⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 (Part 2)
Jam Istirahat.
Gia sengaja nggak ke kantin. Dia tahu Pak Radit biasanya makan siang di meja pojok kantin guru. Dia malah milih buat "ngumpet" di perpustakaan—tempat yang paling nggak mungkin dia datangi kecuali kalau mau numpang tidur atau AC-nya lagi dingin banget.
Dia duduk di antara rak buku Biologi dan Fisika, dua mata pelajaran yang bikin dia mual. Dia lagi asyik scrolling Pinterest buat nyari inspirasi outfit "dewasa" biar nggak dipanggil 'Dek' lagi sama mantan-mantan Pak Radit di masa depan.
Tiba-tiba, kursi di depannya ditarik. Gia nggak mendongak, dia pikir itu Caca.
"Ca, gue berhasil. Tadi pagi Pak Radit mukanya kayak orang linglung pas gue cuekin—"
"Siapa yang linglung?"
Gia membeku. Suara itu. Suara bariton yang crispy itu bukan suara Caca.
Gia mendongak pelan. Pak Radit sudah duduk di depannya, menaruh sebuah paper bag kecil bergambar beruang lucu di atas meja perpustakaan yang berdebu.
"P-pak Radit? Ngapain di sini? Bapak nggak makan?" tanya Gia, beralih ke mode defensif lagi.
"Saya tadi cari kamu di kantin, nggak ada. Caca bilang kamu lagi 'tobat' di perpustakaan. Ternyata kamu cuma main HP di sini," kata Pak Radit sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Ini janji saya semalam."
Dia mendorong paper bag itu ke arah Gia. Di dalamnya ada satu cup es krim salted caramel dari brand mahal yang biasanya cuma Gia beli kalau habis gajian uang jajan bulanan.
Gia menelan ludah. Pertahanannya mulai retak. "Pak, saya kan bilang saya lagi usaha buat jadi dewasa. Orang dewasa nggak disogok pakai es krim, Pak."
Pak Radit sedikit memajukan badannya. "Oh ya? Terus orang dewasa disogok pakai apa? Logam mulia? Atau komitmen?"
Gia tersedak ludahnya sendiri. Anjir, Pak Radit bisa nge-flirt?!
"Bapak... Bapak bercanda ya?"
"Saya nggak pernah bercanda soal komitmen, Gia," kata Pak Radit dengan tatapan mata yang begitu dalam sampai Gia ngerasa jiwanya lagi di-scanning.
"Tapi buat sekarang, es krim ini buat kompres dari dalem. Biar kamu nggak 'panas' terus kayak tadi pagi."
"Saya nggak panas kok!"
"Terus kenapa tadi pagi manggil saya kayak manggil kurir paket? 'Pagi Pak', terus langsung kabur? Biasanya kamu kan caper ke saya."
Gia memutar bola matanya. "Saya cuma mau ngasih Bapak space. Katanya saya harus fokus sekolah, nggak boleh ganggu Bapak. Jadi ya saya praktekin."
Pak Radit terdiam sebentar. Dia memperhatikan Gia yang mulai membuka cup es krimnya dengan gerakan ogah-ogahan (tapi sebenarnya pengen banget).
"Gia," panggil Pak Radit pelan. "Soal semalam... di mobil. Saya minta maaf kalau kata-kata saya terlalu keras. Saya cuma nggak mau kamu dapet masalah gara-gara saya. Kamu tahu kan, gosip di sekolah ini lebih cepet nyebar daripada virus?"
Gia berhenti menyendok es krimnya. Dia menatap Pak Radit. "Saya nggak takut gosip, Pak. Saya cuma takut kalau Bapak sebenernya risih sama saya tapi nggak enak bilangnya karena Bapak guru saya."
Pak Radit menghela napas panjang. Dia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya—gestur yang selalu bikin Gia lemah syahwat visual. "Kalau saya risih, saya nggak bakal repot-repot beliin kamu es krim, Gia. Saya nggak bakal repot-repot nungguin kamu selesai latihan sampai sore."
"Terus? Bapak maunya gimana?" tantang Gia.
"Saya maunya kamu dengerin saya. Dewasa itu bukan soal kamu bisa dandan kayak Siska atau manggil orang 'Tante'. Tapi soal kamu tahu batas. Kapan kamu jadi murid saya, dan kapan kamu jadi... diri kamu sendiri."
Gia mengernyitkan dahi. "Maksudnya? Berarti ada waktu di mana saya boleh nggak jadi murid Bapak?"
Pak Radit tidak menjawab. Dia malah berdiri, memakai kembali kacamatanya. "Habiskan es krimnya. Jangan sampai lumer. Dan satu lagi, Gia..."
"Apa?"
"Besok nggak usah akting cuek lagi. Mukamu nggak cocok jadi orang jutek. Lebih cocok jadi orang... berisik."
Pak Radit berlalu pergi, meninggalkan Gia yang masih memegang sendok es krim di udara. Jantung Gia sekarang bukan lagi melakukan dribble, tapi sudah seperti konser grup K-Pop dengan fanchant yang membahana.
...
Sore Hari.
Kaki Gia sebenarnya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap akting jalan sedikit pincang saat menuju parkiran motor tempat Caca menunggunya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil mewah warna merah terparkir tepat di samping Civic hitam Pak Radit.
Dan di sana ada Siska. Lagi.
Kali ini Siska nggak pakai baju kantor. Dia pakai summer dress tipis yang kelihatan sangat effortless tapi mahal. Dia lagi bersandar di mobilnya sambil main HP, seolah-olah lagi nunggu seseorang.
"Liat deh, Ca. Si Tante balik lagi. Kayaknya dia emang tipe stalker berkelas," bisik Gia pada Caca yang baru sampai.
"Wah, parah sih. Spek saingan lo berat banget, Gi. Itu mah bukan lawan, itu namanya bencana alam buat hati lo," sahut Caca kompor.
Nggak lama kemudian, Pak Radit keluar dari gedung sekolah. Dia tampak terkejut melihat Siska di sana. Mereka ngobrol sebentar, dan dari kejauhan, Gia bisa melihat Siska tertawa sambil menyentuh lengan Pak Radit.
Gia merasa ada sesuatu yang terbakar di dadanya. Bukan asam lambung karena es krim tadi, tapi cemburu yang murni dan original. Tanpa pikir panjang, Gia langsung jalan ke arah mereka.
"PAK RADIT!" teriak Gia kencang, sukses bikin beberapa murid yang masih ada di parkiran menoleh.
Pak Radit dan Siska menoleh serempak.
"Gia? Belum pulang?" tanya Pak Radit heran.
"Belum, Pak. Aduh... kaki saya tiba-tiba sakit banget lagi, Pak!" Gia memegangi kakinya, akting kesakitan level Oscar. "Kayaknya perbannya lepas atau gimana gitu. Bapak bisa cekin bentar nggak?"
Siska menatap Gia dengan tatapan 'Gue tahu lo lagi akting, Bocah', tapi dia tetap memasang senyum palsu. "Eh, kamu lagi ya? Masih sakit ya kakinya? Kasihan banget."
"Iya nih, Mbak. Maklum, saya kan banyak gerak, nggak cuma berdiri cantik samping mobil," balas Gia telak.
Pak Radit menghela napas, dia tahu persis Gia lagi kumat sifat bandelnya. "Siska, maaf ya, kayaknya kita nggak bisa ngopi sekarang. Saya harus urus murid saya dulu."
Wajah Siska berubah sedikit kaku. "Dit, kan ada petugas UKS? Atau dia bisa pulang sendiri? Kita udah telat lho reservasi tempatnya."
"Tugas guru itu memastikan muridnya selamat sampai tujuan, Sis. Dan Gia ini... tanggung jawab khusus saya," kata Pak Radit tegas.
TANGGUNG JAWAB KHUSUS?! Gia pengen salto di tempat denger kata-kata itu.
Siska akhirnya menyerah dengan muka masam. "Oke, terserah kamu. Kabarin aku kalau urusan 'khusus' kamu ini udah selesai." Dia masuk ke mobilnya dan tancap gas dengan suara ban yang berdecit.
Setelah Siska pergi, Pak Radit berbalik menatap Gia. Dia melipat tangannya di dada. "Kaki kamu beneran sakit, atau mau saya kasih es krim satu truk lagi biar mulutnya diem?"
Gia nyengir tanpa dosa. "Hehe. Bapak kok tahu saya bohong?"
"Gia, saya ini guru olahraga. Saya tahu bedanya orang sakit beneran sama orang yang lagi tantrum karena cemburu," kata Pak Radit sambil berjalan menuju pintu mobilnya. "Masuk. Saya antar pulang lagi. Tapi kali ini nggak ada musik, nggak ada ngobrol. Kamu harus dapet hukuman karena udah ganggu urusan orang dewasa."
Gia masuk ke mobil dengan riang gembira. "Dihukum apa, Pak? Digendong lagi? Atau Bapak mau sita HP saya selamanya?"
"Hukumannya adalah..." Pak Radit menyalakan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Gia dengan senyum miring yang bikin bulu kuduk Gia merinding disko. "...besok kamu harus lari 15 putaran sebagai ganti 'akting' kamu hari ini. Dan saya sendiri yang bakal awasi di samping kamu. Tanpa istirahat."
Gia melongo. "HAH?! PAK! ITU MAH PENYIKSAAN!"
"Itu namanya... pendewasaan fisik, Gia."
Mobil Civic itu meluncur keluar dari sekolah. Di tengah perdebatan mereka tentang lari 15 putaran, Gia sadar satu hal: Pak Radit mungkin memang guru yang kaku, tapi dia punya cara sendiri buat narik Gia masuk ke dunianya. Dan Gia? Dia nggak keberatan lari sejauh apapun, asal garis finish-nya adalah hati Pak Radit.
.
.
.
[To be continued ke Episode 6]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..