"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Kembalinya Sang Bayangan
Bab 18: Kembalinya Sang Bayangan
Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah luka untuk mengering, namun bagi Anita Sasmira, sepuluh tahun hanyalah masa inkubasi bagi kebencian yang kian membusuk. Setelah diusir dengan hina oleh Fandy dan hampir berurusan dengan hukum, Anita melarikan diri ke luar negeri. Di sana, ia tidak hanya sekadar bertahan hidup, ia bertransformasi. Ia menikahi seorang pengusaha kasino yang kaya namun kejam, mempelajari cara bermain di zona abu-abu, dan akhirnya menguasai aset besar setelah suaminya tewas dalam sebuah insiden misterius.
Kini, Anita kembali ke Jakarta dengan identitas baru sebagai **Anistasya Miller**, seorang investor di balik perusahaan modal ventura raksasa yang sedang mengincar saham mayoritas perusahaan Fandy.
Sore itu, di kantor pusat perusahaannya, Fandy sedang meninjau laporan keuangan tahunan saat asistennya masuk dengan wajah cemas. "Pak Fandy, investor dari *Miller Capital* sudah tiba untuk pertemuan akuisisi unit teknologi kita."
Pintu terbuka, dan langkah sepatu hak tinggi yang tajam bergema di lantai marmer. Fandy mendongak, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Wanita yang berdiri di depannya mengenakan setelan jas merah menyala, rambutnya dipotong pendek dengan gaya sangat modern, dan matanya memancarkan kedinginan yang mematikan.
"Lama tidak bertemu, Mas Fandy," ujar wanita itu dengan senyum yang tidak lagi manis, melainkan tajam seperti silet.
"Anita?" Fandy berdiri, wajahnya menegang.
"Namaku Anistasya sekarang. Dan aku di sini bukan untuk membicarakan masa lalu yang membosankan itu. Aku di sini untuk membeli hidupmu," Anita meletakkan dokumen di atas meja Fandy. "Aku sudah membeli 35% saham perusahaanmu melalui pihak ketiga selama tiga tahun terakhir. Dan hari ini, aku datang untuk mengambil sisanya."
Fandy mengepalkan tangan. "Kamu pikir uang bisa menghapus semua kejahatanmu dulu? Kamu tidak akan pernah bisa menyentuh keluargaku lagi."
Anita tertawa, suara tawa yang kini terdengar jauh lebih rendah dan berbahaya. "Oh, aku tidak tertarik pada rumahmu yang penuh dengan aroma doa itu, Mas. Aku tertarik pada kehancuranmu. Kamu tahu? Anak laki-lakimu, Syauqi, baru saja mengajukan beasiswa ke universitas di London yang berafiliasi dengan perusahaanku. Dan putri kebanggaanmu, Syabila... kontrak penerbitan bukunya yang mendunia itu? Aku yang memegang kendali distribusinya sekarang."
Fandy merasakan dingin menjalar di punggungnya. Anita tidak menyerang secara fisik, ia menyerang melalui urat nadi masa depan anak-anaknya.
Sementara itu, di Rumah Literasi, Hana sedang sibuk mengatur buku-buku saat seorang kurir mengantarkan sebuah kotak besar tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat sebuah album foto tua. Hana membukanya dan terkesiap. Foto-foto itu adalah foto-foto rahasia Nida saat sedang menjalani pengobatan yang selama ini tidak pernah diperlihatkan kepada anak-anak—foto-foto yang menunjukkan penderitaan fisik Nida yang paling ekstrem.
Di bawah foto itu terdapat sebuah catatan kecil: *"Hana, apa kamu yakin Syabila akan tetap mencintaimu jika dia tahu bahwa kamu sebenarnya adalah 'pesanan' ibunya agar Fandy tidak jatuh ke tanganku? Bagaimana jika aku memberi tahu dia bahwa ibunya sendiri yang 'menjual' ayahnya padamu karena dia putus asa?"*
Hana terduduk lemas. Ia tahu betapa sensitifnya Syabila terhadap kenangan ibunya. Anita sedang mencoba memutarbalikkan fakta, membuat pengorbanan suci Nida terlihat seperti sebuah transaksi yang menjijikkan.
Tak butuh waktu lama bagi Anita untuk melancarkan serangan berikutnya. Di media sosial, muncul kampanye gelap yang mempertanyakan integritas Rumah Literasi Nida Kirana. Muncul tuduhan bahwa panti asuhan dan yayasan tersebut hanyalah kedok untuk pencucian uang perusahaan Fandy. Para donatur mulai menarik diri, dan polisi mulai mendatangi rumah mereka untuk meminta keterangan.
Puncak kelicikan Anita terjadi saat ia berhasil menemui Syabila secara pribadi di acara penandatanganan buku. Anita mendekati Syabila dengan menyamar sebagai kolektor buku.
"Syabila, ibumu adalah penulis hebat," ujar Anita dengan suara yang sangat lembut, seolah-olah penuh simpati. "Tapi sayang sekali, dia meninggal dalam kondisi yang dimanipulasi. Apa kamu tahu kalau Hana sebenarnya sudah dibayar oleh ayahmu jauh sebelum ibumu meninggal? Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk menyingkirkan ibumu agar mereka bisa bersatu."
Syabila yang hatinya masih menyimpan sedikit luka masa kecil, seketika terpaku. "Itu tidak mungkin. Ayah dan Ibu Hana tidak mungkin seperti itu."
"Tanya saja pada ayahmu tentang 'transfer royalti' misterius sepuluh tahun lalu yang pernah menjadi sengketa. Dokumennya ada padaku," Anita menyerahkan sebuah amplop kepada Syabila.
Malam itu, rumah yang selama sepuluh tahun tenang kini kembali diliputi badai. Syabila pulang dengan kemarahan yang meluap, melemparkan amplop itu ke meja di depan Fandy dan Hana. "Ayah! Ibu Hana! Tolong jelaskan padaku, apa benar kalian sudah bersiasat di belakang Ibu Nida saat dia sedang sekarat?"
Fandy dan Hana saling pandang. Mereka menyadari bahwa Anita telah kembali dengan rencana yang jauh lebih matang. Ia tidak ingin masuk ke dalam keluarga itu lagi; ia ingin membakar keluarga itu dari dalam hingga menjadi abu.
"Anita... dia kembali," bisik Hana dengan tangan gemetar.
Di tempat lain, di sebuah hotel mewah yang menghadap ke arah rumah Fandy, Anita menyesap anggurnya sambil menatap kerlip lampu di kejauhan. "Panggung sudah siap, Nida. Kamu mungkin sudah di surga, tapi aku akan memastikan keluargamu merasakan neraka di bumi," gumamnya dengan tatapan mata yang berkilat penuh dendam.
Suasana panik mulai merayap. Serangan Anita kali ini sistematis: ekonomi, reputasi, dan kepercayaan keluarga. Nida mungkin telah menyiapkan Hana sebagai penjaga, namun Hana kini harus berhadapan dengan iblis dari masa lalu yang memiliki kekuatan finansial yang nyaris tak terbatas.
---