NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Zombie NS

Suara alarm yang melengking tinggi terus menghantam dinding-dinding kaca lorong laboratorium, menciptakan resonansi yang menyakitkan di dalam gendang telinga. Li Wei berdiri mematung di tengah lorong, membiarkan uap dingin dari pipa yang pecah membasuh zirah putihnya yang kini ternoda jelaga. Di hadapannya, pintu-pabrikasi otomatis telah bergeser sepenuhnya, melepaskan gelombang cairan biru kental yang mengalir seperti darah mesin ke lantai keramik yang steril.

"Li Wei, demi Tuhan, bergeraklah!" teriak Chen Xi sambil menarik paksa lengan zirah Li Wei. "Gas saraf itu sudah mulai keluar dari ventilasi atas! Jika kita tetap di sini, paru-parumu akan membeku!"

Li Wei tidak bergeming. Matanya terpaku pada sosok-sosok yang merangkak keluar dari kegelapan tabung. Mereka bukan lagi manusia, namun sisa-sisa biologis yang dipaksa bersatu dengan perangkat keras militer. Kabel-kabel saraf berwarna perak menembus kulit mereka yang pucat, sementara rahang mereka telah digantikan oleh plat logam yang terus bergetar hebat.

"Mereka... mereka adalah klan Li," bisik Li Wei. Suaranya pecah, tertahan di balik masker zirahnya yang retak. "Lihat pola jahitan di kain yang tersisa itu, Chen Xi. Itu adalah seragam upacara klan kami. Mereka tidak pernah mati di Sektor 7. Mereka dibawa ke sini untuk menjadi... ini."

"Kak, mereka datang!" Xiao Hu menjerit, ia bersembunyi di balik punggung Chen Xi sambil memeluk kotak musiknya dengan jemari yang memutih. "Wajah mereka... mereka tidak punya mata, Kak! Hanya ada lampu biru yang berkedip!"

Salah satu makhluk itu, yang paling depan, mengeluarkan suara rintihan yang terdistorsi oleh modul suara mekanis. Makhluk itu menyeret tubuhnya yang bungkuk, meninggalkan jejak lendir kimia di lantai. Saat ia mendongak, cahaya biru dari sensor matanya mengunci posisi Li Wei.

"Mundur, Xiao Hu! Chen Xi, bawa dia ke ujung lorong!" perintah Li Wei tiba-tiba. Suaranya kini berubah, bukan lagi suara pria yang sedang berduka, melainkan nada dingin seorang komandan yang telah mengambil keputusan paling pahit.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Chen Xi, meski ia sudah mulai menarik Xiao Hu menjauh. "Kau tidak bisa melawan massa sebanyak itu sendirian dalam kondisi luka bahumu yang belum pulih!"

"Aku tidak sedang melawan musuh, Chen Xi," Li Wei menarik Bailong-Jian dari sarungnya. Pedang itu berdenging panjang, frekuensi energinya beresonansi dengan detak jantung Li Wei yang mulai memburu. "Aku sedang memakamkan keluargaku."

"Li Wei, jangan lakukan itu!" teriak Xiao Hu dengan tangis yang pecah. "Mungkin ada cara untuk menyelamatkan mereka! Kak Han bilang setiap nyawa punya harapan!"

Li Wei menoleh sejenak, menatap Xiao Hu dengan tatapan yang kosong. "Han sudah mati untuk melindungiku, Xiao Hu. Dan orang-orang ini... mereka sudah lama mati. Yang kau lihat hanyalah mesin yang memakai kulit mereka. Jika aku tidak menghentikan mereka, mereka akan terus menderita sebagai baterai tanpa akhir."

Makhluk-makhluk itu mulai menerjang. Gerakan mereka patah-patah namun sangat cepat, didorong oleh dorongan energi Qi yang dipaksa masuk ke dalam otot-otot yang sudah mati. Li Wei memejamkan mata sejenak, lalu mengaktifkan sistem sarafnya hingga mencapai batas maksimal.

"Neural Overclock... aktif," desis Li Wei.

Dunia di sekitar Li Wei seketika melambat. Ia bisa melihat setiap tetesan cairan biru yang melayang di udara, setiap getaran kabel pada tubuh monster-monster itu, dan setiap embusan gas saraf yang merayap turun. Namun, rasa sakit yang luar biasa menghantam otaknya. Peringatan merah berkedip di pandangan visualnya: Sinkronisasi 92%. Risiko kerusakan saraf permanen.

"Maafkan aku," gumam Li Wei saat ia menebas makhluk pertama yang melompat ke arahnya.

Bailong-Jian membelah udara dengan cahaya biru yang menyilaukan. Tebasan itu tidak hanya memotong daging, tetapi memutuskan aliran energi pada chip saraf yang tertanam di punggung makhluk tersebut. Sosok itu jatuh tersungkur tanpa suara, terbebas dari penderitaan mekanisnya.

"Li Wei! Di sebelah kiri!" Chen Xi berseru, ia menembakkan Yan-Zuo ke arah pipa di langit-langit, menciptakan ledakan uap yang mengalihkan perhatian massa zombie lainnya.

Li Wei berputar, kakinya menghantam lantai dengan kekuatan yang meretakkan keramik. Ia bergerak seperti bayangan di antara kerumunan monster. Setiap ayunan pedangnya presisi, mengincar titik lemah pada sambungan logam dan saraf biologis. Namun, setiap kali pedangnya mengenai sasaran, ia melihat kilasan memori—wajah paman, saudara sepupu, dan tetua klannya yang dulu pernah tertawa bersamanya di aula perjamuan.

"Berhenti menatap mereka sebagai manusia, Li Wei! Mereka adalah subjek liar!" teriak Chen Xi lagi, suaranya parau karena menghirup sedikit gas saraf. "Fokus pada pintu di ujung lorong! Aku butuh waktu untuk meretas kodenya!"

"Lakukan tugasmu, Chen Xi! Jangan biarkan Xiao Hu menghirup gas itu!" balas Li Wei sambil menendang dada seorang zombie yang mencoba mencengkeram lehernya.

"Aku takut, Kak Li Wei!" Xiao Hu meraung, menutup telinganya agar tidak mendengar suara tebasan logam yang beradu dengan tulang. "Kenapa dunia ini sangat jahat? Kenapa mereka melakukan ini pada keluarga Kakak?"

"Karena bagi mereka, kita hanyalah komponen, Xiao Hu!" Li Wei menebas dua zombie sekaligus, darah hitam bercampur minyak menyemprot ke pelindung dadanya. "Kita hanyalah baterai yang bisa diganti jika sudah habis!"

Li Wei merasakan dadanya sesak. Dragon Heart di dalamnya berdenyut liar, seolah-olah mencoba meledak keluar dari tulang rusuknya. Ia mulai kehilangan kendali atas kecepatannya. Gerakannya menjadi semakin brutal, semakin tidak terkendali. Ia tidak lagi sekadar membebaskan mereka; ia mulai meluapkan amarah yang selama ini ia pendam terhadap Kekaisaran, terhadap Zhao Kun, dan terhadap dirinya sendiri.

"Li Wei, kau melampaui batas waktu!" Chen Xi berteriak panik saat melihat zirah Li Wei mulai mengeluarkan percikan listrik statis. "Overclock sudah berjalan dua puluh detik! Sarafmu akan terbakar!"

Li Wei tidak mendengar. Pikirannya dipenuhi oleh rintihan monster-monster itu yang kini terdengar seperti suara manusia di telinganya. Ia melihat seorang zombie wanita yang memiliki seuntai kalung klan yang pecah di lehernya. Itu adalah bibinya.

"Kenapa..." Li Wei berhenti sejenak, pedangnya bergetar di tangannya.

Zombie wanita itu menerjang dengan rahang mekanis yang terbuka lebar. Li Wei terpaksa mengangkat pedangnya, menangkis serangan itu dengan punggung bilah, lalu memutar tubuhnya untuk memberikan serangan pamungkas yang menghancurkan modul kendali di tengkuknya.

"Kenapa kalian meninggalkanku sendirian di dunia ini?" Li Wei berteriak ke arah langit-langit lab yang dingin.

"Li Wei! Pintunya terbuka! Masuk sekarang!" Chen Xi berhasil membobol protokol keamanan manual di ujung lorong. Ia menarik Xiao Hu masuk ke dalam ruangan pusat kontrol yang lebih terlindungi.

Li Wei menatap sisa-sisa massa yang masih merangkak mendekat. Masih ada belasan dari mereka. Gas saraf kini sudah setinggi pinggang, menyebarkan rasa dingin yang mematikan. Li Wei menarik napas dalam-dalam, merasakan paru-parunya mulai teriritasi.

"Satu serangan terakhir," bisik Li Wei.

Ia menancapkan Bailong-Jian ke lantai, menyalurkan seluruh sisa energi dari inti sarafnya ke dalam bilah pedang. Gelombang kejut biru menyebar secara melingkar, meruntuhkan struktur langit-langit lorong kaca tersebut. Bongkahan beton dan kaca raksasa jatuh menimbun massa zombie, sekaligus menciptakan barikade yang menghalangi aliran gas saraf ke arah ruangan pusat kontrol.

Li Wei terhuyung, ia mencabut pedangnya dan berlari menuju pintu sebelum Chen Xi menutupnya secara permanen. Ia jatuh tersungkur di lantai ruangan pusat kontrol tepat saat pintu beton itu berdentum menutup.

Kesunyian seketika menyergap. Hanya terdengar suara napas Li Wei yang berat dan terputus-putus. Ia melepaskan masker zirahnya, membiarkan wajahnya yang pucat dan penuh keringat terlihat. Darah segar mengalir dari hidungnya, tanda bahwa sistem sarafnya telah mengalami trauma berat akibat penggunaan kekuatan yang berlebihan.

"Kau gila," bisik Chen Xi, ia terduduk lemas di samping Li Wei. "Kau hampir membunuh dirimu sendiri di sana."

Li Wei tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya yang masih gemetar hebat. Xiao Hu mendekat, ia tidak lagi memegang kotak musiknya, melainkan sepotong kain bersih. Dengan tangan yang ragu-ragu, ia mengusap darah di pipi Li Wei.

"Kakak... Kakak terlihat sangat menakutkan tadi," ucap Xiao Hu pelan, matanya penuh dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. "Kakak seperti... bukan Kak Li Wei yang kukenal."

Li Wei menatap Xiao Hu, lalu memalingkan wajahnya. "Memang bukan, Xiao Hu. Pria yang kau kenal mungkin sudah mati di lorong itu bersama keluarganya."

"Jangan bicara seperti itu," sela Chen Xi, suaranya tajam namun ada nada simpati di dalamnya. "Kau melakukan apa yang harus dilakukan. Jika tidak, kita semua akan menjadi bagian dari koleksi tabung mereka."

Li Wei bangkit berdiri dengan susah payah, menyandarkan tubuhnya pada konsol utama pusat kontrol yang dipenuhi layar monitor yang masih menyala. Matanya menyapu layar-layar itu, mencari informasi terakhir yang mereka butuhkan. Namun, tiba-tiba semua layar itu berkedip serentak, berubah menjadi warna putih yang menyilaukan.

Sebuah proyeksi hologram mulai terbentuk di tengah ruangan. Sosok seorang pria tua dengan seragam kebesaran Kekaisaran, berdiri dengan tegap dan tangan di belakang punggung. Wajahnya yang tegas dan penuh wibawa tampak sangat nyata, meski hanya terbuat dari partikel cahaya.

"Luar biasa, Li Wei," suara itu bergema, dingin dan penuh otoritas. "Aku selalu tahu bahwa kau adalah produk terbaik dari klan Li. Bahkan dalam kondisi emosional yang hancur, insting membunuhmu tetap sempurna."

Li Wei membeku. Ia mengenal suara itu lebih baik daripada suaranya sendiri. "Jenderal Zhao Kun."

Hologram Jenderal Zhao Kun bergetar pelan, memancarkan pendar putih yang kontras dengan kekacauan berdarah di sekeliling mereka. Pria tua itu menatap tumpukan mayat subjek eksperimen di balik barikade kaca dengan sorot mata yang hampir menyerupai rasa bangga seorang guru pada murid pilihannya.

"Kau melihatnya sekarang, Li Wei?" Zhao Kun melangkah maju di dalam proyeksi cahaya itu, meskipun kakinya hanya menembus genangan cairan biru di lantai. "Kau merasa jijik, namun pedangmu bergerak dengan efisiensi yang tidak dimiliki prajurit biasa. Kau bukan lagi sekadar perwira. Kau adalah instrumen pembersihan yang sempurna."

"Diam!" Li Wei meraung, suaranya parau hingga tenggorokannya terasa terbakar. Ia mencoba berdiri, namun lututnya goyah akibat efek sisa Neural Overclock. "Kau menjadikan keluarga klanku sebagai baterai... Kau memanen emosi mereka saat mereka masih bernapas!"

"Martabat klan Li adalah untuk melayani Kekaisaran," balas Zhao Kun dingin. Suaranya bergema melalui pengeras suara pusat kontrol yang tersembunyi. "Klanmu dihancurkan bukan karena pengkhianatan, Li Wei. Mereka dipilih karena kualitas saraf mereka adalah yang tertinggi di seluruh benua Utara. Kematian mereka memberikan energi pada persenjataan yang menjaga jutaan nyawa lainnya. Bukankah itu sebuah pengorbanan yang mulia?"

"Mulia?" Chen Xi mendengus, tangannya masih memegang Yan-Zuo yang ditodongkan ke arah proyektor hologram. "Kau menyebut pembantaian dan ekstraksi paksa ini sebagai kemuliaan? Kau hanyalah seorang tukang jagal yang memakai seragam jenderal!"

"Strategis Chen Xi dari Naga Laut," Zhao Kun menoleh, senyum tipis yang meremehkan muncul di wajahnya. "Aku tidak menyangka kau masih hidup setelah peristiwa di gudang besi itu. Keberadaanmu di samping Li Wei hanyalah sebuah variabel yang tidak perlu. Kau mengotori pikirannya dengan gagasan kebebasan yang tidak eksis."

"Jangan dengarkan dia, Kak Li Wei!" Xiao Hu berteriak dari balik konsol, suaranya bergetar hebat. "Dia hanya ingin membuat Kakak merasa seperti monster agar Kakak patuh padanya lagi!"

Zhao Kun tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam kering. "Monster? Tidak, Xiao Hu. Li Wei tidak menjadi monster karena aku. Dia menjadi monster karena dia menikmati efisiensi dari kematian yang ia berikan. Lihatlah tanganmu, Li Wei. Rasakan denyut Dragon Heart di dadamu. Energi yang kau gunakan untuk membantai keluarga klannmu tadi... itu adalah energi yang dipanen dari penderitaan mereka sendiri. Kau membunuh mereka menggunakan nyawa mereka."

Li Wei menatap telapak tangannya. Darah hitam dari subjek eksperimen yang mati tadi mulai mengering, meninggalkan bau logam yang menyengat. Ia merasakan jantungnya berdenyut dengan ritme yang tidak wajar, sebuah resonansi yang terasa seolah-olah ia sedang meminum duka dari udara di sekitarnya.

"Apa yang kau inginkan dariku, Jenderal?" tanya Li Wei dengan nada yang tiba-tiba tenang, sebuah ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan sebelumnya.

"Sederhana," Zhao Kun merentangkan tangannya. "Kembalilah ke pusat. Serahkan dirimu dan anak itu. Darah Xiao Hu memiliki imunitas yang dibutuhkan untuk menstabilkan generasi baru Qi-Battery. Dengan kau sebagai Komandan dan dia sebagai inang, Kekaisaran tidak akan terkalahkan."

"Dia bukan barang dagangan!" bentak Chen Xi, jarinya hampir menarik pelatuk senjatanya.

"Li Wei," Zhao Kun mengabaikan Chen Xi, matanya mengunci mata Li Wei. "Jika kau menolak, protokol penghancuran diri fasilitas ini akan aktif dalam sepuluh menit. Kau, pelarian dari Naga Laut itu, dan gadis kecil itu akan terkubur di sini bersama hantu-hantu klanmu. Pilihan ada di tanganmu: menjadi pahlawan yang membawa kedamaian, atau menjadi bangkai di ruang tangis ini."

Li Wei menunduk, bayangan wajah ibunya yang muncul di layar tadi kembali terlintas. Ia teringat janji Han di pipa induk sebelum ia terpaksa mengakhiri hidup sahabatnya itu—janji untuk melindungi Xiao Hu. Ia melihat ke arah pintu beton yang sudah tertutup rapat, menghalangi mereka dari massa monster dan gas saraf di luar.

"Chen Xi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meretas jalur evakuasi bawah tanah?" tanya Li Wei tanpa menoleh.

"Dengan sistem yang baru saja disabotase Zhao Kun? Setidaknya lima belas menit," jawab Chen Xi dengan gigi terkatup. "Kita tidak punya waktu sebanyak itu."

"Aku akan memberimu waktu," Li Wei mengangkat Bailong-Jian, namun kali ini ia tidak mengarahkannya pada hologram. Ia mengarahkannya pada inti energi yang menyuplai proyektor di tengah ruangan.

"Kau akan mati sia-sia, Li Wei!" Zhao Kun memperingatkan, wajah hologramnya mulai berdistorsi karena gangguan frekuensi.

"Aku sudah mati sejak hari kau membantai klan Li, Jenderal," balas Li Wei. "Sekarang, aku hanyalah hantu yang akan menyeretmu ke neraka bersamaku."

Dengan satu tebasan vertikal yang memuat seluruh sisa energi Neural Overclock-nya, Li Wei menghancurkan unit proyektor tersebut. Ledakan bunga api listrik menyambar ke seluruh ruangan, mematikan sosok Zhao Kun dalam sekejap. Ruangan pusat kontrol kini hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang berputar lambat.

"Chen Xi, sekarang!" perintah Li Wei.

Chen Xi segera melompat ke arah panel kontrol cadangan, jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi di atas papan ketik virtual. "Aku sedang mencoba membuka gerbang limbah! Xiao Hu, bantu aku mematikan katup tekanan udara di sebelah sana!"

Xiao Hu berlari dengan kaki gemetar, namun matanya menunjukkan tekad yang baru. Ia memutar katup besar di sudut ruangan dengan seluruh kekuatannya, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang halus.

Li Wei berdiri di depan pintu utama yang mulai digedor dari luar oleh sisa-sisa subjek eksperimen yang masih bertahan. Suara hantaman logam pada beton terdengar seperti detak jam kematian yang menghitung mundur hidup mereka. Ia membersihkan bilah pedangnya dengan sisa kain seragamnya, gerakannya lambat dan metodis.

"Aku monster mereka," bisik Li Wei pada kegelapan, menerima kenyataan itu sebagai baju zirah barunya. "Dan mulai sekarang, monster ini akan memburu penciptanya."

"Pintu terbuka!" teriak Chen Xi saat lantai di tengah ruangan bergeser, memperlihatkan lorong sempit yang menuju ke sistem pembuangan air. "Masuk! Cepat!"

Xiao Hu melompat masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Chen Xi. Li Wei menoleh sekali lagi ke arah barikade kaca yang menampung mayat-mayat keluarganya. Ia memberikan satu hormat militer terakhir—bukan untuk Kekaisaran, tapi untuk orang-orang yang telah dikhianati olehnya.

"Maafkan aku," ucapnya pelan sebelum melompat turun ke dalam kegelapan, sesaat sebelum seluruh laboratorium itu diguncang oleh ledakan awal sistem penghancuran diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!