Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI MEMBERONTAK
Di sel yang pengap dan berbau karat itu, hening yang mencekam mendadak pecah oleh suara derit logam yang tak wajar.
Duke Lucas Alistair, yang selama lima tahun hanya menjadi onggokan daging dan tulang yang bernapas, kini menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang mengerikan.
Kepalanya yang tertunduk perlahan terangkat, dan rantai logam hitam yang membelenggu pergelangan tangannya memercikkan api biru saat dia mulai mengerahkan sisa kekuatannya.
"Uhuk... hahah..."
Sebuah tawa serak, kering, dan terdengar seperti suara retakan tulang keluar dari tenggorokannya.
Duke Lucas merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari nadinya, yaitu kehangatan.
Bukan kehangatan dari api pemanas, melainkan kehangatan dari darah Jasmine yang terhubung melalui lencana perak milik nya yang dia tinggalkan di kediaman nya.
Duke Lucas bisa merasakan emosi istrinya, kemarahan, tekad, dan cinta yang meluap, merambat masuk ke dalam jiwanya seperti arus listrik.
"Jasmine... kau... sudah tahu..." bisik Duke Lucas, bibirnya yang pecah-pecah menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
BRAK
Tiba-tiba, pintu sel yang berat berdentum, si Penjaga bertopeng masuk dengan langkah tergesa, membawa cambuk yang dialiri sihir hitam, karena dia merasakan ada yang aneh dengan tawanan paling berharganya malam ini.
"Diam kau, Anjing Alistair! Apa yang kau tertawakan? Hah!" bentak si Penjaga, sambil mengayunkan cambuknya dengan keras.
CETAR
CETAR
CETAR
CETAR
Cambuk itu mengenai bahu Duke Lucas, merobek kulitnya yang sudah penuh luka. Namun, alih-alih merintih seperti biasanya, Duke Lucas justru mendongak, dengan seringai keji di wajah nya, bahkan matanya yang cekung mendadak berkilat dengan warna hitam pekat yang berpendar emas di tepian pupilnya.
"Kau..."
Suara Duke Lucas terdengar jauh lebih rendah dan berwibawa, seolah-olah ada kekuatan purba yang sedang berbicara melalui mulutnya.
"Kau baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu..." bisik Duke Lucas, seperti angin kematian.
"K-kau? Bagaimana bisa kau masih punya kekuatan untuk bicara seperti itu? Sihir hitam ini seharusnya sudah menghisap seluruh jiwamu!" teriak si Penjaga mundur selangkah, dengan tangan gemetaran.
Duke Lucas mengabaikan rasa sakit di bahunya, dia justru memejamkan mata sejenak, memfokuskan pikirannya pada ikatan batin yang baru saja terbuka.
Di dalam kegelapan batinnya, dia tidak lagi melihat sel sempit ini, tapi dia melihat pantulan samar dari sebuah kamar yang hangat, dan dia juga melihat, dua cahaya kecil.
Dua jantung yang berdetak dengan irama yang sangat mirip dengan jantungnya sendiri.
"Anak-anakku..." batin Lucas bergejolak.
"Mereka... mereka lahir... mereka hidup..."batin Duke Lucas, dengan senyum pedih di wajah nya.
Rasa bersalah yang menghimpitnya selama bertahun-tahun karena mengira telah meninggalkan Jasmine sendirian kini berubah menjadi kekuatan destruktif yang liar.
Darah Serigala nya yang tertidur di dalam dirinya selama ini, kini mulai memberontak melawan belenggu sihir hitam.
KRAK
Salah satu mata rantai di tangan kirinya retak.
"APA?!"
"TIDAK MUNGKIN!"
Si Penjaga membelalakkan mata.
"Penjaga! Cepat ke sini! Tawanan ini lepas kendali!" teriak si Penjaga itu, panik.
Duke Lucas tidak peduli, dia terus memusatkan pikirannya pada bayangan Jasmine, dia bisa merasakan istrinya sedang memegang lencananya di kejauhan.
"Jasmine, Sayang..." bisik Duke Lucas dalam hati, mengabaikan para penjaga yang mulai berdatangan masuk ke dalam selnya dengan senjata terhunus.
"Jangan terburu-buru, jadilah pemburu yang sabar, aku akan bertahan di sini sedikit lebih lama, demi melihat wajahmu, dan demi memeluk putra-putra kita," bisik Duke tersenyum kecil.
BRAKK
Saat para penjaga menyerbu ke arahnya, Duke Lucas tidak melawan dengan fisik yang lemah, melainkan mengeluarkan Aura Alpha yang begitu menekan hingga membuat para penjaga itu jatuh berlutut di lantai sel yang dingin, napas mereka tersengal seolah-olah ada gunung yang menimpa pundak mereka.
Duke Lucas menatap ke arah pintu sel yang terbuka, menatap jauh menembus dinding-dinding batu.
Di tengah siksaan dan kegelapan, sang Duke telah bangkit, harapannya kini bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah janji yang akan dia penuhi dengan genangan darah musuhnya.
"Tunggu aku, Jasmine," bisik Duke Lucas sebelum sebuah hantaman tongkat sihir hitam dari belakang membuatnya kembali jatuh pingsan, namun kali ini dengan senyuman yang paling menakutkan yang pernah dilihat oleh para penjaganya.
BRAK
Di kamar Jasmine, tepat saat Duke Lucas pingsan setelah menerima hantaman di selnya, sebuah kejadian aneh menimpa Lucian.
"Aaaakkkkh!"
Lucian tiba-tiba mencengkeram bahu kirinya. Tubuh mungilnya tersentak, dan wajahnya yang biasanya tenang mendadak pucat pasi.
Bruk
Lucian jatuh berlutut di atas permadani, napasnya tersengal seolah-olah baru saja dihantam oleh benda tumpul yang sangat berat.
"Lucian!" teriak Jasmine, langsung menghampiri putra sulungnya itu.
"Sayang, ada apa? Apa yang sakit?" tanya Jasmine, Khawatir.
Jasmine dengan gemetar menarik kerah baju tidur Lucian untuk memeriksa bahunya.
Seketika mata Jasmine membelalak ngeri, di kulit bahu putih Lucian, perlahan muncul memar kemerahan yang membiru dengan cepat, persis di posisi yang sama dengan luka cambuk yang baru saja diterima Duke Lucas di selnya.
"S-sakit, Ibu..." rintih Lucian, butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya.
"Seperti ada api, di bahuku..." ucap Lucian lirih, memejamkan mata nya erat.
Nyonya Kimberly langsung mendekat, wajahnya penuh kecemasan namun dia tampak memahami apa yang terjadi.
Nyonya Kimberly memegang bahu Lucian, dan tangannya mulai memancarkan kehangatan lembut untuk meredakan rasa sakit sang cucu.
"Ini ikatan simpati," bisik Nyonya Kimberly pada Jasmine.
"Lucian mewarisi kemampuan penghubung yang paling kuat, dia merasakan apa yang dirasakan ayahnya karena ikatan darah mereka sangat murni," lanjut Nyonya Kimberly, menjelaskan.
"Siapa yang menyakiti Kak Lucian?! Siapa yang menyakiti Ayah?! Aku akan membakar mereka!" teriak Leo, yang melihat kakaknya kesakitan, matanya mulai berkilat merah karena marah.
Suhu di dalam kamar meningkat drastis, Leo mengepalkan tinjunya, dan lantai kayu di bawah kakinya mulai mengeluarkan suara berderit seolah terpanggang.
"Leo, tenanglah! Kau akan membakar kamar ini!" seru Tuan Steven sambil memegang bahu cucu bungsunya, berusaha meredam emosi bocah itu agar kekuatannya tidak meledak tak terkendali.
Jasmine memeluk Lucian erat, air matanya jatuh mengenai luka memar di bahu putranya. Hatinya hancur berkeping-keping.
Selama ini dia mengira Lucas sudah tenang di alam sana, walaupun hatinya tidak pernah ikhlas dengan kepergian suaminya, namun kenyataannya, suaminya sedang disiksa, dan rasa sakit itu bahkan merambat pada anak mereka yang tak berdosa.
"Maafkan Ibu, Lucian... Maafkan Ibu..." ucap Jasmine terisak, mencium kening Lucian berkali-kali.
Lucian, meski masih menahan sakit, perlahan membuka matanya, dia menatap Jasmine dengan tatapan yang sangat dalam.