NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Dingin Kaisar

Aula Utama Kekaisaran Lianhua berdiri megah seperti gunung batu yang tak tergoyahkan. Pilar-pilar raksasa berukir naga menjulang tinggi, menyentuh langit-langit yang dihiasi lukisan awan dan burung hong. Lantai marmernya memantulkan cahaya lampion emas, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang terasa dingin.

Dan di sanalah Bai Ruoxue berdiri di ambang pintu.

Langkah pertamanya memasuki aula itu terasa berat—bukan karena tubuhnya lemah, melainkan karena hawa yang menyambutnya.

Hawa tidak enak.

Tatapan tajam datang dari kiri dan kanan. Bisik-bisik halus seperti desir angin di musim gugur menyusup ke telinganya.

“Itu dia…”

“Dia yang jatuh ke sungai…”

“Dan tentang kandungannya…”

Nama dan nasibnya menjadi santapan pagi bagi para selir dan pejabat istana.

Namun wajah Bai Ruoxue tetap tenang.

Ia melangkah maju perlahan. Setiap derap kakinya terdengar jelas di atas marmer. Gaun selirnya yang lembut menyapu lantai, rambut hitamnya tersanggul rapi meski wajahnya masih sedikit pucat akibat sakit.

Di ujung aula, di atas singgasana emas bertingkat dua, duduk seorang lelaki dengan jubah naga kekaisaran.

Li Chenghan

Di sampingnya, anggun dan tegap, duduk Permaisuri Kekaisaran Lianhua—wajahnya cantik namun tak terbaca, seperti topeng giok yang tak memiliki retak.

Ekspresi Kaisar jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak ada kelembutan. Tidak ada rasa khawatir.

Hanya jarak.

Bai Ruoxue berhenti di tengah aula. Lalu perlahan ia menurunkan tubuhnya, berlutut dengan anggun. Kedua tangannya bertumpu di depan, dahi menunduk dalam penghormatan yang sempurna.

“Hamba, Selir Xue, memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Lianhua. Semoga Yang Mulia dianugerahi umur panjang dan kemuliaan yang abadi.”

Suaranya jernih.

Tenang.

Tidak gemetar sedikit pun.

Beberapa pasang mata tampak terkejut melihat ketenangannya.

“Bangkitlah,” suara Permaisuri terdengar lembut, namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan.

Bai Ruoxue berdiri kembali.

“Selir Mei, majulah ke depan.”

Suara itu terdengar seperti belati yang dilempar dengan santai.

Mei Yuxin melangkah maju. Wajahnya anggun, langkahnya terukur. Gaunnya berwarna merah delima, rambutnya dihiasi tusuk emas berbentuk kupu-kupu.

Kini ia berdiri di sisi Bai Ruoxue. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Namun permusuhan di antara keduanya terasa seperti jurang.

“Selir Xue,” ucap Permaisuri, tatapannya lurus dan tajam. “Bagaimana kau bisa terjatuh ke sungai waktu itu? Benarkah kau terpeleset hingga terjebur?”

Semua mata tertuju pada Bai Ruoxue. Ia tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan menatap Mei Yuxin. Wajah wanita itu terlihat berbeda dari biasanya—tidak sombong, tidak menyeringai. Ia menunduk sopan, seolah tak tahu apa-apa.

Bai Ruoxue menarik napas.

“Saya didorong dengan sengaja.”

Suaranya tidak keras. Namun cukup jelas untuk menggema di aula yang luas itu.

Beberapa selir menutup mulut mereka. Bisik-bisik mulai muncul lagi.

Mei Yuxin langsung melotot sekilas, namun cepat-cepat menundukkan kepala. Tangannya mengepal di balik lengan panjang gaunnya.

“Selir Mei,” suara Permaisuri kembali terdengar. “Apakah kau memiliki pembelaan?”

Mei Yuxin mengangkat wajahnya. Ekspresinya tampak terkejut dan terluka.

“Yang Mulia,” ucapnya lembut, hampir bergetar. “Untuk membuktikan kesalahan… bukankah harus ada saksi yang melihat?”

Ia lalu menoleh pada Bai Ruoxue.

“Bukankah fitnah dapat tersebar dengan jahat apabila diucapkan tanpa bukti?”

Kata “fitnah” ia tekankan dengan halus. Beberapa kepala mengangguk pelan. Dalam hatinya, Mei Yuxin tersenyum.

Bai Ruoxue… tak ada siapa pun di sana saat itu. Kau tak akan bisa mengalahkanku.

Namun—

Bai Ruoxue justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat Mei Yuxin sedikit tertegun.

Tiba-tiba, lima orang dayang maju dari barisan belakang. Wajah mereka pucat. Tubuh mereka gemetar.

Mereka berlutut serempak.

“Ya–Yang Mulia Permaisuri,” salah satu dari mereka berkata dengan suara terbata. “Waktu itu hamba… tak sengaja melewati taman teratai…”

Dayang kedua melanjutkan dengan gemetar. “Dan memang… Selir Xue terjatuh ke sungai.”

Dayang ketiga mengangkat wajahnya sedikit, menahan takut. “Dan itu… didorong dengan sengaja.”

Aula langsung bergemuruh. Mei Yuxin menoleh tajam ke arah mereka. Tatapannya seperti pisau.

Berani sekali kalian.

Bai Ruoxue menatap kelima dayang itu. Di balik wajahnya yang tenang, hatinya bergetar.

Ia tahu.

Dayang adalah pihak paling lemah di istana ini. Satu kesalahan saja bisa membuat mereka dicambuk atau diusir.

Namun mereka tetap maju.

Ia teringat—ia pernah membantu salah satu dari mereka mengirimkan uang untuk keluarga yang sakit. Ia pernah membela yang lain dari hukuman tidak adil.

Ia tak pernah mengharap balasan.

Dan kini—

Mereka berdiri di sana, mempertaruhkan hidup mereka untuk mengatakan kebenaran.

“Kau tahu siapa yang mendorong Selir Xue?” tanya Permaisuri.

Kelima dayang itu saling berpandangan.

“H–hamba tidak tahu, Yang Mulia,” jawab mereka serempak.

Hening sejenak dan permaisuri mengangguk pelan.

“Jika demikian, maka para selir yang berada di taman saat itu akan menerima hukuman pengurangan anggaran dan harta selama satu tahun.”

Keputusan itu jatuh seperti daun kering. Tidak keras. Tidak mematikan. Namun tetap hukuman.

Bai Ruoxue mengernyit dalam hati.

Itu saja?

Mei Yuxin berusaha membunuhnya. Mendorongnya ke sungai hingga ia tak sadarkan diri selama empat belas hari. Dan hukumannya hanya pengurangan anggaran?

Bukan kurungan. Bukan cambuk. Bukan pengasingan.

Ia menoleh pada Mei Yuxin.

Wanita itu tampak sedikit kesal—namun di balik matanya, ada kepuasan tipis.

Karena ia selamat.

Dan Kaisar?

Li Chenghan hanya duduk diam. Tatapannya dingin. Mengarah pada Bai Ruoxue. Seolah ia bukan korban—melainkan tersangka.

“Ah…” Mei Yuxin tiba-tiba bersuara lembut. “Mengapa kau menatapku seperti itu, Selir Xue?”

Nada suaranya terdengar polos.

“Jangan mudah terbawa amarah. Itu tidak baik untuk kandungan…”

Kata itu jatuh seperti batu besar ke tengah danau.

Kandungan.

Aula langsung terasa membeku. Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini lebih keras. Lebih menusuk.

“Benarkah dia mengandung?”

“Padahal Yang Mulia tidak pernah—”

“Anak siapa?”

Mei Yuxin menunduk dengan pura-pura panik.

“Ah, maafkan hamba… hamba tak bermaksud membicarakan topik sensitif di hadapan Yang Mulia…”

Namun senyum tipis di sudut bibirnya tak luput dari perhatian Bai Ruoxue.

Ini bukan slip lidah. Ini serangan. Ini serangan yang dilakukan dengan sengaja.

"Semuanya diam!”

Suara Kaisar akhirnya terdengar. Suara itu tidak perlu keras.

Namun ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, udara di Aula Utama seolah langsung membeku.

Bukan teriakan yang meledak-ledak, melainkan suara rendah dan dalam—seperti dentuman genderang perang yang dipukul satu kali, cukup untuk membuat ribuan pasukan berhenti bernapas. Nada itu tidak meninggi, tidak bergetar oleh emosi, justru karena itulah ia terasa lebih menakutkan.

Suara itu berat.

Tenang.

Namun mengandung tekanan yang tak terlihat, seperti gunung yang berdiri kokoh tanpa perlu bergerak untuk menunjukkan kekuatannya.

Tatapan Kaisar perlahan beralih padanya.

Tidak tergesa.

Tidak juga penuh emosi.

Namun justru dalam kelambanan itulah terasa tekanan yang begitu berat.

Sepasang mata itu—gelap dan dalam—jatuh tepat pada sosok Bai Ruoxue yang berdiri di tengah aula. Tatapan itu bukan seperti lelaki yang memandang seorang wanita. Bukan pula seperti suami yang memandang selirnya. Itu adalah tatapan seorang penguasa yang sedang menilai.

Menimbang.

Menghitung.

Dingin.

Tidak ada jejak kehangatan yang pernah samar ia lihat sebelumnya. Tidak ada kekhawatiran karena ia nyaris mati. Tidak ada kemarahan karena ia didorong ke sungai.

Hanya jarak.

Seperti jarak antara langit dan bumi.

Seperti jarak antara singgasana dan debu di lantai marmer.

Mata itu menyapu wajahnya perlahan—dari pucatnya pipi yang belum sepenuhnya pulih, ke bibir yang kini terkatup tenang, hingga ke matanya yang berusaha tidak goyah. Tatapannya tajam, namun tidak membara. Justru karena tidak membara, ia terasa lebih menakutkan.

Seolah-olah ia tidak sedang marah.

Ia sedang berpikir.

Dan ketika seorang Kaisar berpikir dalam diam, itu jauh lebih berbahaya daripada saat ia berteriak.

Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Namun keheningan yang menyertai tatapan itu terasa seperti interogasi tanpa suara.

Di kejauhan, Mei Yuxin tersenyum dalam hati.

Bai Ruoxue. Kali ini kau benar-benar akan celaka.

Karena tuduhan tentang kesucian seorang selir—adalah hukuman yang lebih kejam dari cambuk mana pun.

Dan di Aula Utama yang megah itu, di bawah tatapan naga emas dan kekuasaan tertinggi Kekaisaran Lianhua—pertarungan mereka belum berakhir.

Ia baru saja dimulai.

1
Emmastlen95
good job
Syamsu Ducha
di tunggu up nya thor
Jeni Permata06
kapan up lagi
aleena
lalu apakah tidakk ada sekilas inngatan miik bay rouxue yg asli
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!