan karena runtuh, melainkan karena dorongan mesin roket raksasa. Adam menyadari dengan ngeri bahwa seluruh fasilitas The Ark of Silence di bawah biara ini adalah sebuah pesawat ruang angkasa raksasa yang sudah siap diluncurkan.
"Mereka akan meledakkan puncak gunung ini untuk terbang!" teriak Adam.
"Kita harus mencapai hanggar evakuasi!" Liora menarik Adam menuju lorong di sebelah barat.
Sambil berlari, mereka melewati ribuan Nephilim yang kini berserakan di lantai seperti boneka yang talinya diputus. Pemandangan itu sangat menyedihkan. Adam menyadari bahwa mereka semua adalah korban, sama seperti dirinya. Mereka adalah hasil dari keserakahan manusia yang merasa bisa melampaui kodrat.
Mereka sampai di sebuah platform peluncuran yang terbuka ke arah jurang Himalaya yang dalam. Di sana, sebuah pesawat kecil pesawat pengintai milik elit masih terparkir.
"Kau bisa menerbangkannya?" tanya Liora.
"Aku bisa menerbangkan apa saja yang memiliki kode," jawab Adam, tangannya masih gemetar namun otaknya mulai bekerja kembali.
Saat mereka masuk ke dalam pesawat kecil itu dan menyalakan mesinnya, puncak gunung Himalaya di atas mereka meledak. Salju dan batu-batu raksasa berterbangan. Dari tengah ledakan itu, sebuah objek raksasa berbentuk cakram perak The Ark mulai naik perlahan, menantang gravitasi dengan dorongan energi biru yang menyilaukan.
Adam memacu pesawat kecilnya keluar dari hanggar tepat sebelum pintu hanggar itu tertutup oleh reruntuhan es. Ia terbang menjauh, menyaksikan pemandangan yang paling luar biasa dalam sejarah manusia: sebuah bahtera raksasa yang membawa sisa-sisa elit dan janin-janin "manusia baru" yang gagal, terbang menembus awan menuju bulan.
"Mereka pergi," bisik Liora, matanya menatap cahaya perak yang semakin menjauh di langit malam.
"Mereka tidak pergi untuk menyelamatkan diri, Liora," Adam menatap monitor radar pesawatnya yang masih berfungsi. "Mereka pergi untuk membangun 'benteng' di atas sana. Dan mereka meninggalkan kita di bumi yang sudah mereka hancurkan sistem pendukungnya."
Adam melihat ke bawah. Di kaki pegunungan, ia bisa melihat api peperangan kecil yang menyala di desa-desa. Dunia sedang berada dalam kegelapan, tanpa listrik, tanpa komando, dan kini... tanpa pemimpin yang selama ini mereka benci sekaligus mereka butuhkan untuk mengatur keteraturan semu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Liora.
Adam menatap kemudi pesawat. Di dalam memorinya, masih tersimpan satu potongan data terakhir yang ia curi dari server Maru saat ia terhubung tadi. Potongan data itu bukan tentang teknologi, tapi tentang koordinat di sebuah tempat terpencil di Indonesia di bawah sebuah candi kuno yang selama ini dianggap hanya tempat pemujaan.
"Masih ada satu 'Jangkar' lagi," kata Adam. "Tapi yang ini bukan buatan elit. Yang ini adalah tempat penyimpanan frekuensi asli manusia sebelum semua kekacauan ini dimulai. Kita harus ke sana sebelum sisa-sisa elit yang tertinggal di bumi menemukannya."
"Ke mana?"
"Candi Borobudur," jawab Adam. "Ada ruang di bawah sana yang tidak pernah terdeteksi oleh radar arkeologi manapun. Tempat itu disebut The Chamber of Ancestors."
Pesawat kecil itu pun berputar balik, membelah langit Himalaya menuju selatan. Perang di langit mungkin sudah berakhir, tapi perang untuk memperebutkan sisa-sisa kemanusiaan di bumi baru saja memasuki babak paling krusial. Adam Satria, sang utusan, kini membawa beban sebagai jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang nyaris musnah.