Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Perjamuan Dua Keluarga dan Tragedi Maket vs Gaun
Suasana di rumah sederhana milik Papa Zea mendadak jadi tegang level maksimal. Di depan pagar, terparkir tiga mobil mewah yang harganya mungkin bisa buat beli satu blok perumahan itu. Tuan Baskoro Bagaskara duduk di ruang tamu sempit Zea dengan wibawa yang tetap tumpah-tumpah, sementara Papa Zea berkali-kali menyeka keringat di dahi.
"Jadi, begini Pak..." Tuan Bagaskara membuka pembicaraan sambil menyesap teh manis buatan Zea yang (syukurnya) nggak kemanisan. "Saya ke sini untuk meresmikan apa yang sudah anak-anak kita mulai. Saya ingin pernikahan siri ini segera disahkan secara hukum negara dan dirayakan sebagaimana mestinya."
Papa Zea berdehem, melirik Antares yang duduk tegak di samping Zea. "Saya setuju, Pak Bagaskara. Saya juga ingin yang terbaik buat Zea. Tapi, apa nggak terlalu cepat? Zea masih kuliah."
"Justru karena dia masih kuliah dan video itu sudah viral, kita harus gerak cepat," sahut Tuan Bagaskara tegas. "Saya tidak mau menantu saya dicap macam-macam. Minggu depan, resepsi akan diadakan di hotel kami. Semua biaya dan persiapan, biar tim saya yang urus."
Zea yang duduk di pojokan cuma bisa nyikut lengan Antares. "Mas... minggu depan itu pengumpulan maket besar!" bisiknya panik.
Antares mengusap tangan Zea di bawah meja, mencoba menenangkan. "Tenang, Zea. Nanti saya bantu."
"Bantu gimana? Mas aja sibuk bimbingan!" Zea mau nangis rasanya. Bayangin, di satu sisi ada gaun pengantin jutaan rupiah, di sisi lain ada lem Aibon dan stik es krim yang belum nempel.
Di ruang tamu Papa Zea yang mungil, suasana makin cair tapi tetep bikin Zea berasa kayak terdakwa. Tuan Baskoro Bagaskara duduk dengan punggung tegak, sementara Papa Zea mulai berani menuangkan kopi ronde kedua.
"Jadi gimana, Pak Baskoro? Apa nggak terlalu mewah kalau di hotel bintang lima? Saya takut keluarga kami nanti kagok," tanya Papa Zea sambil terkekeh canggung.
Tuan Bagaskara tersenyum tipis, tipe senyum penguasa. "Pak, Zea ini sekarang permata di keluarga kami. Antares itu anak tunggal, kaku, kerjanya cuma liatin bintang. Kalau nggak ada Zea, mungkin saya nggak akan pernah liat dia duduk di pelaminan. Jadi, soal kemewahan, itu cara saya berterima kasih sama keluarga Bapak."
Antares berdehem, merasa dibicarakan seolah dia produk gagal. "Pa, nggak usah dilebih-lebihkan. Yang penting sah di mata negara dulu."
"Kamu diam dulu, Antares. Urusan orang tua," potong Tuan Bagaskara telak. Dia balik menatap Papa Zea. "Saya mau ada adatnya juga sedikit, biar sakral. Tapi semuanya tim saya yang urus. Bapak tinggal duduk manis, pake beskap, dan serahin Zea ke anak saya secara resmi."
Papa Zea mengangguk-angguk paham. "Ya sudah, kalau memang itu yang terbaik. Saya titip Zea ya, Pak. Dia ini anaknya manja, kalau ngerjain tugas suka lupa makan, apalagi kalau udah urusan maket arsitektur."
"Tenang, Pak," sahut Tuan Bagaskara sambil melirik Antares. "Anak saya ini 'penjaga' yang sangat ketat. Malah saking ketatnya, sampai viral di TikTok, kan?"
Zea langsung tersedak tehnya sendiri. Uhukk! Antares cuma bisa membuang muka, pura-pura nggak dengar sindiran maut Papanya.
Tragedi Lem Aibon dan Gaun Pengantin
Malam harinya di apartemen, Zea bener-bener mencapai titik puncak stresnya. Dia duduk di lantai, dikelilingi karton, sementara di depannya ada tiga kotak besar berisi contoh bahan gaun.
"Maaaaas! Aku nggak mau milih gaun dulu! Liat nih, atap maket aku copot lagi! Lemnya nggak nempel-nempel, tangan aku udah penuh lem semua!" rengek Zea sambil mengangkat tangannya yang belepotan.
Antares yang baru selesai mandi, cuma pake celana santai dan kaos tipis, nyamperin Zea. Dia duduk di sofa, ngeliatin Zea yang udah mau nangis. "Pilih dulu kainnya, Zea. Orang butiknya nunggu kabar malam ini."
"Nggak mau! Mas aja yang pilih! Mas kan pinter, pilih yang paling nggak bikin gatel!" Zea mulai tantrum, dia nendang-nendang pelan kardus maketnya. "Terus ini gimana? Asdos Mas tadi nge-chat, katanya revisi maket harus dikumpul besok pagi jam 8! Aku kan mau nikah, masa harus begadang ngerjain ginian!"
"Sini," ucap Antares singkat. Dia turun ke lantai, narik kursi kecil buat duduk di sebelah Zea. "Bahan yang ini, silk sutra. Lembut buat kulit kamu yang sensitif itu. Yang lace ini simpan buat bagian tangan saja. Sudah, deal?"
"Deal! Sekarang bantuin aku nempel ini!" Zea nyodorin potongan stik es krim ke depan muka Antares.
Antares ngambil stik itu, terus mulai ngolesin lem dengan sangat presisi. "Kamu manja banget ya kalau lagi tertekan. Biasanya di kampus sok berani lawan dosen."
"Ya kan ini di rumah! Di rumah aku itu istri, bukan mahasiswi!" Zea manyun, dia nyenderin kepalanya di bahu Antares sambil liatin tangan suaminya yang lincah ngerjain maket. "Mas... nanti pas resepsi, aku boleh nggak tetep pake sepatu kets di balik gaun? Aku nggak kuat pake heels lima jam."
"Nggak boleh. Papa sudah pesen sepatu khusus buat kamu. Berliannya asli, Zea. Kalau kamu pake kets, Papa bisa serangan jantung," jawab Antares tanpa nengok.
"Hih! Pelit banget sih! Mas Antar juga, kenapa nggak belain aku depan Papa tadi? Malah diem aja pas Papa bilang Mas 'penjaga ketat'. Aku malu tau!" Zea nyubit pinggang Antares kenceng.
"Aww! Zea, ini tangan saya lagi pegang lem!" Antares nangkep tangan Zea, terus narik gadis itu sampai duduk di pangkuannya. Maket yang tadi dikerjain langsung terlupakan. "Saya nggak belain karena yang Papa omongin itu bener. Saya emang bakal jagain kamu seketat itu. Biar Raka-Raka yang lain nggak punya celah."
"Tuh kan! Posesifnya kumat!" rengek Zea, tapi tangannya malah melingkar di leher Antares. "Mas, maketnya gimana? Nanti nggak selesai..."
"Biarin aja. Besok saya yang bilang ke asdosnya kalau kamu ada urusan mendadak sama saya," bisik Antares mulai nakal, hidungnya mulai nyari-nyari ceruk leher Zea.
"Urusan apa?"
"Urusan... bikin keturunan buat Papa Bagaskara. Kan Papa tadi bilang, dia udah nggak sabar," jawab Antares rendah.
"MAS ANTAR! MAKET AKU BELUM JADIIII!"
Dan malam itu, maket arsitektur Zea kembali jadi korban "hukuman" Antares yang nggak ada habisnya.