NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Sayang?

“Di kalangan pengikut Instagram-nya, suami kamu itu lebih dikenal dengan nama El,” jelas Hilda antusias. “Aku sering baca kolom komentarnya, hampir semuanya manggil dia El. Mungkin biar lebih singkat dan kedengeran gaul.”

Hilda melanjutkan tanpa jeda, seolah menikmati setiap fakta yang ia miliki.

“Aku tau dia awalnya dari explore Instagram. Aku stalk, dan ternyata dia masih mahasiswa, tapi prestasinya seabrek. Dia cukup terkenal, apalagi karena dia penceramah dan juga qori. Namanya mulai dikenal waktu masuk sepuluh besar finalis Mapres se-Indonesia dan dia ada di posisi tiga besar.”

Hilda mengangkat alis bangga.

“Hebat gak tuh? Suami Azzura satu-satunya mahasiswa dari kampus Islam yang bisa tembus sepuluh besar. Yang lain itu dari PTN top semua—yang namanya gak perlu disebut lagi.”

Azzura terdiam.

“Ia terkenal bukan cuma karena tampang,” lanjut Hilda. “Tapi karena prestasi. Makanya dia diundang jadi pembicara di kampus kita. Terus katanya—ini masih gosip sih—dia juga pemilik akun kajian online. Aku gak tau bener apa enggak, tapi suaranya mirip banget. Kalau bener… gila sih, sempurna banget.”

Ucapan Hilda membuat dada Azzura terasa sesak.

Bukan karena bangga sepenuhnya—melainkan karena dongkol.

Sahabatnya ini tau terlalu banyak tentang suaminya. Bahkan lebih banyak… dibanding dirinya sendiri.

“Cup!"

Kecupan singkat mendarat di pipi Azzura, membuatnya tersentak kaget.

“Apa sih, Mas! Ngagetin tau.”

Azzura menoleh dan mendapati Abidzar tersenyum jahil. “Siapa suruh melamun terus. Mikirin apa sih?”

“Gak mikirin apa-apa kok.” Azzura lalu melirik keluar jendela. “Eh… kok kita berhenti di sini?”

Abidzar menunjuk minimarket di depan mereka. “Tuh kan. Dari tadi aku nawarin mau singgah ke minimarket. Kamu cuma ngangguk-ngangguk. Kirain denger.”

“Masa sih?” Azzura nyengir kecil. “Kayaknya aku lupa.”

Abidzar turun sebentar, lalu kembali dengan beberapa kantong belanja. “Nih. Cokelat, air mineral, sama es krim.”

Azzura melirik merek cokelat itu dan mengangkat alis. “Tumben banget beliin aku es krim.”

Abidzar terkekeh. “Aku perhatiin kamu diem aja dari tadi. Kirain lagi badmood atau sedih karena harus pisah sama sahabat-sahabat kamu. Aku gak tau harus hibur kamu gimana. Yang aku tau cuma cokelat. Terus kepikiran, beli es krim biar adem. Siapa tau mood kamu balik.”

Azzura terdiam. Pipinya menghangat.

Ia tidak menyangka Abidzar memperhatikannya sedetail itu. “Aku gak sedih,” ucap Azzura pelan. “Aku cuma kepikiran omongan temen aku.”

“Kepikiran soal apa?”

Azzura menghela napas. “Masa Hilda lebih tau kamu dibanding aku sih?”

Abidzar mengerutkan kening. “Kok bisa? Aku aja gak kenal dia.”

“Kamu memang gak kenal. Tapi dia kenal kamu.”

“Kenapa bisa kenal?”

“Karena kamu ternyata cukup terkenal, Mas,” suara Azzura meninggi tanpa sadar. “Aku aja baru tau semua prestasi kamu. Kamu pernah jadi pembicara di kampus aku. Followers kamu ratusan ribu. Kok kamu gak pernah bilang? Aku bener-bener gak tau apa-apa tentang kamu.”

Ia mendengus kesal.

“Rasanya aku keliatan bodoh banget. Masa orang lain lebih tau suami aku dibanding aku sendiri?”

Abidzar menatapnya lama, lalu menjawab tenang, “Itu karena kamu gak pernah nanya.”

Azzura terdiam.

“Umma sering muji-muji aku di depan kamu,” lanjut Abidzar. “Umma juga pernah cerita langsung ke kamu. Tapi kamu dengerin gak?”

Azzura menunduk.

“Enggak, kan?” suara Abidzar tetap datar. “Karena di mata kamu, aku cuma laki-laki menyebalkan yang bikin kamu dongkol tiap ketemu.”

Azzura meringis.

Dia menyesalinya sekarang.

“Dan hal-hal itu bukan sesuatu yang perlu dipamerkan, sayang,” lanjut Abidzar lebih lembut. “Popularitas itu bisa bikin manusia ujub. Ujub itu penyakit hati yang bisa melahirkan riya dan sombong.”

Ia menatap Azzura penuh makna.

“Nabi menyebut ujub sebagai salah satu dari tiga hal yang membinasakan, selain tamak dan mengikuti hawa nafsu. Jadi, buat aku, popularitas itu bukan anugerah yang menyenangkan. Itu beban. Tanggung jawab besar yang harus dijaga supaya gak jadi mudharat.”

Azzura mengangguk pelan. “Kamu bener.”

Ia menghela napas. “Terkenal itu gak selalu menyenangkan. Banyak tanggung jawab di baliknya. Kayak pedang bermata dua. Kalau dimanfaatin dengan baik, pahalanya ngalir. Tapi kalau jadi contoh buruk, dosanya juga ikut ngalir.”

Azzura menatap Abidzar. “Berat ya, Mas?”

Abidzar tersenyum, lalu mengusap pipi Azzura lembut. “Istri siapa sih kok pinter banget?”

Azzura berdecak kecil, pipinya memerah.

“Mas… aku boleh minta sesuatu gak?”

“Boleh dong, sayang.”

“Di kampus kamu nanti… jangan bilang-bilang ya kalau kita udah nikah.”

Tatapan Abidzar langsung berubah tajam. “Kenapa? gak, aku gak mau begitu, apa-apaan."

“Aku gak mau jadi pusat perhatian—”

“Kamu malu punya suami kayak aku?” potong Abidzar tegas.

Azzura terkejut. “Bukan gitu maksud aku! Aku cuma gak mau jadi bahan omongan. Bukan karena malu. Kamu itu berprestasi, Mas. Ngapain aku malu? Yang ada mungkin kamu yang malu punya istri kayak aku.”

“Justru sebaliknya,” suara Abidzar menurun tapi penuh tekanan. “Hal pertama yang pengen aku lakuin adalah ngumumin ke semua orang kalau kamu itu istri aku.”

Azzura menatapnya.

“Biar gak ada yang berani ngedeketin kamu.”

“Dasar posesif.”

Abidzar tersenyum tipis. “Gapapa. Aku posesif cuma sama kamu, sayang.”

***

Seperti kesepakatan mereka sejak awal menikah, setiap malam selalu ada waktu khusus untuk pillow talk. Waktu di mana lampu diredupkan, suara dipelankan, dan jarak di antara mereka ditiadakan.

Malam ini, obrolan mereka tidak hanya tentang perasaan satu sama lain, tapi juga tentang satu nama yang sejak tadi berputar di kepala Azzura.

Azzam.

Selama ini, Azzura mengenal kembarannya itu sebagai sosok yang lurus dan nyaris tak pernah melirik ke samping. Kuliah, belajar, organisasi—hidup Azzam seolah hanya berputar di poros itu saja. Tak pernah sekalipun Azzura mendapati abangnya membicarakan perempuan, apalagi menunjukkan ketertarikan.

Padahal… bukankah wajar jika seorang laki-laki seusia Azzam pernah menyukai seseorang?

“Dari tadi kamu melamun,” suara Abidzar terdengar lembut di telinga Azzura. “Masih kepikiran omongan temen kamu?”

Azzura menggeleng pelan. “Bukan itu, Mas.”

“Terus apa?”

“Kepikiran Bang Azzam.”

Abidzar langsung menoleh. “Hah? Tumben amat kamu mikirin dia malam-malam begini.”

Azzura berdecak kecil. “Sahabat aku ada yang suka sama Azzam. Dan aku yakin itu bukan sekadar kagum.”

“Terus?”

“Aku tau Bang Azzam gak pernah kelihatan tertarik sama siapa pun,” lanjut Azzura pelan. “Kamu kan sahabatnya… apa dia pernah cerita soal perempuan? Atau mungkin dia pernah suka sama seseorang?”

Abidzar menyentil pelan kening istrinya. “Kamu tau sendiri jawabannya.”

“Ya… tapi bisa aja dia gak cerita ke aku karena aku perempuan.”

Abidzar tersenyum tipis.

“Bukan soal itu. Kamu tau sendiri kan bagaimana orang tua kalian mendidik? Jaga adab, jaga batas, jaga hati. Azzam itu memegang prinsip itu ketat banget.”

Azzura mengangguk. Ia tau.

“Buat Azzam,” lanjut Abidzar, “perasaan ke lawan jenis itu bukan prioritas sekarang. Dia masih muda, masih mau fokus jadi sosok yang layak sebagai penerus keluarga Malik.”

“Itu aku tau,” sahut Azzura cepat. “Aku cuma penasaran aja. Siapa tau ke kamu dia pernah cerita sesuatu.”

Abidzar menggeleng. “Enggak. Selama kami ngobrol, gak pernah bahas perempuan.”

Azzura menyipitkan mata. “Ah, yakin? Masa kamu gak pernah bahas aku?”

Abidzar tertawa kecil. “Kalau kamu, iya. Tapi itu beda.”

“Ngomongin aku apa?”

“Gak banyak,” jawab Abidzar jujur. “Kadang dia cerita sendiri karena kalian sering bareng. Kadang aku yang nanya, kamu gimana, kabarmu apa, kuliah kamu lancar atau enggak.”

Azzura terdiam sejenak.

“Bang Azzam tau kamu cinta sama aku?”

Abidzar menggeleng pelan. “Dia gak tau… tapi dia merasa.”

“Kok gak pernah ngomong?”

Abidzar mendekat sedikit, suaranya merendah. “Karena aku lebih milih ngomong jujur sama Allah.”

Azzura menoleh.

“Di sepertiga malam,” lanjut Abidzar lembut, “aku sebut nama kamu dalam doa. Aku minta supaya kamu jadi milik aku, Zuya.”

Sekejap, pipi Azzura memanas.

“Gombal,” gumamnya lirih, berusaha menyembunyikan senyum.

Abidzar terkekeh pelan. “Loh, aku serius, sayang.”

Dan malam itu, Azzura baru benar-benar menyadari satu hal: laki-laki di sampingnya bukan hanya suami yang posesif dan menyebalkan tapi juga lelaki yang mencintainya dengan cara paling sunyi dan paling dalam.

***

Waktu memang selalu berjalan tanpa pernah meminta izin.

Tak terasa, dua minggu yang mereka habiskan di kediaman keluarga Azzura telah sampai di ujungnya. Hari ini, mereka harus kembali ke Bandung. Masih banyak urusan yang menunggu—pendaftaran Azzura di kampus Abidzar, penyetaraan mata kuliah, hingga proses administrasi sebelum Azzura resmi ditetapkan sebagai mahasiswi di kampus yang sama dengan suaminya.

Semua itu menuntut mereka untuk segera pulang.

Jika dibandingkan dengan perpisahan pertama—saat Azzura harus mengantar kepergian keluarganya dan tinggal sendiri di pesantren—perpisahan kali ini terasa berbeda. Tidak ada air mata yang tumpah berlebihan, tidak ada isak yang menyesakkan dada.

Azzura mulai belajar menerima satu kenyataan penting dalam hidupnya: rumahnya kini bukan lagi hanya tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, melainkan di mana pun Abidzar berada.

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah. Azzura masih menoleh ke belakang, melambaikan tangan ke arah Umma, Abi, dan keluarganya yang berdiri di depan rumah hingga bayangan mereka menghilang di tikungan jalan.

“Kirain bakalan nangis,” ujar Abidzar santai, matanya masih fokus ke jalan. “Padahal aku udah nyiapin tisu banyak, loh.”

Azzura mendengus kecil. “Siapa juga yang mau nangis?”

“Yaa siapa tau,” Abidzar terkekeh. “Soalnya sebelum ini kamu inget gak, ngabisin tisu segambreng? Belum lagi baju aku jadi korban pas tisunya habis. Basah semua kena air mata sama—”

“—ingus!” potong Azzura cepat. “Yang itu aku gak inget, Mas.”

Abidzar melirik sekilas dengan ekspresi tidak percaya. “Iya iya, pura-pura lupa.”

Azzura tersenyum kecil, tapi dalam hati ia mengingat semuanya dengan jelas.

Hari itu—hari yang mengubah hidupnya.

Hari ketika ia datang ke pesantren hanya untuk berkunjung, lalu pulang dengan status seorang istri. Hari ketika keluarganya kembali ke Jakarta dan meninggalkannya di tempat yang sama sekali belum ia anggap rumah.

Meski Azzura bukan orang asing dengan kehidupan pesantren, tetap saja rasanya berbeda. Dulu ia santri. Sekarang ia istri seseorang.

Ia menangis diam-diam kala itu. Berusaha keras agar Abidzar tak tau, meski usaha itu sia-sia. Tisu-tisu habis satu per satu. Saat tak ada lagi yang bisa dipakai, baju Abidzar menjadi sasaran. Ia mengusap air mata, mengelap ingus, tanpa peduli penampilan suaminya.

Dan Abidzar… tidak pernah menegurnya.

Laki-laki itu hanya diam di sampingnya. Membiarkan Azzura menangis sepuas yang ia mau. Tidak menyuruhnya kuat. Tidak memintanya berhenti. Hanya ada di sana.

Bukan hanya itu.

Abidzar memastikan segalanya agar Azzura merasa nyaman. Membelikannya cokelat kesukaannya. Menyiapkan selimut pemberian Opa Bara. Membelikan rangkaian skincare dan bodycare yang biasa Azzura pakai agar ia tidak merasa kehilangan rutinitas kecilnya. Bahkan meminta adiknya, Ayza, untuk sering menemani Azzura saat ia harus pergi mengajar atau sibuk.

Ia membiarkan Azzura bergaul dengan para santriwati, mengikuti kegiatan pesantren, sampai suatu hari Azzura lupa waktu dan lupa pulang—yang berujung teguran khas Abidzar.

Dan di atas semua itu, ada satu hal yang paling menggetarkan hati Azzura yaitu pengakuan Abidzar.

Tentang bagaimana sejak lama laki-laki itu sudah menjadikannya satu-satunya perempuan yang ingin ia nikahi. Tentang doa-doa yang disimpan rapi di sepertiga malam. Tentang perasaan yang dipendam dalam diam, tanpa menuntut balasan.

Semakin Azzura mengingat semuanya, semakin ia merasa tidak adil jika hanya Abidzar yang mencintai sedalam itu, sementara dirinya masih setengah-setengah menahan gengsi.

Mobil melaju dalam keheningan yang nyaman.

Azzura menatap lurus ke depan, lalu menarik napas panjang.

“Mas, telat gak sih kalau aku bilang sekarang, aku mulai sayang kamu?"

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!