Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Perjalanan kembali ke Jakarta terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Di dalam mobil, tak ada musik yang mengalun. Pak Baskoro duduk di kursi depan, pandangannya terpaku pada aspal jalan tol yang membentang, sementara jemarinya tak henti-henti meremas sapu tangan. Almira dan Debo di kursi belakang saling menggenggam tangan, merasakan beban dari rahasia baru yang baru saja terkuak.
Gedung Departemen Luar Negeri lama di kawasan Pejambon berdiri kokoh dengan arsitektur kolonialnya yang angkuh. Dinding-dindingnya yang tinggi menyimpan ribuan rahasia negara, dan kini, salah satunya memanggil keluarga Baskoro untuk pulang.
"Ayah yakin ini tempatnya?" tanya Almira saat mereka melangkah masuk ke lobi yang lengang. Bau kertas tua dan lilin pembersih lantai menyambut mereka—bau yang sangat akrab bagi Almira, bau masa kecilnya saat ia sering berlari di lorong ini menunggu ibunya selesai bekerja.
Pak Baskoro mengangguk lemah. "Di lantai bawah tanah. Ruang arsip lama. Dulu, setiap staf senior punya loker pribadi untuk menyimpan dokumen sensitif sebelum didigitalisasi."
Risky berjalan paling depan, langkah kakinya bergema di lantai marmer. Sebagai pengacara yang kini namanya sedang naik daun, ia tak sulit mendapatkan izin akses "kunjungan resmi" meskipun gedung itu sudah jarang digunakan.
Mereka menuruni tangga menuju lantai basement. Cahaya lampu neon di sini berkedip-kedip, menciptakan suasana yang mencekam. Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan dengan pintu besi berat yang bertuliskan Arsip Statis.
Di dalam ruangan itu, ribuan loker besi berjajar rapi seperti nisan di pemakaman. Pak Baskoro menuntun mereka ke barisan paling belakang, ke arah loker-loker yang sudah mulai berkarat. Matanya mencari-cari, hingga berhenti pada sebuah plat kecil dengan nomor yang hampir pudar: 402.
"Ini milik Ibumu, Ratna," suara Pak Baskoro bergetar.
Risky memberikan kunci perak itu kepada Almira. "Kau yang harus membukanya, Al."
Tangan Almira gemetar saat memasukkan kunci itu ke lubangnya. Bunyi klik logam yang beradu terasa sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. Pintu loker terbuka dengan derit panjang. Di dalamnya, debu tebal menyelimuti beberapa map cokelat dan sebuah kotak beludru kecil.
Almira mengambil map paling atas. Di sampulnya tertulis tangan dengan rapi: Laporan Investigasi Internal – Proyek Arus Biru.
"Arus Biru?" Debo mengerutkan kening. "Bukankah itu nama proyek pengadaan kapal bantuan yang disebut-sebut dalam persidangan Wirayuda kemarin?"
"Benar," sahut Risky sambil ikut membaca dokumen tersebut. "Tapi lihat tanggalnya. Ini laporan dari lima belas tahun yang lalu. Ibumu sudah mengendus adanya penggelapan dana dan jalur logistik ilegal ini jauh sebelum Wirayuda menjadi Direktur Jenderal."
Almira membuka map itu lebih dalam. Di sana terdapat foto-foto lama, bukti transfer, dan catatan harian ibunya. Pada halaman terakhir, ada sebuah coretan yang terburu-buru, seolah-olah ditulis dalam keadaan ketakutan:
> "Mereka tahu aku memegang bukti ini. Jika sesuatu terjadi padaku, Bas harus membawa anak-anak pergi. Jangan percayai siapa pun di kementerian, terutama mereka yang tersenyum paling lebar."
>
"Ibu tahu dia dalam bahaya," bisik Almira, air mata mulai mengalir. "Dan dia tetap menyimpannya di sini, berharap suatu hari kita akan menemukannya."
Namun, di balik dokumen-dokumen itu, Almira menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan. Sebuah foto keluarga kecil mereka di Amerika, dan di balik foto itu terdapat sebuah nama dan alamat di Singapura.
Hendrawan – 12 Orchard Road. Dia memegang salinan aslinya.
"Hendrawan?" Almira menoleh ke ayahnya. "Bukan Hermawan?"
Pak Baskoro tertegun melihat nama itu. "Hendrawan adalah kakak kembar Hermawan. Mereka berdua dulu bekerja di biro logistik, tapi Hendrawan mengundurkan diri secara misterius tak lama setelah ibumu meninggal. Ayah pikir dia sudah lama mati."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk arsip. Risky dengan cepat menutup loker dan menarik Almira serta Debo ke balik deretan lemari besi.
Seorang pria paruh baya dengan setelan safari rapi masuk ke ruangan. Ia tidak tampak seperti petugas kebersihan atau staf pengarsip. Wajahnya dingin, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan teliti. Ia berhenti tepat di depan loker 402 yang masih sedikit terbuka.
Pria itu mendengus pelan, lalu mengeluarkan ponselnya. "Mereka sudah di sini. Kunci itu benar-benar sampai ke tangan mereka. Lakukan rencana cadangan."
Setelah pria itu pergi, Almira merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar. "Siapa dia, Yah?"
"Sekretaris Jenderal," jawab Pak Baskoro dengan suara nyaris tak terdengar. "Orang yang selama ini mendukung pembebasan Ayah di depan publik."
Risky mengepalkan tinju. "Ternyata Wirayuda hanyalah bidak yang dikorbankan agar pemain besar seperti dia tetap bersih. Dia membiarkan kita menghancurkan Wirayuda agar dia bisa mengambil alih seluruh jalur ilegal itu tanpa saingan."
Kini, jawaban yang mereka temukan justru membuka pintu menuju konspirasi yang jauh lebih besar dan berbahaya. Mereka bukan lagi sekadar membersihkan nama baik, mereka sedang berhadapan dengan hantu dari masa lalu yang ingin mengubur mereka bersama rahasia loker 402.
"Kita tidak bisa tinggal di sini," tegas Risky. "Kita harus ke Singapura. Hendrawan adalah satu-satunya jawaban terakhir yang tersisa sebelum mereka melenyapkan jejaknya."
Almira menatap kunci perak di tangannya. Ia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai kembali. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti sampai ia tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas hilangnya nyawa ibunya.
Dunia mungkin mengira kasus ini sudah selesai, tapi bagi Almira, Debo, dan Risky, kebenaran baru saja berbisik dari balik debu masa lalu.