Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 8
Jeritan belum sepenuhnya lenyap ketika para pendekar Perguruan Awan Mengalir kembali bergerak.
Namun kali ini langkah mereka tidak lagi ringan.
Yang maju adalah para Pendekar Ahli, disusul belasan Pendekar Terlatih. Wajah-wajah mereka keras, namun mata mereka tak mampu menyembunyikan kegelisahan. Mereka melangkahi mayat, dan menginjak genangan darah yang masih hangat. Beberapa terpeleset, beberapa memalingkan wajah, namun tak satupun berani berhenti.
“Jangan melihat ke bawah,” bisik seorang Pendekar Ahli dengan suara serak. “Kalau kalian ragu, kalian mati lebih dulu.”
“Senior… debu hitam itu…” gumam Pendekar Terlatih di belakangnya, menunjuk sisa dua Pendekar Guru yang lenyap tanpa bekas. “Mereka… mereka bahkan tidak meninggalkan tubuh.”
“Diam!” bentak yang lain, namun suaranya terdengar patah. “Fokus ke depan!”
Di tengah halaman, sang Dewi Kematian berdiri dengan tenang. Energi hitam masih berputar di sekeliling tubuhnya. Kabut tipis merayap di tanah, seolah halaman itu bernapas mengikuti irama jantungnya. Aura yang memancar darinya membuat dada para pendekar terasa sesak, seakan ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram paru-paru mereka.
“Tekan dia bersama-sama!” teriak seorang Pendekar Ahli. “Jangan beri dia celah!”
“Tapi… dia tidak terlihat lelah sama sekali,” sahut yang lain dengan suara gemetar.
“Kalau kita mundur sekarang, kita semua mati!”
Teriakan Tetua lainnya menggema dari kejauhan, dipenuhi amarah dan kepanikan yang disamarkan sebagai wibawa.
“Bunuh dia! Jangan ragu! Dia hanya satu orang!”
Puluhan sosok melesat bersamaan. Pedang berkilat. Tombak meraung. Tenaga Dalam meledak, menciptakan badai cahaya yang menghantam satu titik. Udara bergetar, tanah retak, dan halaman perguruan dipenuhi suara benturan.
Namun di tengah badai itu, sang Dewi Kematian bergerak. Kipas hitamnya terbuka perlahan.
“Dia bergerak!” kata salah satu ahli dari Lembah Teratai.
Satu langkah ringan ke samping. Gerakannya begitu anggun, seolah dia menari di antara serangan. Pergelangan tangannya berputar dan robekan basah terdengar.
“AARGH—!”
Dua Pendekar Terlatih terbelah dari bahu hingga perut. Darah menyembur ke wajah rekan mereka. Salah satu pendekar menjerit histeris sambil mundur tersandung.
“Dia… dia memotong mereka begitu saja!”
Kipas berputar kembali, Seorang Pendekar Ahli melompat dari udara, pedangnya terangkat tinggi. Matanya melebar ketika tubuhnya mendadak kehilangan keseimbangan.
“Apa—”
Kepalanya terpisah dari tubuh, tubuhnya jatuh beberapa detik kemudian, menghantam tanah dengan bunyi tumpul.
“Senior Liu mati!”
“Mustahil! Dia Pendekar Ahli!”
Sang Dewi melangkah maju. Satu langkah membuat beberapa pendekar mundur tanpa sadar.
“Jangan mundur!” teriak seseorang dengan suara pecah. “Kalau kita terdesak, kita habis!”
Namun kipas hitam berayun kembali. Satu garis energi gelap melintas, dan dalam dua tarikan nafas, tiga tubuh roboh bersamaan.
Dalam waktu singkat, lebih dari dua puluh nyawa lenyap. Darah menggenang. Bau anyir menusuk hidung, bercampur dengan aura kematian yang membuat kepala pusing dan pikiran kabur. Beberapa pendekar terengah-engah, bukan karena kelelahan, melainkan karena ketakutan yang mencekik.
“Ini… ini bukan pertarungan…” bisik seorang Pendekar Terlatih sambil menangis. “Ini pembantaian…”
“Dia bukan manusia…”
“Dia iblis…”
Serangan berhenti sepenuhnya, tidak satu pun yang berani maju, sedangkan sang Dewi Kematian berdiri dengan kipas hitam yang meneteskan darah. Matanya yang merah menatap mereka satu per satu, seolah menghitung berapa lama lagi nyawa mereka akan bertahan.
“Kenapa… kenapa dia menatap kita seperti itu…” gumam seseorang. “Seolah kita sudah mati.”
Di sisi lain halaman, Tetua Besar Awan Mengalir meraung marah.
“Pengecut! Maju! Bunuh dia!”
Namun golok Ziang Guang kembali memaksanya mundur.
“Kau masih sempat mengkhawatirkan orang lain?” ejek Ziang Guang sambil tersenyum dingin. “Lihat wajah murid-murid mu. Mereka sudah kehilangan nyali.”
Tetua Besar menggeram, namun tidak bisa menyangkal.
Beberapa Tetua Awan berkemampuan Pendekar Guru Suci mencoba memaksa diri keluar dari pertarungan mereka.
“Kalau gadis itu dibiarkan, semuanya akan mati!”
“Pisahkan diri! Habisi dia!”
Namun setiap upaya mereka selalu gagal. Serangan lawan menahan mereka, dan tekanan aura sang Dewi membuat langkah mereka berat seolah menginjak lumpur.
Sementara itu, Dewi Kematian kembali bergerak. Kini ia tidak memilih, Kipas hitam di tangannya berayun cepat.
Dalam waktu singkat, dua nyawa padam, dan tiga lagi menyusul.
“Lari—!”
Bayangan hitam menyapu, menembus punggung seorang pendekar yang mencoba kabur. Tubuhnya jatuh tanpa suara, matanya kosong.
Di tengah pembantaian itu, senyum tipis terukir di wajah sang Dewi.
Ia menghirup perlahan. Aura Kematian mengalir ke tubuhnya, terasa hangat, seolah memuaskan rasa dahaganya yang merupakan aroma darah sebagai pemuas rasa laparnya.
“Teruslah,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. “Kalian membuatku semakin kuat.”
“Aku menyerah!”
“Aku tidak mau bertarung lagi!”
“Tolong biarkan aku pergi, aku bersumpah tidak akan pernah mengusik Perguruan Lembah Teratai lagi!”
Satu per satu pendekar Perguruan Awan Mengalir menjatuhkan senjata mereka. Pedang dan tombak yang tadi berkilat penuh niat membunuh kini tergeletak tak berguna di tanah yang sudah basah oleh darah. Tubuh mereka gemetar, lutut bergetar sebelum akhirnya jatuh berlutut, kepala tertunduk dalam ketakutan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Pemandangan di sekitar mereka terlalu mengerikan untuk ditolak. Mayat-mayat rekan seperguruan berserakan, beberapa terpotong bersih, beberapa lainnya hancur hingga sulit dikenali. Bau darah bercampur kematian membuat udara terasa berat dan menusuk paru-paru.
Mereka akhirnya mengerti.
Sosok di hadapan mereka bukan manusia biasa.
'Dewi Kematian'. Julukan itu kini terasa terlalu ringan dibandingkan kenyataan. Wajahnya tetap tenang, matanya dingin tanpa emosi, kipas hitam di tangannya masih meneteskan darah. Bahkan ketika musuh berlutut dan memohon ampun, aura pembunuhan di sekeliling tubuhnya sama sekali tidak berkurang.
“Seharusnya kalian menyadari satu hal sebelum mengangkat senjata,” ucap Dewi Kematian dengan suara datar namun menusuk hingga ke tulang. “Dalam dunia ini, setiap serangan selalu dibayar dengan kematian. Jika bukan pihak lain yang mati, maka kalianlah yang akan mati.”
Langkahnya maju satu langkah. Tanah di bawah kakinya retak halus akibat tekanan energi yang keluar tanpa ia sadari.
“Menyesal di saat-saat terakhir seperti ini tidak ada artinya di mataku.”
Kipas di tangannya terangkat perlahan. Angin dingin bercampur niat membunuh menyapu wajah para pendekar Awan Mengalir yang sudah putus asa. Beberapa dari mereka bahkan menangis, tubuhnya bergetar hebat, sadar bahwa kematian tinggal satu tarikan nafas lagi.
Namun sebelum kipas itu benar-benar diayunkan, suara tua yang serak namun penuh wibawa menggema di seluruh lembah.
“Cukup.”
Satu kata itu membuat udara bergetar. Bahkan niat membunuh Dewi Kematian tertekan sejenak.
“Gadis kecil, jangan bertindak keterlaluan. Biarkan murid-murid Perguruanku pergi. Aku menjamin, Awan Mengalir tidak akan pernah lagi mengusik Lembah Teratai.”
Angin berputar di kejauhan. Sosok pria sepuh muncul perlahan, namun setiap langkahnya terasa aneh. Satu langkah diambil, tubuhnya telah berpindah sejauh lima meter. Beberapa langkah saja sudah cukup untuk membuatnya berdiri tidak jauh dari Dewi Kematian.
Rambutnya putih seluruhnya, wajahnya penuh kerutan, namun matanya tajam seperti elang tua yang belum kehilangan taringnya. Aura yang keluar dari tubuhnya begitu padat hingga membuat para murid muda sulit bernapas.
“Maha Guru…!”
Salah satu pendekar Awan Mengalir berteriak hampir menangis. “Maha Guru akhirnya datang!”
Para tetua Awan Mengalir yang sebelumnya bertarung melawan Ziang Guang dan para tetua Lembah Teratai segera menghentikan pertempuran. Mereka melompat mundur dan berdiri di samping pria sepuh itu, membungkuk dalam-dalam dengan sikap penuh hormat.
“Hormat kepada Mahaguru!” seru Tetua Besar Awan Mengalir.
Disisi lain, Ziang Guang dan para tetua Lembah Teratai juga berkumpul. Beberapa di antara mereka terluka, pakaian robek dan napas berat. Tatapan mereka penuh kewaspadaan ketika melihat sosok yang baru muncul.
“Han Long…” gumam salah satu tetua Lembah Teratai dengan wajah tegang. “Pemimpin Perguruan Awan Mengalir.”
“Aura yang mengerikan,” kata tetua lain lirih. “Dia sudah mencapai Tingkat Pendekar Guru Agung, bahkan setengah langkah menuju Tingkat Pendekar Pertapa Suci.”
“Orang seperti ini,” sambung tetua yang lain, “yang bisa menandinginya hanya Maha Guru kita.”
Ziang Guang mengalihkan pandangannya pada Dewi Kematian. “Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja, Paman,” jawab Dewi Kematian dengan suara rendah. “Tapi kemunculan orang tua ini memang di luar dugaan.”
Tatapan Han Long beralih ke Dewi Kematian. Ia menatap gadis itu lama, sorot matanya rumit, antara kagum dan niat membunuh yang terpendam.
“Kau benar-benar layak disebut Dewi Kematian,” ucap Han Long perlahan. “Di usia semuda ini, kau sudah mampu membunuh dua tetua perguruanku.”
Ziang Guang melangkah maju setengah langkah, wajahnya dingin. “Senior Han, bukankah seharusnya kamu yang paling bertanggung jawab atas semua ini?”
Han Long menoleh.
“Saat murid-muridmu membantai para murid Lembah Teratai, kau tidak muncul. Saat perguruanku hampir dihancurkan, kau bersembunyi. Namun sekarang, ketika murid-muridmu berada di ambang kematian, kau datang dan berbicara tentang jaminan dan belas kasihan?”
Nada suara Ziang Guang tajam dan penuh tekanan, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
“Ini sungguh ironis.”
Han Long mendengus dingin. “Mantan Jenderal Perang Ziang Guang, aku datang untuk menyelamatkan murid-muridku. Lagipula, gadis itu telah membunuh dua tetua perguruanku. Bukankah itu sudah impas?”
“Impas?” mata Ziang Guang menyipit. “Kalian yang lebih dulu menyerang. Jika target kalian hanya aku, mungkin masih bisa dibicarakan. Tapi kalian berniat menghancurkan seluruh Perguruan Lembah Teratai.”
Energi di tubuh Ziang Guang bergejolak. “Apa kau pikir tempat ini halaman rumahmu? Datang sesuka hati, membunuh sesuka hati, lalu pergi begitu saja?”
“Hmp,” Han Long mengangkat dagunya sedikit. “Jadi, apakah kau berniat bertarung sampai akhir dengan Awan Mengalir?”
Dewi Kematian mendekat dan berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Paman… tenaga dalam rubah tua itu terlalu besar. Walaupun kita bergandengan tangan, belum tentu kita bisa mengalahkannya.”
Ziang Guang terdiam. Matanya menatap Han Long, lalu beralih pada Tetua Besar dan sepuluh tetua lainnya yang berdiri di belakang pria sepuh itu. Dalam kondisi normal, ia tidak gentar. Namun saat ini, banyak murid Lembah Teratai yang terluka, bahkan kelelahan.
Jika pertempuran dilanjutkan, korban hanya akan semakin banyak.
Tangannya mengepal perlahan. Hatinya menolak, amarahnya membara, namun logika tidak bisa diabaikan.
Akhirnya, Ziang Guang menghela nafas panjang.
“Baik,” ucapnya dengan suara berat. “Aku akan membiarkan mereka pergi.”
Tatapan Dewi Kematian berubah dingin, namun ia tidak membantah.
“Tapi ingat baik-baik, Han Long,” lanjut Ziang Guang dengan nada mengancam. “Jika satu orang pun dari Awan Mengalir kembali mengusik Lembah Teratai, aku bersumpah, darah tidak akan berhenti mengalir sampai perguruanmu lenyap dari dunia ini.”
Han Long menyipitkan mata, lalu tertawa kecil. “Baik. Aku akan mengingatnya.”