Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Cahaya pagi menyusup malu-malu lewat celah tirai, menyentuh wajahnya dengan hangat lembut. Namun, tubuhnya justru terasa sebaliknya, ada rasa pegal, nyeri, dan berat di setiap sendi. Shelina mengerang pelan, mencoba menggerakkan kaki, lalu mengernyit saat rasa sakit menjalar tanpa ampun.
“Ya Tuhan…” gumamnya lirih, menarik selimut lebih tinggi.
Tangannya meraba sisi ranjang dan itu benar- benar kosong.
Shelina membuka mata sepenuhnya, menoleh ke samping, dan hanya menemukan sprei yang kusut sebagai saksi malam panjang mereka. Dalam hati ia mendesah kecil, pasti sudah berangkat kampus, pikirnya. Suaminya itu memang terlihat santai, tapi tetap mahasiswa yang disiplin atau setidaknya begitu kesannya setelah mengenal Kaisar beberapa hari.
Dengan susah payah, Shelina bangkit setengah duduk. Rambutnya berantakan, tubuhnya masih terbungkus kain tipis, dan wajahnya memerah hanya karena mengingat kejadian semalam. Saat ia hendak turun dari ranjang, suara pintu kamar terdengar dibuka.
Shelina refleks menoleh.
Kaisar berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan celana pendek dan sebuah celemek dapur yang menutupi dadanya, tanpa baju. Lengan kekarnya terlihat jelas saat ia membawa nampan kecil, otot-ototnya bergerak alami setiap kali melangkah. Rambutnya sedikit basah, wajahnya segar, senyum santainya nyaris keterlaluan untuk orang normal, Shelina tahu Kaisar menggodanya.
'Astaga, pantesan! Dia semalam begitu bersemangat,' batin Shelina.
Pikirannya berlari ke satu kesimpulan yang membuat pipinya langsung panas. Semalam ia terlalu gugup, terlalu larut dalam perasaan, sampai tak benar-benar menyadari betapa proporsional tubuh suaminya. Sekarang, melihatnya di bawah cahaya pagi, tanpa penghalang apa pun, membuat jantungnya berdetak tak karuan.
“Pagi,” sapa Kaisar ringan, seolah penampilannya itu hal paling wajar di dunia. “Kamu bangun cepat.”
Shelina menelan ludah. “Ka–Kaisar…” suaranya sedikit serak. “Kamu … belum berangkat?”
Kaisar tersenyum makin lebar, lalu menutup pintu dengan kakinya. Ia melangkah mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang. Dari sana tercium aroma teh hangat dan sesuatu yang manis.
“Aku masuk nanti," jawabnya santai. “Istriku pasti butuh waktu … pemulihan.” Kata terakhir itu diucapkannya dengan nada penuh arti.
Shelina langsung menarik selimut lebih tinggi, menutup wajah setengah.
“Kamu tuh … nggak tahu malu.”
Kaisar tertawa kecil, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur, menyentuh rambut Shelina dengan gerakan pelan, jauh berbeda dari semalam.
“Sakit?” tanyanya lembut, nada suaranya berubah serius.
Shelina mengangguk kecil. “Sedikit … di mana-mana.”
“Maaf,” ucap Kaisar tulus. Ia lalu mengangkat cangkir teh.
“Minum dulu, aku bikinin teh madu.”
Shelina menerima cangkir itu, jari mereka sempat bersentuhan. Sentuhan sederhana, tapi cukup membuat jantungnya kembali berdebar. Dia menyesap perlahan, merasakan hangatnya mengalir turun.
Beberapa waktu berlalu dengan tenang. Shelina masih menyesap teh hangat itu pelan-pelan, menikmati manisnya yang menenangkan tenggorokan dan sedikit meredakan rasa pegal di tubuhnya. Pagi semakin terang, cahaya matahari kini jatuh lebih berani ke lantai kamar, membuat suasana terasa hidup dan hangat.
“Kai…” Shelina membuka suara sambil meniup permukaan tehnya, “aku ada kelas jam sebelas. Kayaknya sebentar lagi harus siap-siap ke kampus.”
Kaisar yang sejak tadi berdiri bersandar di meja, mengangguk pelan.
“Iya, aku juga kepikiran gitu. Daripada bolos dua-duanya, mending berangkat bareng.”
Shelina meliriknya sekilas. Ada rasa canggung yang manis, tapi juga kehangatan yang aneh dan perasaan baru sebagai pasangan yang kini harus menyesuaikan ritme hidup satu sama lain. Ia meletakkan cangkir kosong, lalu berusaha turun dari ranjang dengan hati-hati.
Kaisar refleks berdiri. “Hati-hati,” katanya sambil menopang lengan Shelina.
Sentuhannya ringan, penuh perhatian. “Nggak usah sok kuat.”
Shelina mendengus kecil, tapi tak menolak bantuannya.
“Iya, Pak Suami. Terima kasih, perhatiannya,” balasnya setengah bercanda.
Setelah itu, kamar mendadak dipenuhi aktivitas kecil yang sederhana. Shelina masuk ke kamar mandi, sementara Kaisar beralih ke lemari, memilih pakaian dengan gerakan santai. Suara air, bunyi pintu lemari, dan langkah kaki bersahutan dan hal-hal remeh yang justru terasa intim.
Tak lama, Shelina keluar dengan pakaian kampusnya, rambut masih sedikit lembap, wajahnya segar meski menyimpan lelah. Kaisar menoleh dan tersenyum tipis, seolah bangga tanpa perlu berkata apa-apa.
“Siap?” tanya Kaisar sambil meraih kunci mobil.
Shelina mengangguk. “Siap … meskipun ada rasa nyeri,"
Kaisar terkekeh kecil. “Tenang, hari ini aku jadi sopir pribadi kamu.”
Mereka pun melangkah keluar kamar berdampingan, meninggalkan jejak pagi yang hangat dan kenangan semalam yang masih tersimpan rapi di antara detak jantung keduanya. Menuju kampus, menuju rutinitas namun kini, tak lagi sendiri.
Di sepanjang jalan menuju kampus, suasana di dalam mobil terasa tenang. Musik diputar pelan, hanya cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu pikiran. Tangan kiri Kaisar tetap menggenggam setir, sementara tangan kanannya tak pernah benar-benar melepaskan tangan Shelina. Jari mereka saling bertaut, hangat dan menenangkan.
Kaisar melirik sekilas ke arah Shelina.
“Shel…” panggilnya pelan, suaranya terdengar hati-hati, “kapan sebenarnya kita bisa go public?”
Shelina berhenti menggulir layar ponselnya. Ia menoleh, menatap wajah Kaisar yang tetap fokus ke jalan, tapi jelas sedang menunggu jawaban. Bibir Shelina melengkung kecil, bukan senyum bahagia sepenuhnya, lebih ke arah senyum penuh pertimbangan.
“Kamu tahu sendiri aturan kampus,” ucapnya lembut.
“Mahasiswa dan dosen dilarang menikah, apalagi sampai ketahuan publik.” Ia meremas jari Kaisar pelan. “Jadi … kita tunda dulu, ya. Sampai kamu lulus.”
Kaisar terdiam beberapa detik. Lalu ia mengangguk pelan, napasnya keluar panjang. “Aku ngerti,” katanya akhirnya.
“Cuma kadang pengin aja … bisa jalan bareng tanpa sembunyi-sembunyi.”
Shelina tersenyum, kali ini lebih hangat. “Sabar sedikit lagi. Nanti, setelah semua aman, aku sendiri yang bakal berdiri di samping kamu tanpa takut.”
Genggaman Kaisar menguat sesaat, seolah jawaban itu cukup untuk menenangkan hatinya. Ia kembali fokus menyetir, wajahnya terlihat lebih tenang.
Shelina kembali bersandar nyaman di kursinya. Ia membuka ponsel, mengecek jadwal ngajar dan beberapa agenda lain hari itu. Sesekali matanya melirik ke arah Kaisar pria yang kini bukan hanya bagian dari hidupnya, tapi juga tempat ia pulang.
Mobil melaju stabil di bawah langit pagi yang cerah, membawa mereka menuju kesibukan masing-masing, dengan rahasia manis yang hanya mereka berdua yang tahu.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.