NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:82.4k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Dekapan Hangat Dan Secangkir Mix Tea

     ​Gedung aula pertemuan itu sudah dipadati oleh wanita-wanita berseragam hijau senada. Suara riuh rendah obrolan mereka seketika melambat saat sebuah mobil berwarna navy berhenti tepat di depan lobi.

     Syafina meremas pegangan tas tangannya, jantungnya berdegup kencang seirama dengan deru mesin mobil yang perlahan mati.

     ​"Jangan tegang begitu. Senyum, dong, Sayang," bisik Erlaga sambil mengusap punggung tangan Syafina sebelum ia turun dari kemudi.

     ​Erlaga turun lebih dulu, lalu memutar untuk membukakan pintu bagi istrinya. Sebuah perlakuan manis yang memancing tatapan iri sekaligus kagum dari ibu-ibu yang sudah berada di teras aula.

     Syafina melangkah turun, berusaha menyeimbangkan diri dengan sepatu hak yang tidak terlalu tinggi namun tetap membuatnya merasa canggung.

​"Kakak jemput dua jam lagi. Kalau ada apa-apa, langsung telepon," ujar Erlaga, suaranya lembut tapi tetap tegas. Ia tidak peduli pada pasang mata yang memperhatikan.

     Sebelum pergi, ia menyempatkan diri merapikan sedikit kerudung Syafina yang sebenarnya sudah sangat rapi. Syafina meraih tangan Erlaga dengan cepat, kemudian mengecupnya.

     ​Begitu mobil Erlaga menjauh, Syafina merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ia melangkah masuk, mencoba melemparkan senyum pada siapa pun yang matanya beradu dengannya.

     ​"Oh, ini istrinya Kapten Erlaga yang baru itu ya?" Sebuah suara melengking menghentikan langkah Syafina.

​Tiga orang ibu Persit dengan pangkat suaminya yang terlihat lebih senior berdiri melingkar. Syafina segera mendekat dan menyalami mereka satu per satu dengan takzim, sesuai pesan ibunya tentang tata krama di lingkungan Persit yang baru ia masuki.

     ​"Iya, Ibu. Nama saya Syafina," jawabnya sopan, nyaris berbisik.

     ​"Duh, masih imut sekali ya. Masih kuliah atau sudah kerja, Dek?" tanya salah satu ibu yang dadanya dipenuhi lencana organisasi.

     ​"Masih semester akhir, Bu," jawab Syafina jujur.

     ​Tawa kecil yang terdengar sedikit meremehkan pun pecah. "Pantas saja. Masih bau kencur ya. Hati-hati lho, Dek Syafina. Jadi istri perwira itu nggak cuma modal cantik dan dandan saja. Harus siap mental kalau ditinggal tugas, harus bisa mengurus organisasi juga. Jangan manja."

     ​Syafina hanya bisa mengangguk kaku. Ia merasa sangat kecil di tengah wanita-wanita yang tampak begitu dominan dan serba tahu itu. Selama pertemuan berlangsung, ia lebih banyak diam di barisan belakang. Ia bingung saat mereka membahas istilah-istilah organisasi, iuran, hingga rencana bakti sosial. Rasa minder merayap di hatinya, ia merasa belum pantas bersanding dengan Erlaga yang begitu hebat.

     ​Dua jam yang terasa seperti dua tahun bagi Syafina akhirnya usai. Begitu melihat mobil Erlaga kembali terparkir di depan, Syafina merasa ingin berlari dan bersembunyi di dalamnya.

     ​Erlaga menyadari ada yang tidak beres dari wajah istrinya yang sedikit muram. Namun, ia tidak bertanya di tempat umum. Begitu Syafina masuk dan pintu mobil tertutup rapat, Erlaga langsung meraih tangan istrinya.

     ​"Kamu terlihat capek, ya, Sayang?" tanya Erlaga perhatian.

     ​Syafina hanya mengangguk lemas. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok, matanya terpejam. "Ternyata jadi istri perwira itu berat ya, Kak. Fina merasa paling bodoh di dalam sana."

     ​Erlaga tidak langsung menjawab. Ia menjalankan mobilnya perlahan. Namun, saat di lampu merah, tangannya berpindah mengusap pipi Syafina yang mulus. "Mereka cuma belum kenal kamu saja. Pelan-pelan belajar, ya? Kakak nggak butuh istri yang jago organisasi dalam semalam, Kakak cuma butuh Syafina yang selalu ada buat Kakak."

     ​Kalimat sederhana itu sedikit mengobati luka di hati Syafina. Tapi tetap saja, bayangan ibu-ibu senior tadi terus membayangi pikirannya.

     Mobil Erlaga sampai di rumah beberapa saat kemudian, Syafina berniat langsung ke kamar untuk berganti pakaian. Namun, baru saja ia hendak melepas kancing seragamnya di depan cermin, sepasang lengan sudah melingkar erat di pinggangnya dari belakang.

     ​Erlaga menyandarkan dagunya di pundak Syafina, menatap pantulan mereka di cermin. "Tahu tidak, selama kamu di aula, Kakak nggak fokus kerja di ruangan tadi, karena kepikiran kamu. Rindu."

     ​Syafina sedikit tersentak saat merasakan kecupan-kecupan kecil tiba-tiba merayap di lehernya, tepat di atas kerah seragamnya yang kaku. "Kak... lepas dulu. Fina gerah, mau mandi."

     ​"Nggak boleh," bisik Erlaga, suaranya mulai berubah menjadi serak. Tangannya mulai bergerak nakal, melepaskan peniti hijab Syafina satu per satu hingga kain itu merosot jatuh ke lantai.

     "Kakak kangen."

     ​"Kan baru semalam, kita lakukan itu...." protes Syafina, meski jantungnya mulai berpacu liar.

     ​"Satu jam nggak lihat kamu itu rasanya seperti satu minggu satgas, Sayang. Kita ini pengantin baru, Sayang. Setiap hari harus kita lakukan," ujar Erlaga agresif. Ia membalikkan tubuh Syafina agar menghadapnya.

     ​Erlaga mencium bibir Syafina dengan sangat menuntut, seolah ingin menghapus semua kelelahan dan rasa minder istrinya dengan gairahnya yang meluap-luap.

     Syafina yang tadinya merasa lemas karena urusan Persit, kini semakin lemas karena serangan suaminya yang tidak terduga.

     ​"Kak... nanti kalau ada tamu gimana?" cicit Syafina di sela-sela ciuman mereka.

     ​"Tidak akan ada tamu yang berani masuk tanpa izin aku, Sayang," sahutnya percaya diri.

     ​Erlaga menggendong Syafina menuju ranjang besar mereka. Kelembutan dan keromantisan Erlaga di rumah benar-benar kontras dengan sikap tegasnya di luar. Bagi Erlaga, rumah adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi "manusia biasa" yang memuja istrinya habis-habisan.

     ​Malam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur, Erlaga membuktikan ucapannya. Ia menghujani Syafina dengan perhatian dan sentuhan yang membuat Syafina lupa akan nyinyiran ibu-ibu senior di aula tadi.

     Erlaga memperlakukan Syafina seolah istrinya itu terbuat dari kaca yang sangat berharga, namun dengan intensitas yang membuat Syafina kewalahan.

     ​Setiap sentuhan Erlaga seolah berkata bahwa di mata sang suami, Syafina adalah wanita paling sempurna, tidak peduli seberapa muda atau seberapa awamnya dia tentang dunia militer.

     ​"Sayang, kamu jangan pernah merasa minder lagi, ya?" bisik Erlaga saat mereka berdua terengah-engah dalam pelukan pasca-perkelahian asmara mereka. "Kamu itu kekuatan Kakak. Di luar sana Kakak bisa jadi singa, tapi di sini, Kakak cuma laki-laki yang butuh kamu."

     ​Syafina tersenyum, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erlaga yang masih berkeringat. Rasa minder itu perlahan menguap, digantikan oleh rasa nyaman yang luar biasa. Biarlah dunia luar menilai apa pun, selama di dalam rumah ini, ia adalah satu-satunya ratu bagi sang Kapten.

     ​Keesokan paginya, Erlaga terbangun lebih dulu. Ia menatap istrinya yang masih tertidur pulas akibat "kelelahan" semalam. Erlaga mengecup bahu Syafina yang terbuka, lalu beranjak menuju dapur. Ia ingin memberikan kejutan kecil bagi sang istri, setidaknya sepiring roti bakar dan secangkir mix tea kesukaan Syafuna, sebelum ia kembali bertugas sebagai singa di markas.

1
Ryan Dynaz
👍💜
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Amang Awang
nahkan kejadian! siap-siap dech itu orok ogah sama bapaknya🤭
Amang Awang
maka dari itu saya tidak mau jadi istri seorang abdi negara, serem soalnya, waktu itu saya masih SMP kakak saya suaminya seorang abdi negara, dan abang ipar saya harus satgas di Timika selama 1½ tahun waktu itu kakak saya hamil kalau gk salam 6bulan, waktu abang ipar saya pulang satgas yang tergolong luar dari waktu yang ditentukan jadi 2tahun gitu penugasannya, ponakan saya malah gk mau sama bapaknya karena gk kenal, lebih mau sama saya dan sampai sekarang anak udah SD kelas 1 masih ogah dekat sama bapaknya, malah lebih dekat sama pacar saya
Lina Zascia Amandia: Sudah tuntutan negara Kak. Dan memang seorang istri tentara harus siap mental jika ditinggal jauh2 sama suaminya. Kalo yg gak siap, bisa2 tidak bisa menahan rindu. Hhehehe....
total 3 replies
Yanti Gunawan
Terimakasih banyak" othor sayang😍 tetap semangattt membuat karya baru 😍
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰🥰
total 3 replies
Ariany Sudjana
selalu suka dengan cerita kehidupan tentara, karena saya juga anak tentara, jadi ingat masa kecil dulu. ditunggu karya selanjutnya yah kak 😄
Lina Zascia Amandia: Wahhh... makasih banyak ya Kak udah suka karya2 saya khususnya genre aparat. Senang sekali karya saya dibaca Reader yg ternyata anak seorang Tentara. Sukses sllu buat Kaka...
total 1 replies
eny agustina
dari semua cerita sang abdi negara yang yang gak.sampai punya anak cerita kapten yoga.namun semua berakhir bahagia makasih ceritanya sangat bagus ku baca dari anak tersembunyi sang kapten 😍😍😍😍
eny agustina: 😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Marya Dina
kak gk spill
gmana kabar dista ma keponakan itu.udh berubah belum
Marya Dina: ok d tunggu kak
total 4 replies
Marya Dina
d tunggu karya apik mu thor.ttp semangatt
semoga sukses,,dan trimaksih udh menghadirkan karya apik
Esther
Bahagia selalu Erlaga sekeluarga😍
Terima kasih thor
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak.. 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nar Sih
yah...kok udah habis kak pdhl msih blm puas bca nya ,semagat kak ending yg bagus banget 👍pelabuhan terahir nya erlga cuma fina dan syaga 🥰🥰
Lina Zascia Amandia: Iya Kak.... sudah bahagia.... nantikan kisah terbarunya ya... masih mencari idenya tapi. 🤦‍♀️
total 1 replies
darsih
d tunggu kelanjutan nya ya ka kosah selanjut nya
Lina Zascia Amandia: Makasih.... nantikan ya Kak...
total 1 replies
Ebhot Dinni
ceritanya bagus
Lina Zascia Amandia: Makasih byk Kak... nantikan kisah selanjutnya ya... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nar Sih
semakin di bikin baper nih sama laga dan fina yg tmbh romantis☺️🥰
Lina Zascia Amandia: Iya Kak... smg terhibur....
total 1 replies
Ayudya
makasi kak atas semua karya mu.tak tunggu karya baru mu dengan komplik yg ringan dan kocak🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak. Nantikan kisah terbaru ya.
total 1 replies
Supryatin 123
akhir yg bahagia ❤️❤️❤️d tunggu bonchapnya 🤭🤭🤭n d tunggu juga karya barunya 💪💪❤️❤️j
Supryatin 123: sama2 thor selamat berpuasa
total 2 replies
Arin
/Heart/
Pitria Pipih
selalu settia menunggu karya barunya 😍
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Kasandra Kasandra
lanjut karya baru kk
Patrick Khan
aku suka 😍😍😍
Patrick Khan
Yaaaaa udah tamat.. q tunggu karyabr nya kak😍😍😍trimakasih
Patrick Khan: lope lope😍😍😍😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!