"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pertemuan di Ambang Senja
~•^Debur dan Desau
Angin membawa asin yang lekat,
Menerpa wajah, membisikkan penat.
Udara pantai adalah pelukan yang fana,
Di mana ombak menari tanpa jeda.
Dinginnya menyusup ke sela jemari,
Membawa cerita tentang rindu yang terpatri.
Di antara pasir dan cakrawala yang biru,
Hanya ada aku, udara, dan bisikan yang semu.^•`~
Langit malam di tepian pantai itu nampak begitu tenang, kontras dengan gemuruh yang ada di dada Gus Zidan. Ia duduk sendirian di atas sebuah batang kayu besar yang terdampar, membiarkan sarung dan kokonya tertiup angin laut yang kencang. Matanya menatap kosong ke arah ombak, namun telinganya masih terngiang jelas suara bariton Abinya tadi sore.
"Kapan kamu ingin menikah, Zidan? Usiamu sudah sangat matang. Pesantren membutuhkan sosok perempuan yang bisa mendampingimu memimpin santriwati."
Zidan menghela napas panjang. Menikah bukanlah hal yang mudah baginya. Baginya, hati adalah sebuah kutub yang dingin, tempat di mana ia belum menemukan "mentari" yang cukup kuat untuk mencairkan kebekuannya.
"Heii... kamu sedang apa?"
Sebuah suara cempreng namun lembut membuyarkan lamunannya. Zidan menoleh ke samping dan sedikit terkejut. Di sana berdiri seorang gadis kecil—atau mungkin remaja—yang mengenakan seragam SMP. Namun, seragam itu tak lagi putih bersih; penuh dengan coretan pilox warna-warni khas selebrasi kelulusan.
Gadis itu berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap Zidan dengan mata bulat yang sangat bening.
"Jangan sedih ya, kan ada aku," lanjut gadis itu tiba-tiba, seolah-olah ia bisa membaca kesedihan di pundak Zidan. Ia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang rapi.
Zidan terpaku. Wajah gadis itu sangat cantik jelita dengan kulit putih yang seolah bersinar di bawah cahaya bulan. Meski hidungnya sedikit pesek, hal itu justru menambah kesan manis dan polos pada wajahnya.
"Kamu... siapa?" tanya Zidan dengan suara agak serak.
"Nama kamu siapa? Kalau nama aku Bungah!" jawabnya riang. Suaranya sangat lembut, terdengar seperti suara anak kecil yang belum tersentuh kerasnya dunia.
Zidan terdiam seribu bahasa. Ada sesuatu yang aneh terjadi di dadanya. Angin pantai yang tadinya terasa sangat dingin, tiba-tiba terasa hangat. Tatapan polos Bungah dan keceriaannya yang meledak-ledak di tengah malam itu seolah menjadi setitik cahaya yang menembus kutub jiwa Zidan.
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Zidan untuk menyadari satu hal: Es di hatinya baru saja retak karena sapaan seorang gadis berseragam penuh warna.
Zidan masih terpaku menatap wajah Bungah yang berseri-seri, seolah-olah dunia baru saja memberikan jawaban atas kegelisahannya. Namun, keheningan magis itu pecah seketika oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di atas pasir pantai.
"BUNGAH! Ya Allah, anak ini!"
Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pepohonan waru dengan napas terengah-engah. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebilah kayu kecil—ranting pohon yang nampaknya dipungut di jalan.
Plak!
"Aduh! Bunda, sakit!" jerit Bungah kecil saat tangan ibunya dengan gesit menjewer telinganya.
"Kamu ini bunda cari-cari sampai ke ujung pantai! Ayo pulang, Ayah nungguin dari tadi di rumah. Bukannya bantu-bantu malah keluyuran!" omel sang Bunda tanpa ampun. "Sudah dibilangin berkali-kali, anak gadis itu nggak boleh keluyuran malam-malam, apalagi seragam kamu sampai warna-warni begitu!"
Bungah meringis, tubuhnya mengikuti tarikan tangan ibunya. "Tadi kan cuma mau lihat ombak sebentar, Bunda..."
Saat itulah, sang Bunda baru menyadari bahwa anaknya tidak sendirian. Matanya menangkap sosok pria muda bersarung dan berbaju koko yang duduk tak jauh dari sana. Begitu mengenali wajah teduh itu, ekspresi sang Bunda langsung berubah drastis dari garang menjadi penuh rasa sungkan.
"Lho... Gus Zidan?" tanya Bunda Bungah dengan nada bicara yang tiba-tiba merendah dan sopan.
"Astagfirullah, maafkan saya, Gus. Saya tidak tahu kalau anak nakal ini sedang mengganggu Gus di sini."
Beliau kemudian menoleh lagi ke arah Bungah, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam karena menyadari rambut anaknya yang tergerai tanpa penutup. "Kamu ini, sudah keluyuran, tidak pakai jilbab lagi di depan Gus! Ayo cepat pulang!"
Bungah yang masih memegang telinganya hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sebelum benar-benar ditarik menjauh, ia sempat menoleh ke arah Zidan dan melambaikan tangan kecilnya.
"Dadah, orang sedih! Jangan lupa senyum!" serunya dengan suara lembutnya yang khas, sementara sang Bunda terus mengomel sambil menyeretnya menjauh.
Zidan hanya bisa terpaku di tempatnya. Suara lembut Bungah masih terngiang, dan bayangan wajah polosnya tetap tertinggal di ingatan. Hati Zidan yang tadinya sepi, kini terasa sedikit lebih ramai hanya karena pertemuan singkat yang kacau itu.