NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keyakinanku

Gio menarik napasnya pelan.

"Tadi...." katanya ragu. "Maksud Mbak Seren apa ya?"

Aku terdiam sesaat. Dadaku Masih naik turun, bukan cuma karena emosi, tapi karena sadar satu hal orang di depanku ini adalah orang yang paling dekat dengan Maya. Tunangannya.

Orang terakhir yang seharusnya percaya kalau Maya bunuh diri atau sebaliknya.

Arven menoleh ke arahku, ia berniat untuk tidak memotong perkataanku sama sekali, hanya memberi ruang untuk aku, untuk berbicara tentang apa yang aku pikirkan.

Aku menelan ludah.

"Maaf," kataku lebih dulu, suaraku lebih rendah sekarang.

"Saya bukan maksud nyerang Mas Gio atau apa pun. Saya cuma kebawa emosi."

Gio mengangguk pelan. "Nggak apa-apa Mbak," katanya cepat, meski jelas ada garis lelah di wajahnya. "Saya ngerti."

Aku menarik napas, lalu memaksakan diriku untuk bicara lebih runtut.

"Saya nemuin sesuatu yang aneh," kataku. "Soal chat Maya ke Saya."

Gio mengangkat kepala sedikit. Aku bisa melihat alisnya berkerut.

"Chat?" ulangnya.

"Iya." Aku mengangguk. "Malam itu. Malam minggu."

Tanganku refleks mengepal di pangkuan. Aku memilih kata-kataku hati-hati, tapi sebisa mungkin aku berkata jujur.

"Maya chat saya jam dua pagi. Isinya Masih Masuk akal. Gaya dia. Kayak orang setengah ngantuk, tapi Masih sempat jelasin kenapa dia nggak bisa datang."

Gio mendengarkan, dalam diam. Wajahnya tampak tegang.

"Tapi setelah itu," lanjutku, "ada chat lagi. Jam empat lewat. Subuh."

Gio mengerjap. "Jam empat?"

Aku mengangguk. "Iya. Dan itu yang bikin aku kepikiran. Soalnya di berita, polisi bilang perkiraan waktu kematian Maya itu antara jam satu sampai jam dua pagi."

Ruangan terasa sunyi lagi. Bahkan Arven tidak bergerak.

"Kalau perkiraan itu benar," kataku pelan, "berarti chat jam empat itu bukan dari Maya."

Aku tidak menyebutkan kata siapa. Tapi kalimat itu sudah cukup berat untuk aku katakan.

Gio terdiam lama. Matanya menatap satu titik di lantai, rahangnya mengeras. Tangannya yang tadi memegang paper bag sekarang turun ke sisi tubuhnya, jemarinya sedikit gemetar.

"Mbak..." suaranya terdengar serak. "Saya… aku nggak tahu."

Aku mengangguk kecil. "Saya juga nggak tahu, Mas. Saya cuma nyoba nyusun hal-hal yang kelihatan nggak nyambung."

Ia menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan. Gerakannya pelan, seperti orang capek.

"Kalau pun chat itu bukan dari Maya," katanya lirih, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, "kenapa harus ke Mbak bukan ke saya? saya kan tunangannya?"

Itu pertanyaan yang sama yang ada di kepalaku sejak tadi.

"Mungkin," kataku ragu, "buat bikin semuanya kelihatan normal. Biar orang-orang mikir Maya cuma lagi sibuk. Masih hidup. Jadi nggak ada yang langsung nyari, nggak ada yang curiga."

Gio menggeleng pelan. Seolah menolak pikiran buruk itu sebelum sempat benar-benar mengakuinya.

"Enggak," katanya. "Saya nggak bisa nerima itu. Enggak Masuk akal Mbak."

Aku menatapnya, mencoba membaca wajahnya. Ada duka di sana, ada kebingungan juga, dan ada sesuatu yang lain, dia seperti tidak mau menerima perkataanku.

"Maya itu orangnya baik," lanjut Gio, suaranya naik sedikit, emosinya mulai bocor. "Dia nggak punya musuh. Dia nggak pernah cerita ada Masalah serius. Kalau pun dia lagi capek atau stres, bukan tipe yang yang sampai kayak gini."

Aku mengangguk pelan. "Makanya saya juga ngerasa aneh."

Gio mengangkat wajahnya, menatapku langsung.

"Polisi bilang buktinya kuat, Mbak," katanya. "Lokasi, kondisi, semuanya. Mereka yakin itu bunuh diri."

Aku menarik napas dalam. "Mas Gio pernah kepikiran buat minta penyelidikan ulang?"

Kalimat itu meluncur sebelum sempat kutahan sepenuhnya Arven sedikit menegang di sampingku, tapi tidak menghentikanku.

Gio terdiam, dia terdiam cukup lama. Lalu ia menggeleng, kali ini lebih tegas.

"Enggak," katanya. "Saya sejujurnya nggak sanggup."

Suaranya pecah di kata terakhir.

"Saya sudah capek, Mbak," lanjutnya lirih. "Bolak-balik kantor polisi, jawab pertanyaan yang sama, denger orang ngomong soal Maya seolah dia cuma kasus. Kalau aku harus mulai lagi, apalagi dengan kemungkinan itu...." Ia berhenti, menelan ludah.

"Saya nggak kuat."

Aku menatapnya. Di satu sisi, aku mengerti. Di sisi lain, ada suara kecil di kepalaku yang tidak mau diam orang terdekat selalu paling mungkin, atau paling tidak, paling tahu tentang sesuatu.

"Tapi kalau benar ada orang lain yang pakai nama Maya buat chat," kataku pelan, "itu bukan hal kecil, Mas."

Gio menggeleng lagi, kali ink hampir putus asa.

"Atau mungkin chatnya error," katanya cepat, seperti mencari pegangan. "Atau ke-delay. Teknologi kan suka aneh. Bisa aja itu terkirim belakangan."

Aku tidak langsung menjawab. Aku tahu alasan itu terdengar lemah. Dan dari caranya bicara, Gio sendiri seperti sedang meyakinkan dirinya, bukan aku.

"Mungkin," kataku akhirnya, memilih tidak menekan.

Gio menghela napas lega, sedikit. Seolah diberi jalan keluar.

"Maaf ya, Mbak," katanya. "Kalau saya belum bisa mikir sejauh itu. Buat saya....Maya sudah pergi aja rasanya sudah cukup berat."

Aku mengangguk. "Saya ngerti Mas."

Arven meremas bahuku sedikit, seperti mengingatkanku untuk bernapas.

Gio berdiri lebih cepat dari yang kami duga, gerakannya tiba-tiba, kursi sampai bergeser sedikit ke belakang. Ia tidak menatap kami berdua.

"Maaf," katanya singkat. Terlalu singkat. "Saya, saya kayaknya harus pergi."

Aku refleks ikut berdiri. "Mas Gio!"

Langkahnya sudah mengarah ke pintu. Bahunya tegang, napasnya berat, seperti orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak tumpah di tempat yang salah.

"Mas, bentar," kataku, suaraku meninggi tanpa sadar. Ada terlalu banyak hal yang belum selesai. Terlalu banyak yang belum aku tanya.

Aku melangkah hendak mengejarnya.

Tapi Arven lebih cepat.

Tangannya menahan lenganku, genggamannya cukup kuat untuk membuatku berhenti. Ia mendekat, suaranya diturunkan, hanya untukku.

"Ren, udah," katanya pelan. "Mas Gio udah kelihatan down banget itu. Udah ya."

Aku menoleh ke arahnya, dadaku Masih bergemuruh. "Tapi-"

Arven berkata lebih lembut. "Enggak sekarang."

Aku kembali menatap Gio. Ia sudah berdiri di depan pintu, punggungnya menghadap kami. Bahunya naik turun cepat, seperti orang yang sedang mencoba mengatur napasnya sendiri.

Ia meraih gagang pintu, berhenti sepersekian detik, lalu berkata tanpa menoleh,

"Jaga diri ya, Mbak, Mas."

Pintunya terbuka, lalu tertutup lagi dengan bunyi yang pelan, hampir tidak terdengar.

Aku Masih berdiri di tempat, tanganku mengepal. Rasanya seperti ada sesuatu yang terlepas begitu saja, yang tidak sempat kugenggam.

"Ven," suaraku pelan, hampir habis. "Dia pergi."

Arven tidak langsung menjawab. Ia berdiri di depanku, lalu menarikku masuk ke dalam pelukan, satu tangan di punggungku, satu lagi di belakang kepalaku.

"Iya," katanya lirih. "Dan dia jelas lagi nggak baik-baik aja."

Aku menyandarkan kening ke dadanya, napasku mulai berantakan.

"Kalau dia nggak balik lagi gimana?" tanyaku.

Arven terdiam sebentar, lalu mengusap punggungku pelan, berulang.

"Kalau memang ada yang belum selesai," katanya tenang, "Orang pasti balik. Entah sekarang, atau entah nanti."

1
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!