Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Lucia
Di kantin kampus yang biasanya bising, meja Geng Somplak pagi itu terasa lebih serius. Meskipun Julius terlihat sangat tenang, bahkan sesekali menggenggam tangan Jane di bawah meja, Lucia tidak bisa menyembunyikan kerutan di dahinya.
Lucia mengaduk kopinya dengan gelisah, lalu menatap Julius tajam. "Jules, gue bukannya mau merusak suasana bahagia lo. Tapi, apa lo nggak merasa ada yang aneh? Ibumu merestuimu semudah itu?"
Clark menghentikan aktivitas jarinya di atas tablet dan ikut mengangguk setuju. "Gue sejalan sama Lucia. Ingat betapa ketatnya nyokap lo pas milih Grace dulu? Dia memilah setiap kandidat kayak lagi milih bibit unggul buat investasi. Bagaimana mungkin Jane, yang dari awal tidak ada dalam radar keluarga kalian, langsung direstui setelah drama kapal pesiar itu?"
Julius terdiam sejenak. Ia melirik Jane yang juga tampak sedikit ragu setelah mendengar ucapan teman-temannya. Namun, Julius segera mengeratkan genggamannya pada tangan Jane, memberikan kehangatan yang meyakinkan.
"Ibu tidak seperti Ayah, Lucia. Kalian tahu itu," ucap Julius dengan nada suara yang tenang namun tegas. "Ibu selalu punya caranya sendiri untuk melihat kebenaran. Mungkin dia lelah melihat Ayah yang selalu terobsesi pada merger dan kekuasaan hingga nekat melakukan cara kotor di kapal itu. Jadi tenanglah, itu restu sesungguhnya. Aku mengenal ibuku."
Jane menatap Julius, mencoba mencari keyakinan di balik mata tajam pria itu. "Kau yakin, Julius? Aku tidak ingin menjadi penyebab keributan lain di keluargamu."
Julius membawa tangan Jane ke bibirnya, mencium punggung tangannya dengan lembut di hadapan teman-temannya yang kini bersiul menggoda untuk mencairkan suasana.
"Yakin, Jane. Jika Ibu sudah bicara, Ayah tidak punya pilihan lain. Nikmatilah kemenangan ini. Kita sudah melewati badai di gunung dan di laut, sekarang saatnya kita berjalan di daratan yang stabil," bisik Julius dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
Henry yang baru datang dengan gaya petantang-petenteng langsung duduk di samping Clark. "Woi! Masih bahas teori konspirasi? Udahlah! Yang penting sekarang Jane udah dapet lampu hijau dari Ratu Randle! Artinya apa? Artinya pesta besar!"
Henry menoleh ke arah Jane dengan wajah nakalnya yang khas. "Tapi Jane, jujur ya... gara-gara restu itu, si Bos jadi makin ganas nggak tadi pagi? Gue liat tadi pas lo turun dari mobil Julius, lo jalannya udah mendingan, tapi kok masih agak pelan? Masih kerasa sisa-sisa pertempuran semalam?"
"HENRY!" teriak Jane sambil melempar tisu ke arah Henry, wajahnya kembali merona hebat.
"Apa?! Gue kan nanya! Siapa tahu efek restu itu bikin stamina Julius naik level jadi Dewa Langit!" tawa Henry pecah, membuat meja-meja di sekitar mereka ikut melirik.
Meskipun bayang-bayang keraguan Lucia masih menggantung, Julius memilih untuk percaya pada restu ibunya.
Namun, di balik itu semua, apakah Ibunda Julius benar-benar setulus itu, atau ada rencana lain yang lebih halus?
Suasana apartemen sore itu terasa sedikit berbeda. Saat Jane sedang merapikan beberapa sketsa tekstilnya, sebuah kurir datang membawa amplop berwarna krem elegan dengan stempel lilin (wax seal) berlogo keluarga Randle.
Di dalamnya terdapat kartu ucapan dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
"Kepada Nona Jane Anastasia,
Aku mengundangmu untuk makan malam pribadi di mansion kediaman Randle besok malam pukul 19.00. Aku ingin mengenal lebih dekat wanita yang telah berhasil meluluhkan hati putraku dan membuatnya berani melawan dunianya sendiri.
Hanya kita berdua. Mari bicara sebagai sesama wanita.
Salam hangat, Victoria Randle"
Jane mematung menatap undangan itu. "Julius... ibumu mengundangku makan malam. Tapi... hanya aku saja. Dia memintaku datang sendirian."
Julius, yang sedang membaca laporan di sofa, segera berdiri dan menghampiri Jane. Ia membaca undangan itu dengan kening berkerut. "Makan malam pribadi? Tanpaku?"
"Apakah ini yang dikhawatirkan Lucia?" bisik Jane cemas. "Apakah ini ujian yang sebenarnya?"
Julius diam sejenak, otaknya yang jenius mulai memetakan segala kemungkinan. Namun, ia kemudian memeluk Jane dari belakang, mencium pundaknya untuk memberikan ketenangan.
"Ibu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa rencana, Jane. Tapi dia juga tidak pernah berbohong soal restu. Jika dia ingin menemuimu secara pribadi, itu berarti dia ingin memberimu pelajaran atau senjata untuk menghadapi keluarga kami di masa depan. Kau mau pergi?"
Jane menarik napas dalam-dalam. "Aku harus pergi, Julius. Aku tidak bisa bersembunyi di balik punggungmu selamanya jika aku ingin benar-benar bersamamu."
Keesokan malamnya, Jane tiba di mansion Randle yang megah. Ia mengenakan gaun simpel namun elegan hasil rancangannya sendiri sebuah pernyataan bahwa ia adalah calon desainer berbakat.
Ibunda Julius, Victoria, menunggunya di ruang makan yang diterangi cahaya lilin. Suasananya sangat sunyi, berbeda jauh dengan kegilaan Geng Somplak.
"Duduklah, Jane," ucap Victoria dengan senyum yang sulit diartikan.
Setelah beberapa saat menikmati hidangan pembuka dalam keheningan yang mencekam, Victoria meletakkan garpunya.
"Kau tahu, Jane... Julius adalah matahari bagi keluarga ini. Dan matahari tidak bisa bersanding dengan sembarang planet. Ayahnya ingin menghancurkanmu karena dia pikir kau adalah titik lemah Julius. Tapi aku?" Victoria menyesap anggurnya. "Aku ingin tahu, apakah kau adalah kekuatan Julius atau justru beban baginya."
Victoria kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari beludru hitam dan meletakkannya di depan Jane.
"Di dalam sini ada cincin warisan keluarga dari pihak ibuku. Bukan dari keluarga Randle. Jika kau menerimanya, berarti kau siap masuk ke dalam peperangan yang jauh lebih besar dari sekadar skandal Grace Liberty. Kau harus siap menjadi perisai bagi Julius saat ayahnya menyerang kembali."
Jane menatap cincin itu, lalu menatap mata Victoria yang tajam namun penuh harapan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍