NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan keluarga Wijaksana dengan cara yang menyakitkan bagi Andrew. Ia hanya tidur kurang dari dua jam, dan kafein dari tiga cangkir espresso belum mampu menghilangkan rasa bersalah yang mengendap di dasar hatinya.

​Andrew sedang menyesap kopinya dengan tenang atau setidaknya ia berpura-pura tenang, ketika suara tawa Ares terdengar dari arah lorong.

​"Papi, Mom lihat siapa yang datang sepagi ini!" seru Ares dengan nada bangga.

​Andrew membeku. Genggamannya pada cangkir porselen itu mengeras. Di samping Ares, Alana melangkah masuk dengan ragu. Ia mengenakan dress bunga-bunga yang sederhana namun tampak begitu cantik, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh make-up.

​"Selamat pagi, Om, Tante," sapa Alana lembut.

​"Pagi, Sayang. Ayo duduk, kita sarapan bareng," sahut Mommy Revana dengan senyum hangat.

​Ares menarik kursi untuk Alana tepat di hadapan Andrew. Itulah posisi paling buruk yang bisa dibayangkan Andrew pagi ini.

​"Pagi, Kak Andrew," ucap Alana. Suaranya terdengar sedikit bergetar, matanya menatap Andrew sejenak sebelum ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke piring kosong di depannya.

​"Pagi," jawab Andrew singkat, matanya tetap tertuju pada tablet di tangannya, berpura-pura sibuk membaca berita bisnis.

​Suasana meja makan terasa sangat kontras. Ares sibuk bercerita tentang lokasi syutingnya hari ini sambil sesekali menyuapi Alana sepotong roti, sementara Andrew dan Alana terjebak dalam perang diam yang menyesakkan.

​"Alana, wajah kamu agak pucat. Kamu kurang sehat?" tanya Papi Adrian yang selalu jeli melihat detail.

​Alana tersentak. "Ah, cuma... sedikit kurang tidur, Om. Banyak pesanan lukisan yang harus diselesaikan."

​"Jangan terlalu dipaksakan, Lan. Kan ada Ares yang bisa bantu kalau kamu butuh apa-apa," timpal Mommy Revana.

​Ares merangkul bahu Alana. "Tenang aja, Mom. Kalau Alana butuh bantuan, selain ada aku, kan ada Kak Andrew yang kantornya dekat galeri Alana. Ya kan, Kak?"

​Pertanyaan Ares itu bagaikan granat yang diledakkan di tengah meja. Andrew perlahan menurunkan tabletnya, ia terpaksa menatap Alana dan seketika mata mereka bertemu. Kilasan kejadian di galeri kemarin sore mendadak muncul di antara mereka; napas yang memburu, jarak yang hilang, dan pengkhianatan yang nyaris terjadi.

​"Kantor aku lagi sibuk, Res. Kamu tahu itu," jawab Andrew dengan suara yang begitu dingin hingga Alana tampak sedikit tersentak. "Alana punya jalannya sendiri. Jangan membiasakan dia bergantung pada orang lain."

​Meja makan mendadak sunyi. Ares mengerutkan kening, tidak menyangka kakaknya akan bicara sekeras itu. "Maksud gue kan cuma kalau ada emergency, Kak. Nggak usah sekaku itu juga kali."

​Alana menunduk dalam, tangannya meremas ujung bajunya di bawah meja. "Nggak apa-apa, Res. Kak Andrew benar. Aku bisa urus diriku sendiri."

​Andrew berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan suara gesekan yang kasar. "Aku mau berangkat sekarang. Ada rapat pagi."

​Tanpa menoleh, tanpa pamit secara resmi, Andrew melangkah pergi. Namun, saat melewati kursi Alana, ia sempat melihat tangan wanita itu yang masih gemetar di atas meja. Ada keinginan gila dalam dirinya untuk berhenti dan menggenggam tangan itu, tapi ia terus berjalan.

​Saat pintu depan tertutup, Alana akhirnya bisa bernapas, meskipun dadanya terasa perih. Ia menyadari satu hal: Andrew sedang membangun tembok yang sangat tinggi untuk menghukum mereka berdua.

----

Malam itu, jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul satu pagi. Suasana rumah begitu sunyi, hanya terdengar suara efek, suara dari televisi besar tempat Andrew sedang melampiaskan emosinya melalui konsol game. Sejak kejadian di galeri, game adalah satu-satunya cara Andrew untuk tidak memikirkan Alana.

​Andrew sedang fokus pada layar ketika Ares masuk dengan langkah gontai. Wajah adiknya terlihat sangat lelah, make-up tipis sisa syuting masih membekas di wajahnya. Ares langsung menghempaskan diri di sofa samping Andrew.

​"Gila... syuting hari ini menguras energi banget, Kak," gumam Ares sambil menatap langit-langit.

​Andrew tidak menjawab. Jemarinya terus menekan tombol kendali dengan ritme yang cepat dan agresif.

​"Gue ngerasa bersalah banget sama Alana," lanjut Ares, tidak mempedulikan kebisuan kakaknya. "Minggu ini gue cuma ketemu dia dua kali, itu pun cuma bentar di galeri. Tadi dia telepon, suaranya kedengaran sedih, tapi dia tetep bilang nggak apa-apa. Gue tahu dia bohong. Gue takut dia ngerasa sendirian, Kak..."

​Andrew mencoba mengabaikan suara Ares. Namun, nama "Alana" yang terus disebut adiknya seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang masih basah.

​"Gue pengen banget ajak dia liburan, tapi jadwal film ini padat banget sampai bulan depan. Menurut lo, gue harus kirim apa ya buat dia biar dia nggak ngerasa kesepian? Apa gue minta supir kita buat anterin makanan tiap hari ke sana? Atau—"

​"Bisa diem nggak, Res?" potong Andrew dingin, matanya masih terpaku pada layar.

​Ares mengernyit. "Gue cuma nanya pendapat lo, Kak. Gue lagi bingung—"

​"Gue bilang diem!" Andrew tiba-tiba membanting kendali gamenya ke atas meja kaca dengan dentuman keras. Ia berdiri dan menatap Ares dengan mata yang memerah karena amarah dan kurang tidur. "Berhenti bahas soal Alana di depan gue! Lo yang milih karir lo, lo yang milih buat nyembunyiin dia, jadi tanggung sendiri konsekuensinya! Jangan jadiin gue tempat sampah curhatan lo!"

​Ares tersentak, lalu ikut berdiri. Wajahnya yang tadi lesu kini berganti menjadi merah padam. "Kok lo tiba-tiba nyolot? Gue cuma curhat, Kak! Selama ini gue selalu cerita apa aja sama lo, kenapa sekarang lo jadi sensitif banget tiap kali gue sebut nama Alana?"

​"Karena gue muak!" bentak Andrew. "Gue muak denger lo yang nggak becus jaga perasaan wanita itu tapi terus-terusan ngerasa jadi korban!"

​"Nggak becus jaga perasaan dia?" Ares tertawa sinis, langkahnya maju menantang Andrew. "Apa urusannya sama lo? Dia pacar gue! Kenapa lo yang jadi kebakaran jenggot? Apa jangan-jangan lo..."

​"Apa?!" tantang Andrew, napasnya memburu.

​"Cukup!"

​Suara berat Papi Adrian menggelegar dari arah tangga. Papi dan Mommy Revana berdiri di sana dengan jubah tidur mereka, wajah mereka penuh dengan keterkejutan sekaligus kemarahan melihat dua putra mereka yang biasanya kompak kini nyaris baku hantam.

​"Ada apa ini? Andrew, Ares, kalian sudah dewasa! Apa yang kalian ributkan tengah malam begini?" tanya Papi Adrian sambil berjalan mendekat.

​Mommy Revana langsung menghampiri Andrew, menyentuh lengan putranya yang masih gemetar karena emosi. "Andrew, ada apa sama kamu? Kamu nggak pernah bentak adikmu seperti ini."

​Andrew memalingkan wajah, rahangnya terkatup rapat. Ia tidak bisa menjawab. Jika ia bicara satu kata lagi, rahasia yang ia simpan mungkin akan meledak keluar.

​Ares menunjuk kakaknya dengan perasaan tidak terima. "Tanya sama Kak Andrew, Mom! Dia tiba-tiba marah nggak jelas pas aku lagi cerita soal Alana. Kayaknya dia emang punya masalah pribadi sama pacarku!"

​Mendengar nama Alana disebut lagi, Andrew hanya bisa memejamkan mata erat. Suasana menjadi sangat tegang. Papi Adrian menatap Andrew dengan tatapan menyelidik yang sangat tajam, seolah sedang mencoba membaca apa yang sebenarnya disembunyikan oleh putra sulungnya itu.

​"Andrew, masuk ke ruang kerja Papi. Sekarang," perintah Papi Adrian tanpa bantahan.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!