Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama yang Kelam
Sudah seminggu aku hidup di vila ini. Seminggu yang terasa seperti sebulan. Atau mungkin setahun. Aku sudah kehilangan perhitungan waktu. Setiap hari sama. Bangun, sarapan dengan Leonardo yang nyaris tidak bicara, lalu dia pergi ke ruang kerjanya atau keluar rumah entah kemana, meninggalkan aku sendirian dengan pikiran-pikiran gelap yang terus menggerogoti kewarasanku.
Malam ini berbeda.
Aku merasakannya sejak tadi sore. Leonardo pulang lebih cepat dari biasanya, sekitar pukul enam sore. Wajahnya lebih tegang, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang mengganggunya, tapi tentu saja dia tidak bicara apapun padaku.
Makan malam berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Aku hampir tidak menyentuh makananku, cuma mengaduk-aduk pasta di piring sambil sesekali melirik Leonardo yang juga kelihatannya tidak nafsu makan.
"Kau tidak makan," komentarnya tiba-tiba.
"Tidak terlalu lapar," jawabku pelan.
"Sofia bilang berat badanmu turun tiga kilo sejak kau di sini." Dia meletakkan garpu dan pisaunya dengan gerakan yang terkontrol. Terlalu terkontrol. "Itu tidak sehat."
"Mungkin karena saya stress. Dikurung tanpa bisa kemana-mana cenderung membuat orang kehilangan nafsu makan." Nada suaraku lebih tajam dari yang kuinginkan.
Leonardo menatapku. Lama. Mata kelabunya itu seperti menganalisa setiap detail wajahku.
"Kau pikir aku menikmati ini?" tanyanya pelan. Terlalu pelan.
Aku terdiam. Bingung harus jawab apa.
"Kau pikir aku senang melihatmu ketakutan setiap kali aku masuk ruangan? Melihatmu gemetar setiap kali aku menyentuhmu?" Suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang gelap dan kacau. "Kau pikir ini mudah bagiku?"
"Lalu kenapa kau melakukannya?" tanyaku, suaraku bergetar. "Kenapa kau tidak membiarkan saya pergi? Kenapa harus seperti ini?"
"Karena aku tidak bisa." Jawabnya cepat. Terlalu cepat. "Karena kalau aku membiarkanmu pergi, kau akan hilang. Dan aku tidak bisa... aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Dia berdiri dari kursinya, berjalan keluar ruang makan tanpa sepatah kata lagi. Meninggalkan aku yang duduk dengan jantung berdebar kencang dan banyak sekali pertanyaan tanpa jawaban.
Pukul sepuluh malam, seperti biasa, pintuku terkunci otomatis. Aku sudah berganti pakaian tidur, sebuah gaun tidur sutra berwarna krem yang entah siapa yang menyiapkannya. Aku membenci gaun ini. Terlalu tipis. Terlalu... rentan.
Tapi semua pakaian tidur di lemari modelnya seperti ini. Tidak ada piyama biasa, tidak ada kaos oversized yang nyaman. Semuanya gaun-gaun tidur mewah yang membuatku merasa seperti boneka yang didandani.
Aku berbaring di tempat tidur, menarik selimut sampai ke dagu, menatap langit-langit kamar yang gelap. Hanya lampu tidur kecil yang menyala, memberikan cahaya redup yang seharusnya menenangkan tapi malah membuat bayangan di dinding terlihat menyeramkan.
Aku mencoba tidur. Memejamkan mata. Tapi pikiran terus berputar.
Kenapa Leonardo melakukan semua ini? Apa yang dia inginkan sebenarnya? Kalau dia cuma mau perempuan, dengan kekayaannya, dia bisa dapat siapa saja. Kenapa harus aku? Aku bukan siapa-siapa. Cuma anak dari keluarga yang bangkrut. Tidak ada yang spesial dariku.
Tapi dia memilihku. Membayar utang keluargaku. Membuatku menandatangani kontrak lima tahun. Mengurungku di sini seperti...
Suara pintu terbuka membuyarkan pikiranku.
Jantungku langsung berhenti sejenak.
Aku bangkit duduk, menarik selimut lebih erat. Pintu kamarku yang harusnya terkunci pelan-pelan terbuka.
Leonardo masuk.
Dia hanya mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih yang beberapa kancing atasnya terbuka. Rambutnya sedikit acak-acakan, tidak serapi biasanya. Dan matanya... matanya menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin lari tapi kakiku tidak bisa bergerak.
"Leonardo..." suaraku gemetar. "Kenapa... kenapa kau masuk?"
Dia menutup pintu pelan di belakangnya. Lalu berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti detakan jantungku yang semakin cepat.
"Aku mau bicara denganmu," ucapnya tenang.
"Bicara? Sekarang? Sudah hampir tengah malam, Leonardo..."
"Aku tidak peduli jam berapa." Dia sudah sampai di tepi tempat tidur. Berdiri di sana, menatapku dari atas. "Aku mau bicara sekarang."
Aku menelan ludah susah payah. Tubuhku gemetar. Aku tahu apa yang biasanya terjadi kalau suami masuk kamar istri tengah malam. Dan aku tidak siap. Sama sekali tidak siap.
"Aku... aku mohon, jangan..." bisikku, air mata sudah mulai menggenang.
Leonardo mengerutkan kening. "Jangan apa?"
"Jangan paksa saya... saya belum... saya tidak bisa..."
Ekspresi wajahnya berubah. Dari bingung ke... terluka? Tidak, itu tidak mungkin. Leonardo tidak bisa terluka. Dia bahkan tidak punya perasaan.
"Kau pikir aku masuk ke sini untuk memaksamu?" tanyanya pelan.
Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Leonardo menghela napas panjang. Lalu duduk di tepi tempat tidur, menjaga jarak beberapa sentimeter dariku.
"Aku tidak akan menyentuhmu, Nadira. Tidak seperti itu." Suaranya terdengar... lelah. "Tidak akan pernah."
"Tapi... tapi kau suamiku. Kau bisa..."
"Aku bisa. Tapi aku tidak akan." Dia menatapku. "Tidak sampai kau sendiri yang menginginkannya."
Aku terdiam. Bingung. Ini jebakan kan? Ini pasti jebakan.
"Kau tidak percaya padaku," ucapnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
"Bagaimana saya bisa percaya? Kau mengurung saya. Kau mengontrol semua yang saya lakukan. Kau mengancam keluarga saya. Dan sekarang kau bilang kau tidak akan memaksa saya?" Suaraku meninggi, emosi yang sudah kutahan selama seminggu akhirnya meledak. "Apa bedanya? Kau sudah memaksa saya untuk semua hal lain! Kenapa tidak ini juga?"
Leonardo hanya diam. Menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca.
"Karena aku ingin kau datang padaku dengan kehendakmu sendiri." Jawabnya akhirnya. "Aku ingin kau menginginkanku. Bukan karena takut. Bukan karena terpaksa. Tapi karena kau benar-benar menginginkannya."
Aku tertawa. Tawa yang terdengar pahit bahkan di telingaku sendiri. "Kau gila kalau pikir itu akan terjadi."
"Mungkin." Dia tersenyum tipis. "Tapi aku punya waktu. Lima tahun. Dan percayalah, Nadira, dalam lima tahun, banyak hal bisa berubah."
"Saya tidak akan pernah menginginkanmu," ucapku tegas, walau suaraku gemetar. "Tidak peduli berapa lama kau menunggu."
"Kita lihat saja." Dia mengangkat tangannya, aku refleks mundur. Tapi dia hanya menyentuh pipiku pelan, mengusap air mata yang jatuh tanpa kusadari. "Kau tidak mengerti sekarang. Tapi nanti kau akan paham."
"Paham apa?"
"Bahwa tempat paling aman untukmu adalah di sisiku. Bahwa tidak ada yang akan melindungimu seperti aku. Bahwa dunia di luar sana jauh lebih berbahaya dari sangkar emasmu ini."
Tangannya turun ke leherku, jari-jarinya menelusuri tulang selangkaku dengan sangat pelan. Sentuhan yang seharusnya lembut tapi malah membuatku merinding ketakutan.
"Kau pikir aku monster," bisiknya. "Mungkin kau benar. Tapi aku monster yang akan membunuh siapapun yang berani menyakitimu. Aku monster yang akan membakar seluruh dunia kalau itu artinya kau tetap aman."
"Aman dari apa? Saya tidak butuh perlindungan sebelum kau datang dan menghancurkan hidup saya!"
"Hidup yang mana, Nadira? Hidup dimana keluargamu terlilit utang dan diancam orang-orang berbahaya setiap hari? Hidup dimana kau bekerja keras tapi tetap tidak cukup untuk membayar tagihan?" Suaranya tetap tenang tapi ada ketajaman di dalamnya. "Aku menyelamatkanmu dari kehidupan itu. Aku memberikanmu kemewahan yang bahkan tidak pernah kau bayangkan. Dan yang kuminta hanya satu hal... keberadaanmu."
"Ini bukan penyelamatan. Ini perbudakan."
"Sebut apapun yang kau mau." Leonardo berdiri, menatapku dari atas dengan tatapan yang membuatku ingin menghilang. "Tapi fakta tidak berubah. Kau milikku sekarang. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Dia berbalik, berjalan ke arah pintu. Tapi berhenti sejenak, tanpa menoleh.
"Kau tahu apa yang paling berbahaya dari semua ini, Nadira?" tanyanya pelan. "Bukan karena aku menahan mu di sini. Bukan karena aku mengontrol hidupmu. Tapi karena pada akhirnya... kau akan terbiasa. Kau akan melupakan bagaimana rasanya hidup tanpa aku. Dan saat itu terjadi, kau tidak akan mau pergi lagi bahkan kalau aku membuka semua pintu dan memberikanmu kebebasan."
Kata-kata itu menggantung di udara seperti kutukan.
Dia keluar, menutup pintu pelan. Bunyi klik dari kunci digital terdengar lagi. Aku terkunci. Lagi.
Aku merosot ke bantal, tubuhku gemetar hebat. Air mata mengalir deras, basah membasahi pipi dan bantal.
Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku?
Aku bukan orang jahat. Aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku cuma... cuma ingin hidup normal. Punya pekerjaan yang kusukai, mungkin suatu hari menikah dengan orang yang kucintai, punya keluarga kecil yang bahagia.
Tapi semua itu hancur. Digantikan dengan sangkar emas ini. Dengan Leonardo yang tidak bisa kubaca. Dengan ketakutan yang menempel di setiap napas ku.
Dan yang paling menakutkan...
Aku mulai bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau kata-kata Leonardo itu benar. Kalau aku benar-benar terbiasa dengan semua ini. Kalau aku lupa bagaimana rasanya bebas.
Apa aku masih akan jadi Nadira Azzahra yang dulu?
Atau aku akan berubah jadi Nadira Valerio yang baru... boneka cantik dalam sangkar emas milik monster yang pura-pura mencintaiku?
Entahlah.
Yang aku tahu sekarang cuma satu hal.
Aku harus bertahan.
Entah bagaimana caranya, aku harus bertahan.
Karena kalau aku menyerah sekarang, kalau aku membiarkan Leonardo menang, maka aku akan kehilangan satu-satunya hal yang masih tersisa dariku.
Diriku sendiri.
Dan itu... itu satu-satunya hal yang tidak boleh aku berikan pada siapapun. Bahkan pada pria yang sekarang punya kuasa penuh atas hidupku.
Aku memeluk bantal lebih erat, menangis sampai tidak ada air mata lagi yang bisa keluar. Sampai mataku perih dan bengkak. Sampai tubuhku lelah dan akhirnya tertidur dalam mimpi buruk yang penuh wajah Leonardo dan suaranya yang terus berbisik.
Kau milikku.
Kau milikku.
Kau milikku.
Seperti mantra yang perlahan-lahan meracuni pikiranku.
Dan yang paling menakutkan adalah... bagian kecil dariku mulai percaya pada kata-kata itu.