Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sejak hari itu, Zhang Yuze menambahkan satu kewajiban baru dalam rutinitas hariannya: mempelajari kembali pelajaran-pelajaran yang sempat ia abaikan dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk ujian masuk perguruan tinggi.
Ia kemudian kembali menatap Cermin Pusaka Dewa. Berdasarkan pantulan cahaya dan informasi yang muncul, ia menyadari bahwa seluruh kemampuan tingkat pertama telah ia kuasai sepenuhnya.
Itu berarti… tingkat kedua seharusnya sudah terbuka.
Roh Kitab pernah mengatakan bahwa Cermin Pusaka Dewa memiliki sembilan tingkat kemampuan. Jika tingkat pertama saja sudah sedemikian luar biasa, maka kemampuan apa yang tersembunyi di tingkat kedua?
Clairvoyance? Penglihatan menembus batas?
Hanya membayangkannya saja sudah membuat sudut bibir Zhang Yuze terangkat. Pikirannya mulai melayang ke arah yang semakin tidak terkendali.
“Roh Kitab,” katanya akhirnya, “bagaimana caranya membuka tingkat kedua?”
Ia membalik halaman Cermin Pusaka Dewa dengan tangannya, namun tidak terjadi apa-apa. Permukaannya tetap diam, seolah menolak perintahnya.
“Itu karena energi aktivasi tingkat kedua membutuhkan seratus Energi Iman,” jawab Roh Kitab dengan nada datar.
Zhang Yuze terdiam.
Sesaat kemudian—
“Energi Iman sialan!”
***
Yuanhong Electronics, yang berlokasi di Kawasan Pengembangan Jin Feng, Nan Min, merupakan pabrik elektronik dengan investasi asal Taiwan. Produk-produknya sebagian besar ditujukan untuk ekspor dan laris manis di pasar Asia Tenggara. Keuntungan tahunan perusahaan itu mendekati seratus juta dolar Amerika, menjadikannya salah satu pembayar pajak terbesar di wilayah tersebut. Tak heran, pemerintah daerah memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap operasionalnya.
Pukul 17.30 sore, kawasan depan gerbang Yuanhong Electronics mulai dipadati kendaraan yang datang untuk menjemput kerabat dan teman mereka yang pulang kerja. Mayoritas berupa sepeda motor, diselingi beberapa sepeda kayuh tua. Orang-orang yang berkumpul di sana sebagian besar adalah pekerja migran dari berbagai daerah, berbicara dalam beragam dialek, sesekali terdengar percakapan dalam bahasa Mandarin yang kaku.
Di antara deretan kendaraan itu, Zhang Yuze duduk di atas sebuah sepeda tua yang kondisinya mengenaskan—jika dihitung-hitung, mungkin sudah tangan keempat atau kelima. Catnya mengelupas, sadelnya retak, dan rantainya sesekali berbunyi berderit. Namun di situlah ia menunggu.
Ia datang untuk menjemput Guo Xiaolu.
Inilah rencananya.
Walaupun ia tidak memiliki mobil sport seperti pria-pria berduit itu, ia tidak meremehkan sepeda kayuh. Sepeda tetaplah kendaraan. Sepeda tetap bisa mengantar seseorang pulang.
Keluarganya memang tidak tergolong sangat kaya, tetapi membeli kendaraan yang lebih layak sebenarnya bukan masalah besar. Hanya saja, pencurian sepeda di kota ini sudah kelewat merajalela. Dalam satu bulan, tiga sepeda miliknya raib—dari garasi rumah, dari tempat parkir sekolah, bahkan dari depan toilet umum di pinggir jalan. Sejak itu, ia memilih naik bus untuk berangkat dan pulang sekolah.
Sepeda yang kini ia kendarai adalah milik ayahnya sejak tahun 1990-an. Bisa dibilang barang antik. Saking tuanya, bahkan pencuri pun mungkin tak sudi menyentuhnya. Namun justru karena dibuat pada masa itu, rangkanya sangat kokoh. Meski tampak usang, sepeda itu masih tangguh digunakan.
Dan dengan sedikit rasa tidak tahu malu, Zhang Yuze mengayuhnya kemari.
Ia pulang sekolah pukul 17.30—setengah jam lebih awal daripada jam pulang Guo Xiaolu. Waktu yang tepat untuk menunggu.
Ia memperhatikan suasana di sekitarnya. Sebagian besar pekerja di pabrik elektronik ini adalah perempuan. Dengan kondisi keamanan kawasan yang kurang baik, wajar jika banyak yang dijemput.
“Hei, bro, ada rokok? Punyaku habis. Belum sempat beli.”
Suara itu datang dari seorang pemuda berusia dua puluhan yang duduk di atas sepeda motor Haojue Prince di sampingnya. Pria itu tersenyum ramah, namun sorot matanya memperlihatkan rasa ingin tahu.
Zhang Yuze membalas senyum, lalu mengeluarkan sebungkus rokok Hong Jinlong yang baru dibelinya. Ia membuka bungkusnya dan menyodorkan satu batang.
“Wah… Hong Jinlong?” Pemuda itu tampak kurang puas, namun tetap mengambilnya dan menyalakannya dengan korek api.
“Kau juga menjemput pacar?” tanyanya sambil melirik sepeda tua Zhang Yuze. Ada sedikit nada meremehkan dalam tatapannya.
“Ya,” jawab Zhang Yuze santai.
Di dalam hati, ia menambahkan satu kata: calon.
“Kau naik sepeda seperti ini, tidak takut pacarmu malu?” tanya pemuda itu lagi, kali ini dengan nada penasaran bercampur sinis.
Zhang Yuze menatapnya dengan ekspresi seolah berkata, kau ketinggalan zaman.
“Kau tidak tahu? Sepeda model begini sedang tren sekarang.”
Ucapan itu membuat pemuda tersebut terdiam sesaat. Ia benar-benar termakan kata-kata itu. Di zaman serba aneh ini, apa pun bisa menjadi gaya. Pakaian compang-camping saja bisa disebut mode anti-mainstream, apalagi sepeda tua.
Meski begitu, dalam hati ia tetap menyimpulkan: gadis yang mau naik sepeda seperti itu pasti tidak menarik. Mungkin bahkan… sangat tidak menarik.
“Pacarmu kerja apa di sini?” tanya pemuda itu lagi karena waktu masih tersisa sebelum jam pulang.
Zhang Yuze berpikir sejenak. “Seingatku… dia akuntan.”
Pemuda itu terkejut, tetapi segera menganggap Zhang Yuze sedang membual.
“Akuntan? Di sana memang ada beberapa. Tapi yang muda cuma satu. Sisanya sudah di atas empat puluh. Jangan bilang itu pacarmu?”
“Kau tampaknya cukup tahu,” balas Zhang Yuze ringan. “Yang muda itu mungkin memang pacarku.”
“Cih! Kau berani juga bermimpi.” Pemuda itu tertawa mengejek. “Kata pacarku, gadis itu baru lulus kuliah. Cantiknya seperti artis televisi. Ramah pula. Dari buruh sampai manajer semua menyukainya. Bahkan tuan muda Yuanhong sedang mengejarnya! Tadi siang aku lihat sendiri dia diantar pulang dengan mobil sport mewah. Kalau dia pacarmu, aku panggil kau ‘Ayah’!”
Tatapan meremehkan itu semakin jelas.
Mendengar bahwa tuan muda Yuanhong benar-benar mengejar Xiaolu, alis Zhang Yuze sedikit berkerut. Meski sudah menduga, mendengar konfirmasi langsung tetap membuat hatinya terasa tidak nyaman.
Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon.
Beberapa kata singkat diucapkannya, lalu ia menutup telepon.
Tak lama kemudian, pintu gerbang pabrik mulai ramai. Para pekerja perempuan keluar berkelompok. Sebagian besar masih remaja atau berusia awal dua puluhan. Wajah-wajah muda, pakaian seragam abu-abu, tas digantung di bahu. Mereka bercakap-cakap riang—ekspresi lega setelah jam kerja usai terpancar jelas.
Tak lama, seorang gadis kecil mungil datang menghampiri pemuda di samping Zhang Yuze.
“Aizhen, malam ini tidak lembur, kan?” tanya pemuda itu dengan penuh perhatian.
“Tidak,” jawab gadis itu malu-malu sambil melirik Zhang Yuze sekilas.
Pemuda itu dengan bangga menunjuknya. “Ini pacarku, Liu Aizhen. Lumayan, bukan?”
Zhang Yuze hanya mengangguk tipis. Pandangannya tetap tertuju pada gerbang pabrik.
Lalu—
Ia melihatnya.
Di antara kerumunan seragam abu-abu, seorang gadis melangkah keluar mengenakan celana kasual dan kaus merah-putih bergambar kartun. Ia membawa tas tangan kecil. Tubuhnya ramping, wajahnya segar dan cerah. Ia tidak tampak seperti pegawai pabrik—lebih seperti mahasiswi yang baru keluar dari kampus.
Di tengah lautan pekerja, ia tampak berbeda.
Mencolok.
“Xiaolu, aku di sini!” seru Zhang Yuze lantang.
Kali ini, ia sengaja menghilangkan satu kata.
Bukan “Kak Xiaolu”.
Hanya—
“Xiaolu.”