NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Dia belum siap kembali ke masa itu.

Gavin dan Reghan berjalan berdampingan di koridor rumah sakit menuju laboratorium. Suasana terasa canggung, bukan karena keduanya bermusuhan, melainkan karena mereka menyadari satu hal, di antara mereka ada satu sosok wanita yang sama-sama mereka lindungi, meski dengan cara yang berbeda.

Reghan menjalani pengambilan sampel darah tanpa banyak bicara. Hanya ekspresi tegang yang tak pernah lepas dari wajahnya. Saat jarum suntik menusuk kulit, ia menatap lurus ke dinding, mengingat kembali sorot mata kecil yang memanggil Mama saat itu, suara lembut yang membuat jantungnya berhenti sejenak.

Ketika proses selesai, perawat pergi meninggalkan mereka berdua. Gavin berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana.

“Biasanya hasil tes kecocokan akan keluar dalam dua sampai tiga hari. Kalau cocok, kita langsung lanjut ke tahap pemeriksaan lanjutan.”

Reghan mengangguk singkat. “Baik, saya akan menunggu berapa pun lamanya.”

Gavin menatapnya serius. “Tuan Reghan, saya harus jujur. Saya menghargai keputusan Anda untuk membantu Revano. Tapi saya juga punya tanggung jawab melindungi Arum. Saya tidak ingin dia terluka lagi, baik secara fisik maupun batin.”

Reghan menatap balik, suaranya menurun. “Saya tidak datang untuk menghancurkan hidupnya, Dokter. Justru sebaliknya, jika Tuhan memberiku kesempatan menolong anakku … itu berarti aku diberi kesempatan kedua. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Gavin menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Reghan, ketulusan yang ia belum pernah lihat sebelumnya. Tapi ia juga tahu, Arum terlalu hancur untuk mempercayai apa pun yang datang dari masa lalunya.

Beberapa jam kemudian, Gavin kembali ke ruang rawat anak. Revano sudah tertidur dengan selang infus di tangannya, wajahnya pucat namun tenang. Arum duduk di sisi ranjang, menatap anak itu dengan mata yang masih sembab.

“Bagaimana hasil pemeriksaanmu?” tanya Gavin lembut.

Arum menggeleng lemah. “Dokter bilang aku nggak cukup kuat … tubuhku terlalu lemah.” Ia berhenti, suaranya pecah. “Gavin, kalau tidak ada donor yang cocok, apa yang akan terjadi sama Revano?”

Gavin berusaha tersenyum, menenangkan. “Masih ada banyak kemungkinan, Arum. Masih ada banyak orang yang bisa diuji. Jangan dulu berpikir buruk.”

Arum menggenggam tangan anaknya, menatap wajah kecil itu dengan penuh kasih. “Aku sudah kehilangan segalanya, Gavin … aku tidak bisa kehilangan dia juga. Revano satu-satunya alasan aku bertahan hidup.”

Gavin menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan, antara simpati dan ketakutan. Karena tanpa Arum tahu, seseorang di luar sana tengah menunggu hasil tes yang bisa mengubah hidup mereka bertiga.

Sementara itu, di parkiran rumah sakit, Reghan duduk di dalam mobilnya. Tangannya mengepal di atas setir, matanya menerawang ke arah gedung tempat Arum berada.

“Aku tidak tahu bagaimana harus menebus semuanya,” bisiknya pelan. “Tapi kali ini … aku akan melindungi kalian berdua, bagaimanapun caranya.”

Lampu parkiran menyala satu per satu. Hujan mulai turun gerimis. Dan di balik kaca yang buram, Reghan memejamkan mata, berdoa agar darahnya cukup untuk menyelamatkan nyawa anak yang baru saja ia temukan, darah dari daging dan tulangnya sendiri.

Dua hari telah berlalu, kini di ruang dokter, suasana terasa tegang. Laporan hasil tes kecocokan donor tergeletak di atas meja, dikelilingi oleh tiga orang, Dokter Gavin, dokter anak yang menangani Revano, dan Reghan yang duduk dengan wajah serius.

Dokter anak itu membuka berkas perlahan. “Tuan Reghan, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda cocok sebagai pendonor untuk Revano.”

Sekilas, mata Reghan berbinar, ada secercah harapan yang langsung muncul di wajahnya. Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, dokter itu melanjutkan kalimatnya.

“Namun … kondisi kesehatan Anda tidak memungkinkan untuk menjalani prosedur itu.”

Reghan mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Dokter menatapnya dengan hati-hati. “Anda masih memiliki komplikasi dari kecelakaan beberapa tahun lalu, organ dalam Anda, terutama sumsum tulang belakang, menunjukkan tanda-tanda kerusakan jaringan akibat trauma lama. Jika Anda memaksakan diri menjadi donor, itu bisa mengancam nyawa Anda sendiri.”

Ruangan langsung sunyi, Gavin menatap meja tanpa bicara, sedangkan Reghan menunduk, menatap kedua tangannya yang terkepal di pangkuan.

“Lalu … kalau bukan aku, siapa?” suaranya berat, parau. “Apa nggak ada cara lain untuk nolong anak itu?”

Dokter anak saling pandang dengan Gavin sebelum menjawab pelan, “Ada satu cara, tapi … caranya sulit.”

Reghan menatap tajam. “Apa pun itu, katakan.”

“Donor darah tali pusar dari saudara sedarah atau sekandung.”

Kalimat itu jatuh seperti batu besar di tengah ruangan. Gavin memejamkan mata sesaat, mencoba mengatur napas, sementara Reghan mematung di kursinya.

“Saudara kandung?” Reghan mengulang dengan suara nyaris berbisik. “Maksud Anda … saya harus punya anak lagi?”

“Tidak harus sekarang,” jawab dokter hati-hati. “Tapi darah tali pusar dari bayi yang lahir dari garis keturunan yang sama biasanya memiliki kemungkinan tinggi untuk menjadi donor paling cocok bagi penderita leukemia jenis ini.”

Gavin mengepalkan tangan di bawah meja. Dia tahu arah pembicaraan itu akan menuju sesuatu yang lebih dalam, kemungkinan dia akan kehilangan Arum, dan kehilangan cinta dan harapannya.

Reghan terdiam lama, lalu berdiri dengan sorot mata penuh amarah dan frustrasi. “Jadi … satu-satunya cara agar anakku tetap hidup adalah dengan cara dia punya adik kandung?”

Dokter mengangguk perlahan.

Reghan menghela napas berat, suaranya pecah saat berkata, “Anakku … sudah cukup menderita. Aku nggak mau dia kehilangan harapan hanya karena tubuhku rusak.”

Gavin akhirnya angkat bicara, suaranya tajam namun terkontrol.

“Tuan Reghan, bahkan kalaupun itu benar, Arum ... punya hak untuk tahu semuanya, mungkin dia dalam kondisi tidak siap untuk menghadapi masa lalu itu lagi.”

Reghan menatapnya, tajam. “Aku tahu, aku tahu dia membenciku.” Ia berhenti sejenak, suaranya menurun, getir. “Tapi kalau harus aku yang hancur biar anak itu hidup … aku rela.”

Gavin menatapnya lama, melihat bukan lagi pria dingin pewaris Argantara di hadapannya, tapi seorang ayah yang baru saja menyadari arti kehilangan. Namun di hatinya sendiri, Gavin tahu satu hal pasti, cepat atau lambat, Arum akan tahu siapa yang datang untuk menyelamatkan anaknya, dan saat itu tiba, luka lama mereka akan terbuka lagi, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dan Gavin harus bersiap kehilangan Arum selamanya.

1
Tutik Sekawan
Lumayan
Les Tary
berarti waktu dicambuk udh hamil sedang Alena yg menjatuhkan diri keguguran
Santje Siwu
👍👍👍👍👍😄😄😄😍😍😍😍😍
Lia Wafiroh
novel isi nya orang bloon semua.suami Arum anjing
Henry Cavill
keluarga yang aneh 🤭🤭 masa orang kaya ga punya cctv 🤣🤣🤣🤣 mantap lanjutkan tor siksa tuh si Arum sampe modyar🤣🤣🤣 bloon tuh karakter utama cewenya🤣🤣🤣
Henry Cavill
ini cerita ada hukuman cambuk 🤣🤣🤣🤣🤣 kenapa gak hukum gantung🤭
Henry Cavill
klise si regan ... 😄
Henry Cavill
ahhh massa sihhh ... 🤣
Henry Cavill
kau babuku🤣🤣 itu lebih cocok 🤭
Henry Cavill
cepet banget pulangnya 🤣🤣🤣
Henry Cavill
semoga otor selalu buat Arum menderita biar puas yg baca🤭
Ita Zarah
😍
Hasanah
andai AQ jdi Nara tak akan mau kmbali ke rumah itu lgi skalipun dia kmbali dengan reghan cari rumah lain sja
Hasanah
kan udah Tau yg slah x siapa knapa si Oma ngak mlakukan hal sama ke si Alena kan biar adil dia tlah brbohong
Raine
disini terkesan plin plan karakternya reghan dan omanya, lebih bagus arum menjauh dari org seperti itu yg tidak punya pendirian,
mimief
luka itu bukan sembuh dengan seiring nya waktu berlalu.
luka itu badih disini,menganga dengan lebar dan berdarah
hanya,karena terbiasa dengan sakitnya
jadi.....hanya terbiasa sakit jadi sudah mati rasa.melupakan begitu saja..,
tentunya tidak🥹🥹
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan terlalu ceroboh mempertaruhkan keselamatan Arum dan Revan tanpa pengawalan padahal tau bahaya mengintai..aneh
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Reghan mau melamar ulang Arum ya, tp malesnya pasti ada para siluman kumpul di sana.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syutingnya ceritanya lagi musim hujan apa gimana thor, perasaan hujan mulu.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: hihihihiii... terbawa suasana sambil makan yg anget² selebihnya inget apa yaa...jangan sampe ingetnya kenangan. 🤣🤣🫣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor ga kedengaran lagi kabar para siluman Maya dan antek²nya juga keluarga yg dulu membesarkan Arum gimana tuh... sudah dapet kartu merah belum.🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!