NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Pertemuan dengan Zarvan

#

"Mahira Qalendra?"

Suara itu menghentikan langkahnya.

Mahira baru saja keluar dari lift lantai tiga puluh dua—lantai eksekutif Qalendra Group—setelah rapat pagi yang melelahkan. Kepalanya masih penuh dengan presentasi merger, angka-angka proyeksi, dan tatapan curiga dari beberapa direktur senior yang jelas tidak suka dengan posisi barunya.

Ia menoleh.

Dan waktu berhenti.

Pria yang berdiri di dekat jendela itu tinggi—mungkin sekitar 185 cm. Berjas hitam dengan kemeja putih tanpa dasi, kancing atas terbuka menampilkan sedikit kulit leher yang kecokelatan. Rambut hitam legam disisir rapi ke belakang. Rahang tegas dengan sedikit jenggot tipis yang membingkai wajah tampannya.

Tapi yang membuat Mahira tidak bisa bernapas adalah matanya.

Mata sewarna madu gelap—persis seperti mata yang sering muncul di mimpi-mimpinya.

"Ya?" Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksud.

Pria itu melangkah mendekat. Gerakannya tenang, terukur—seperti predator yang sedang menilai mangsanya. Tapi bukan dengan niat jahat. Lebih ke... penasaran. Dan sedikit waspada.

"Saya Zarvan Mikhael Al-Hakim." Ia mengulurkan tangan. "Maaf kalau tiba-tiba. Saya tahu meeting resmi kita masih dua hari lagi, tapi kebetulan saya ada di Jakarta lebih cepat dan... dan saya ingin berkenalan lebih dulu."

Mahira menatap tangan yang terulur itu.

Tangan besar dengan jari-jari panjang. Ada bekas luka kecil di buku jari tengah—luka lama yang sudah memudar. Mahira tidak tahu kenapa ia memperhatikan detail sekecil itu.

"Mahira." Ia menjabat tangan Zarvan—

—dan dunia meledak.

***

*Taman istana. Bunga melati. Suara gemericik air.*

*"Putri Aisyara."*

*Seorang pria berdiri di depannya. Berpakaian pangeran dengan jubah sutra biru gelap. Mata madu yang teduh menatapnya dengan lembut.*

*"Pangeran Zarvan." Aisyara—Mahira—menundukkan kepala hormat.*

*"Ayahanda Sultan mengatakan kita akan menikah tiga bulan lagi." Suaranya dalam, menenangkan. "Aku harap Putri tidak keberatan."*

*"Ini kehendak Ayahanda. Aku akan menurut." Aisyara mengangkat wajahnya—dan tatapan mereka bertemu.*

*Ada sesuatu. Koneksi yang tidak bisa dijelaskan. Seperti dua jiwa yang sudah saling mengenal sejak lama.*

*"Bolehkah aku jujur, Putri?" Zarvan melangkah lebih dekat.*

*"Silakan, Pangeran."*

*"Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Aku pikir itu hanya dongeng." Ia tersenyum tipis. "Tapi saat pertama kali melihatmu di balkon istana kemarin... aku berubah pikiran."*

*Aisyara merasakan pipinya memanas. "Pangeran terlalu—"*

*"Aku tidak berbohong. Dan aku berjanji..." Zarvan meraih tangannya dengan lembut, "...aku akan melindungimu. Apapun yang terjadi. Sampai napas terakhirku."*

***

"—ra? Mahira?"

Mahira tersentak kembali ke kenyataan. Zarvan masih memegang tangannya—tapi sekarang dengan kekhawatiran jelas di wajahnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya. "Kamu... kamu tiba-tiba diam dan—"

"Aku—" Mahira menarik tangannya cepat. Jantungnya berdebar sangat kencang. "Aku baik. Maaf. Cuma... cuma pusing sebentar."

Bohong. Itu bukan sekadar pusing.

Ia baru saja melihat visi. Visi tentang Aisyara dan Zarvan—Zarvan di masa lalu. Dan yang lebih mengerikan... ia merasakan emosinya. Merasakan perasaan Aisyara saat menatap pria itu.

Cinta. Takut. Harapan.

"Kamu yakin?" Zarvan masih belum bergerak. Matanya menelusuri wajah Mahira dengan intensitas yang membuat ia makin gugup. "Kamu pucat. Mau aku panggilin—"

"Nggak usah. Aku beneran baik-baik aja." Mahira mundur selangkah, menciptakan jarak aman. "Mr. Zarvan, maaf, tapi... apa yang bisa saya bantu? Meeting kita kan—"

"Dua hari lagi. Aku tahu." Zarvan memasukkan tangannya ke saku celana—gesture yang entah kenapa terlihat sangat familiar bagi Mahira. "Tapi aku penasaran dengan orang yang akan handle project ini. Dan Pak Irfash bilang, putri bungsunya yang akan jadi point of contact utama."

"Betul. Aku dan kakakku, Raesha."

"Hmm." Zarvan berjalan ke jendela, menatap pemandangan Jakarta di luar. "Kamu familiar dengan bidang merger dan akuisisi?"

Pertanyaan itu terdengar seperti test. Mahira menegakkan bahunya. "Aku belajar cepat. Dan aku nggak akan biarkan ketidaktahuanku jadi hambatan untuk project ini."

Zarvan menoleh—dan ada sesuatu yang berkilat di matanya. Kekaguman? Atau sesuatu yang lain?

"Jujur," ucapnya pelan. "Aku suka itu."

Mahira berkedip. "Apa?"

"Kejujuranmu. Kebanyakan orang akan pura-pura ahli meskipun sebenarnya nggak ngerti apa-apa. Tapi kamu... kamu ngaku apa adanya. Itu langka." Ia berbalik sepenuhnya menghadap Mahira. "Dan itu yang aku cari di partner bisnis."

"Aku... terima kasih?"

"Kamu nggak yakin itu pujian atau nggak?" Zarvan tersenyum—senyum kecil yang membuat sudut matanya berkerut. Dan entah kenapa, Mahira merasa dadanya sesak.

Senyum itu. Ia kenal senyum itu.

"Maaf," Mahira menggeleng cepat. "Aku... aku harus kembali ke ruanganku. Ada—"

"Mahira." Zarvan memanggil namanya—dan cara ia mengucapkannya membuat bulu kuduk Mahira berdiri. Terlalu akrab. Terlalu lembut. Seperti sudah memanggil nama itu ribuan kali. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"...apa?"

"Apa kamu..." Ia ragu. "Apa kamu pernah merasa... kenal aku?"

Pertanyaan itu seperti bom yang meledak pelan.

Mahira membekukan tubuhnya. "Apa... maksudmu?"

"Tadi. Pas kita jabat tangan." Zarvan melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Mahira bisa mencium aroma cologne-nya—woody dengan sedikit hint mint. "Aku ngerasain sesuatu. Kayak... kayak deja vu. Tapi lebih kuat dari itu. Kayak..." ia berhenti, frustrasi mencari kata yang tepat, "...kayak aku udah kenal kamu dari dulu. Dari sangat lama."

Mahira tidak bisa bicara. Tenggorokannya tercekat.

"Dan matamu," lanjut Zarvan, kali ini suaranya nyaris berbisik. "Aku... aku pernah liat mata sewarna itu. Di mimpi. Berkali-kali."

"Kamu... kamu juga mimpi?" Kata-kata itu lolos sebelum Mahira bisa menahannya.

Zarvan terdiam. Matanya melebar—shock dan relief bercampur jadi satu. "Jadi bukan cuma aku."

"Aku nggak—" Mahira mundur lagi. "Aku nggak tahu apa yang kamu omongin."

"Mahira—"

"Aku harus pergi." Ia berbalik cepat, langkahnya tergesa menuju ruangannya.

Tapi suara Zarvan menghentikannya sekali lagi.

"Aisyara."

Nama itu.

Mahira membeku. Perlahan ia menoleh—dan Zarvan berdiri di sana dengan wajah pucat. Seperti ia sendiri tidak percaya kata yang baru saja keluar dari mulutnya.

"Kenapa..." bisik Mahira, "kenapa kamu sebut nama itu?"

"Aku... aku nggak tahu." Zarvan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Itu... itu nama yang terus muncul di mimpi-mimpiku. Putri Aisyara. Dan wajahnya... wajahnya persis kayak—"

"Kayak aku," Mahira menyelesaikan kalimatnya.

Mereka saling menatap—dua orang asing yang tiba-tiba menemukan benang merah yang mengikat mereka melintasi waktu dan kehidupan.

"Apa yang terjadi sama kita?" suara Zarvan serak.

Mahira ingin menjawab. Ingin bilang semua yang ia tahu—tentang surat nenek, tentang kutukan, tentang takdir yang mempertemukan mereka lagi. Tapi kata-kata itu застряли di tenggorokan.

"Aku nggak tahu," ucapnya akhirnya. "Tapi... tapi kalau kamu juga ngalamin hal yang sama, berarti..."

"Berarti ini bukan kebetulan."

Mahira mengangguk pelan.

Ponsel Zarvan berdering—memecah momen intens di antara mereka. Ia mengangkatnya dengan tergesa.

"Ya? ...Sekarang? Tapi aku— ...Baik. Aku kesana." Ia menutup teleponnya dengan frustrasi. "Maaf. Ada urgent meeting di hotel. Aku harus—"

"Pergi. Ya. Aku ngerti."

Zarvan berjalan menuju lift, tapi berhenti sejenak di depan Mahira. "Kita harus bicara. Lebih banyak. Tentang... tentang semua ini."

"Aku tahu."

"Besok?" tawarnya. "Atau... atau mungkin nanti malam? Aku bisa—"

"Besok." Mahira memotong. Ia butuh waktu untuk memproses semua ini. "Besok sore. Di yayasan Al-Hakim. Aku... aku mau kesana lagi."

Sesuatu berubah di wajah Zarvan. Ekspresinya melembut. "Kamu kesana kemarin, kan? Ustadzah Maryam bilang."

"Kamu... kamu yang lihat aku. Di parkiran."

"Iya." Ia tidak menyangkal. "Maaf kalau itu creepy. Aku cuma... aku nggak bisa nahan untuk ngeliat. Dan pas aku liat kamu..." ia berhenti, menggeleng, "...rasanya kayak pulang."

Kata-kata itu menghantam Mahira tepat di dada.

Pulang.

"Jam 4 sore," kata Mahira pelan. "Di musholla yayasan."

"Aku akan datang." Zarvan tersenyum—senyum yang genuine, hangat, dan entah kenapa membuat Mahira ingin menangis. "Terima kasih, Mahira."

Ia masuk ke lift. Pintu mulai tertutup—tapi tatapan mereka tidak terlepas sampai pintu benar-benar tertutup.

Dan baru setelah lift itu menghilang, Mahira membiarkan tubuhnya merosot ke dinding terdekat.

Tangannya gemetar. Napasnya pendek-pendek. Jantungnya masih berdebar kencang.

Ia baru saja bertemu Zarvan.

Belahan jiwanya dari 300 tahun yang lalu.

Dan lebih menakutkan dari itu—ia merasakannya. Koneksi itu. Tarikan itu. Seperti magnet yang tidak bisa ditolak.

"Ya Allah," bisiknya, "apa yang harus aku lakukan?"

Tapi tidak ada jawaban.

Yang ada hanya gema langkah kakinya saat ia berjalan kembali ke ruangannya—dan perasaan bahwa hidupnya baru saja berubah selamanya.

***

Mahira tidak bisa fokus seharian.

Setiap dokumen yang ia baca, setiap meeting yang ia hadiri—pikirannya terus melayang ke Zarvan. Ke tatapan matanya. Ke suaranya yang menyebut nama Aisyara. Ke cara ia bilang "pulang" saat melihatnya.

"Mahira, lu dengerin gue nggak sih?"

Suara Raesha membuyarkan lamunannya. Mereka sedang makan siang di kantin eksekutif—tapi makanan Mahira hampir tidak tersentuh.

"Maaf. Aku... aku lagi mikirin sesuatu."

"Mikirin Zarvan maksudnya?" Raesha menurunkan garpunya. "Kiara udah cerita. Dia bilang lu ketemu sama dia pagi ini."

"Dia ngomong apa lagi?"

"Dia bilang lu keluar dari ruangan dengan wajah kayak baru liat hantu." Raesha menatapnya dengan khawatir. "Mahira, ada apa? Zarvan ngapain lu?"

"Dia nggak ngapa-ngapain." Mahira menghela napas panjang. "Tapi... tapi dia ngalamin hal yang sama kayak aku, Kak. Dia juga punya mimpi tentang Aisyara. Dan pas kita jabat tangan... kita berdua dapet visi yang sama."

Wajah Raesha mengeras. "Lu yakin dia nggak manipulasi lu? Pura-pura ngalamin hal yang sama supaya—"

"Nggak. Dia genuine. Aku bisa ngerasain." Mahira menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Dia... dia Zarvan, Kak. Pangeran Zarvan yang seharusnya nikah sama Aisyara. Dan sekarang dia ada di depan aku lagi. Dan aku... aku nggak tahu harus gimana."

Raesha meraih tangan adiknya. "Lu takut?"

"Aku terrified." Suaranya bergetar. "Karena di masa lalu, cinta mereka berakhir dengan tragedi. Aisyara mati. Zarvan mati nyoba nyelamatin dia. Dan sekarang... sekarang kita ketemu lagi. Apa yang jamin kali ini endingnya nggak sama?"

"Karena kali ini lu nggak sendirian." Raesha menggenggam tangannya erat. "Lu punya aku. Punya Kiara. Punya keluarga. Dan lu tahu apa yang bakal terjadi. Lu bisa prepare. Lu bisa fight."

"Tapi Khaerul—"

"Kita akan handle Khaerul." Tatapan Raesha tegas. "Besok lu ketemu Zarvan. Ngobrol. Cari tahu seberapa banyak yang dia inget. Dan kita plan dari sana. Oke?"

Mahira mengangguk pelan.

Tapi deep down, ia tahu ini bukan sekadar planning atau fighting.

Ini tentang takdir.

Dan takdir... takdir punya caranya sendiri untuk terpenuhi.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 9**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!