"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Rencana di Tengah Kabut
Apartemen kecil di Nakano itu kini dipenuhi aroma kopi dan bau apek dari peta tua yang dikeluarkan oleh Miyuki. Kami berkumpul mengelilingi meja kayu, menatap lekat jalur darat menuju Kyoto.
"Kita tidak bisa naik kereta api," aku membuka suara sambil menunjuk jalur Tokaido di atas peta.
"Lex, kau ini lebih tahu jalan dan lokasi dibanding aku yang orang Jepang asli," sela Ken dengan dahi berkerut, menatapku heran.
"Padahal kau kan perantau dari Indonesia. Bagaimana kau bisa hafal jalur serumit ini?"
Aku tertegun. Jariku terpaku di atas peta.
"Iya juga... mengapa aku begitu paham lika-liku jalan ini? Seolah-olah aku sudah pernah melaluinya ratusan kali " batinku bingung.
Ada denyut kecil di kepalaku, seperti sebuah pintu yang mencoba didobrak dari dalam.
"Sudahlah, Lex. Aku cuma bercanda," ucap Ken sambil menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku.
"Zaman sekarang kan canggih, semua orang bisa tahu jalan lewat Google Maps. Lagian kau memang orangnya teliti."
"Haha... iya, betul juga," balasku sambil memaksakan tawa, mencoba menutupi kegelisahan yang mulai muncul.
Aku berdehem, mencoba kembali fokus pada rencana utama.
"Intinya, Stasiun Tokyo dan Kyoto penuh dengan kamera pemindai wajah. Sekali wajah Sayuri atau aku tertangkap layar mereka, The Eraser akan mencegat kita bahkan sebelum kita sempat menginjak Yokohama."
"Lalu bagaimana? Jalan kaki? Mustahil, Lex," Ken bergurau, meski sorot matanya menunjukkan dia sedang memutar otak.
"Lagipula, mobil pamanku rasanya kurang sehat akhir-akhir ini. Sering mogok di tengah jalan kalau dipaksa jarak jauh." Ken memijat pelipisnya, tampak frustrasi dengan keterbatasan armada kami.
"Kita pakai mobil lain," sahut Miyuki tegas, memotong keraguan Ken.
Kami semua menoleh ke arahnya. Miyuki tidak tampak bercanda.
"Mobil apa? Kita tidak punya anggaran untuk menyewa mobil mewah yang tidak terlacak," tanya Mona penasaran.
Miyuki merogoh tasnya, lalu melemparkan sebuah kunci dengan gantungan logo Suzuki ke atas meja.
Plak!
"Mobil Kakek. Terparkir di basement apartemen ini sejak sepuluh tahun lalu. Itu hanya mobil hatchback putih biasa. Tidak punya sistem GPS modern, dan pelat nomornya masih prefektur Kanagawa, jadi tidak akan terlalu mencurigakan di jalan tol," jelas Miyuki dengan tatapan tajam.
Aku menatap Miyuki dengan rasa kagum sekaligus ragu.
"Kau yakin ingin melakukan ini, Miyuki? Risiko ini sangat besar."
Miyuki mencoba senyum, meski ada sedikit getaran di jemarinya.
"Aku sudah muak, Alexian. Dipaksa mengikuti kemauan The Eraser yang hanya mengincar Kakakku dan Jembatan itu. Lagipula, jika aku tidak memberanikan diri menemuimu di hotel waktu itu, aku tidak akan pernah bisa menyelamatkan Kak Sayuri sendirian," ucapnya sambil menatap kunci mobil di atas meja.
Sayuri yang duduk di sampingku menyentuh peta tua itu dengan ujung jarinya.
"Kyoto... aku ingat tempat itu. Kakek dulu sering bercerita tentang kuil-kuil yang memiliki 'lubang' menuju dimensi lain. Dia bilang, rumah kami dibangun di atas salah satu sisa jembatan kuno."
Miyuki mengangguk mantap.
"Itulah sebabnya brankas itu ada di sana. Catatan Kakek berisi tentang cara menutup Jembatan secara permanen dari sisi dunia nyata, agar para The Eraser itu kehilangan sumber kekuatan mereka."
Persiapan pun dimulai dengan cepat. Kami harus bergerak seperti bayangan.
Mona memotong rambut panjang Sayuri sedikit dan memakaikannya jaket hoodie dan kacamata serta topi. Sayuri kini terlihat seperti turis biasa atau mahasiswi Tokyo.
Ken menyiapkan beberapa pelat nomor palsu (keahlian yang dia pelajari di bengkel) untuk diganti di tengah jalan dan Petasan sebagai senjata buat jaga jaga.
Aku membawa Pisau dan Sebuah Ponsel yang entah bagaimana sekarang terasa lebih berat dan memiliki energi aneh serta sebuah tongkat besi yang disiapkan Ken untuk berjaga-jaga.
"Kita berangkat jam dua pagi," instruksiku.
"Saat mata-mata di jalanan mulai mengantuk dan lalu lintas antar prefektur mulai sepi."
Saat yang lain sibuk berkemas, Sayuri menarik lengan kemejaku dan membawaku ke balkon kecil apartemen.
Dibawah sana, lampu-lampu Tokyo masih menyala terang, namun langit di atas tampak gelap, yang membuat bintang tidak kelihatan.
"Alexian... apakah kau takut?" bisiknya pelan.
Aku menatap pita jingga di pergelangan tangannya yang kini tertutup lengan hoodie.
"Tentu saja aku takut, Sayuri. Tapi rasa takut itu tidak ada apa-apanya dibanding ketakutanku jika harus kehilanganmu lagi. Kita sudah sejauh ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyeretmu kembali ke tempat itu."
Sayuri menyandarkan kepalanya di bahuku, membiarkan keheningan malam menyatukan kami sejenak.
"Dulu aku cuma bisa liat sore yang nggak pernah habis. Sekarang, aku bisa liat pagi yang beneran. Aku nggak mau kehilangan ini, Alexian. Aku mau bareng kamu terus." ucap Sayuri dengan nada yang begitu lembut, namun penuh tekad.
Tepat pukul dua pagi, mesin mobil tua peninggalan kakek Sayuri dan Miyuki menderu pelan di kegelapan basement. Kami masuk dengan cepat. Mona di kursi kemudi, Ken di sampingnya, sementara aku, Sayuri, dan Miyuki di kursi belakang.
Saat mobil mulai meluncur keluar menuju jalan raya Nakano yang lengang, aku menyadarinya. Jalan menuju Kyoto bukan hanya soal menempuh jarak ratusan kilometer, tapi soal apakah kami bisa melalui perjalanan kali kami ini dengan nasib yang memihak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.