kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VION KETAKUTAN
"Von Gardo, sepertinya aku harus belajar menunggangi kuda dengan benar terlebih dahulu," gumam vion lirih.
Ia berdiri bersedekap, menatap ragu ke arah seekor kuda jantan besar berwarna hitam legam yang sedang meringkik di depannya.
Di dunianya yang dulu, paling banter ia hanya pernah menaiki motor matik, bukan hewan setinggi dua meter yang tampak siap menendang tulang rusuknya.
Von Gardo berdehem pelan, sekuat tenaga menahan tawa agar tidak menyinggung harga diri sang pangeran.
"Anda tidak perlu melakukan itu sekarang, Yang Mulia. Mengingat luka di dada Anda belum pulih benar, kita akan menggunakan kereta kuda tertutup."
Satu alis vion terangkat, merasa sedikit lega namun tetap waspada.
"Baiklah, itu terdengar lebih masuk akal."
Persiapan dilakukan dengan sangat senyap. Tidak banyak barang yang dibawa; hanya beberapa peti berisi perbekalan makanan, botol-botol anggur untuk menghangatkan tubuh, dan kantung emas secukupnya.
Von Gardo memimpin di barisan depan dengan menunggangi kudanya, diikuti oleh segelintir ksatria pilihan yang telah bersumpah setia.
Vion duduk di dalam kereta kayu yang dilapisi beludru gelap. Di depannya, seorang kusir berpengalaman memegang kendali atas dua ekor kuda penarik yang kuat.
Roda kereta mulai berputar, meninggalkan keheningan Green Luse Manor menuju jalanan berbatu yang terjal.
Vion menyandarkan kepalanya ke dinding kereta yang berguncang. Ia tahu, perjalanan menuju Portsmouth ini tidak akan semulus kelihatannya.
Sesuai dengan firasat Von Gardo yang sudah kenyang makan asam garam peperangan, bayang-bayang pengkhianatan dan tajamnya mata pedang musuh pasti sudah menunggu mereka di balik kabut hutan yang akan mereka lalui.
Perjalanan itu tidaklah mudah. Di tengah rimbunnya hutan cemara yang dingin, mereka sempat dicegat oleh kawanan bandit pengelana dan perampok jalanan yang kelaparan.
Namun, pedang Von Gardo dan ketangkasan ksatria-ksatria pilihannya bukan tandingan bagi para preman hutan itu.
Dengan beberapa gerakan cepat, para penjahat itu kocar-kacir sebelum sempat menyentuh kereta kuda vion.
Karena hari sudah mulai gelap dan kabut turun menyelimuti jalanan, mereka terpaksa menepi. Di pinggir hutan yang sunyi, mereka mendirikan tenda-tenda sederhana dan menyalakan api unggun untuk menghalau dingin yang menusuk tulang. Mereka baru akan melanjutkan perjalanan setelah fajar menyingsing.
Di dalam tendanya, vion duduk beralaskan bulu domba, menatap lidah api yang menari-nari. Begitu banyak pelajaran yang ia ambil selama beberapa hari perjalanan ini—pelajaran tentang bertahan hidup yang jauh dari kenyamanan masa lalunya.
Tiba-tiba, ia teringat wajah ibunya. Ia masih bisa mendengar dengan jelas suara melengking sang ibu yang mengomel panjang lebar hanya karena ia tidak mandi dari pagi hingga sore.
Ia teringat bagaimana ibunya berteriak marah saat ia hanya bisa menengadahkan tangan meminta uang saku tanpa mau sedikit pun memeras keringat sendiri. Dulu ia merasa itu berisik, tapi sekarang... suara itu terasa seperti melodi yang sangat ia rindukan.
Tak terasa, sudah tiga bulan ia terjebak di dunia antah-berantah ini, hidup di balik identitas Pangeran Alaric.
Kedua mata vion tiba-tiba mengembun, air mata hampir jatuh sebelum ia menyekanya dengan cepat menggunakan punggung tangan. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan para ksatria.
'Sial, gue kangen rumah,' batinnya pedih.
Ia mencoba menghibur diri sendiri. Perlahan, ia mendekatkan lubang hidung ke arah ketiak dan baju beludrunya, lalu mengendus tubuhnya sendiri dalam diam.
'Tapi ya sudahlah... setidaknya di sini, biarpun nggak mandi berhari-hari karena cuaca dingin, badan gue nggak bau-bau amat,' gumamnya dalam hati sambil tersenyum kecut.
Von Gardo, dengan insting yang sudah terasah di puluhan medan tempur, bereaksi bahkan sebelum suara desingan itu terdengar jelas. Ia melompat dari pelana kudanya dengan gerakan yang sangat tangkas bagi pria berbaju zirah berat.
Wush! Wush!
Dua anak panah berujung perak meluncur deras mengincar jendela kereta. Namun, dengan presisi yang luar biasa, Von Gardo menangkap kedua anak panah itu tepat di antara sela-sela jemarinya sebelum sempat menembus tirai beludru.
"Von Gardo!" vion menyingkap kain penutup pintu kereta dengan wajah panik, matanya mencari arah datangnya serangan.
"Tetap di dalam, Yang Mulia! Jangan tunjukkan kepala Anda!" bentak Von Gardo dengan suara bariton yang menggelegar.
Ia menghunus pedang panjangnya, Greatsword yang berkilat dingin di bawah sinar mentari pagi.
"Keadaan di luar sama sekali tidak aman!"
Peringatan itu bukan tanpa alasan. Dari balik rimbunnya semak-semak dan pepohonan ek yang besar, puluhan pria berpakaian serba hitam mulai bermunculan. Mereka mengepung kereta dengan senjata terhunus, memutus jalan pelarian di depan dan belakang.
"Lindungi Pangeran! Bentuk formasi lingkaran!" teriak Von Gardo kepada para ksatria pilihannya.
Vion mencengkeram pinggiran kursi kereta. Jantungnya berdegup kencang. Ia hanya seorang pemuda biasa dari Indonesia yang kini terjebak di dalam sebuah kereta kayu yang dikepung oleh para pembunuh bayaran profesional di zaman pertengahan. Ia sadar, perjalanan mencari pandai besi itu baru saja berubah menjadi perang hidup dan mati.
Seluruh ksatria pengawal Von Gardo segera melompat dari pelana mereka, menghunus pedang panjang dengan suara denting logam yang mengerikan.
Pertempuran pecah seketika tepat di depan mata vion.Suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi neraka kecil yang dipenuhi teriakan dan dentuman senjata.
Rasa takut yang murni dan dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuk vion saat ia melihat salah satu ksatria pengawalnya tersungkur, mengerang kesakitan dengan lengan yang robek bersimbah darah akibat tebasan pedang lawan.
Vion mencengkeram kusen pintu kereta hingga buku jarinya memutih. Kedua tangannya mengepal erat; ada gejolak di dadanya untuk keluar dan membantu, namun logika warasnya menahan langkahnya.
Ia tahu betul ia tidak memiliki kemampuan bertarung—ia bukan Alaric yang asli yang mungkin mahir berpedang. Dia hanyalah vion, pemuda yang biasanya memegang ponsel, bukan gagang senjata.
Seorang pria bertopeng gelap mendekat dengan langkah berat setelah berhasil menjatuhkan salah satu ksatria pengawal. Sunggingan senyum sinis yang mengerikan terlihat di balik celah topengnya yang kasar.
Tatapan penuh kebencian dan haus darah terarah lurus pada vion yang kini memojok di sudut kereta dengan napas tersenggal.
Vion mencengkeram erat gagang pedang panjang yang ia temukan di lantai kereta. Ia mengarahkannya ke depan dengan kedua tangan, mencoba meniru gaya ksatria di film-film yang pernah ia tonton.
Namun, ujung pedang itu bergetar hebat mengikuti detak jantungnya yang berpacu liar karena ketakutan.
Alih-alih gentar, si pembunuh justru tertawa rendah. Senjata yang bergetar di tangan vion sama sekali tidak terlihat mengancam; itu hanya menunjukkan betapa tak berdayanya sang Pangeran saat ini.
"Mati kau, Pangeran!" teriak si pembunuh sambil mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
BLUUSS!
Bilah baja yang hampir saja menghujam dada vion tiba-tiba terpental jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, si pembunuh terpelanting hebat dan jatuh tersungkur setelah sebuah tendangan dsyat dari sepatu bot lapis baja Von Gardo menghantam lambungnya dengan kekuatan penuh.
Von Gardo berdiri di ambang pintu kereta dengan napas menderu, jubahnya sudah terciprat noda darah lawan. Ia menatap vion sekilas dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara lega dan cemas.
"Tetap di belakang hamba, Yang Mulia!" geram Von Gardo.
Ia memutar pedang besarnya dengan satu tangan, siap membantai siapa pun yang berani menyentuh kereta itu lagi.
Gantan terduduk lemas di lantai kereta, pedangnya terlepas dari genggaman. Keringat dingin mengucur deras di keningnya.
Sialan, nyawa gue hampir melayang beneran, batinnya sambil berusaha mengatur napas yang terasa mencekik.