“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"Aku tidak mau yang ini, Om! Ini besarnya sudah seperti batu nisan, malu-maluin kalau dipakai ke kampus!"
Cahaya mendorong kembali sebuah kotak hitam yang berisi cincin berlian lima karat ke arah Jeremy. Wajahnya ikut memerah bukan karena romantis, tapi karena emosi tingkat tinggi.
"Batu nisan katamu? Ini D-color Flawless diamond! Orang harus mengantre bertahun-tahun untuk mendapatkan potongan sesempurna ini," balas Jeremy tak kalah sengit.
Ia menunjuk cincin itu dengan telunjuknya yang gemetar karena menahan kesal.
"Kalau kau pakai yang kecil dan murah itu, ayahmu akan berpikir aku sedang jatuh miskin atau aku tidak serius menikahimu!"
"Justru kalau saya pakai yang ini, ayah saya akan mengira saya habis merampok bank!" Cahaya beralih menunjuk ke arah etalase di sudut lain. "Itu lho, Om. Yang emas putih polos saja. Harganya cuma sepersepuluh dari yang ini. Itu lebih masuk akal untuk mahasiswi seperti saya!"
"Tidak ada sejarahnya seorang Sebastian memberikan barang diskonan untuk calon istrinya, meskipun itu cuma kontrak!" bisik Jeremy lalu menoleh ke arah pelayan toko perhiasan yang sudah berdiri kaku dengan senyum yang membeku sejak lima belas menit lalu.
"Ambilkan yang paling mahal di brankas kalian. Sekarang!"
"Jangan! Mbak, jangan dengarkan dia! Ambilkan yang paling murah saja, yang kalau hilang saya nggak perlu ganti pakai ginjal!" seru Cahaya panik.
Pelayan toko itu melirik Jeremy, lalu melirik Cahaya, lalu beralih menatap langit-langit toko, seolah berharap ada keajaiban yang membuatnya menghilang dari sana.
"Maaf, Tuan... Nona... jadi yang mana yang harus saya bungkus?"
"Yang ini!" bentak Jeremy.
"Yang itu!" teriak Cahaya bersamaan.
Di sofa tunggu, Elio duduk sambil memangku dagunya dengan kedua tangan. Ia menghela napas panjang, berkali-kali menggelengkan kepalanya melihat pemandangan di depannya.
Pemandangan yang sangat tidak estetis bagi calon pasangan suami istri.
"Astaga... mereka berisik sekali," gumam Elio lirih. "Kenapa daddy dan kak Aya malah seperti anak kecil yang berebut mainan?"
Elio akhirnya turun dari sofa. Ia melangkah mendekat ke arah meja pajangan, berdiri tepat di tengah-tengah antara Jeremy dan Cahaya yang masih sibuk adu urat saraf soal karat dan harga.
"Cukup!" suara Elio yang kecil namun lantang seketika membungkam perdebatan itu.
Jeremy dan Cahaya kompak terdiam. Mereka menunduk, menatap bocah enam tahun itu yang kini sedang berkacak pinggang dengan wajah sangat serius.
"Daddy, kak Aya... Elio malu ditonton orang-orang," ucap Elio sambil menunjuk ke arah beberapa pengunjung toko yang mulai berbisik-bisik. "Kalian bilang mau beli cincin buat bukti cinta, tapi kenapa malah seperti mau perang dunia?"
"Daddy hanya ingin yang terbaik—"
"Dan kak Aya hanya ingin yang sederhana, Daddy," potong Elio cepat. Ia menoleh ke arah pelayan toko yang tampak lega karena ada penengah. "Apa boleh Lio melihat cincin dengan emas putih yang ada di tengah-tengah ini?"
Pelayan itu dengan sigap mengeluarkan sebuah cincin emas putih dengan satu berlian kecil di tengahnya, tidak terlalu mencolok seperti pilihan Jeremy, tapi tidak terlihat murah seperti keinginan Cahaya.
Simple, elegan, dan manis.
Elio mengambil cincin itu, lalu menarik tangan kanan Cahaya. "Kak Aya, ini pas buat tangan kakak. Cantik, nggak terlihat mewah, tapi tetap berkilau. Kak Aya suka?"
Cahaya tertegun. Ia menatap cincin itu, lalu menatap mata Elio yang tulus.
"Iya, Lio... ini cantik sekali," jawabnya.
Elio kemudian menoleh ke arah Jeremy. "Daddy tenang saja. Ini harganya mahal kok, cukup untuk membuat kakek percaya kalau daddy sanggup menafkahi kak Aya. Daddy setuju?"
Jeremy terdiam seribu bahasa. Ia melihat bagaimana cincin itu melingkar dengan pas di jari manis Cahaya.
Sialnya, Elio benar.
Cincin itu justru membuat Cahaya terlihat jauh lebih anggun daripada berlian raksasa yang ia pilih tadi.
"Ehem... ya, baiklah. Kalau putraku yang pilih, aku setuju," gumam Jeremy sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan rasa malunya karena baru saja dikalahkan oleh anaknya sendiri.
"Nah, gitu dong! Mbak, bungkus yang ini ya. Bayar pakai kartu daddy," ucap Elio dengan gaya bos kecil yang membuat Cahaya tertawa kecil dan Jeremy hanya bisa pasrah merogoh dompetnya.
Setelah transaksi selesai, mereka keluar dari toko perhiasan mewah itu. Jeremy berjalan di depan dengan langkah cepat, masih merasa agak dongkol, sementara Cahaya menuntun Elio di belakang.
"Om! Tunggu!" panggil Cahaya.
Jeremy berhenti dan berbalik.
"Apa lagi? Mau beli kalung seharga rumah juga?"
Cahaya berjalan mendekat, ia mengangkat tangannya yang sudah berhias cincin pilihan Elio.
"Terima kasih. Meskipun ini kontrak, makasih sudah mau menuruti pilihan Elio. Dan maaf tadi saya agak keterlaluan teriak-teriaknya," bisiknya lirih.
Jeremy menatap jari Cahaya sesaat, lalu beralih ke wajah gadis itu. Untuk sekejap, ia merasa jantungnya berdesir aneh.
"Sudahlah. Anggap saja itu investasi agar sandiwara kita lancar. Sekarang cepat masuk mobil, kita harus ke biro jasa. Aku tidak mau membuang waktu lagi."
Cahaya tersenyum tipis. "Cih! Marah-marah terus. Nanti kalau beneran jatuh cinta sama saya, jangan menyesal ya?"
"Dalam mimpimu!" sahut Jeremy ketus, meski telinganya mendadak memerah. "Siapa juga yang akan jatuh cinta pada gadis cerewet seperti dirinya!" batinnya.
Elio yang sudah duduk di dalam mobil hanya tersenyum simpul. Ia berharap, di balik perdebatan konyol soal cincin tadi, benih-benih saya g diantara mereka akan segera tumbuh.
"Tuhan, apakah Lio salah jika Lio berharap kak aya dan daddy bisa terus bersama sampai nanti Lio dewasa?"
semangat 💪 untuk cerita yg lain Thor 👍 salam sukses selalu ya ❤️🙂 trimakasih 🙏
aku masih berharap 🤭
pantas kemarin aku merasakan detik detik ending dan ternyata memang selesai
terimakasih kak sudah membuat cerita ini dengan sangat baik ,sudah menghibur pembaca sepertiku🙏