Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Darah Murni Teruji
Lampu minyak di dalam bunker berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding beton yang lembap. Aroma ozon dari luar perlahan memudar, digantikan oleh bau anyir yang tajam dan hangat. Arlan duduk di atas peti logistik kayu, giginya gemeletuk menahan perih yang menyayat dari lengan atasnya. Kain perban yang tadinya putih kini telah sepenuhnya berubah menjadi merah pekat.
"Tahan sebentar, Arlan," bisik Mira. Tangannya yang mungil gemetar saat ia menuangkan larutan alkohol ke luka sobek tersebut.
Arlan mendesis, punggungnya melengkung saat rasa terbakar itu menyentuh saraf-sarafnya yang terbuka. "Kenapa rasanya sesakit ini, Mira? Aku pernah terjatuh dari motor saat mengantar paket dulu, tapi ini... ini berbeda."
Mira berhenti sejenak, menatap cairan merah yang menetes ke lantai bunker yang kelabu. Di dunia yang kini didominasi oleh perak dan bayangan, warna merah itu tampak hampir seperti sebuah anomali kosmik—terlalu cerah, terlalu hidup, dan terlalu nyata.
"Karena ini adalah bukti bahwa kau bukan mereka," Mira menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ia menatap darah Arlan dengan binar mata yang campur aduk antara ngeri dan kagum. "Para peniru tidak memiliki ini. Saat mereka terluka, yang keluar hanyalah merkuri dingin yang tidak memiliki denyut. Darahmu... darahmu punya panas."
"Panas yang membunuhku jika tidak segera berhenti," gerutu Arlan, meski dalam hatinya ia merasakan sebuah kebanggaan aneh yang tumbuh di balik rasa perih itu.
Kesaksian Warna di Balik Beton
Dante muncul dari kegelapan lorong bunker, wajahnya masih sepucat saat mereka melarikan diri dari kehancuran Sektor Tujuh. Ia berhenti beberapa langkah dari Arlan, matanya terpaku pada noda merah di lantai.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dante, suaranya berat dan penuh perhitungan.
"Lukanya dalam, tapi dia akan bertahan," Mira menyeka peluh di dahi Arlan. "Hanya saja, aromanya... aromanya sangat kuat, Dante. Aku bisa merasakannya melalui gema Hampa Akustik di lorong. Bau besi ini terlalu mencolok di lingkungan yang steril seperti ini."
Dante mengangguk pelan, jemarinya mengusap dagunya yang kasar. "Itulah masalahnya. Bagi kita, ini adalah tanda kehidupan. Tapi bagi sistem pelacak Eraser, darahmu adalah 'eror sistem' yang harus dikarantina. Mereka tidak akan berhenti mencarimu setelah melihat anomali merah itu di apartemen tadi."
"Jadi aku sekarang adalah umpan?" Arlan menatap Dante dengan tajam. "Setelah kehilangan rumah dan satu-satunya foto ayahku, sekarang aku harus menjadi target karena warna darahku sendiri?"
"Kau bukan umpan, Arlan. Kau adalah spesimen," Dante mengoreksi dengan nada dingin namun jujur. "Eraser didesain untuk menyempurnakan dunia melalui salinan. Keberadaan darah organik yang tidak bisa mereka duplikasi adalah ancaman bagi algoritma mereka. Mereka butuh sampelmu untuk mencari cara menghapus warna merah itu dari realitas."
"Kalau begitu, biarkan mereka mencoba mengambilnya," ucap Arlan sambil mengepalkan tangannya yang tidak terluka. "Aku sudah muak terus berlari sementara semua yang kukenal menghilang menjadi debu perak."
Getaran di Dinding Bunker
Percakapan mereka terputus oleh suara getaran rendah yang merambat melalui fondasi bunker. Arlan bisa merasakan koin perak di sakunya bergetar, seolah memberikan peringatan dini akan adanya distorsi frekuensi yang mendekat.
"Mira, apa kau dengar itu?" Arlan menegang.
Mira memejamkan matanya, memiringkan kepala ke arah pintu baja utama. "Sunyi... tapi terlalu sunyi. Tidak ada gema tikus, tidak ada suara tetesan air di pipa. Ini adalah Hampa Akustik yang dipaksakan. Sesuatu sedang menyedot semua gelombang suara di sekitar pintu masuk."
"Mereka sudah di sini," Dante mencabut senjata pulsa elektromagnetiknya dari pinggang. "Bagaimana mungkin? Kita sudah memutus jalur kabel tembaga itu."
"Aroma," bisik Arlan. Ia teringat kembali pada masa-masa ia bekerja sebagai kurir, bagaimana ia bisa melacak paket yang bocor hanya dari baunya. "Mereka tidak melacak frekuensi. Mereka melacak jejak kimia darahku. Saraf sensorik mereka pasti sudah ditingkatkan setelah insiden di tangga apartemen tadi."
"Dante, gerbang depan mulai memudar!" teriak seorang anggota Archivist dari ujung lorong.
Arlan berdiri, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya. Ia melihat ke sekeliling lorong teknis yang sempit. Ini adalah wilayahnya—labirin yang menyerupai lorong-lorong belakang gedung tua yang biasa ia jelajahi.
"Dante, bawa warga masuk lebih dalam ke ruang mesin bawah," perintah Arlan. Secara tidak sadar, nada bicaranya mulai berubah, tidak lagi seperti underdog yang ketakutan, melainkan seseorang yang mulai memahami medan perangnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Dante menatap muridnya itu dengan kening berkerut.
"Aku akan menemui mereka di lorong teknis. Jika mereka menginginkan sampel darahku, aku akan memberikannya dengan cara yang tidak akan pernah mereka lupakan," Arlan mengambil sebotol cairan pembersih mesin yang mengandung asam tinggi dari rak logistik.
"Itu bunuh diri, Arlan! Kau masih terluka!" Mira mencoba menahan lengannya.
Arlan menatap Mira, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Jangan khawatir. Aku baru menyadari sesuatu. Di dunia yang penuh dengan salinan sempurna ini, kerapuhanku adalah satu-satunya senjata yang tidak punya salinan. Mereka tidak akan tahu bagaimana cara bereaksi terhadap sesuatu yang benar-benar hidup."
Dante terdiam sejenak, lalu memberikan anggukan singkat. "Gunakan lorong venturi untuk menjebak frekuensi mereka. Mira, bantu warga. Aku akan mengawasi pintu belakang."
Arlan melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong teknis, membiarkan tetesan darahnya meninggalkan jejak di atas lantai beton, sengaja memanggil pemangsa yang sedang lapar akan warna merah.
Virus Organik
Arlan menyandarkan punggungnya pada pipa uap yang berkarat di ujung lorong teknis. Napasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menghirup serpihan es yang tajam. Ia bisa mendengar suara langkah kaki itu sekarang—langkah yang berat, sinkron, dan tanpa irama kehidupan. Itu adalah Eraser A, unit pengejar yang didesain khusus untuk melacak jejak biologis yang tertinggal.
"Subjek Arlan," suara itu menggema melalui dinding beton, datar dan tanpa emosi. "Kehilangan cairan merah terdeteksi pada level dua puluh persen. Kesadaran subjek akan menurun dalam tiga ratus detik. Menyerahlah untuk preservasi data."
Arlan memejamkan mata, merasakan denyut di lengannya yang terluka. Ia membuka balutan perbannya, membiarkan darah merah yang segar mengalir deras ke telapak tangannya. Ia kemudian mencampurkan darah itu dengan cairan asam pembersih mesin yang ia ambil tadi. Cairan itu mendesis, bereaksi dengan hemoglobin organik dalam campuran yang tidak stabil.
"Aku tidak akan menjadi bagian dari perpustakaan salinanmu," bisik Arlan.
Sosok Eraser A muncul dari balik kabut uap. Wajahnya adalah replika sempurna dari seorang pria paruh baya yang mungkin pernah tinggal di Sektor Tujuh, namun matanya kosong, memancarkan cahaya biru pucat yang memindai setiap inci lorong. Saat sensor matanya menangkap warna merah di tangan Arlan, sistemnya berkedip cepat.
"Anomali terdeteksi. Memulai ekstraksi sampel," Eraser A melangkah maju, tangannya bertransformasi menjadi jarum panjang dari perak cair.
"Kemarilah," tantang Arlan. Ia sengaja menjatuhkan botol asam yang sudah tercampur darahnya ke lantai, tepat di depan langkah sang peniru.
Saat kaki logam Eraser A menginjak genangan merah tersebut, reaksi kimia yang mengerikan terjadi. Darah organik Arlan, yang membawa kode genetik manusia asli, bertindak seperti virus biologis bagi materi perak peniru. Lantai beton di bawah kaki musuh mulai berbusa dan meledak kecil. Cairan perak yang membentuk kaki Eraser A mulai menghitam dan mengeras seperti jelaga.
"Eror... Integritas struktural terkompromi," Eraser A mencoba mundur, namun proses korosi itu merambat cepat ke atas tungkainya. "Materi tidak dikenal terdeteksi. Menolak sinkronisasi..."
Kehancuran Logika Perak
Arlan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menerjang maju, menggunakan bahunya yang sehat untuk menghantam dada musuh yang sedang mengalami malfungsi. Mereka berdua jatuh ke lantai lorong yang sempit. Arlan mencengkeram leher peniru itu, membiarkan tangannya yang berlumuran darah menyentuh langsung kulit wajah sang peniru.
"Lihat ini," desis Arlan tepat di depan sensor mata musuh yang mulai meredup. "Ini adalah rasa sakit yang tidak bisa kau salin. Ini adalah hidup yang kau curi!"
Di mana pun darah Arlan menyentuh kulit perak peniru, kulit itu melepuh dan hancur menjadi abu hitam. Eraser A mencoba melakukan Napas Manual dengan cepat, sebuah upaya sia-sia untuk mendinginkan sistem internalnya yang sedang terbakar oleh kehadiran zat organik murni. Tubuhnya bergetar hebat, mengeluarkan suara statis yang menyakitkan telinga sebelum akhirnya seluruh strukturnya runtuh menjadi tumpukan logam mati yang tidak lagi berbentuk manusia.
Arlan terengah-engah, melepaskan cengkeramannya. Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar. Darah merahnya kini bercampur dengan abu hitam musuhnya. Ia merasa mual, namun di saat yang sama, ia merasakan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan kekuatan otot, melainkan kepastian eksistensial.
"Arlan!" Mira berlari menyusuri lorong, diikuti oleh Dante. Mereka terpaku melihat sisa-sisa Eraser A yang sudah menjadi jelaga di lantai.
"Kau... kau melakukannya tanpa senjata?" Dante bertanya, suaranya mengandung nada hormat yang belum pernah ada sebelumnya.
"Aku menggunakan diriku sendiri," jawab Arlan pendek. Ia membiarkan Mira membalut kembali lukanya dengan kain yang bersih.
"Darahmu benar-benar racun bagi mereka," Mira berbisik sambil mengikat perban dengan lembut. "Dante, kita harus lebih berhati-hati sekarang. Jika satu tetes darahnya bisa menghancurkan unit pengejar, pusat kota akan mengirimkan seluruh pasukan untuk menghapusnya."
Sadar Kekuatan
Dante memungut sebuah komponen kecil yang tersisa dari tubuh Eraser A—sebuah modul memori yang masih berkedip merah. "Arlan benar. Kerapuhan ini adalah senjata kita. Tapi ini juga berarti kau tidak boleh terluka lagi kecuali itu adalah bagian dari rencana. Kita tidak bisa membiarkan mereka mendapatkan sampel darahmu dalam keadaan utuh di laboratorium mereka."
Arlan berdiri, merasakan tubuhnya sangat lemas namun batinnya sangat tajam. Ia menatap ke arah pintu keluar bunker yang mengarah ke zona luar kota. Di kejauhan, ia bisa melihat langit Lentera Hitam yang masih terfragmentasi, namun kini ia tidak lagi melihatnya dengan rasa takut seorang kurir yang tersesat.
"Apa rencana kita selanjutnya, Komandan?" tanya salah satu anggota Archivist yang berdiri di belakang Dante.
Dante menoleh ke arah Arlan, lalu ke arah anggotanya. "Tanyakan pada dia. Dia yang baru saja membuktikan bahwa manusia belum kalah."
Arlan tertegun sejenak mendengar sebutan itu. Ia melihat ke arah Mira yang tersenyum tipis, lalu ke arah Dante yang memberikan ruang baginya untuk memimpin. Rasa duka atas hilangnya Sektor Tujuh masih ada, namun duka itu kini menjadi api yang membakar keraguannya.
"Kita tidak akan menunggu mereka menghapus kita," ucap Arlan, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—dingin, stabil, dan penuh otoritas. "Kita akan menyerang jalur logistik mereka. Kita akan menunjukkan pada kota ini bahwa warna merah belum benar-benar hilang."
Saat mereka bersiap untuk bergerak, Arlan merasakan sesuatu yang aneh di saku jaketnya. Bukan koin perak yang biasa, melainkan getaran yang lebih halus dan panas. Ia merogoh sakunya dan menemukan sebuah koin dengan ukiran tahun yang mustahil: 2030. Koin itu seolah berdenyut, membawa beban masa depan yang belum terjadi ke dalam genggamannya yang bersimbah darah.