NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernyataan Yang menyakitkan

Kematian yang hampir menjemput ternyata menjadi hal yang tidak terduga bagi Alexa. Saat ia membuka mata, bukan rasa syukur karena memenangkan Kenzo yang ia rasakan, melainkan sebuah kehampaan yang luar biasa dingin.

Semua obsesi, kegilaan, dan rencana-rencana licik yang sebelumnya membakar otaknya seolah ikut hanyut bersama darah yang mengalir dari pergelangan tangannya malam itu. Di ambang maut, ia menyadari satu kenyataan yang paling pahit, Kenzo tidak datang. Pengabaian selama 20 menit dalam kegelapan itu telah membunuh seluruh cinta yang ia pupuk selama bertahun-tahun.

Saat dipindahkan ke ruang perawatan biasa, Kenzo, yang baru saja memutuskan Diandra demi dirinya, melangkah masuk dengan wajah yang sangat hancur. Kenzo mendekati tempat tidur Alexa, mencoba meraih tangannya yang masih terbalut perban tebal.

"Alexa..." suara Kenzo bergetar, penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Syukurlah kau sadar. Maafkan aku... aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku sudah mengakhiri semuanya dengan Diandra demi kau."

Mendengar nama Diandra, jantung Alexa berdenyut nyeri, namun bukan karena cemburu. Ia merasa muak. Ia menolehkan kepalanya, membuang muka ke arah jendela yang menampilkan langit Queenstown. Air mata mengalir perlahan, namun kali ini bukan air mata manipulasi, melainkan air mata duka untuk dirinya sendiri yang telah bertindak sebodoh itu.

"Pergilah, Kak," bisik Alexa, suaranya sangat serak dan lemah.

"Tidak, Al. Aku di sini. Aku akan menjagamu selamanya. Aku janji," ucap Kenzo, mencoba kembali mendekat.

Alexa menutup matanya rapat-rapat. Ucapan Kenzo yang memintanya melupakan perasaan, ucapan Kenzo di kafe, dan suaranya saat memberinya nasihat di kamar pagi itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Kata-kata itu kini terdengar seperti belati.

"Aku tidak butuh janjimu yang lahir dari rasa kasihan," ucap Alexa sambil menatap Kenzo dengan tatapan kosong yang belum pernah Kenzo lihat sebelumnya. "Cintaku padamu sudah mati di apartemen itu, bersamaan dengan detik-detik saat aku menunggumu yang tidak pernah datang."

Kenzo terpaku. Ia sudah siap untuk menyerahkan hidupnya pada Alexa sebagai penebus dosa, namun ia tidak siap ditolak dengan cara sedingin ini.

"Kau bicara apa, Al? Aku melakukan semua ini karena aku peduli padamu..."

"Kau peduli karena kau takut menjadi pembunuh," potong Alexa tajam. "Jangan berbohong pada dirimu sendiri. Pergilah. Aku ingin sembuh, tapi bukan untukmu. Aku diberikan kesempatan hidup kedua bukan untuk menjadi pengemis cintamu lagi."

Alexa mencengkeram sprei tempat tidurnya. Di dalam hatinya, ia bersumpah, Tidak ada lagi Kenzo Graciano. Ruang di hatinya yang dulu penuh dengan nama pria itu kini bersih, menyisakan luka yang menganga namun bebas dari obsesi.

Ia menyadari bahwa memaksakan cinta adalah bentuk bunuh diri yang paling nyata, dan ia tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya.

Kenzo melangkah keluar dari kamar rawat dengan perasaan yang jauh lebih hancur. Ia telah kehilangan Diandra, wanita yang ia cintai, dan kini ia juga kehilangan pemujaan dari Alexa yang selama ini ia anggap sebagai beban namun ternyata adalah hal paling tulus yang pernah ia miliki.

Ia berdiri di lorong rumah sakit, menyadari bahwa ia telah menghancurkan segalanya. Ketegasannya yang terlambat telah membunuh cinta Alexa, dan rasa bersalahnya yang salah waktu telah mengusir Diandra.

Suasana di kamar rawat Alexa berubah menjadi sangat dingin, bukan karena mesin pendingin ruangan, melainkan karena tatapan orang-orang di dalamnya. Kenzo berdiri mematung di tengah ruangan, sementara James dan Zella seolah membangun barikade di sekeliling ranjang Alexa, melindungi gadis itu dari kehadiran Kenzo.

James, yang biasanya menganggap Kenzo sebagai putra mahkota sahabatnya yang patut dibanggakan, kini menatap Kenzo seolah pria itu adalah orang asing yang berbahaya.

"Kenapa kau masih di sini, Kenzo?" tanya James dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman. "Putriku sudah memintamu pergi. Apa kau belum cukup puas melihatnya hampir kehilangan nyawa?"

"Uncle, aku hanya ingin bertanggung jawab..."

"Tanggung jawab?!" James bangkit dari kursinya, membuat suasana semakin tegang. "Tanggung jawabmu sudah berakhir saat kau membiarkannya pulang dalam keadaan hancur malam itu. Aku berterima kasih pada keluargamu atas segalanya, tapi untuk saat ini, kehadiranmu di sini hanya akan memperlambat kesembuhan Alexa. Keluar, Kenzo."

Tidak ada lagi panggilan Ken yang ramah. James menyebut namanya dengan penuh jarak. Bagi James, tidak peduli apa pun alasan Kenzo, fakta bahwa putrinya mencoba bunuh diri karena cinta yang tak terbalas pada pria ini adalah penghinaan terbesar bagi martabatnya sebagai seorang ayah.

Zella, yang sedang menggenggam tangan Alexa yang dingin, bahkan tidak mau menoleh ke arah saudara kembarnya. Ia sibuk mengusap kening Alexa, namun suaranya terdengar tajam saat menyahut.

"Kau dengar itu, kan?" ucap Zella tanpa melihat Kenzo. "Pergilah pada hidupmu yang kau banggakan itu. Alexa sudah sadar sekarang, dan dia tidak butuh dikasihani oleh orang yang menganggap perasaannya sebagai drama."

"Zel, kau saudara kembarku..." bisik Kenzo dengan suara parau.

"Tepat," potong Zella, akhirnya menoleh dengan mata yang sembab namun tajam. "Karena aku saudara kembarku, aku yang paling tahu betapa keras kepalanya kau. Tapi aku tidak tahu kalau kau bisa sekejam ini pada orang yang tumbuh bersamamu. Kau terlambat, Kenzo. Sangat terlambat. Rasa bersalah mu sekarang tidak ada harganya di mata kami."

Zella kemudian kembali fokus pada Alexa, sengaja membelakangi Kenzo sepenuhnya. "Ayo Al, minum airnya sedikit. Jangan pedulikan orang asing yang ada di sini."

Kenzo melangkah mundur perlahan. Ia merasa seperti pecundang di rumahnya sendiri. Di luar kamar, Kenneth sudah menunggu dengan wajah yang sama dinginnya. Kenneth melihat putranya keluar dengan bahu yang merosot.

"Sudah kukatakan, Kenzo," ucap Kenneth pendek. "Beberapa hal tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf. Kau telah menghancurkan kepercayaan James, dan kau telah menghancurkan hati Alexa. Sekarang, tanggung lah konsekuensi dari ketegasanmu yang salah waktu itu."

Kenzo berjalan menyusuri lorong rumah sakit sendirian. Ia teringat bagaimana beberapa hari lalu ia merasa sebagai orang yang paling memegang kendali atas situasi ini.

Namun kini, ia kehilangan segalanya, Diandra pergi karena ia putuskan, Alexa melepaskannya karena kecewa, dan keluarganya sendiri kini memperlakukannya seperti musuh.

Alexa di dalam sana mungkin terluka secara fisik, namun Kenzo yang di luar sini sedang mengalami kematian karakter yang sesungguhnya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!