NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI

"Terima kasih ya, bang, " ujar Aira sambil menyerahkan helm pada driver ojek online.

"Sama-sama, Neng."

Driver itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Aira setelah selesai menjalankan misi orderannya.

"Alhamdulillah, sampai juga."

Aira berdiri lama menatap rumah panti yang di kirimkan Siska.

Plang besar diatas pintu bertuliskan PANTI ASUHAN HASANAH dengan perkarangan yang luas. Pohon- Pohon di beberapa titik dan potongan batang pohon di bawahnya menjadi tempat biasanya ia mengajar.

Ingatan Aira pelan-pelan tergambar di memorinya, inilah tempat ia besar bersama anak-anak yatim lainnya. Ia tersenyum penuh rasa syukur bisa kembali ke tempat itu.

Aira berjalan perlahan memasuki pekarangan. Pagi itu suasananya sangat sepi, 'Anak-anak mungkin sedang belajar di dalam ruangan,' pikirnya.

TOKTOK TOK

"Assalamu'alaikum."

Tak ada jawaban. Aira mengetuk kembali hingga tiga kali, tapi masih belum ada yang menjawab.

Aira berjalan ke sisi samping menghampiri pintu yang agak sedikit terbuka. Aroma makanan tercium hingga beberapa meter dari pintu itu.

"Assalamu'alaikum, " teriak Aira lagi.

"Wa'alaikumsalam, " sahut seseorang dari dalam.

KRIEEET

"Eh, ya Allah Aira. Ayo masuk masuk, " ujar seorang ibu paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan kurang lebih seusia Siska, ketua panti.

Aya melangkah masuk melalui pintu samping. Mengambil tangan itu dan mencium punggung tangannya.

"Kamu dari mana kok bawa tas besar begitu?" tanya wanita itu heran.

"Itu Bu.. saya.. Ma--, "

"Loh, Aira kamu sudah sampai? kok lewat pintu samping? " potong Siska yang sudah berdiri di pintu dapur.

"Bu Siska, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Aira berjalan cepat menghampiri Siska mencium punggung tangannya.

"Aira tadi panggil dari pintu depan tapi nggak ada yang jawab, Bu. Jadi cari pintu lain, rupanya Ibu ini lagi masak, pintunya renggang sedikit akhirnya salam Aira terdengar."

Siska mengangguk sambil mendengar penjelasan Aira seksama. Matanya tiba-tiba melihat tas besar di tangan Aira.

"Loh, kok bawa tas besar? mau kemana? " tanya Siska.

"Bu, sebaiknya bawa Aira ke dalam, nanti saya yang urus makan siang anak-anak. Kebetulan baru selesai."

"Oh iya, Terima kasih Bi Darma."

Siska mengajak Aira ke ruangannya. Sejak Aira pindah dari panti untuk menikah, mereka sekarang menganggap Aira sebagai tamu. Jadi perlu diperlakukan semestinya.

"Sini duduk, Nak. Ini kenapa bawa tas besar? "

"Aira bermaksud.. tinggal di sini, Bu. Seperi tawaran Ibu tempo hari."

"Tapi Bara setuju kamu tinggal di sini? Rasanya waktu di rumah sakit, dia menolak tawaran Ibu."

Aira tertunduk, ia bingung mau bercerita dari mana. Ia juga sungkan menceritakan masalah yang sedang melanda rumah tangganya yang belum sebulan.

"Apa ada masalah, Nak? "

Aira mengangguk perlahan. Matanya mulai buram karena air mata yang siap tumpah.

"Sebenarnya... ibu mertua Aira menyuruh Aira pergi dari rumah, Bu. "

"Astaghfirullah, kenapa bisa begitu Aira? apa kamu melakukan kesalahan? "

Aira mengangguk pelan, air mata akhirnya meluncur di pipinya tanpa pamit.

"Aira dianggap beban di sana, Bu. Sakit Aira ini membuat Aira tak berguna. Aira berusaha memperbaiki penilaian ibu mertua, jadi Aira memaksakan diri bekerja mengurus rumah, memasak, tapi berakhir mengacaukan semuanya sendiri. "

"Ya Allah.. jadi kamu kesini tanpa sepengetahuan dan seijin Bara? "

Aira mengangguk lagi. "Tapi Bu, sebaiknya... jangan beritahu mas Bara, Aira ada di sini."

"Loh, kenapa? dia pasti cemas mencarimu, Aira. "

"Jangan Bu, nanti Aira pasti dipaksa pulang lagi ke rumahnya. Aira mau coba mengurus diri sendiri saja Bu di sini. Aira akan bekerja membantu di sini, mengajar atau apa saja, Bu."

Matanya memelas menatap Siska penuh harap. Tanganya menangkup didada memohon. Siska terdiam menatapnya.

"Baiklah, sementara kamu tinggal di sini dulu, nanti Ibu bicarakan dengan Bara, ya. "

Aira terdiam, lalu akhirnya mengangguk patuh.

Aira membawa tasnya ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang meletakkan tas dan ponsel di atas nakas. Ia sengaja menonaktifkan ponselnya supaya Bara tak bisa menghubungi. Aira belum siap berbicara dengan Bara saat ini.

Aira berlalu ke dapur membantu Bi Darma menyiapkan makan siang untuk anak-anak, lalu membawa termos nasi berukuran besar ke dalam kelas.

"Assalamu'alaikum, " sapanya pada anak-anak panti yang sedang menunggu pembagian makan siang.

"Walaikumsalam, KAK AIRAAAA, " teriak mereka terkejut melihat Aira tiba-tiba ada di ruangan itu.

Mereka berlarian menghampiri nya dan memeluk Aira bergantian. Rasa hangat menjalar menelusup ke hati Aira. Kerinduannya pada anak-anak panti yang ia ajari membaca dan berhitung akhirnya terbayar.

Memorinya kembali melintas saat ia bermain tebak kata di dalam ruangan kelas, membantu anak-anak kecil yang tak bisa membawa tempat makannya dan banyak lagi.

Aira bahagia bertemu mereka kembali, seakan mengembalikan potongan puzzle kenangan yang sempat hilang.

Siska dan Bi Darma melihat momen pertemuan guru dan murid itu penuh haru. Mereka saling tatap dan senyuman bahagia menyabit di bibir mereka.

***

Hari makin larut, langit sudah gelap sejak dua jam lalu. Jam dinding menunjuk angka delapan malam. Suasana rumah Bara sepi, hanya Norma yang duduk santai di ruang tamu memantau ponselnya.

"Assalamu'alaikum, " teriak Bara dari luar.

CEKLEK

"Wa'alaikumsalam, " jawab Norma cepat.

"Kok sepi, Bu? " tanya Bara sambil melepas sepatu.

"Puspa pamitan sama bosnya, Aira nggak tahu mungkin di kamar. Nggak ada keluar dari siang tadi, " jawab Norma santai masih dengan mata menatap layar.

Bara berjalan masuk menuju kamarnya.

CEKLEK

"Assalamu'alaikum, " ucap Bara sambil membuka pintu.

Ia tertegun menatap ruangan itu... kosong. Bara ke kamar mandi, tak ada.

Bara tiba-tiba cemas, Ia bergegas ke kamar melihat tas pakaian tak ada diatas lemari lalu membuka lemari pakaian---kosong.

"Astaghfirullah, Aira.. kamu kemana? " gumamnya panik.

Bara merogoh saku mencari ponsel. Ia memang tak menghubungi Aira sama sekali hari ini karena terlalu fokus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

"Nomor yang Anda hubungi tidak dapat menerima panggilan ini. Seg--."

Bara mematikan ponsel dan mencobanya lagi beberapa kali, tapi masih sama. Tidak aktif.

"Bu.. Ibu.. " panggil Bara sambil menghampiri Norma.

"Aira tidak ada di kamar, bajunya juga tidak ada di lemari. Ibu yakin tidak tahu dia kemana? "

Norma hanya mengendikkan bahu.

"Ibu banyak di dalam kamar. Karena dia sudah bersih-bersih rumah dan masak jadi ibu di kamar saja main ponsel. Ibu tak melihatnya pergi, dia juga nggak ada pamit. "

"Ya Allah, Aira kamu dimana? " gumam Bara lirih.

Bara tahu Aira tak punya teman dekat. Dia penyendiri sejak dulu. Akhirnya Bara bingung ke mana mencari istrinya.

Lalu...Bara teringat pembicaraan mereka kemarin malam, ia membuka ponselnya mencari kontak 'Bu Siska' dan mencoba mengubunginya.

TUUUUT

TUUUUT

"Assalamu'alaikum Bara."

"Wa'alaikumsalam, Bu Siska. Maaf Bu saya mengganggu istirahatnya. Eeeh... saya mau tanya. Apa... Aira ada di panti? "

"Iya, Nak. Aira disini, siang tadi sampai."

"Alhamdulillah, syukurlah Bu. Karena Bara baru sampai rumah, dan lihat Aira tidak ada."

"Ibu juga terkejut, karena dia menghubungi Ibu minta alamat panti. Saya kira cuma mau silaturahmi tapi dia bawa tas baju juga."

"Ya Allah.. maaf ya Bu, jadi begini situasinya. Sebentar Bara menyusul ke sana ya Bu. Bara jemput Aira."

"Eeeh Bara...Begini.. Bagaimana kalau biarkan Aira di sini dulu ya beberapa hari? Biar dia tenang dulu. Nanti kalau Bara ada waktu, bisa mampir ke Panti kita bicarakan pelan-pelan. Karena.. Ibu sudah mencoba membujuk Aira supaya kembali. Tapi Aira...tidak mau."

Bara tertegun mendengar ucapan Siska.

"Baik, Bu Siska. Saya usahakan besok bisa mampir ke sana. "

"Ya, Nak. Malam ini kamu istirahat dulu, ya. Jangan khawatirkan Aira. Dia aman di sini."

"Baik, Bu. Terima kasih, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

TUTTUTTUTTUTTUT

Bara menghela nafas panjang terpaku menatap layar dan mematikan telponnya.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!