Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tak lama kemudian seorang laki-laki masuk ke kamarnya dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
"Gibran..... "ucapnya dengan suara bergetar dan penuh haru.
Gibran melihat laki-laki itu, dan secara perlahan-lahan, ingatannya mulai kembali." Ra-Ranggga...?"tanyanya dengan agak ragu.
Rangga, sahabat sekaligus sekretaris Gibran di kantor, langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat-erat.
"Saya senang, kamu sudah bangun, Bran! saya sudah mencari kamu kemana mana.... "
Gibran merasa bingung."Apa yang terjadi? kenapa saya tiba-tiba ada disini?"
Rangga melepaskan pelukannya dan duduk di samping Gibran."Kamu mengalami kecelakaan dan hilang di sungai selama dua minggu lebih. Saya pikir, saya tidak akan bisa bertemu kamu lagi, Bran."
"Jadi....? saya kecelakaan dan hanyut di sungai selama dua minggu?" tanya Gibran memastikan.
Rangga mengangguk pelan."Bagaimana kondisi kamu? dan... bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan malam itu?"
"Saya tidak ingat apa-apa, tapi... saat saya bangun, tiba-tiba saya sedang terbaring di sebuah rumah, yang ternyata pemiliknya seorang gadis bernama Nadia,"jelas Gibran.
" Gadis itulah yang menolong dan merawat saya, di bantu oleh tetangganya yang berprofesi seorang Dokter puskesmas. Kata Nadia, saya hilang ingatan, mangkanya saya tidak ingat apapun, termasuk identitas saya sendiri."
"Hilang ingatan?"ulang Rangga seolah tak percaya." Kamu serius?"
"Jika saya tidak serius, mungkin saat saya sadar dan selamat dari kecelakaan itu, saya akan segera pulang ke rumah,"jawab Gibran.
Rangga mengangguk meng-iyakan.
" Saya pikir, kamu sudah meninggal dan jasadnya entah kemana. Tapi saya yakin... kamu pasti selamat, dan ternyata dugaan saya benar."
"Rangga, bisa tolong ceritakan awal mula kejadian malam itu dan semua... tentang saya, semoga dengan semua ini, ingatan saya bisa kembali pulih."
Rangga mulai menceritakan awal mula kejadian dimana Gibran kecelakaan pada malam itu, tentang keluarga Gibran, termasuk Tina----Ibunya yang terbaring sakit di rumah sakit, tentang kedua Kakaknya yang licik dan menjebak Gibran, sampai tega mencelakainya. Semua Rangga ceritakan secara detail, tidak ada satu pun cerita yang terlewat.
"Sepertinya kamu harus melakukan terapi, agar ingatanmu cepat pulih seperti sedia kala."usul Rangga.
" Butuh berapa lama untuk terapi?"
"Terapi harus di lakukan setiap saat, agar ingatanmu cepat pulih."
"Tapi....." Gibran tampak berpikir."Bagaimana dengan Nadia? mungkin dia sekarang sedang khawatir mencari keberadaan saya, lagi pula dia sudah sangat berjasa karna telah menolong dan merawat saya. Saya tidak akan meninggalkannya begitu saja, setelah kebaikan yang dia lakukan untuk saya."
"Saya mengerti dan paham,"balas Rangga." Tapi kamu harus segera pulih, kalau tidak, perusahaan akan di ambil alih paksa oleh Arya. Hanya kamu yang bisa menghentikan dia, Bran."
Gibran menimang-nimang ucapan Rangga, benar kata Rangga. Perusahaan sedang di ujung tanduk, jika ia tidak bergerak cepat, maka semuanya akan di ambil alih oleh Arya. Tapi.... bagaimana dengan Nadia? pasti saat ini, Nadia sedang mengkhawatirkannya.
Gibran menarik napas panjang,"Baik, saya akan tetap disini untuk melakukan terapi, tapi, kamu harus merahasiakan kedatangan saya kepada siapapun, termasuk semua pekerja di rumah sakit ini. Saya tidak ingin, Arya mengetahui keberadaan saya. Biarkan dia menyangka jika adiknya ini sudah mati."
Rangga mengangguk cepat."Baik, saya akan segera laksanakan."
"Oh iya," ujar Gibran lagi."Bisa tidak? kamu menyuruh orang untuk membantu Nadia, saya tahu kebutuhan ekonominya sangat pas-pasan. Jadi, tolong kirimkan sembako dan berbagai makanan untuknya."
Rangga mengangguk kembali."Baik, saya kerjakan sekarang."
*********
Sepulang bekerja, Nadia membuka pintu rumahnya dengan lelah. Setelah seharian bekerja, ia berharap bisa beristirahat dan menikmati waktu bersama dengan Gibran, laki-laki yang menjadi bagian hidupnya selama beberapa minggu terakhir. Kebetulan Nadia membawa dua bungkus mie ayam dan dua ayam goreng crispy untuk mereka santap nanti.
Tapi saat Nadia memasuki rumah, ia di sambut oleh kesunyian. Gibran tidak ada dimana-mana. Nadia merasa bingung, kemana perginya laki-laki itu? ia tidak meninggalkan pesan atau apa pun.
Nadia mulai khawatir, ia mencoba memanggil Gibran, tapi tidak ada jawaban. Ia memeriksa kamar, dapur, bahkan halaman belakang, tapi Gibran tidak ada dimana-mana.
Ia merasa panik, apa yang terjadi dengan Gibran? apakah ia pergi tanpa memberitahu? Nadia bingung, mengapa Gibran pergi tanpa alasan?
Lama menunggu, berharap Gibran pergi ke warung membeli sesuatu dan akan kembali, tapi selama hampir setengah jam menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Gibran. Akhirnya, Nadia memutuskan keluar rumah untuk bertanya kepada tetangganya. Namun sayang... tidak ada yang mengetahui keberadaan Gibran dimana.
Nadia sangat mengkhawatirkan Gibran, apalagi Gibran mengalami hilang ingatan, ia takut terjadi sesuatu pada laki-laki itu. Di sisi lain, Nadia tidak tahu apa yang harus ia lakukan?
Apa? ingatan Gibran sudah mulai pulih sepenuhnya? dan laki-laki itu memutuskan untuk pulang ke tempat asalnya. Tapi....? mengapa Gibran pergi begitu saja, tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Gibran kamu dimana?"gumamnya, sambil terus mencari keberadaan Gibran. Berharap laki-laki itu masih berada di sekitaran kampung.
Ia mencoba menghubungi Gibran melalui ponsel, ah! Nadia hampir lupa, jika Gibran tidak memiliki ponsel. Ia kelimpungan sendiri mencari Gibran, meskipun laki-laki itu menyebalkan dan manja, tapi jujur, Nadia sangat mengkhawatirkan keadaannya sekarang.
"Semoga dia tahu jalan pulang."
**********
Esok paginya Nadia terbangun, seluruh badannya terasa pegal, karna semalaman tidur di kursi sofa yang ada di ruang tamu. Selaman pula, ia memikirkan dan berharap Gibran kembali, oleh sebab itu, Nadia menunggu Gibran di ruang tamu, sampai ketiduran.
Nadia mengucek-ngucek matanya, lalu meregangkan kedua tangannya. Gadis itu langsung beranjak bangun, membuka gorden dan pintu rumahnya. Namun saat Nadia membuka pintu rumahnya, ia di sambut oleh kardus berukuran besar yang tergeletak tepat di depan pintu utama rumahnya.
Nadia merasa bingung, kardus apa itu? ia mendekati kardus itu, dan membuka penutupnya. Saat melihat isinya, ia terkejut. Kardus itu berisi sembako, seperti gula, beras, minyak, bumbu dapur dan stok makanan lainnya dalam jumlah banyak.
Nadia merasa aneh dan bingung, siapa orang yang telah mengirim makanan tersebut? Ia tidak ingat memesan apapun, dan tidak ada nota atau kartu yang menyertai kiriman tersebut.
Ia memeriksa sekitar rumah, tapi tidak ada tanda-tanda siapa pun yang masuk ke rumahnya. Nadia merasa sedikit aneh, siapa yang mengirim stok makanan sebanyak ini?
Nadia mulai berpikir, apa ini ulah Gibran? tapi laki-laki itu tidak pulang semalaman, kalau pun Gibran yang mengirim, mengapa laki-laki itu tidak mengetuk pintu dan masuk ke rumahnya, lalu memberitahu tentang kepergiannya.
Ah, Nadia pusing memikirkannya. Nadia memeriksa semua stok makanan tersebut, dan sepertinya tidak ada yang aneh.
"Lumayan juga stok makanan sebanyak ini," katanya berbicara sendiri."Bisa buat beberapa bulan nih."
Nadia membawa kardus itu ke dalam rumahnya, ia mulai mengeluarkan isi kardus tersebut. Memasukan gula ke dalam toples, beras ke dalam wadah, minyak ke dalam botol. Ia merasa sedikit lebih lega, tidak perlu khawatir tentang belanja makanan untuk beberapa waktu.
Tapi, Nadia tidak dapat menghilangkan rasa penasarannya, temtang siapa yang mengirim stok makanan sebanyak ini? apakah ada orang yang mengetahui keadannya? atau apakah ada orang yang sengaja membantu dirinya?
Nadia mengindahkan pikirannya,"Ah, nanti juga tahu lah. Yang penting sekarang, stok makanan sudah ada."
Ia melanjutkan mengurus rumah, merasa sedikit lebih bahagia dengan stok makanan yang ada.
bersambung...