Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Undangan di Ambang Pintu
Baru saja Genevieve hendak memutar kunci di lubang pintu perpustakaan, sebuah suara yang akrab memecah keheningan sore yang mencekam itu.
"Genevieve!"
Gadis itu tersentak, hampir menjatuhkan kantong belanjanya yang berisi semprotan anti serangga. Ia menoleh dan mendapati Julian berdiri di sana, beberapa meter darinya. Pria itu tampak rapi dengan mantel wol berwarna cokelat dan senyum hangat yang biasanya selalu berhasil menenangkan hati Genevieve.
"Julian? Kau mengagetkanku," ujar Genevieve sambil berusaha mengatur napasnya. Secara refleks, ia merapatkan syal di lehernya, takut jika ada satu pun jejak ungu itu yang mengintip keluar"
Julian berjalan mendekat, matanya menatap kantong belanjaan Genevieve dengan kening berkerut. "Semprotan serangga? Apakah ada masalah di perpustakaan?"
"Hanya... gangguan kecil. Serangga musim hujan," jawab Genevieve singkat, berusaha terdengar acuh tak acuh.
Julian tidak bertanya lebih lanjut, meskipun ia sempat menatap wajah Genevieve yang tampak sedikit pucat dan letih.
"Aku datang ke sini karena berpikir kau pasti bosan sendirian di hari liburmu. Bagaimana kalau kita makan malam di restoran milik Mrs. Higgins? Mereka baru saja mengeluarkan menu sup krim labu yang enak."
Genevieve terdiam sejenak. Makan malam dengan Julian berarti cahaya terang, percakapan normal manusia, dan keamanan di tempat umum.
Itu adalah segala sesuatu yang berkebalikan dengan apa yang ia rasakan di kamar lotengnya yang remang-remang. Ia butuh "normalitas" ini untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masihlah Genevieve yang waras.
"Terdengar menyenangkan, Julian. Beri aku waktu lima menit untuk menaruh barang-barang ini," jawab Genevieve.
"Tentu, aku tunggu di sini," Julian tersenyum lebar.
Namun, saat Genevieve melangkah masuk ke dalam lobi perpustakaan yang gelap untuk menaruh belanjanya, udara di sekitarnya mendadak mendingin secara drastis.
Ia merasa seolah-olah ada sepasang mata yang menatapnya dengan kemarahan yang meluap-luap dari balik rak buku sejarah.
Genevieve sengaja mengeraskan hatinya.
Ia mengabaikan gemeretak halus kayu perpustakaan yang seolah mengerang protes, juga hawa dingin yang mendadak mencengkeram pergelangan kakinya.
Dengan gerakan cepat, ia meletakkan kantong belanjanya di meja lobi dan segera berbalik keluar, membanting pintu depan hingga suara dentumannya menggema di seluruh ruangan sunyi itu.
"Ayo, Julian. Aku sudah siap," ucap Genevieve, sedikit terengah. Ia langsung menyambar lengan Julian, sebuah gestur yang jarang ia lakukan, namun kali ini ia butuh sesuatu yang nyata dan hangat untuk dipegang.
Julian tampak sedikit terkejut namun senang. "Kau bersemangat sekali. Apa kau sangat lapar?"
"Sangat. Aku hanya ingin keluar dari gedung ini sejenak," sahut Genevieve tanpa menoleh ke belakang.
Mereka berjalan menjauh menuju pusat kota. Julian bercerita panjang lebar tentang berita terbaru di balai kota dan cuaca yang tidak menentu, namun Genevieve hanya menanggapi dengan anggukan singkat. Pikirannya terbagi. Meskipun ia berada di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan dan di samping pria yang baik, ia tidak bisa menghilangkan sensasi merambat di lehernya.
Setiap kali embusan angin malam menerpa syalnya, Genevieve merasa seolah-olah embusan itu adalah bisikan dingin Valerius yang sedang mencaci pilihannya.
Sesampainya di restoran Mrs. Higgins yang hangat dan berisik dengan denting sendok, Julian menarikkan kursi untuknya. "Kau tampak gelisah, Genevieve. Apa syalmu terlalu ketat? Kau terus memeganginya sejak tadi."
Genevieve tersentak dan menurunkan tangannya dari leher. "Ah, tidak. Hanya... sedikit kedinginan."
Saat Julian mulai memesan makanan, Genevieve melirik ke arah jendela restoran yang besar.
Di seberang jalan, di bawah bayangan gang sempit yang tidak terjangkau lampu, ia melihat sesosok pria tinggi dengan setelan hitam sempurna berdiri mematung.
Wajahnya tidak terlihat, namun sepasang mata merah itu menyala redup di kegelapan, menatap tajam ke arah meja mereka—tepat ke arah tangan Julian yang berada di atas meja, dekat dengan tangan Genevieve.
Gelas air di depan Genevieve tiba-tiba retak tanpa sebab, membuat airnya tumpah membasahi taplak meja.
"Astaga, Genevieve! Kau tidak apa-apa? Tanganmu terkena pecahannya?" Julian dengan sigap menarik serbet kain dan mulai mengelap tumpahan air yang merembes ke arah gaun Genevieve.
Wajah Julian tampak sangat khawatir. Ia mengambil sisa potongan gelas yang retak rapi itu dengan dahi berkerut dalam. "Aneh sekali... gelas ini tidak jatuh, tidak juga tersenggol. Bagaimana bisa retak seakan ditekan oleh kekuatan besar?"
Julian mendongak, menatap ke langit-langit restoran, lalu beralih menatap Genevieve dengan saksama. Ia menyadari napas gadis itu sedikit tertahan.
"Genevieve, kau gemetar. Wajahmu pucat sekali. Apa kau merasa tidak enak badan?"
Genevieve hanya bisa terdiam, tenggorokannya terasa kering. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia merasa ada sepasang mata merah yang sedang menghancurkan gelas itu dengan kemarahan murni dari seberang jalan.
"Mungkin... mungkin karena perbedaan suhu air dan gelasnya," dalih Genevieve pelan, meskipun ia tahu alasan itu sama sekali tidak masuk akal.
Julian tidak tampak yakin.
Ia menoleh ke arah jendela besar di samping mereka, mencoba mencari tahu apakah ada sesuatu di luar sana yang mengganggu teman bicaranya.
Namun, tepat saat Julian menoleh, sosok tinggi di bayang-bayang gang itu seolah melebur dengan kegelapan, menghilang begitu saja meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
"Restoran ini tiba-tiba terasa sangat dingin, bukan?" bisik Julian sambil menggosok lengannya.
Ia kemudian meraih tangan Genevieve, mencoba menyalurkan kehangatan. "Jika kau ingin pulang setelah ini, aku akan mengantarmu sampai ke dalam. Aku merasa ada yang tidak beres malam ini."
keren
cerita nya manis