NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Tiga Hati dan Dua Ibu

Lorong ICU terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Di balik kaca, Valeria masih terlelap dalam ketidaksadaran yang rapuh. Mesin monitor berdetak pelan, seperti detak waktu yang berjalan hati-hati.

Di luar ruangan itu berdiri tiga pria dengan dunia dan perasaan masing-masing.

Vincenzo Salvatore De Luca berdiri tegak, tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya tidak lagi sekadar tajam—kini ada sesuatu yang lebih dalam. Rasa ingin tahu. Rasa gentar. Dan entah kenapa… rasa harap.

Daniel berdiri di sisi kirinya.

Alexander di sisi kanan.

Dua pria muda itu memancarkan emosi yang begitu berbeda namun sama kuatnya.

Vincenzo mengamati mereka bergantian.

“Aku ingin tahu,” ucapnya tenang namun penuh tekanan, “siapa sebenarnya gadis ini.”

Daniel menarik napas panjang.

“Namanya Valeria,” katanya pelan. “Dia mahasiswa kedokteran. Lulus tercepat di angkatannya. Dan akan melanjutkan ke bedah.”

Alexander menambahkan dengan suara rendah, “Dia juga bekerja keras hampir tanpa istirahat. Mengajar anak-anak desa, membantu pasien tanpa biaya, bahkan saat dirinya sendiri kelelahan.”

Vincenzo menoleh perlahan ke arah Alexander.

Nada suara pemuda itu berbeda ketika menyebut nama Valeria.

Lebih lembut.

Lebih personal.

Daniel melanjutkan, “Dia dibesarkan oleh pasangan petani di Meksiko. Orang tuanya sangat sederhana, tapi mereka membesarkannya dengan cinta yang luar biasa.”

“Dia tidak pernah bicara banyak tentang masa kecilnya,” tambah Alexander. “Hanya bilang… dia merasa dipilih oleh Tuhan untuk menjalani hidup yang kedua.”

Vincenzo terdiam.

Hidup yang kedua.

Kata-kata itu menancap dalam pikirannya.

Daniel tersenyum samar.

“Dia periang. Selalu tersenyum. Bahkan saat orang lain meremehkannya.”

Alexander menatap kaca ICU.

“Dan dia keras kepala. Jika sudah ingin menyelamatkan seseorang, tak ada yang bisa menghentikannya.”

Vincenzo memperhatikan bagaimana keduanya berbicara.

Tak ada kebohongan.

Tak ada kepura-puraan.

Hanya ketulusan.

Ia melihat bagaimana Daniel, putra sulungnya, menyimpan kekaguman dalam setiap kata. Ia juga melihat bagaimana Alexander, pemuda yang selama ini ia kenal sebagai sosok ambisius dan dingin, kini terlihat rapuh hanya karena seorang gadis.

Hati Vincenzo menghangat.

Anaknya jatuh cinta.

Akhirnya.

Namun di sisi lain…

Ia juga tak bisa memungkiri sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

Ia menatap Alexander lebih lama.

Pemuda itu berasal dari keluarga terpandang, pewaris yayasan kampus dan jaringan rumah sakit besar. Secara logika dan posisi, Alexander adalah pasangan yang “aman” dan kuat bagi gadis seperti Valeria.

Entah kenapa… ada bagian dalam diri Vincenzo yang berharap jika Valeria bukanlah putrinya, maka Alexander-lah yang akan melindunginya.

Tapi pikiran itu membuatnya bingung.

Kenapa ia begitu peduli pada masa depan gadis ini?

Kenapa hatinya terasa begitu dekat?

Daniel menatap ayahnya.

“Papa?”

Vincenzo tersadar dari lamunannya.

“Dia terlihat… istimewa,” ucapnya akhirnya.

Alexander dan Daniel saling berpandangan singkat.

“Ia memang begitu,” jawab Daniel.

Vincenzo menatap keduanya.

“Dan kalian berdua mencintainya.”

Itu bukan pertanyaan.

Itu pernyataan.

Keheningan jatuh di antara mereka.

Alexander menjawab lebih dulu.

“Ya.”

Daniel menghela napas.

“Aku juga.”

Vincenzo mengangguk pelan.

Ia tidak marah.

Tidak terkejut.

Hanya… terdiam dalam perasaan yang tak bisa ia jelaskan.

“Aku melihat sesuatu di mata kalian,” katanya pelan. “Bukan sekadar ketertarikan. Tapi kesungguhan.”

Alexander menatap lurus.

“Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.”

Daniel menunduk tipis, lalu berkata jujur, “Aku takut kehilangannya.”

Vincenzo menatap kaca ICU.

“Aku tahu rasanya takut kehilangan,” gumamnya hampir tak terdengar.

Di sisi lain rumah sakit, Isabella Conti De Luca berjalan menuju kantin.

Hatinya masih bergetar setelah melihat wajah Valeria.

Mirip.

Terlalu mirip.

Namun ia tak ingin membiarkan harapan palsu kembali menghancurkannya.

Ia memesan tiga minuman hangat.

Saat berbalik—

Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya yang juga membawa cangkir kopi.

Cairan itu hampir tumpah.

“Oh, maafkan saya!” ucap Isabella cepat.

Wanita itu juga terkejut.

“Tidak apa-apa, saya yang kurang hati-hati,” jawabnya lembut.

Tatapan mereka bertemu.

Wanita itu memiliki wajah hangat dengan garis-garis kehidupan yang jujur. Matanya sembab, seperti baru saja menangis.

“Saya Sofía,” ucapnya ramah.

Nama itu terasa sederhana.

Namun Isabella tersenyum tipis.

“Saya Isabella.”

Mereka saling membantu merapikan minuman yang hampir tumpah.

“Saya jarang ke rumah sakit sebesar ini,” kata Sofía pelan. “Putri saya sedang dirawat di ICU.”

Isabella membeku.

“Putri Anda?”

Sofía mengangguk.

“Namanya Valeria.”

Nama itu membuat jantung Isabella berdetak lebih keras.

Ia mencoba tetap tenang.

“Semoga dia segera pulih,” ucapnya tulus.

Sofía tersenyum sedih.

“Dia gadis yang kuat. Sejak kecil selalu kuat.”

Isabella memandangnya penuh perhatian.

“Sejak kecil?”

Sofía mengangguk.

“Kami menemukannya… dua puluh tahun lalu.”

Cangkir di tangan Isabella bergetar.

“Menemukan?”

Sofía tersenyum tipis.

“Ya. Suami saya dan saya sudah lama tidak memiliki anak. Lalu suatu hari… Tuhan seperti mengirimkan seorang bayi kecil dalam hidup kami.”

Napas Isabella terasa tercekat.

“Bayi?”

“Empat bulan,” jawab Sofía lembut. “Ia ditemukan tanpa identitas jelas. Kami membesarkannya sebagai putri kami sendiri.”

Dunia seperti berhenti berputar.

Empat bulan.

Dua puluh tahun lalu.

Isabella merasakan lututnya hampir lemas.

“Tapi,” lanjut Sofía dengan mata berkaca-kaca, “siapa pun orang tua kandungnya… saya yakin mereka pasti mencintainya. Saya tidak pernah berhenti mendoakan mereka.”

Air mata Isabella jatuh tanpa bisa ia tahan.

Sofía terkejut.

“Maaf… apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?”

Isabella cepat menggeleng.

“Tidak… hanya… saya juga kehilangan putri saya dua puluh tahun lalu. Usianya… empat bulan.”

Kini giliran Sofía yang terdiam.

Tatapan mereka saling terkunci.

Dua ibu.

Dua hati yang sama-sama kehilangan.

Dan mungkin… tanpa mereka sadari…

Dua sisi dari takdir yang sama.

Sofía menggenggam tangan Isabella perlahan.

“Saya percaya… Tuhan tidak pernah salah menempatkan anak.”

Isabella menangis dalam diam.

“Dan saya percaya… seorang ibu selalu terhubung dengan anaknya, sejauh apa pun jaraknya.”

Di kejauhan, lorong ICU masih sunyi.

Tiga pria berdiri dalam kegelisahan cinta dan harapan.

Sementara di kantin rumah sakit—

Dua ibu mulai menyentuh benang takdir yang selama ini terpisah.

Dan di balik pintu ICU itu, Valeria masih terlelap…

Tanpa tahu bahwa masa lalunya perlahan berjalan mendekatinya.

Membawa cinta.

Membawa kebenaran.

Dan mungkin… membawa jawaban atas doa yang telah dipanjatkan selama dua puluh tahun.

1
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!