Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Darah di Atas Darah
Debu dari ledakan pintu ruang kerja masih menggantung di udara, menciptakan tirai kelabu yang menyesakkan. Dante berdiri tegak di balik meja mahagoninya, napasnya teratur namun matanya memancarkan kilat yang mematikan. Di depannya, berdiri seorang pria dengan postur yang sangat mirip dengan Satria, namun auranya jauh lebih gelap. Pria itu adalah Lukas, saudara kandung Satria yang selama ini hilang dalam catatan kriminal kota.
"Kau memiliki mata yang sama dengannya," Dante mengawali, suaranya tenang meski tangannya sudah siap di atas pelatuk. "Tapi Satria memiliki hati. Kau hanya memiliki rasa lapar akan kekuasaan."
Lukas tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas. "Satria adalah orang lemah. Dia pikir dia bisa menjadi pahlawan dengan mencuri dari Marco dan bersembunyi di balik daster seorang wanita. Dia mati seperti anjing, dan sekarang kau melindungi jandanya hanya untuk mendapatkan apa yang dia sembunyikan."
"Aku tidak melindungi jandanya demi informasi," desis Dante. "Aku melindunginya karena dia adalah hal terbaik yang pernah terjadi di kota yang busuk ini. Hal yang tidak akan pernah bisa kau mengerti."
Tanpa peringatan, Lukas menarik pelatuk. Dante melompat ke balik meja tepat saat peluru menghancurkan lampu meja kristalnya. Pertempuran di ruang kerja itu pecah. Suara tembakan bersahutan dengan dentuman granat dari arah halaman mansion.
Sementara itu, di lorong bawah tanah yang sempit dan pengap, Aruna terus berlari sambil menggandeng tangan Bumi. Cahaya senter dari ponselnya bergoyang-gaya, menciptakan bayangan raksasa yang menakutkan di dinding semen. Aruna bisa mendengar getaran ledakan dari atas kepala mereka. Mansion itu sedang dihancurkan.
"Ibu, kepalaku sakit... suaranya keras sekali," Bumi merengek, air matanya membasahi pipi yang kotor terkena debu terowongan.
"Tahan sebentar lagi, Sayang. Kita hampir sampai ke ujung," Aruna mencoba menenangkan, meski kakinya sendiri sudah lemas.
Tiba-tiba, langkah Aruna terhenti. Di depan mereka, sebuah pintu besi yang seharusnya menjadi jalan keluar tampak terbuka sedikit. Aruna mematikan senternya. Jantungnya berdegup kencang. Jika pintu itu terbuka, artinya seseorang telah masuk dari arah luar.
"Aruna?" sebuah suara berbisik dari kegelapan.
Aruna menahan napas. Ia mengenali suara itu. Itu adalah suara salah satu pengawal pribadi Dante yang baru direkrut sebulan lalu, namanya Yoga.
"Yoga? Apakah itu kau?" tanya Aruna ragu.
"Ya, Nyonya. Enzo mengirimku lewat jalur belakang untuk menjemput Anda. Cepat, mobil sudah siap di ujung terowongan."
Aruna merasa lega sesaat. Ia melangkah maju, namun saat cahaya senternya secara tak sengaja mengenai tangan Yoga, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di pergelangan tangan Yoga, terdapat tato berbentuk kalajengking hitam—simbol dari anak buah Marco yang paling setia.
Yoga bukan orang Dante. Dia adalah penyusup.
"Lari, Bumi!" teriak Aruna seketika.
Ia mendorong Bumi ke arah celah sempit di dinding terowongan yang tertutup tumpukan kayu bekas, sementara ia sendiri berbalik untuk menghadapi Yoga. Yoga merengsek maju, wajahnya yang tadi tampak ramah kini berubah menjadi bengis.
"Berikan flashdisk itu, Aruna! Jangan buat aku harus melukai wajah cantikmu!" Yoga menerjang.
Aruna, yang selama ini hanya dikenal sebagai penjahit yang lembut, tiba-tiba merasakan dorongan kekuatan yang liar. Ia teringat Dante yang berdarah di dermaga demi anaknya. Ia teringat Satria yang mati demi melindunginya. Ia tidak akan membiarkan pengorbanan mereka sia-sia.
Saat Yoga mencoba mencengkeram lehernya, Aruna meraih sebuah linggis berkarat yang tergeletak di lantai terowongan. Dengan segenap tenaga, ia mengayunkannya. Brak! Linggis itu mengenai bahu Yoga, membuatnya terjerembap.
"Kau... wanita sialan!" umpat Yoga.
Aruna tidak menunggu. Ia menarik Bumi keluar dari celah dan berlari kembali ke arah tangga yang menuju ke lantai utama mansion. Ia tahu itu berbahaya, tapi terowongan ini sudah tidak aman. Ia harus menemukan Dante.
Di lantai atas, Dante sedang bergulat dengan Lukas. Mereka berdua sudah kehabisan peluru dan kini terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal. Dante menghantamkan sikunya ke rahang Lukas, namun Lukas membalas dengan tendangan keras tepat di luka operasi Dante yang belum pulih benar.
Dante tersungkur, memuntahkan darah. Rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan sarafnya sejenak.
"Lihat dirimu, Valerius. Sang Vulture yang agung berdarah karena seorang anak dan wanita," Lukas mengambil sebilah pisau dari balik sepatunya. "Marco ingin kau mati perlahan."
Lukas mengangkat pisaunya, siap untuk menghunjamkan ke leher Dante. Namun, pintu ruang kerja terbuka dengan hantaman keras.
"Hentikan!" Aruna berdiri di sana, napasnya memburu, memegang flashdisk perak itu tinggi-tinggi. "Kau menginginkan ini, bukan? Ambil ini dan biarkan dia hidup!"
Lukas berhenti, matanya berbinar melihat benda perak itu. "Aruna... iparku yang cantik. Akhirnya kau menunjukkan diri."
"Aruna, pergi dari sini!" teriak Dante dengan sisa tenaganya. "Dia tidak akan membiarkan siapa pun hidup!"
Lukas berjalan mendekati Aruna dengan perlahan. "Berikan padaku, dan mungkin aku akan membiarkanmu dan bocah itu pergi ke pemakaman suamimu untuk terakhir kalinya."
Aruna menatap Dante. Ia melihat luka-luka pria itu, pengorbanannya, dan cinta yang terpancar dari matanya yang kian meredup. Aruna kemudian menatap Lukas.
"Kau ingin tahu di mana Satria menyimpan rahasia terakhirnya?" tanya Aruna dengan suara yang sangat tenang. "Dia menyimpannya bukan di dalam benda ini."
Lukas mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Dia menyimpannya dalam ingatanku. Flashdisk ini hanya umpan," Aruna tiba-tiba melemparkan benda itu ke arah jendela yang pecah, jauh ke arah jurang di bawah mansion.
"Tidaaak!" teriak Lukas. Secara refleks, ia berlari menuju jendela untuk melihat benda berharga itu jatuh.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dante. Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Dante bangkit dan menerjang punggung Lukas. Mereka berdua menabrak jendela yang sudah retak itu. Suara kaca pecah yang memekakkan telinga terdengar saat tubuh mereka berdua jatuh keluar dari lantai dua.
"Dante!" Aruna menjerit.
Ia berlari ke arah jendela. Di bawah sana, di atas atap sebuah mobil yang terparkir, Dante dan Lukas terkapar. Lukas tidak bergerak lagi, lehernya tertusuk serpihan kaca besar. Namun Dante... Dante masih mencoba bergerak.
Enzo dan pasukan setianya akhirnya berhasil memukul mundur para penyerang. Mereka segera menghampiri Dante. Aruna berlari menuruni tangga secepat kilat, mengabaikan rasa sakit di kakinya.
Saat ia sampai di halaman, Dante sudah dikelilingi oleh tim medis. Aruna jatuh berlutut di sampingnya. Dante membuka matanya sedikit, melihat Aruna dan Bumi yang kini berada di samping ibunya.
"Apakah... benda itu... benar-benar umpan?" tanya Dante dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
Aruna tersenyum pahit sambil mengeluarkan flashdisk yang asli dari dalam saku tersembunyi di dalam bajunya. "Aku belajar darimu, Dante. Jangan pernah menunjukkan kartu as-mu terlalu cepat."
Dante tertawa lirih, meski tawa itu membuatnya terbatuk darah. "Kau... benar-benar... pasanganku."
Mansion Valerius mungkin sudah hancur setengahnya. Kekaisaran yang dibangun dengan darah itu kini sedang goyah. Namun, di tengah reruntuhan itu, Aruna menyadari bahwa ia bukan lagi janda yang lemah. Ia adalah bagian dari badai ini sekarang.
"Enzo," panggil Aruna dengan nada yang tidak terbantah. "Siapkan kendaraan. Kita tidak akan pergi ke tempat persembunyian lain. Kita akan pergi ke markas pusat Marco. Malam ini, kita selesaikan hutang ini selamanya."
Enzo tertegun melihat perubahan pada diri Aruna. Ia melihat ke arah Dante, yang hanya memberikan anggukan kecil penuh rasa bangga.
"Mata ganti mata, Nyonya?" tanya Enzo.
"Tidak," jawab Aruna sambil menatap matahari yang mulai terbit di ufuk timur. "Seluruh nyawa untuk sebuah kedamaian."
Malam kekacauan itu berakhir, namun fajar membawa babak baru di mana sang janda dan sang monster bersatu untuk menghancurkan kegelapan yang telah menghantui hidup mereka selama bertahun-tahun. Perjalanan mereka menuju Dermaga Terakhir baru saja dimulai.