Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5.Menyadari kekuatannya.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan pendeta yang menjadi penyebab kematiannya itu, Yun lan berjalan pulang melewati hutan yang sepi.
Dimana kabut tipis masih menggantung di antara batang-batang pohon ketika Yun Lan membuka matanya.
Hutan itu sunyi, tetapi bukan sunyi yang damai. Sunyi yang terasa seperti sisa-sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi.
Dadanya naik turun cepat.
Ia masih bisa merasakan sensasi dingin altar batu di punggungnya.
Masih bisa mendengar suara doa para pendeta yang memanggil namanya bukan sebagai manusia—melainkan sebagai persembahan.
Masih bisa mencium bau dupa tebal yang menusuk paru-paru, bercampur dengan darah.
Tubuhnya menggigil.
“Apa ini hadiah yang dimaksud oleh dewa Yun?”
Yun Lan menatap kedua tangannya. Ia tidak percaya apa yang dirinya lakukan di kuil tadi.
Pintu gerbang besar kuil yang roboh.
Meja kuil yang terbelah jadi dua.
Sekarang ia hanya berdiri sendirian di tengah hutan.
Angin pagi menyusup di sela dedaunan, membuat rambut panjangnya berkibar pelan. Ia duduk perlahan, mengamati sekeliling.
Dan kesadaran itu datang seperti petir yang menyambar pikirannya.
“Sejak kapan tanganku sekuat ini?. ”gumamnya.
Entah ini hadiah.
Atau sebuah kutukan.
Yang jelas akan satu hal.
Dirinya akan mudah mencegah ayahnya pergi.
Perasaannya saat ini senang yang tak bisa di ucapkan.
“Dengan begini,aku bisa menolong keluarga ku hancur.”
Ingatan tentang kehidupan sebelumnya datang seperti banjir yang tak bisa dihentikan.
Ayahnya yang tersenyum lembut pagi itu.
Surat perintah berwarna kuning keemasan.
Janji akan kembali.
Lalu kabar kematian yang dibawa prajurit berwajah suram beberapa bulan kemudian.
Dan dirinya—yang kemudian dipilih sebagai “persembahan suci” untuk dewa Yun demi mengakhiri musim dingin panjang.
Yun Lan menggertakkan giginya.
Tidak.
Kali ini tidak akan terjadi.
Kali ini, takdir itu tak akan terulang lagi.
Ia berdiri, masih goyah. Lututnya terasa lemah, tetapi bukan karena lelah. Karena emosi yang terlalu besar.
Tangannya mengepal.
Ia mengingat sesuatu.
Sebelum altar runtuh dalam kehidupan sebelumnya… sebelum kesadarannya memudar… ia mendengar suara.
Suara yang tidak berasal dari manusia.
Suara yang bergema di dalam kepalanya.
Suara yang menyebut namanya dengan jelas.
Yun Lan.
Kau akan melewati jalan takdir yang berbeda setiap kamu merubahnya.
Saat itu, ia mengira itu hanya ucapan dewa yang tidak masuk akal.
Sekarang, kata-kata itu terasa berbeda.
Ia melihat sekeliling, mencoba menenangkan napasnya. Di depannya berdiri sebuah pohon besar, batangnya tebal, akarnya menjalar kuat ke tanah.
Yun Lan menatap pohon itu lama.
Pikirannya masih kacau.
Tubuhnya terasa aneh.
Berat.
Padat.
Seolah-olah setiap serat ototnya diisi sesuatu yang baru.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku…?”
Entah dorongan dari mana, Yun Lan melangkah mendekat ke pohon itu.
Ia tidak punya tujuan.
Hanya dorongan aneh yang mendesaknya untuk melakukan sesuatu.
Untuk memastikan bahwa semua ini nyata.
Ia mengangkat kepalan tangannya.
“Ini konyol…” gumamnya.
Lalu ia memukul batang pohon itu.
Bukan dengan tenaga penuh. Hanya pukulan refleks, seperti orang kesal yang memukul benda di depannya.
Dan dunia seolah berhenti.
Suara retakan yang keras memecah kesunyian hutan.
Burung-burung beterbangan panik dari pepohonan.
Yun Lan membeku.
Ia menatap tangannya.
Lalu menatap pohon di depannya.
Batang pohon itu… retak.
Retakan panjang membelah kulit kayunya.
“Tidak mungkin…”
Ia mundur satu langkah.
Tanah di bawah kakinya bergetar.
Pohon itu bergoyang.
Lalu dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga—
Pohon besar itu roboh.
Debu, daun, dan ranting beterbangan ke udara.
Yun Lan terdiam.
Napasnya tertahan di tenggorokan.
Ia menatap pohon yang kini tergeletak di tanah, akarnya tercabut, batangnya pecah.
Ia menatap tangannya lagi.
Tidak ada luka.
Tidak ada rasa sakit.
Yang ada hanya getaran aneh di dalam tubuhnya.
Kekuatan.
Bukan kekuatan biasa.
Ia mengangkat tangannya pelan, merasakan otot-ototnya menegang.
“Ini…”
Ingatan tentang suara itu kembali.
Hidupmu tidak berakhir di sini.
Bangkitlah.
Yun Lan menelan ludah.
Dewa Yun.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar legenda itu. Dewa perang yang jarang disebut dalam doa karena dipercaya hanya muncul di saat kehancuran.
Dewa yang tidak memberi berkah dengan cara biasa.
Dewa yang memilih manusia di ambang kematian.
Jantung Yun Lan berdegup keras.
“Apakah… ini hadiah yang di maksud?”lanjutnya.“kalau begitu terimakasih, aku akan menggunakan dengan benar. ”
Ia menatap pohon yang roboh itu.
Perlahan, sesuatu yang selama ini menggerogoti jiwanya berubah.
Ketakutan.
Kesedihan.
Putus asa.
Semua itu tergantikan oleh satu perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Keyakinan.
Jika ia memiliki kekuatan seperti ini…
Maka takdir tidak lagi mutlak.
Ia bisa mengubahnya.
Ia bisa mencegah ayahnya pergi.
Ia bisa menghentikan perang.
Ia bisa melindungi keluarganya.
Tangannya mengepal erat.
“Kali ini… aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku.”
Angin bertiup lebih kencang, seolah mendengar sumpahnya.
Yun Lan menoleh ke arah jalan setapak yang menuju ke desa.
Matahari sudah mulai naik.
Ia telah terlalu lama di hutan.
Jika perhitungannya benar… hari ini adalah hari yang sama ketika surat perintah itu datang.
Dadanya terasa sesak.
Waktu.
Ia harus segera pulang.
Yun Lan berlari.
Langkahnya cepat, ringan, jauh lebih cepat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Kakinya hampir tidak terasa menyentuh tanah.
Ia melewati semak, batu, dan akar pohon tanpa tersandung.
Setiap gerak tubuhnya terasa sinkron.
Tepat.
Kuat.
Seolah-olah tubuhnya benar-benar dilahirkan ulang.
Desa mulai terlihat di kejauhan.
Asap dapur warga mengepul tipis di udara pagi.
Rumah-rumah kayu berdiri tenang seperti biasa.
Terlalu tenang.
Dan justru itu yang membuat jantung Yun Lan berdegup semakin keras.
Ia memperlambat langkah ketika mendekati rumahnya.
Rumah yang dalam kehidupan sebelumnya menjadi tempat terakhir ia melihat ayahnya tersenyum.
Tangannya terasa dingin.
Ia berjalan pelan.
Sangat pelan.
Lalu langkahnya terhenti.
Di depan rumahnya.
Pintu halaman terbuka.
Beberapa kuda terikat di pagar.
Dan sekelompok prajurit berseragam perang berdiri di depan halaman.
Warna baju mereka.
Lambang di dada mereka.
Yun Lan mengenalinya.
Ia terlalu mengenalinya.
Napasnya tercekat.
Semuanya persis.
Persis seperti hari itu.
Ia berdiri di balik pohon besar di pinggir jalan, bersembunyi, mengamati.
Pintu rumahnya terbuka.
Ayahnya keluar.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Di tangannya, ia memegang gulungan surat berwarna kuning keemasan.
Surat kekaisaran.
Surat yang memanggilnya kembali ke medan perang.
Dunia Yun Lan terasa mengecil.
Suara di sekelilingnya memudar.
Yang ia lihat hanya ayahnya.
Yang ia dengar hanya ingatan.
“Ayah akan segera kembali.”
Kebohongan lembut itu.
Kebohongan yang menyelamatkannya dari kesedihan… tapi menghancurkan hidupnya.
Dalam kehidupan sebelumnya, ayahnya menyembunyikan kebenaran.
Ia pergi tanpa mengatakan bahwa ini mungkin perpisahan terakhir.
Beberapa bulan kemudian, yang kembali bukan dirinya.
Hanya kabar kematian.
Yun Lan menggertakkan giginya.
“Aku terlambat mencegah surat itu jatuh ke tangan ayah. ”
Air matanya menggenang, tapi tidak jatuh.
Tidak kali ini.
Ia tidak akan hanya berdiri dan menerima semuanya seperti dulu.
Ia menatap gulungan surat itu dengan pandangan tajam.
Sumber dari semuanya.
Awal dari kehancuran.
Dadanya bergetar.
Tapi ia tidak melangkah maju.
Belum.
Karena ia tahu sesuatu yang dulu tidak ia tahu.
Ayahnya tidak pergi karena ingin.
Ayahnya pergi karena tidak punya pilihan.
Karena kehormatan.
Karena tugas.
Karena takdir yang menjeratnya.
Dan sekarang…
Yun Lan mengepalkan tangannya pelan.
Ia punya sesuatu yang tidak ia miliki dulu.
Kekuatan.
Kesempatan kedua.
Dan pengetahuan tentang apa yang akan terjadi.
Matanya menajam.
“Kali ini… aku tidak akan membiarkan ayah pergi.”
Angin pagi menyibakkan rambutnya.
Di depan rumah, ayahnya sedang mengantar para prajurit itu dengan senyum tenang yang menyakitkan untuk dilihat.
Yun Lan hanya berdiri di balik bayangan pohon.
Mengamati.
Menahan diri.
Karena ia tahu—momen ini adalah awal.
Dan ia akan mengubah akhirnya.