Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gilang Mulai Menyesal
Dua minggu udah lewat sejak perceraian itu. Dua minggu yang buat Nayara terasa aneh. Lega tapi kosong. Bebas tapi sepi.
Aldi makin gede. Udah lima bulan sekarang. Mulai bisa duduk sendiri walau masih goyah. Suka ketawa kalau diajak main cilukba. Lucu banget.
Nayara mulai kerja sekarang. Kerja online sebagai admin toko online punya temen ibunya. Gajinya pas-pasan. Dua juta sebulan. Tapi lumayan buat bantu-bantu orang tua. Kan dia malu juga udah gede masih ngerepotin.
Gilang? Transfer nafkah Aldi tepat waktu sih. Lima juta masuk tiap tanggal 1. Tapi selain itu tidak ada kontak sama sekali. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada apa apa.
Nayara juga tidak mau hubungin duluan. Buat apa? Udah cerai. Udah selesai. Titik.
Tapi kadang, kadang tengah malem waktu Nayara nyusuin Aldi yang bangun, pikirannya melayang. Ke Gilang. Ke pernikahan mereka yang hancur. Ke semua kenangan manis yang ternyata palsu.
Sakit? Iya. Masih sakit. Tapi udah tidak sesakit dulu. Udah mulai kebas.
Pagi itu Sabtu. Nayara lagi nyuapin Aldi bubur bayi rasa apel di teras belakang rumah Sambil nyuapin, Nayara main ponsel baca-baca berita.
Bu Siti lagi nyuci baju di belakang. Pak Hasan lagi ke mesjid.
Tiba-tiba bel rumah bunyi.
Ting tong. Ting tong.
"Nayara tolong bukain pintu, Bu lagi nyuci!" teriak Bu Siti dari belakang.
"Iya Bu!" Nayara jawab. Dia taro sendok bubur, angkat Aldi yang mulutnya penuh bubur, jalan ke depan.
Buka pintu.
Dan jantungnya berhenti berdetak sedetik.
Gilang.
Gilang berdiri di depan pintu dengan wajah kusut luar biasa. Beda banget dari Gilang yang biasa rapi dan sempurna.
Rambut acak-acakan. Kumis tipis mulai tumbuh. Mata merah dan bengkak. Baju kaos oblong putih lusuh. Celana jeans robek di lutut. Sendal jepit.
Kayak orang yang udah seminggu tidak mandi.
"Na, Nayara," panggil Gilang dengan suara serak banget.
Nayara terdiam. Pegang kusen pintu erat. Aldi di gendongannya mulai rewel mungkin ngerasa ibunya tegang.
"Kamu, kamu ngapain di sini?" Nayara akhirnya bisa bicara walau suaranya gemetar
"Aku, aku mau ketemu kamu. Mau ngobrol," jawab Gilang pelan. Matanya menatap Nayara dengan tatapan yang Nayara tidak pernah lihat sebelumnya. Tatapan memohon.
"Ngobrol apa? Kita udah cerai. Udah tidak ada yang perlu diobrolkan," Nayara menjawab tegas walau dadanya mulai sesak.
"Ada. Banyak. Kumohon Nayara. Kasih aku waktu sebentar aja." Gilang melangkah maju sedikit.
Nayara mundur selangkah. "Tidak Mas. Aku tidak mau ngobrol sama kamu. Kita udah selesai"
"Tapi aku belum selesai! Aku, aku masih punya banyak yang mau diomongkan!" Gilang mulai emosi. Suaranya naik.
Aldi kaget. Langsung nangis kenceng.
"Lihat! Kamu bikin Aldi kaget!" Nayara gendong-gendong Aldi sambil menenangkan. "Udah pergi sana Mas. Jangan dateng ke sini lagi"
"Aldi, Aldi itu anak aku juga! Aku punya hak ketemu dia!" Gilang berteriak frustasi.
"Hak? Mas mau ngomong hak? Dari lahir sampe sekarang Mas pernah jenguk Aldi berapa kali? Nol! Pernah gendong dia? Tidak pernah! Sekarang Mas mau ngaku-ngaku punya hak?" Nayara juga mulai naik suaranya
Gilang terdiam. Wajahnya kayak ditampar.
"Pergi Mas. Aku tidak mau lihat kamu lagi" Nayara mau nutup pintu.
Tapi Gilang nahan pintunya pake tangan. "Tunggu! Nayara kumohon dengarkan aku dulu!"
"Tidak ada yang mau aku dengar!" Nayara berusaha nutup pintu tapi Gilang lebih kuat.
"AKU UDAH PUTUS SAMA SANDRA!" Gilang berteriak keras.
Nayara berhenti dorong pintu. Natap Gilang dengan mata membulat. "Apa?"
"Aku udah putus sama dia. Dua minggu lalu. Pas, pas kamu cerai sama aku" Gilang bicara cepet, napasnya ngos-ngosan.
Nayara tertawa pahit. "Terus? Mau aku kasih selamat? Mau aku tepuk tangan?"
"Bukan gitu Nayara. Aku, aku sadar aku salah. Aku sadar aku udah menyia-nyiakan kamu. Menyia-nyiakan kita," Gilang mulai nangis. Air mata beneran keluar dari matanya yang merah.
Ini pertama kalinya Nayara lihat Gilang nangis.
Tapi Nayara tidak luluh. Hatinya udah terlalu keras buat luluh sama air mata Gilang.
"Sadar? Sekarang baru sadar? Setelah kamu hancurkan aku? Setelah kamu sakiti aku berkali-kali? Sekarang baru sadar?" Nayara berteriak sambil nangis juga.
"Iya! Aku tau aku terlambat! Aku tau aku udah terlalu banyak nyakitin kamu! Tapi kumohon Nayara kasih aku kesempatan lagi!" Gilang jatuh berlutut di depan pintu.
Berlutut.
Gilang yang selalu sombong dan tinggi hati sekarang berlutut di depan Nayara.
"Kumohon, kumohon Nayara. Balikin aku kesempatan. Aku janji akan berubah. Aku janji akan jadi suami yang baik. Bapak yang baik buat Aldi," Gilang memohon sambil tangannya meremas-remas celana jeans-nya sendiri.
Nayara menatap Gilang yang berlutut itu. Dadanya sesak luar biasa. Pengen nangis lebih keras tapi dia tahan.
"Janji Mas? Janji lagi? Berapa kali Mas udah janji sama aku? Dan berapa kali Mas tepatin? Nol!" Nayara berteriak dengan air mata mengalir deras.
"Kali ini beda! Kali ini aku serius! Aku, aku udah kehilangan kamu baru aku sadar betapa berharganya kamu!" Gilang masih berlutut, tangannya terulur mencoba raih tangan Nayara.
Tapi Nayara mundur. "Terlambat Mas. Kamu udah terlambat. Waktu kamu punya kesempatan, kamu sia-siakan. Sekarang udah tidak ada kesempatan lagi"
"Nayara kumohon! Jangan gini! Aku mau kembali sama kamu! Mau kita jadi keluarga lagi!" Gilang memohon dengan putus asa.
"Keluarga? Kita tidak pernah jadi keluarga Mas! Kita cuma satu rumah tapi tidak pernah jadi satu keluarga!" Nayara berteriak sambil peluk Aldi yang nangis lebih kenceng.
"Ada siapa Nayara?" Tiba-tiba Bu Siti muncul dari belakang. Tangannya masih basah bekas nyuci. Begitu lihat Gilang yang berlutut di depan pintu wajahnya langsung berubah.
"Kamu! Kamu berani datang ke sini?" Bu Siti jalan cepet ke depan. Berdiri di samping Nayara dengan wajah marah.
Gilang berdiri. "Bu Siti aku cuma mau ngobrol sama Nayara..."
"Ngobrol? Buat apa? Udah kamu sakiti anak aku sekarang mau ngobrol? Pergi kamu! Jangan ganggu anak aku lagi!" Bu Siti bentak keras.
"Tapi Bu, aku mau minta maaf. Aku mau kembali sama Nayara" Gilang mencoba jelasin.
"KEMBALI? Setelah kamu selingkuh? Setelah kamu mukul anak aku? Setelah kamu tinggalin dia pas hamil dan melahirkan sendirian? Sekarang mau kembali? Jangan mimpi!" Bu Siti makin keras suaranya.
"Bu Siti kumohon dengarkan aku dulu..." Gilang masih mencoba.
"TIDAK USAH! PERGI SEKARANG ATAU SAYA PANGGIL SATPAM!" Bu Siti udah tidak mau dengar lagi.
Gilang natap Nayara terakhir kali. Matanya penuh air mata. "Nayara, aku mohon. Kumohon pikirin lagi"
Nayara menggeleng pelan. "Pergi Mas. Dan jangan datang lagi"
Gilang terdiam. Wajahnya hancur total. Dia berbalik, jalan gontai ke arah mobilnya yang parkir di depan rumah. Mobil mewahnya yang sekarang terlihat kotor tidak terawat.
Sebelum masuk mobil, Gilang berbalik lagi. Teriak dari jauh dengan suara serak.
"AKU MENYESAL NAYARA! AKU BENERAN MENYESAL!"
Terus dia masuk mobil. Mesin menyala. Mobil meluncur pergi.
Nayara berdiri di pintu dengan Bu Siti di sampingnya. Menatap mobil Gilang yang menghilang di tikungan.
Air mata Nayara tidak berhenti mengalir. Dadanya sakit banget. Kayak diremas kuat kuat.
"Udah Nak masuk. Jangan dipikirin," Bu Siti peluk Nayara dari samping.
Tapi gimana caranya tidak dipikirin? Itu Gilang. Mantan suaminya. Bapak dari Aldi. Orang yang dulu dia cintai mati-matian
Dan tadi dia nangis. Berlutut. Minta maaf. Bilang menyesal
Tapi kenapa Nayara tidak bisa maafin? Kenapa hatinya tetap keras? Kenapa dia tetap tolak Gilang?
Karena luka yang Gilang kasih terlalu dalam. Terlalu banyak. Terlalu sakit.
Maaf saja tidak cukup buat nutup semua luka itu.
Dan Nayara tidak mau terjebak lagi. Tidak mau sakit lagi. Tidak mau hancur lagi
Walau hatinya masih sakit lihat Gilang nangis tadi.
Walau ada bagian kecil di hatinya yang masih peduli sama Gilang
Tapi dia harus kuat.
Untuk Aldi.
Dan untuk dirinya sendiri.
Nayara masuk rumah. Nutup pintu. Duduk di sofa sambil peluk Aldi yang udah berhenti nangis.
"Mama kenapa nangis?" Bu Siti duduk di samping, mengelus punggung Nayara.
"Aku, aku tidak tau Bu. Aku bingung. Kenapa dia dateng sekarang? Kenapa sekarang baru nyesal? Kenapa tidak dari dulu?" Nayara nangis di bahu ibunya.
"Orang kayak dia tuh Nak, baru nyesal kalau udah kehilangan. Pas punya tidak dihargai. Pas hilang baru dicari," Bu Siti bisik sambil terus mengelus punggung Nayara.
"Tapi aku, aku masih sakit Bu. Lihat dia nangis, aku ikut sakit" Nayara terisak.
"Wajar Nak. Kamu kan pernah cinta sama dia. Pernah berharap sama dia. Tapi ingat, dia yang sakiti kamu. Dia yang hancurkan kamu. Jangan luluh cuma karena dia nangis sekali," Bu Siti ngingetin dengan tegas tapi lembut.
Nayara mengangguk. Iya. Ibunya benar. Dia tidak boleh luluh.
Tidak boleh kembali ke neraka yang baru dia tinggalkan.
Tidak boleh.
Walau hatinya masih sakit.
Walau air matanya tidak berhenti mengalir.
Dia harus kuat.
Harus.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭