Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian Itu Sudah Resmi
Paket kurir itu tergeletak di atas meja kerja di Studio A.M.R.A seperti benda asing. Amplop cokelat tebal, logo firma hukum Bapak Handoko terpampang di sudut kirinya. Amara tahu isinya sebelum membuka.
Selama berminggu-minggu, email-email berjalan bolak-balik, revisi kata-kata, negosiasi angka. Semuanya telah berakhir pada kesepakatan yang adil, bahkan murah hati di pihak Rafa. Tapi melihat fisiknya, merasakan beratnya di tangan, adalah hal yang berbeda.
Dia menunda. Dia membersihkan studio yang sudah rapi. Dia menyusun ulang gulungan kain berdasarkan warna. Dia menyeduh teh, lalu membiarkannya dingin. Sinar matahari sore menyorot langsung ke amplop itu, membuatnya seolah bersinar dengan cahaya yang mengancam.
Akhirnya, dengan napas tertahan, dia membuka segelnya. Tumpukan kertas hukum dengan bahasa yang kaku dan definitif tersusun rapi.
"PERJANJIAN PERCERAIAN DAN PENGATURAN HAK ASUH ANAK."
Kalimat pembukanya saja seperti pukulan palu.
Dia membacanya perlahan. Pasal demi pasal.
Pasal 3: Pembagian Harta Bersama. Rumah utama di Pondok Indah akan dijual, hasilnya dibagi 50-50. Deposito dan investasi lain dibagi dengan formula yang adil. Rafa bahkan mengalokasikan sebagian dari bagiannya untuk dana pendidikan Luna hingga perguruan tinggi.
Pasal 5: Hak Asuh dan Pengasuhan. Joint custody. Luna tinggal secara bergantian seminggu di tempat Amara, seminggu di tempat Rafa. Liburan besar bergantian. Semua keputusan penting tentang pendidikan, kesehatan, dan agama harus disetujui bersama.
Pasal 7: Tunjangan Anak. Rafa akan membayar tunjangan bulanan yang cukup besar hingga Luna berusia 18 tahun, bahkan lebih jika dia melanjutkan kuliah.
Pasal 9: Tidak Ada Tuntutan Lebih Lanjut. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menuntut ganti rugi atau hal lainnya di pengadilan setelah ini.
Adil. Sangat adil. Bahkan menguntungkannya. Bapak Handoko telah melakukan pekerjaan dengan brilian. Tapi saat Amara menyelesaikan halaman terakhir, sebuah realitas yang lebih besar dari sekadar kata-kata di atas kertas menghantamnya: ini adalah akhir. Akhir resmi.
Akhir legal dari "Amara dan Rafa". Akhir dari janji "sampai maut memisahkan". Akhir dari impian yang pernah mereka rajut bersama di pantai bertahun-tahun lalu.
Dia tidak hanya meninggalkan sebuah pernikahan yang buruk. Dia sedang meninggalkan sebuah kehidupan. Kehidupan yang dia jalani selama sepuluh tahun.
Kehidupan sebagai Istri Rafa Aditya. Kehidupan di rumah mewah itu, dengan rutinitasnya, dengan pesta-pesta yang dia hadiri sebagai pendamping, dengan identitas sosial yang melekat padanya. Dia sedang memotong masa lalunya sendiri, memisahkan sel-sel kenangannya yang sudah menyatu dengan kehidupan bersama Rafa.
Dan ada duka di sana. Sebuah duka yang aneh, yang tidak bisa dirayakan atau dipamerkan. Duka untuk sesuatu yang seharusnya mati.
Tapi tetap saja, ada kehilangan. Kehilangan keluarga inti yang dia impikan untuk Luna. Kehilangan sahabat yang pernah ada pada Rafa. Kehilangan versi dirinya yang polos dan percaya bahwa cinta cukup untuk mengalahkan segalanya.
Air matanya jatuh, membasahi kertas pasal 7. Dia menangis bukan untuk Rafa si pengkhianat. Dia menangis untuk pria muda yang dulu menatap matanya dan berkata,
"Aku akan membuatmu bahagia." Dia menangis untuk wanita muda yang percaya padanya. Dia menangis untuk semua "mungkin" dan "seandainya" yang kini harus dikubur selamanya.
Dua hari kemudian, sebuah pesan masuk dari Bapak Handoko: "Ibu, Bapak Rafa telah menandatangani dan mengembalikan dokumennya. Tanda tangannya sudah terlegalisir. Tinggal tanda tangan Ibu. Apakah Ibu ingin saya yang antar, atau Ibu yang ambil di kantor?"
Dia memilih mengambil sendiri. Dia perlu keluar dari studio.
Di kantor Bapak Handoko yang tenang, dia diberi dokumen asli. Di halaman terakhir, di sebelah tanda tangan Rafa yang sudah ada—tanda tangan yang tegas, tidak ragu-ragu—terdapat secarik kertas kecil yang diselipkan. Tulisan tangan Rafa.
"Amara, Dokumen ini sudah aku tanda tangani. Aku menghormati keputusanmu. Dan terima kasih sudah memberi aku kesempatan—melalui pengaturan hak asuh ini—untuk tetap menjadi ayah Luna."
"Aku tahu kata-kata sudah tidak ada artinya lagi. Tapi izinkan aku mengatakannya sekali, untuk terakhir kalinya: Aku masih berharap. Bukan berharap kau memaafkanku dan kita kembali."
"Tapi berharap ada cara untuk mengulang waktu, untuk menjadi pria yang lebih baik sebelum semuanya hancur, agar aku tidak pernah menyakitimu seperti itu."
"Tapi waktu tidak bisa diulang. Aku hanya bisa berjanji untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk menjadi ayah yang layak untuk Luna, dan untuk terus memperbaiki diri. Itu satu-satunya cara aku bisa menghormati cinta yang pernah kita miliki."
"Selamat jalan, Mara_Rafa."
Amara memegang kertas itu, tangannya gemetar. Ini bukan manipulasi. Ini bukan drama. Ini adalah sebuah pengakuan final dari seseorang yang telah mencapai dasar jurangnya dan mulai menerima realitas.
Kata-kata "aku masih berharap" dan "cinta yang pernah kita miliki" membakar dadanya.
Dia membayangkan Rafa duduk di apartemen barunya yang masih kosong, menulis catatan ini sebelum menandatangani dokumen yang secara resmi mengakhiri ikatan mereka.
Apakah dia menangis? Apakah tangannya juga gemetar?
Bapak Handoko dengan sopan memberi ruang, meninggalkannya sendirian di ruang konferensi kecil.
Di depannya, di atas meja mahoni yang mengilat, tergeletak dokumen dan sebuah pena hitam mahal. Pena itu tampak berat, seperti terbuat dari seluruh penderitaan mereka.
Amara menatapnya. Dia memejamkan mata.
Gambar-gambar berkelebat:
Taplak meja putih yang bernoda sirup, dan suara Rafa yang kesal lebih peduli pada kain daripada rasanya yang hancur.
Kuitansi The Orchid Suites yang tersembunyi, berdebu, seperti mayat rahasia.
Foto Rafa dan Yuni yang tersenyum mesra, sebuah pengkhianatan yang begitu biasa hingga terasa lebih menghina.
Air mata Luna di kamarnya saat mereka mengumumkan perpisahan, dan kata-katanya yang bijaksana yang melukai lebih dalam.
Rafa yang hancur dan basah kuyup di studionya, mengakui semua kebobrokannya.
Lalu, gambar-gambar lain muncul, lebih terang, lebih kuat:
Senyum Luna di panggung sekolah, berani dan percaya diri, setelah mereka berdua bertepuk tangan dari sisi yang berbeda auditorium namun dengan kebanggaan yang sama.
Rak-rak di Studio A.M.R.A yang penuh dengan karya dan potensi miliknya sendiri.
Ekspresi puas Ibu Dewi saat melihat kliniknya yang baru.
Kartu nama Anton si kurator, dan getaran harapan untuk pameran pertamanya.
Pelajaran menggambar bersama Luna di lantai studio, tertawa karena tumpahan cat.
Percakapan santai dengan Rafa saat serah terima jadwal Luna, yang kini lebih mudah, lebih jernih, tanpa muatan harapan yang melukai.
Dia membuka mata. Ruangan terasa jernih. Pena itu masih di sana.
Dia mengambil pena. Dingin dan berat di genggamannya. Dia membuka halaman terakhir dokumen, di garis yang bertanda "Pihak Pertama (Istri)".
Jarinya memegang pena, ujungnya hampir menyentuh kertas. Dadanya sesak oleh sebuah gelombang emosi terakhir, sebuah pengakuan yang hanya bisa diungkapkan dalam kesunyian hatinya sendiri:
"Aku masih mencintaimu, Rafa."
Kalimat itu muncul, jujur dan perih. Bukan cinta romantis yang berapi-api. Tapi cinta untuk sejarah bersama, untuk orang tua anaknya, untuk bagian dari hidupnya yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Cinta yang telah dilukai, dikhianati, dan diinjak-injak, namun entah bagaimana, jejaknya masih ada.
"Tapi dikhianati itu sakit." Lanjut hatinya, sementara mata nya tetap kering.
"Dan dikhianati selama bertahun-tahun, dengan kebohongan yang direncanakan, dengan selingkuhan yang hidup di bawah atap kita sendiri... itu menghancurkan. Itu bukan luka yang bisa dijahit kembali. Itu adalah pembusukan. Dan kita harus memotongnya agar sisanya bisa hidup."
Dia melihat tanda tangan Rafa di sebelahnya. Dia melihat catatan kecil itu lagi.
"Aku masih berharap." Mereka berdua masih mencintai bayangan dari apa yang pernah mereka miliki. Mereka berdua masih berharap pada sebuah alternatif masa lalu yang tidak pernah ada.
Tapi hidup, pikir Amara dengan sebuah ketenangan yang mendadak, tidak terjadi di masa lalu. Hidup terjadi di sekarang. Dan sekarang, dia adalah seorang desainer dengan studionya sendiri, seorang ibu yang tangguh, seorang wanita yang selamat.
Sekarang, Rafa adalah seorang ayah yang berusaha sembuh, seorang pria yang harus membangun ulang karir dan hidupnya dari puing-puing. Sekarang, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah mantan pasangan yang harus belajar menjadi mitra parenting yang baik.
Cinta yang tersisa itu tidak cukup—dan tidak seharusnya cukup—untuk menyatukan mereka kembali. Kadang-kadang, cinta yang paling dewasa adalah mengakui bahwa sesuatu telah mati, dan memberinya penguburan yang layak.
Dengan napas terakhir yang dalam, Amara menekankan ujung pena ke atas kertas. Dia menandatangani namanya:
Amara S. Dewanto.
Tanda tangannya mengalir, tegas, dan indah. Tanda tangan seorang wanita yang memiliki namanya sendiri kembali.
Suara gesekan pena di kertas bergema di ruangan yang sunyi. Saat dia mengangkat pena, sudah selesai.
Tidak ada kilatan petir. Tidak ada tangisan histeris. Hanya sebuah keheningan yang sangat panjang, yang kemudian perlahan-lahan diisi oleh suara lalu lintas dari jalanan di bawah, oleh detak jantungnya sendiri yang stabil, dan oleh rasa... lega.
Dia meletakkan penanya. Dia menyusun dokumen, menyelipkan catatan Rafa kembali di antaranya. Dia berdiri, kakinya sedikit goyah, tapi dia berdiri.
Dia berjalan keluar ruangan, menyerahkan dokumen itu pada Bapak Handoko. "Sudah selesai, Pak."
Bapak Handoko tersenyum simpatik. "Proses selanjutnya akan saya urus, Ibu. Kuat ya, Ibu Amara. Ini awal yang baru."
Amara mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Di luar, langit Jakarta berwarna jingga keemasan, tanda matahari akan terbenam. Dia tidak langsung pulang.
Dia berjalan ke sebuah taman kecil di dekat kantor pengacara, duduk di sebuah bangku.
Dia melihat pasangan muda berjalan bergandengan tangan, tertawa. Dulu, itu mereka. Dia melihat seorang ibu mendorong kereta bayi, wajahnya lelah namun bahagia.
Dulu, itu juga dia.
Tapi "dulu" tidak lagi menjadi penjara. "Dulu" sekarang adalah sebuah album foto yang bisa dia buka kapan saja, tapi tidak harus dia tinggali.
Dia mengirim pesan pada Rafa, hanya satu kata: "Tertanda."
Beberapa menit kemudian, balasannya datang, juga satu kata: "Mengerti."
Dan itu cukup. Sebuah bab telah berakhir. Sebuah buku telah ditutup. Rasa sakitnya belum hilang, dan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya hilang. Cinta yang tersisa itu juga akan tetap ada, seperti bekas luka yang kadang terasa gatal.
Tapi malam ini, saat dia berjalan menuju mobilnya, dia tidak merasa seperti orang yang kalah atau pemenang. Dia hanya merasa seperti seseorang yang akhirnya berani meletakkan beban yang terlalu berat untuk dipikul, dan sekarang, dengan tangan yang lebih ringan, siap untuk membentuk sesuatu yang baru—dari tanah liat kehidupannya sendiri, kali ini, dengan tangannya sendiri.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.