Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Perjamuan Berdarah dan Runtuhnya Menara Gading
Bab 8: Perjamuan Berdarah dan Runtuhnya Menara Gading
Suasana ruang makan di kediaman Surya Atmadja malam itu terasa begitu mencekam, meski dekorasinya tampak luar biasa mewah. Lilin-lilin tinggi berdiri di atas meja perak, memantulkan cahaya pada deretan alat makan kristal. Arini duduk di sisi kanan ayahnya, mengenakan gaun merah marun yang senada dengan warna anggur di gelasnya. Di seberangnya, Reihan duduk dengan wajah tenang yang menyimpan badai.
Ini adalah rencana yang telah disusun Arini selama tiga hari terakhir: Operasi Penjeratan. Arini telah membisikkan pada ayahnya bahwa Reihan memiliki dokumen "putih" yang bisa membersihkan nama Surya dari segala keterlibatan masa lalu, sekaligus menjatuhkan keluarga Dirgantara sepenuhnya. Sebagai gantinya, Surya harus menandatangani surat pengalihan aset utama perusahaan tekstilnya kepada Arini sebagai bentuk "warisan dini".
"Kau tampak sangat bersemangat malam ini, Arini," ucap Surya sambil memotong steaknya dengan presisi seorang algojo. "Sepertinya kau sudah mulai paham bahwa cinta hanyalah bumbu, dan uang adalah hidangan utamanya."
Arini tersenyum tipis, matanya melirik ke arah Reihan. "Aku hanya belajar dari yang terbaik, Ayah. Reihan sudah membawa dokumennya. Jika Ayah menandatangani pengalihan aset itu, Reihan akan menyerahkan kunci brankas digital yang berisi semua bukti pengkhianatan Dirgantara pada Ayah."
Reihan mengeluarkan sebuah flashdisk perak dan meletakkannya di atas meja marmer. "Semua ada di sini, Pa. Nama-nama, tanggal transaksi, bahkan rekaman suara Bianca saat dia mencoba menyuap auditor. Ini akan membuat Ayah menjadi penguasa tunggal di industri ini."
Mata Surya berkilat serakah. Ia memberi isyarat pada asisten pribadinya untuk membawakan dokumen pengalihan aset. Tangannya yang sudah keriput namun kuat meraih pena emas. Arini menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Sedikit lagi, ayahnya akan kehilangan segala kekuasaannya secara hukum, dan Arini akan memiliki kendali penuh untuk menghancurkannya dari dalam.
Namun, tepat saat ujung pena Surya menyentuh kertas, pintu ruang makan terbuka dengan keras.
Bianca Dirgantara masuk dengan napas memburu, namun kali ini ia tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri dua pria berseragam hitam dengan wajah kaku—tim pengacara dan keamanan dari Dirgantara Group.
"Berhenti, Om Surya! Jangan tandatangani apa pun!" teriak Bianca. Suaranya melengking, memecah keheningan yang tegang.
Surya menghentikan gerakannya. "Bianca? Apa-apaan ini? Beraninya kau mengganggu jamuan keluargaku!"
Bianca berjalan cepat menuju meja, melemparkan sebuah tablet digital ke depan Surya. "Putrimu yang tersayang ini... dia tidak sedang membantu Om. Dia bekerja sama dengan Reihan untuk menjebakmu. Tapi yang tidak mereka tahu, Reihan juga sedang menjebak Arini!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arini. Ia menatap Reihan, namun suaminya itu hanya menatap kosong ke arah gelas anggurnya.
"Apa maksudmu?" tanya Surya dengan suara rendah yang berbahaya.
"Lihat folder itu, Om," lanjut Bianca dengan senyum kemenangan yang iblis. "Reihan sudah memindahkan semua aset yang seharusnya dialihkan ke Arini ke sebuah akun penampung di Swiss atas nama... Reihan sendiri. Arini tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan flashdisk itu? Isinya bukan bukti untuk menjatuhkan papa saya, tapi virus yang akan menghapus semua data di komputer pusat perusahaan Om begitu dicolokkan!"
Arini merasa seperti disambar petir di siang bolong. Ia menoleh ke arah Reihan dengan tatapan hancur. "Reihan... katakan padaku itu tidak benar. Kita sepakat untuk menghancurkan mereka bersama..."
Reihan perlahan berdiri. Wajahnya yang dingin kini menunjukkan seringai yang selama ini ia sembunyikan. "Sepakat? Arini, kau adalah putri dari pria yang membunuh ayahku. Kau pikir aku benar-benar bisa memaafkanmu hanya karena kau memakai lipstik merah dan bicara soal balas dendam?"
Reihan melangkah mendekati Arini, mencengkeram rahang istrinya dengan satu tangan yang kuat. Gairah yang semalam terasa nyata kini terasa seperti racun. "Kau terlalu naif. Aku menggunakanmu untuk masuk ke sistem ayahmu. Kau adalah kunci, tapi setelah pintu terbuka, kuncinya tidak lagi dibutuhkan."
Surya Atmadja tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang penuh penghinaan. "Sudah kubilang, Arini! Kau hanya alat! Lihat? Suamimu sendiri lebih pintar darimu. Dia mengkhianatimu tepat di depan wajahku!"
Surya kemudian merobek dokumen pengalihan aset itu menjadi kepingan kecil dan melemparnya ke wajah Arini. "Keluar dari rumahku. Kau bukan lagi putriku. Kau tidak punya nilai apa-apa sekarang. Kau hanya sampah yang tersisa dari peperangan ini."
Bianca mendekati Reihan, melingkarkan lengannya di leher pria itu. "Terima kasih atas kerja samanya, Reihan. Papa akan sangat senang melihat Surya hancur malam ini."
Arini berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh tawa ayahnya dan pengkhianatan suaminya. Rasa sakitnya melampaui air mata. Ia melihat Reihan—pria yang sempat ia pikir sedang berjuang bersamanya—ternyata sedang berpesta di atas kehancurannya.
"Kau pikir kau sudah menang, Reihan?" suara Arini terdengar pecah, namun penuh kebencian yang mendalam.
Reihan hanya menatapnya sekilas, lalu berbalik pergi bersama Bianca tanpa sepatah kata pun. Ia meninggalkan Arini di rumah ayahnya yang penuh penghinaan, tanpa uang, tanpa perlindungan, dan dengan hati yang telah mati untuk kedua kalinya.
Malam itu, Arini berjalan keluar dari rumah mewah ayahnya di bawah guyuran hujan deras. Gaun mahalnya kini basah kuyup dan kotor. Rencananya gagal total. Ia tidak hanya gagal membalas dendam, tapi ia juga kehilangan sisa-sisa kepercayaan yang ia miliki pada cinta.
Namun, di tengah kehancuran itu, Arini meraba saku gaunnya. Ia masih memegang ponsel lama milik ayah Reihan yang belum sempat ia serahkan. Dan di dalamnya, ada satu rekaman yang belum sempat ia buka—rekaman yang mungkin akan mengubah peta permainan selamanya.
"Kalian pikir aku sudah selesai?" bisik Arini di tengah isak tangisnya yang tertelan suara guntur. "Kalian baru saja membangunkan iblis yang sebenarnya."