Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KADO SPESIAL DARI RAFI
Beberapa hari setelah ulang tahunku, Rafi datang menjemputku dengan wajah yang penuh dengan rahasia. Dia mengajakku untuk pergi ke suatu tempat tanpa memberitahu aku kemana kita akan pergi.
“Kamu hanya perlu mempercayaiku saja ya, Caca,” katanya dengan senyum misterius saat membuka pintu mobil untukku.
Perjalanan sekitar setengah jam membuatku semakin penasaran. Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah tua yang sedang direnovasi. Rumah itu tidak terlalu besar tapi memiliki taman yang luas dan tampak sangat nyaman.
“Kamu kenal rumah ini?” tanya Rafi saat kita turun dari mobil.
Aku menggeleng-geleng kepala sambil melihat sekeliling. “Tidak. Tapi rumah ini terlihat sangat menarik.”
“Mari kita masuk saja,” ujarnya dengan senyum lebar sambil membuka pintu gerbang.
Saat memasuki rumah, aku terkejut melihat bahwa bagian dalamnya sudah direnovasi dengan sangat cantik.
Lantai kayu yang mengkilap, dinding berwarna putih bersih, dan jendela besar yang membuat ruangan menjadi terang benderang.
Di ruang tamu ada sebuah meja besar dengan bunga segar di tengahnya, dan di atas meja itu ada sebuah kotak kayu besar yang dibalut dengan pita merah.
“Ini adalah kado spesial untukmu, Caca,” ujar Rafi dengan suara penuh emosi saat membawa kotak itu dan memberikannya padaku. “Ini adalah hadiah dari seluruh keluarga kami.”
Aku membuka kotak dengan hati-hati dan menemukan sebuah surat serta sebidang tanah beserta dokumen rumah. Aku membaca surat dengan tangan yang sedikit gemetar:
Untuk Caca, cinta terbaik kami,
Rumah ini adalah tempat dimana Rafi dulu sering bermimpi tinggal bersama teman terbaiknya. Kami membeli dan merenovasinya khusus untukmu.
Tanah dan rumah ini adalah milikmu sepenuhnya. Kamu bisa tinggal di sini kapan saja kamu mau, atau bahkan menjadikannya sebagai rumahmu jika kamu ingin kembali ke kampung.
Kamu telah membawa banyak kebahagiaan dan cinta dalam hidup kami. Ini adalah cara kami untuk menunjukkan betapa kamu berarti bagi kami. Kamu selalu akan memiliki tempat di hati dan rumah kami.
Aku tidak bisa menahan air mata bahagia yang mengalir deras di pipiku. Aku langsung memeluk Rafi dengan sangat erat. “Terima kasih banyak! Ini adalah hadiah terbaik yang pernah kudapatkan dalam hidupku!”
“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Caca,” jawabnya dengan suara lembut sambil memelukku kembali. “Rumah ini juga menjadi bukti janji kita dulu bahwa kita akan selalu bersama.”
Kita berjalan-jalan mengelilingi rumah dan taman. Rafi menunjukkan aku kamar yang sudah disiapkan khusus untukku—dinding berwarna muda, tempat tidur besar dengan bantal-bantal lembut, dan rak buku yang sudah diisi dengan buku-buku kesukaanku.
Di sudut kamar ada sebuah meja kerja dengan komputer baru dan berbagai macam alat tulis yang cantik.
“Kita bisa mengerjakan pekerjaan rumah bersama di sini,” ujar Rafi dengan senyum. “Atau hanya duduk dan berbincang seperti dulu.”
Saat kita sedang berada di taman belakang, Rio datang dengan membawa beberapa berkas dokumen. Dia memberikan senyum ramah padaku dan kemudian menghadap Rafi.
“Informasi yang saya dapatkan menunjukkan bahwa mereka berencana untuk menyerang pada malam acara pembukaan usaha baru keluarga Bara minggu depan,” ujar Rio dengan suara serius. “Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka masih berkuasa dan tidak suka dengan kesuksesan keluarga Anda.”
Rafi mengangguk dengan wajah yang semakin serius. “Kita harus segera memberitahu Ayah tentang ini. Kita tidak bisa membiarkan mereka merusak acara yang sudah kita rencanakan dengan susah payah.”
“Aku bisa membantu apa saja?” tanyaku dengan suara tegas. “Aku tidak ingin hanya diam dan melihat kalian menghadapi bahaya sendirian.”
Rio melihatku dengan mata yang penuh rasa hormat. “Kamu bisa membantu dengan mengawasi area sekitar acara dan memberitahu kami jika ada sesuatu yang tidak biasa terjadi. Kamu tahu wajah-wajah orang di kampung lebih baik dari siapapun.”
Aku mengangguk dengan tegas. “Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu kalian.”
Keesokan paginya, kita semua berkumpul di rumah Rafi untuk merencanakan langkah-langkah yang akan diambil.
Pak Bara telah bekerja sama dengan polisi lokal untuk mengamankan area sekitar tempat acara akan diadakan.
Mereka juga akan menempatkan penjaga keamanan yang terlatih di setiap sudut untuk memastikan keamanan semua tamu.
“Kita tidak akan membiarkan mereka merusak momen bahagia ini,” ujar Pak Bara dengan suara tegas. “Kita telah bekerja sangat keras untuk mencapai kesuksesan ini dan kita akan melindunginya dengan segala cara yang kita bisa.”
Mama Lila kemudian datang dengan membawa kotak kecil. Di dalamnya ada tiga gelang yang sama dengan liontin bentuk kunci. “Ini adalah kunci untuk rumah baru Caca,” katanya dengan senyum. “Setiap dari kita memiliki satu agar kita bisa masuk kapan saja kita mau. Rumah itu bukan hanya milik Caca, tapi juga milik kita semua.”
Kita semua mengenakan gelang kunci itu dan berpelukan erat. Aku merasa sangat bersyukur memiliki keluarga kedua yang begitu mencintaiku dan selalu melindungiku.
Meskipun bahaya masih mengancam kita, tapi aku tahu bahwa bersama-sama kita bisa menghadapi segala sesuatu.
“Acara pembukaan akan menjadi kesempatan bagi kita untuk menunjukkan bahwa kita telah berubah menjadi yang lebih baik,” ujar Rafi sambil memegang tanganku. “Dan kamu akan ada di sana untuk melihatnya bersama kami, bukan?”
“Tentu saja,” jawabku dengan senyum lebar. “Aku akan selalu ada untukmu dan keluarga mu, Rafi. Seperti yang kita janjikan dulu—selamanya.”