"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Rumah Sakit Medika, 10.30 WIB.
Pintu kamar perawatan Fikri terbuka perlahan. Sosok Pak Hendra dan Bu Fatma melangkah masuk dengan langkah tenang namun guratan kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka. Sebagai orang tua yang tinggal di kota berbeda, mereka tidak pernah mau merepotkan Disa. Bahkan selama tiga tahun pernikahan Disa dan Abdi, mereka sangat menjaga batasan tidak pernah sekali pun mencampuri urusan dapur rumah tangga anaknya kecuali jika diminta.
"Ayah... Ibu..." Disa berdiri, suaranya tercekat. Ia merasa sangat bersalah melihat kedua orang tuanya harus menempuh perjalanan jauh hanya karena kabar cucunya yaitu Fikri sakit.
Pak Hendra menepuk bahu Disa pelan, sementara Bu Fatma langsung menghampiri ranjang Fikri yang sedang tertidur lelap. "Sabar ya Dia, yang penting sekarang Fikri sudah ditangani dokter," ujar Pak Hendra sosok bapak yang menenangkan.
Abdi menyalami mertuanya dengan kikuk. Ada rasa malu yang menjalar di hatinya, terutama karena ia tahu saldo tabungannya kosong melompati pagar rumah sakit tadi malam.
"Maaf ya Yah, Bu... Abdi belum bisa jaga Fikri dengan baik," ucap Abdi rendah.
Pak Hendra hanya mengangguk bijak. "Musibah tidak ada yang tahu, Abdi. Oh ya, Ayah tadi dengar dari Disa soal biaya. Ayah ada sedikit rezeki nanti Ayah transfer ke rekeningmu saja ya untuk tambah-tambah biaya rumah sakit."
Abdi sempat merasa lega luar biasa mendengar tawaran itu. Namun, sebelum ia sempat mengangguk, Disa memotong dengan cepat.
"Nggak usah, Yah. Jangan," suara Disa tegas namun lembut. "Ayah sama Ibu sudah jauh-jauh ke sini saja Disa sudah senang. Masalah biaya, biar jadi tanggung jawab kami. Mas Abdi sudah urus pinjaman kantor."
Disa menolak bukan karena sombong, tapi karena ia tahu selama ini Ayah dan Ibunya sudah terlalu sering membantu diam-diam. Setiap kali mereka berkunjung, pasti ada saja amplop yang diselipkan di bawah bantal Fikri atau paket susu dan baju yang datang "atas nama hadiah untuk cucu". Disa selalu menolak jika diberi uang langsung, maka orang tuanya menggunakan dalih "untuk Fikri" agar Disa mau menerima bantuan mereka tanpa merasa rendah diri di depan suami.
Tepat saat suasana mulai tenang, suara tawa dan derap langkah kaki yang ramai terdengar dari lorong. Pintu kamar didorong kasar. Bu Ratna Ibu mertua Disa masuk bersama Shinta dan Rian. Mereka membawa beberapa kantong plastik berisi buah, tapi suaranya langsung memenuhi ruangan yang tadinya tenang.
"Duh, cucu Nenek kenapa bisa sampai begini, sih?" Bu Ratna langsung duduk di kursi dekat ranjang, mengabaikan keberadaan besannya sejenak sebelum akhirnya menyapa formalitas. "Eh, ada Pak Hendra sama Bu Fatma juga. Sudah lama sampai?"
Setelah bersalaman singkat, Bu Ratna langsung menoleh ke arah Disa dengan tatapan menghakimi.
"Disa, Ibu itu sebenarnya heran. Kamu kan seharian di rumah, nggak kerja kantoran, cuma di rumah saja sambil jualan daster online itu. Harusnya waktu kamu buat urus Fikri kan banyak banget. Kok bisa sampai kecolongan demam tinggi begini?" ujar Bu Ratna tanpa filter.
Shinta ikut menimpali sambil sibuk bercermin di layar ponselnya. "Iya nih, Mbak Disa. Padahal kan kalau di rumah terus harusnya lebih teliti. Kasihan Mas Abdi, sudah capek kerja cari uang buat kita semua, eh sampai sini malah harus pusing mikirin biaya rumah sakit."
Abdi terlihat hanya diam saja dan masih berdiri di pojok ruangan, menunduk sambil memainkan kunci motornya. Tidak ada satu patah kata pun pembelaan yang keluar dari mulutnya untuk sang istri yang sudah terjaga tiga hari dua malam tanpa tidur.
Disa hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan luka dalam. Ia tidak ingin membalas di depan orang tuanya. Ia tidak ingin Ayah dan Ibunya tahu betapa rendah posisinya di mata keluarga Abdi.
Namun, Bu Fatma tidak bisa lagi menahan diri. Sebagai ibu, hatinya mendidih melihat anaknya dipojokkan seperti itu.
"Maaf, Bu Ratna," suara Bu Fatma tenang namun sarat penekanan. "Disa memang di rumah, tapi dia tidak diam. Selain jualan online yang untungnya dia kumpulkan seribu demi seribu buat beli makanan tambahan yang diminta Fikri supaya tidak membebani uang bulanan dari Abdi, Disa juga yang mengurus semua pekerjaan rumah sendirian. Dari subuh sampai tengah malam."
Bu Fatma melirik Abdi sebentar sebelum melanjutkan. "Anak sakit itu bukan karena ibunya lalai, tapi karena memang sudah garisnya. Justru saya bangga sama Disa, meski dia capek, dia tidak pernah mengeluh soal uang ke kami. Dia selalu bilang semua cukup, padahal saya tahu dia harus memutar otak setiap kali Fikri ingin makan enak atau butuh baju baru."
Bu Ratna mendengus pelan, merasa tersindir. "Ya kan memang sudah tugas istri begitu, Bu Fatma yaitu Sabar. Abdi ini kan baktinya luar biasa ke orang tua, jadi Disa memang harus banyak pengertian."
"Sabar itu ada batasnya kalau tidak dibarengi keadilan, Bu," sahut Pak Hendra menengahi dengan nada yang masih sangat sopan namun berwibawa. "Kami mendidik Disa untuk mandiri. Jualan online-nya itu mungkin hasilnya sedikit di mata orang lain, tapi bagi kami itu bukti Disa punya harga diri. Dia tidak mau merepotkan suaminya yang sedang fokus berbakti pada Ibu dan adik-adiknya."
Suasana ruangan menjadi sangat canggung. Abdi merasa seperti sedang disidang secara tidak langsung. Ia tahu mertuanya sedang menyentilnya dengan sangat halus.
"Sudah, Yah, Bu... nggak apa-apa," bisik Disa sambil memegang tangan ibunya. "Yang penting Fikri segera sembuh."
Setelah keluarga Abdi pulang dengan wajah masam, Pak Hendra menarik Abdi ke kantin rumah sakit. Di sana, tanpa diketahui Disa, Pak Hendra menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Abdi, Ayah tidak pernah mau ikut campur. Tapi tadi Ayah tidak sengaja melihat mutasi rekening Disa yang tertinggal di tasnya. Kenapa ada aliran dana keluar ke rekening adikmu, Shinta, dalam jumlah besar di tanggal yang sama saat asuransi Fikri dicairkan? Ayah hanya ingin tahu, apa ini yang kamu sebut dengan 'semua cukup'?"
Abdi mematung. Rahasianya yang paling gelap kini berada di tangan mertuanya yang pendiam itu.