Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Dekapan Hangat Dan Secangkir Mix Tea
Gedung aula pertemuan itu sudah dipadati oleh wanita-wanita berseragam hijau senada. Suara riuh rendah obrolan mereka seketika melambat saat sebuah mobil berwarna navy berhenti tepat di depan lobi.
Syafina meremas pegangan tas tangannya, jantungnya berdegup kencang seirama dengan deru mesin mobil yang perlahan mati.
"Jangan tegang begitu. Senyum, dong, Sayang," bisik Erlaga sambil mengusap punggung tangan Syafina sebelum ia turun dari kemudi.
Erlaga turun lebih dulu, lalu memutar untuk membukakan pintu bagi istrinya. Sebuah perlakuan manis yang memancing tatapan iri sekaligus kagum dari ibu-ibu yang sudah berada di teras aula.
Syafina melangkah turun, berusaha menyeimbangkan diri dengan sepatu hak yang tidak terlalu tinggi namun tetap membuatnya merasa canggung.
"Kakak jemput dua jam lagi. Kalau ada apa-apa, langsung telepon," ujar Erlaga, suaranya lembut tapi tetap tegas. Ia tidak peduli pada pasang mata yang memperhatikan.
Sebelum pergi, ia menyempatkan diri merapikan sedikit kerudung Syafina yang sebenarnya sudah sangat rapi. Syafina meraih tangan Erlaga dengan cepat, kemudian mengecupnya.
Begitu mobil Erlaga menjauh, Syafina merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ia melangkah masuk, mencoba melemparkan senyum pada siapa pun yang matanya beradu dengannya.
"Oh, ini istrinya Kapten Erlaga yang baru itu ya?" Sebuah suara melengking menghentikan langkah Syafina.
Tiga orang ibu Persit dengan pangkat suaminya yang terlihat lebih senior berdiri melingkar. Syafina segera mendekat dan menyalami mereka satu per satu dengan takzim, sesuai pesan ibunya tentang tata krama di lingkungan Persit yang baru ia masuki.
"Iya, Ibu. Nama saya Syafina," jawabnya sopan, nyaris berbisik.
"Duh, masih imut sekali ya. Masih kuliah atau sudah kerja, Dek?" tanya salah satu ibu yang dadanya dipenuhi lencana organisasi.
"Masih semester akhir, Bu," jawab Syafina jujur.
Tawa kecil yang terdengar sedikit meremehkan pun pecah. "Pantas saja. Masih bau kencur ya. Hati-hati lho, Dek Syafina. Jadi istri perwira itu nggak cuma modal cantik dan dandan saja. Harus siap mental kalau ditinggal tugas, harus bisa mengurus organisasi juga. Jangan manja."
Syafina hanya bisa mengangguk kaku. Ia merasa sangat kecil di tengah wanita-wanita yang tampak begitu dominan dan serba tahu itu. Selama pertemuan berlangsung, ia lebih banyak diam di barisan belakang. Ia bingung saat mereka membahas istilah-istilah organisasi, iuran, hingga rencana bakti sosial. Rasa minder merayap di hatinya, ia merasa belum pantas bersanding dengan Erlaga yang begitu hebat.
Dua jam yang terasa seperti dua tahun bagi Syafina akhirnya usai. Begitu melihat mobil Erlaga kembali terparkir di depan, Syafina merasa ingin berlari dan bersembunyi di dalamnya.
Erlaga menyadari ada yang tidak beres dari wajah istrinya yang sedikit muram. Namun, ia tidak bertanya di tempat umum. Begitu Syafina masuk dan pintu mobil tertutup rapat, Erlaga langsung meraih tangan istrinya.
"Kamu terlihat capek, ya, Sayang?" tanya Erlaga perhatian.
Syafina hanya mengangguk lemas. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok, matanya terpejam. "Ternyata jadi istri perwira itu berat ya, Kak. Fina merasa paling bodoh di dalam sana."
Erlaga tidak langsung menjawab. Ia menjalankan mobilnya perlahan. Namun, saat di lampu merah, tangannya berpindah mengusap pipi Syafina yang mulus. "Mereka cuma belum kenal kamu saja. Pelan-pelan belajar, ya? Kakak nggak butuh istri yang jago organisasi dalam semalam, Kakak cuma butuh Syafina yang selalu ada buat Kakak."
Kalimat sederhana itu sedikit mengobati luka di hati Syafina. Tapi tetap saja, bayangan ibu-ibu senior tadi terus membayangi pikirannya.
Mobil Erlaga sampai di rumah beberapa saat kemudian, Syafina berniat langsung ke kamar untuk berganti pakaian. Namun, baru saja ia hendak melepas kancing seragamnya di depan cermin, sepasang lengan sudah melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
Erlaga menyandarkan dagunya di pundak Syafina, menatap pantulan mereka di cermin. "Tahu tidak, selama kamu di aula, Kakak nggak fokus kerja di ruangan tadi, karena kepikiran kamu. Rindu."
Syafina sedikit tersentak saat merasakan kecupan-kecupan kecil tiba-tiba merayap di lehernya, tepat di atas kerah seragamnya yang kaku. "Kak... lepas dulu. Fina gerah, mau mandi."
"Nggak boleh," bisik Erlaga, suaranya mulai berubah menjadi serak. Tangannya mulai bergerak nakal, melepaskan peniti hijab Syafina satu per satu hingga kain itu merosot jatuh ke lantai.
"Kakak kangen."
"Kan baru semalam, kita lakukan itu...." protes Syafina, meski jantungnya mulai berpacu liar.
"Satu jam nggak lihat kamu itu rasanya seperti satu minggu satgas, Sayang. Kita ini pengantin baru, Sayang. Setiap hari harus kita lakukan," ujar Erlaga agresif. Ia membalikkan tubuh Syafina agar menghadapnya.
Erlaga mencium bibir Syafina dengan sangat menuntut, seolah ingin menghapus semua kelelahan dan rasa minder istrinya dengan gairahnya yang meluap-luap.
Syafina yang tadinya merasa lemas karena urusan Persit, kini semakin lemas karena serangan suaminya yang tidak terduga.
"Kak... nanti kalau ada tamu gimana?" cicit Syafina di sela-sela ciuman mereka.
"Tidak akan ada tamu yang berani masuk tanpa izin aku, Sayang," sahutnya percaya diri.
Erlaga menggendong Syafina menuju ranjang besar mereka. Kelembutan dan keromantisan Erlaga di rumah benar-benar kontras dengan sikap tegasnya di luar. Bagi Erlaga, rumah adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi "manusia biasa" yang memuja istrinya habis-habisan.
Malam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur, Erlaga membuktikan ucapannya. Ia menghujani Syafina dengan perhatian dan sentuhan yang membuat Syafina lupa akan nyinyiran ibu-ibu senior di aula tadi.
Erlaga memperlakukan Syafina seolah istrinya itu terbuat dari kaca yang sangat berharga, namun dengan intensitas yang membuat Syafina kewalahan.
Setiap sentuhan Erlaga seolah berkata bahwa di mata sang suami, Syafina adalah wanita paling sempurna, tidak peduli seberapa muda atau seberapa awamnya dia tentang dunia militer.
"Sayang, kamu jangan pernah merasa minder lagi, ya?" bisik Erlaga saat mereka berdua terengah-engah dalam pelukan pasca-perkelahian asmara mereka. "Kamu itu kekuatan Kakak. Di luar sana Kakak bisa jadi singa, tapi di sini, Kakak cuma laki-laki yang butuh kamu."
Syafina tersenyum, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erlaga yang masih berkeringat. Rasa minder itu perlahan menguap, digantikan oleh rasa nyaman yang luar biasa. Biarlah dunia luar menilai apa pun, selama di dalam rumah ini, ia adalah satu-satunya ratu bagi sang Kapten.
Keesokan paginya, Erlaga terbangun lebih dulu. Ia menatap istrinya yang masih tertidur pulas akibat "kelelahan" semalam. Erlaga mengecup bahu Syafina yang terbuka, lalu beranjak menuju dapur. Ia ingin memberikan kejutan kecil bagi sang istri, setidaknya sepiring roti bakar dan secangkir mix tea kesukaan Syafuna, sebelum ia kembali bertugas sebagai singa di markas.