NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Konfrontasi didepan cermin

Jihan menghentikan gerakannya pada gaunnya. Ia mengernyitkan dahi, menatap Olivia lewat cermin.

Dia memerintahku? Dia pikir aku ini siapa yang bisa ia suruh-suruh begitu saja?. batin Jihan dingin.

Jihan memutar tubuhnya dan mendongak menghadap ke olivia sepenuhnya. "Olivia, wastafel ini memiliki sensor otomatis. Kau tinggal memutar tanganmu sedikit di bawah kran, dan airnya akan keluar sendiri. Teknologi sederhana, bukan?"

Bukannya membantu, Jihan justru melangkah maju satu langkah ke arah Olivia dengan senyum tipis yang penuh intimidasi.

"Lagi pula, aku sedang merapihkan gaunku yang sangat mahal dan berbahan halus. Aku tidak ingin sisa saus dari tanganmu itu mengotorinya," ucap Jihan tenang, suaranya dingin dan tajam.

"Justru sebaliknya, setelah kau selesai mencuci tanganmu yang kotor itu, bisakah kau membantuku menarik sedikit ritsleting di bagian belakang gaun ini? Sepertinya tanganku sulit menjangkaunya. Kau akan membantuku, kan?"

Olivia tersentak. Matanya membulat tidak percaya. Alih-alih merasa rendah, Jihan justru menyerangnya balik.

"Kenapa diam saja, Olivia?" tanya Jihan lagi, nada suaranya kini terdengar seperti sedang mengerjai balik. "Aku butuh bantuanmu sekarang. Tapi, tentu saja setelah tanganmu bersih."

Olivia terdiam, rahangnya mengeras. Ia yang awalnya ingin menjadikan Jihan sebagai pelayan, kini justru terjebak dalam posisi di mana Jihan secara tidak langsung memerintahnya kembali.

Olivia melangkah ke wastafel dengan gerakan kasar, menyalakan air dan menggosok tangannya yang terkena saus dengan wajah memerah. "Aku sedang membersihkan tanganku, kau bisa melakukannya sendiri Jihan! Jangan manja!" ketusnya tanpa menoleh.

Jihan menarik napas panjang, berpura-pura tampak kesulitan dengan kaitan gaun di punggungnya. Sebuah ide licik muncul untuk membalas provokasi wanita itu. "Ah, tapi ini sulit sekali... sepertinya aku harus keluar dan meminta bantuan William untuk merapikan gaunku. Dia pasti tidak keberatan membantu istrinya sendiri, kan?" ucap Jihan dengan nada yang sengaja dibuat manis namun mematikan.

Olivia tersentak. Gerakan tangannya di bawah air mengalir mendadak berhenti. Membayangkan William menyentuh punggung polos Jihan atau berdekatan dengan wanita itu dalam suasana intim membuat dadanya serasa terbakar.

"Tunggu!" pekik Olivia sambil memutar tubuhnya cepat. "Kau tidak perlu memanggil William! Hal sekecil ini bukan urusan pria. Jangan mengganggunya hanya karena masalah kaitan gaun."

Jihan mengerutkan dahi, pura-pura bingung dengan ekspresi wajah yang sangat polos. "Tapi kenapa? Dia suamiku, Olivia. Meminta bantuannya adalah hal yang wajar, bukan? Aku yakin dia akan dengan senang hati melakukannya."

"Berbaliklah! Kau benar-benar istri yang tidak pengertian, membuang waktu suami hanya untuk urusan remeh!" seru Olivia, mencoba menyembunyikan rasa takut dan irinya di balik nada galak. Ia melangkah mendekat untuk meraih punggung Jihan.

Dengan gerakan anggun, Jihan menghindar. Ia mengangkat tangannya untuk memberi jarak. "Ups! Tunggu dulu, Olivia. Tanganmu masih basah. Kau tahu, kan, yang akan kau sentuh ini adalah gaun mahal berbahan khusus? Aku tidak ingin ada noda air atau sisa saus tertinggal di sana. Keringkan tanganmu sampai benar-benar bersih dan kering sebelum kau berani menyentuh gaunku."

Olivia menggeram rendah. Ia merasa benar-benar dipermainkan. Dengan perasaan kesal yang, ia menyambar tisu dan mengeringkan tangannya dengan gerakan yang sangat kasar sampai kulitnya memerah.

"Aku tidak memaksamu, lho," tambah Jihan sambil bercermin santai. "Kalau kau merasa terbebani, aku bisa langsung memanggil William sekarang juga."

"Diamlah!" Olivia langsung membenarkan bagian belakang gaun Jihan dengan kasar, hingga tubuh mungil Jihan terdorong ke depan, hampir membentur tepi wastafel marmer.

Jihan menghela napas panjang, menyeimbangkan tubuhnya dengan tenang. Alih-alih marah, ia justru menyeringai tipis di depan cermin. Ia semakin yakin bahwa Olivia tidak hanya sekadar sombong, tapi sedang terbakar cemburu yang hebat padanya.

"Ah, terima kasih, Olivia. Akhirnya benar juga," ucap Jihan santai. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya, merapikan helai rambutnya di depan kaca dengan gerakan yang anggun dan sengaja dibuat sedikit lambat. Leher jenjangnya terekspos, memancarkan kecantikan alami yang membuat Olivia semakin mengepalkan tangan di belakangnya.

Melihat Jihan yang tampak begitu tenang dan mempesona meski baru saja diperlakukan kasar, Olivia meledak. Ia tidak tahan lagi hanya diam.

"Jihan, jangan kau pikir dengan menjadi istri sah, kau memiliki William seutuhnya!" seru Olivia sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Jihan agar pantulan mereka berdua terlihat di cermin.

"Kau mungkin memiliki status itu, Jihan. Tapi kau harus tahu satu hal," Olivia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga Jihan dengan nada penuh racun. "William dan aku... kami memiliki sejarah yang tidak akan pernah bisa kau hilangkan."

Olivia menyeringai, menatap mata Jihan lewat cermin. "Aku selalu ada untuknya bahkan dalam keadaan terpuruk sekalipun. Kau tahu kenapa dia tidak menghindar saat aku menciumnya tadi, meskipun dia menikah denganmu? Karena dia merindukan sentuhan ku. Jadi, jangan terlalu nyaman di posisimu yang tidak lama lagi tersingkirkan, karena dia akan kembali padaku, dan kau akan dilupakan."

Jihan tetap terdiam, jemarinya masih merapikan antingnya dengan stabil. Ia menoleh perlahan ke arah Olivia, memberikan tatapan yang begitu dingin hingga membuat kata-kata Olivia seolah membeku di udara.

"Jika kau begitu yakin dia masih menginginkanmu, kenapa bukan dirimu yang menjadi istrinya ?" jawab Jihan dengan nada bicara yang sangat tenang.

Wajah Olivia menegang, namun ia dengan cepat membalas dengan nada meyakinkan, "Itu karena aku memiliki karier yang sedang tinggi yang diberikan William untukku! Aku tidak ingin menyia-nyiakannya dengan terikat pernikahan dini. Bukan hanya itu, William memberiku segalanya, materi, tempat tinggal mewah, dan semua fasilitas kelas atas," ucap Olivia, sedikit berbohong dan melebih-lebihkan kenyataan demi menjatuhkan mental Jihan.

Ia melanjutkan lagi, "Jika aku mengatakan ingin menikah sekarang, William akan langsung menurut. Tapi mungkin keluarganya menuntut pernikahan dengan cepat, dan kau... kau hanyalah pengganti sementara. Begitu aku sudah siap, William akan menceraikanmu dan menikahiku. Aku hanya tidak ingin kau bermimpi William akan mencintaimu. Selama ini, akulah satu-satunya yang memberikan gairah itu pada William."

Jihan hanya mengangguk santai, seolah mendengar cerita dongeng yang membosankan. "Aku tidak pernah meminta untuk berada di sisinya, ataupun berusaha untuk tetap di sisinya," Jihan menggeleng pelan. "Aku bukan tipe wanita yang suka mengejar seorang pria, apalagi pria yang suka menyentuh sembarang wanita atau pria yang sudah memiliki wanita lain di hatinya."

Jihan menatap Olivia lekat-lekat. "Dan aku... tidak akan pernah menjadi penghalang kalian jika memang kalian saling mencintai."

Olivia terdiam seketika. Ia kebingungan sekaligus merasa tersinggung. Ia mengharapkan Jihan akan menangis, marah, atau setidaknya merasa terancam. Tapi reaksi Jihan yang sangat pasif justru membuatnya merasa tidak berarti.

Ambillah William kembali dan larilah ke pelukannya. Dengan begitu William akan melepaskan aku, dan aku akan bebas dari penjara ini bahkan sebelum aku hamil. Dalam batinnya, Jihan bersorak.

Jihan merapikan gaunnya untuk terakhir kali, lalu melangkah menuju pintu keluar. Namun, ia terhenti tepat di ambang pintu dan menoleh sedikit ke arah Olivia yang masih terpaku di depan wastafel.

"Aku akan menunggu kesiapanmu untuk menikah dengannya. Aku benar-benar akan mendukungmu, Olivia," ucap Jihan sambil memberikan senyum manis yang tulus karena ia memang sangat ingin Olivia membawa William pergi darinya.

Olivia berdiri mematung di depan cermin, menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup dengan perasaan campur aduk. Amarah, bingung, dan iri menyatu menjadi satu sesak di dadanya.

"Apa dia benar-benar tidak menginginkan William? Atau dia hanya berpura-pura didepan ku ?" gumam Olivia dengan tangan gemetar.

Pikirannya melayang pada masa lalu. "Anna sudah tidak ada... Aku pikir setelah dia pergi, jalanku akan mulus. Tapi sekarang, wanita ini... bocah ini tiba-tiba muncul dan menghalangi segalanya. Mereka menikah secepat kilat, sedangkan aku? Aku sudah bertahun-tahun mengejar William, memberikan segalanya, tapi selalu tidak ada hasil yang nyata!"

Olivia mencengkeram tepi wastafel hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak akan menyerah. Status istri itu harusnya milikku. Hanya aku yang pantas di sisi William, bukan bocah ingusan itu!"

Sementara itu, di meja makan, Jihan telah kembali duduk di kursinya. Siena, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Olivia yang menyusul ke kamar mandi, segera mencondongkan tubuh dan berbisik khawatir.

"Jihan, kau baik-baik saja?" tanya Siena pelan, matanya menyisir wajah Jihan mencari tanda-tanda kecemasan. "Olivia tadi menyusulmu... dia tidak berbuat sesuatu yang buruk padamu, kan? Aku tahu dia bukan wanita yang ramah."

Jihan memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Aku baik-baik saja, Siena. Gaunku pun sudah benar sekarang. Tidak ada yang terjadi di kamar mandi, bahkan Olivia cukup membantu merapikan ritsleting belakang gaunku."

Siena mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya. Mustahil, batin Siena. Seorang Olivia membantu Jihan? Siena tahu benar betapa obsesifnya dia pada William. Dia pasti melihat Jihan sebagai saingan beratnya. Sesuatu pasti terjadi di sana.

Tak lama kemudian, Olivia kembali ke meja dengan gaya yang dibuat-buat anggun. Ia langsung mengambil posisi di dekat William, memamerkan tangannya yang sudah bersih.

"William, lihat... aku sudah membersihkan tanganku," ucap Olivia dengan nada manja yang kental. Ia menyentuh lengan William sejenak. "Lain kali kau harus hati-hati, ya. Jangan terlalu bersemangat bicara sampai menyenggolku begitu. Rasanya lengket sekali tadi."

William tidak membalas ucapan itu secara lisan, ia hanya melirik sekilas dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

Namun, ia tidak menepis tangan Olivia, juga tidak membentaknya seperti yang biasa ia lakukan pada Jihan.

Jihan, yang menyaksikan interaksi itu dari sudut matanya, merasakan secercah kepahitan yang bukan berasal dari rasa cemburu, melainkan dari rasa ketidakadilan.

*William tidak memperlakukannya dengan kasar atau rendah seperti ia memperlakukanku,* denganku dia selalu bersikap kejam, menghina, dan merendahkanku seolah aku adalah sampah yang tidak punya harga diri. batin Jihan getir.

Pertanyaan itu berputar di kepala Jihan. Olivia diperlakukan selayaknya manusia. Hal itu membuat Jihan semakin bertekad untuk mencari jalan keluar dari sandiwara pernikahan ini.

Malam yang panjang itu akhirnya mencapai puncaknya. Tawa dan denting gelas mulai mereda saat satu per satu tamu mulai beranjak dari kursi mewah mereka.

"Malam yang menyenangkan, semuanya! Kita harus sesering mungkin berkumpul seperti ini," seru Lucas sambil merapikan jasnya, wajahnya tampak puas.

"Iya, benar. Sudah lama kita tidak sedekat ini," timpal Henry sambil bersalaman dengan Julian. Mereka semua saling berpamitan dengan hangat, menciptakan suasana akrab.

Di tengah hiruk-pikuk perpisahan itu, William menoleh ke arah Jihan. Saat teman-temannya sedang tidak melihat, ia memanggil istrinya dengan nada rendah namun sangat kasar. "Jihan!" desisnya. Ia memberikan isyarat tajam dengan gerakan kepala agar Jihan segera keluar dari ruangan itu.

William melangkah cepat, disusul oleh Jihan yang mencoba menjaga langkahnya agar tetap terlihat anggun meski hatinya merasa kesal. baru beberapa langkah di koridor menuju lobi, Olivia menyelinap dengan gerakan cepat ke samping William. Ia langsung menyambar lengan pria itu dan bergelayut manja.

"William... aku benar-benar merindukanmu," ucap Olivia dengan suara yang dibuat serak menggoda. "Eh, tapi kau tahu tidak? Mobil edisi terbatas yang kau berikan padaku itu menjadi pusat perhatian. Banyak orang membicarakannya dan publikasi otomotif terus menyorotku karenanya."

William menanggapi dengan gumaman datar dan ekspresi dingin yang tidak terlihat oleh Jihan, namun ia tidak melepaskan diri. Olivia mendongak, menatap mata William dalam-dalam.

"Aku sangat merindukanmu malam ini. Bisakah kau memberiku sedikit waktu lagi? Kita bisa pergi ke tempat biasa."

Olivia kemudian melirik Jihan yang berdiri mematung beberapa langkah di belakang mereka, lalu kembali menatap William.

"Apa kehadiran Jihan membuatmu diam begini?" Menyindir Jihan.

William memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah Jihan. Lagi lagi Jihan merasa seperti orang asing yang terjepit di antara dua orang yang memiliki masa lalu. Alih-alih merasa sakit hati, ia justru melihat ini sebagai peluang.

"Aku mengerti," ucap Jihan dengan suara tenang dan jernih. "Kalau begitu... aku akan pergi duluan dan menunggumu di mobil." Menatap William menunggu persetujuan.

Olivia langsung tersenyum penuh kemenangan. "Lihat, William? Dia bahkan tidak keberatan. Dia tahu posisinya."

Dengan berani, Olivia mengalihkan tangannya ke leher William, menarik wajah pria itu mendekat ke arahnya. Ia bermaksud mencium bibir William tepat di depan mata istrinya.

1
Eva Rosita
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!