mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekar Air Di Dermaga Ciang Long
Sinaran matahari pagi mulai menerobos celah-celah semak-semak yang menutupi pintu gua. Udara pagi di hutan terasa segar dan lembab, bercampur dengan aroma tanah basah dan dedaunan kering. Liu Wei telah berjaga sepanjang malam, matanya tetap waspada terhadap setiap gerakan di sekitar hutan. Saat melihat bahwa Pasukan Bayangan Hitam tampaknya telah pergi mencari mereka ke arah lain, dia kembali mendekati Chen Mei yang masih terlelap.
Setelah beberapa saat, Chen Mei perlahan membuka mata. Wajahnya terlihat lebih segar dibandingkan malam sebelumnya, meskipun masih ada bekas kelelahan di sudut matanya. “Berapa lama aku tidur?” tanyanya dengan suara yang masih sedikit serak.
“Kurang lebih enam jam,” jawab Liu Wei sambil memberikan segelas air yang dia kumpulkan dari sumber di dekat gua. “Kamu perlu makan sesuatu. Aku punya beberapa biskuit dan daging asap yang bisa kita santap sebelum melanjutkan perjalanan.”
Setelah mereka menyelesaikan makanan pagi dengan sederhana, Chen Mei berdiri dan melakukan peregangan ringan. “Kita harus pergi sekarang. Menurut informasi yang saya dapat sebelum melarikan diri, salah satu Pendekar Bintang lainnya berada di Dermaga Ciang Long—pelabuhan besar di pesisir utara. Dia dikenal sebagai Pendekar Air, Zhou Yu.”
“Dermaga Ciang Long? Itu berjarak sekitar tiga hari perjalanan dari sini jika kita menggunakan jalan darat,” ucap Liu Wei sambil mengatur barang-barangnya di dalam tas yang terbentang di lantai gua. “Namun jika kita mengambil jalur sungai, mungkin bisa lebih cepat tapi juga lebih berbahaya. Jalur sungai sering digunakan oleh bajak laut dan kelompok gelap lainnya.”
Chen Mei mengangguk perlahan. “Kamu benar. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Pasukan Bayangan Hitam pasti sudah mulai mencari Pendekar lainnya juga. Kita harus sampai sebelum mereka.”
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan dengan arah ke arah selatan, menuju sungai besar yang akan mengantar mereka ke Dermaga Ciang Long. Sepanjang jalan, Chen Mei mulai menjelaskan lebih banyak tentang Sekte Bintang Penyusun dan kekuatan masing-masing Pendekar.
“Setiap Pendekar Bintang memiliki kekuatan khusus yang berasal dari elemen alam,” jelas Chen Mei sambil melompat dengan mudah melewati sebuah parit yang penuh lumpur. “Zhou Yu menguasai kekuatan air—dia bisa mengendalikan aliran sungai, membentuk pelindung dari es, bahkan bernapas di bawah air selama berjam-jam. Ia bekerja sebagai pengawal kapal di Dermaga Ciang Long setelah sekte kita mulai menyebarkan anggota untuk menghindari serangan besar-besaran.”
Liu Wei mendengarkan dengan saksama sambil mencoba meniru gerakan Chen Mei agar bisa melewati rintangan medan dengan lebih mudah. “Bagaimana cara kita mengetahui dia adalah orang yang kita cari?” tanyanya.
“Setiap Pendekar Bintang memiliki tanda khusus di tubuh mereka, sama seperti tato bintang di tanganmu,” jawab Chen Mei. “Pada Zhou Yu, tandanya berada di bagian perutnya—bentuk bintang yang sama dengan pola di langit, namun berwarna biru seperti laut.”
Setelah berjalan selama hampir seharian penuh, mereka akhirnya sampai di tepi Sungai Kuning yang luas. Airnya mengalir deras dengan warna kemerahan keemasan karena muatan tanah liat yang banyak. Di tepi sungai, sebuah dermaga kecil berdiri dengan beberapa perahu kayu yang siap menyewa. Namun yang menarik perhatian Liu Wei adalah sekelompok pria berpakaian hitam dengan lambang kepala naga hitam di dada mereka—lambang Pasukan Bayangan Hitam.
“Berhati-hatilah,” bisik Chen Mei dengan suara rendah, menarik Liu Wei untuk bersembunyi di balik semak-semak tinggi. “Mereka sudah sampai di sini sebelum kita. Sepertinya mereka juga mencari Zhou Yu.”
Liu Wei mengamati gerakan kelompok itu. Ada sekitar lima orang, dipimpin oleh seorang pria berkulit gelap dengan wajah yang penuh bekas luka. Dia berdiri di depan seorang pedagang tua yang sedang gemetar di depan perahu miliknya.
“Kamu pasti tahu di mana Zhou Yu berada!” seru pria berkulit gelap itu dengan suara keras. “Katakan saja sebelum aku menghancurkan seluruh dermaga ini!”
Pedagang tua itu menggeleng-geleng kepala dengan takut. “T-tidak tahu saya, Pak! Saya hanya seorang pedagang kecil—”
Sebelum pedagang itu bisa menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah menarik pedangnya dan siap menyerang. Namun tepat pada saat itu, sebuah semburat air deras menyambar dari arah sungai, membuat pria itu terpental mundur beberapa langkah.
Dari atas kapal kayu besar yang baru saja datang mendekati dermaga, seorang pria muda dengan rambut hitam yang diikat rapi melompat ke darat. Pakaiannya berwarna biru muda dengan aksen perak, tubuhnya bergerak dengan keanggunan yang mengingatkan pada aliran air. Wajahnya tampan dengan mata yang tajam seperti ikan paus.
“Jika kamu ingin mencari Zhou Yu,” ucap pria itu dengan suara yang tenang namun penuh kekuasaan, “maka kamu sedang berbicara dengannya.”
Liu Wei dan Chen Mei saling melihat. Akhirnya mereka menemukan Pendekar kedua.
Pasukan Bayangan Hitam segera mengelilingi Zhou Yu. Pria berkulit gelap itu mengeluarkan senyum jahat. “Akhirnya kamu muncul, Pendekar Air. Pimpinan kita sudah menunggu lama untuk bertemu denganmu.”
“Zhang Feng tidak akan mendapatkan apa-apa dariku,” jawab Zhou Yu dengan tegas. “Kekuatan Bintang Penyusun tidak akan pernah jatuh ke tangan orang yang menyalahgunakan kekuasaan seperti dia.”
Tanpa basa-basi lagi, salah satu anggota Pasukan Bayangan Hitam menyerang dengan pedangnya yang tajam. Zhou Yu hanya menyilang tangannya di depan dadanya, dan tiba-tiba sebuah tembok es tipis namun kuat muncul di depannya, menghalangi serangan itu. Saat pedang menyentuh es, suara berdengung keras terdengar dan es itu pecah menjadi ribuan serpihan yang menyala seperti kristal.
Sambil mengayunkan tangannya ke arah sungai, Zhou Yu mengendalikan aliran air yang membentuk seperti ular besar yang menyerang kelompok itu. Beberapa orang terjatuh terbawa arus, namun yang lain berhasil menghindari dengan gesit. Pria berkulit gelap itu menarik pedangnya dan menyerang dengan kecepatan tinggi, mencoba mengecoh Zhou Yu dengan gerakan yang licin.
Liu Wei merasa tangannya ingin menarik Pedang Angin Birunya untuk membantu, tapi Chen Mei menarik bajunya dengan lembut. “Tunggu dulu. Kita harus melihat bagaimana kekuatannya bekerja. Selain itu, mungkin ada musuh lain yang mengawasi kita dari jauh.”
Zhou Yu bergerak seperti air yang mengalir—setiap serangan musuh bisa dia hindari dengan mudah, terkadang bahkan menggunakan aliran air untuk membalikkan serangan itu kepada penyerang. Namun seiring berjalannya waktu, jelas bahwa Zhou Yu harus menghadapi terlalu banyak lawan sekaligus. Saat dia sedang fokus menghadapi dua orang di depannya, salah satu anggota Pasukan Bayangan Hitam menyelinap dari belakang dengan senjata tombak yang siap menusuk.
“Berhati-hatikan belakang!” teriak Liu Wei sambil akhirnya menarik pedangnya dan melompat ke tengah medan perang.
Pedang Angin Biru menyala dengan cahaya kebiruan saat menyambut tombak itu, membuat percikan api biru terbang ke segala arah. Liu Wei dengan cepat mengayunkan pedangnya, mengusir penyerang dari belakang Zhou Yu.
“Siapa kamu?” tanya Zhou Yu dengan mata sedikit membesar saat melihat Liu Wei yang berdiri di sisinya.
“Liu Wei—Pendekar Bintang Utama,” jawab Liu Wei sambil menghindari serangan dari salah satu musuh. “Kita datang untuk membantumu.”
Zhou Yu mengangguk dengan senyum singkat, kemudian bersama-sama mereka menghadapi kelompok Pasukan Bayangan Hitam. Chen Mei juga bergabung, menggunakan teknik bela diri jarak jauh dengan mengeluarkan peluru kecil yang terbuat dari batu kristal ke arah musuh.
Dalam waktu singkat, kelompok Pasukan Bayangan Hitam itu dikalahkan. Beberapa berhasil melarikan diri ke arah hutan, namun yang lain terbaring tak berdaya di atas tanah basah dermaga. Pria berkulit gelap itu mencoba melarikan diri dengan berenang ke sungai, namun Zhou Yu mengangkat tangannya dan air sungai membentuk seperti penjara yang mengurungnya di tengah sungai.
“Kamu akan dikirim ke otoritas lokal untuk diadili,” kata Zhou Yu dengan suara tegas sebelum kembali menghadap Liu Wei dan Chen Mei. “Sekarang ceritakan padaku mengapa kalian datang mencari aku.”
Setelah mereka menjelaskan semua hal tentang serangan pada markas Sekte, serta rencana untuk mencari Pendekar lainnya, Zhou Yu terdiam sejenak. Kemudian dia menarik bagian bajunya yang terbuka, menunjukkan tanda bintang berwarna biru di perutnya yang bersinar lembut.
“Ayahku pernah mengatakan bahwa saatnya akan tiba ketika Pendekar Bintang harus bersatu kembali,” ucap Zhou Yu dengan ekspresi serius. “Saya sudah menunggu ini selama bertahun-tahun. Saya akan bergabung dengan kalian. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang perlu saya ambil dari tempat tinggal saya di dekat dermaga ini—pusaka yang diberikan oleh ayahku untuk membantu dalam perjalanan kita.”
Chen Mei mengangguk dengan senyum. “Baiklah. Kita bisa menggunakan kapal milikku untuk melanjutkan perjalanan setelah itu. Menurut informasi yang saya punya, Pendekar ketiga berada di Kota Emas Tian Jin—dia adalah Wu Jing, Pendekar Api yang menguasai kekuatan api dan panas.”
Liu Wei merasakan semangatnya meningkat. Mereka sudah menemukan Pendekar kedua, dan kini jalan menuju Kota Emas Tian Jin sudah jelas. Namun dia juga tahu bahwa Pasukan Bayangan Hitam tidak akan berhenti begitu saja. Mereka pasti akan kembali dengan pasukan yang lebih banyak untuk menangkap mereka.
Waktu semakin singkat, dan tugas yang diemban semakin berat. Tapi dengan adanya Zhou Yu sebagai sekutu baru, harapan untuk menyelamatkan dunia semakin besar.
Saat mereka berjalan menuju tempat tinggal Zhou Yu di pinggiran dermaga, matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan warna jingga dan merah keemasan di langit yang diterangi oleh pola enam bintang yang sudah mulai muncul di atas langit malam.