Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INISIAL DIBALIK NISAN TAK KASAT MATA
Malam itu, Arka berbaring di tempat tidurnya dengan perasaan yang masih berkecamuk. Ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimutinya, namun matanya tetap terjaga. Ia menggeser sedikit gorden jendela, membiarkan matanya menatap langsung ke langit malam yang pekat di balik kaca.
Pikiran Arka melayang kembali ke halte tadi sore. Ia ingat betul bagaimana gadis di sampingnya menatapnya—sebuah tatapan yang penuh duka, seolah gadis itu sedang menatap sebuah nisan yang bisa berbicara. Ia teringat isak tangisnya sendiri yang muncul tiba-tiba, dan penjelasan ibunya tentang selembar kertas bertuliskan "Janji" di saku jaketnya yang hancur.
"Jadi, orang itu benar-benar aku sakiti..." ucap Arka lirih, suaranya nyaris menyerupai bisikan angin.
Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan samar muncul: bukan wajah, melainkan sebuah perasaan. Rasa dingin air hujan, cahaya lampu kuning yang berpendar di aspal Braga, dan sebuah rasa panik yang hebat karena ia terlambat. Ia menyadari bahwa selama tiga tahun ia "terlelap", ada seseorang yang hidup dalam penantian yang menyiksa. Seseorang yang mungkin menganggap Arka sengaja tidak datang, atau lebih buruk lagi, seseorang yang meratapi kematiannya tanpa tahu bahwa jiwanya masih ada.
"Aku meninggalkan dia tanpa kata pamit," bisiknya lagi pada langit yang membisu.
Rasa berat di dadanya kini berganti menjadi rasa tanggung jawab yang amat besar. Arka menyadari bahwa kesembuhannya bukan sekadar keberuntungan medis, melainkan sebuah kesempatan kedua yang diberikan semesta untuk memperbaiki luka yang ia torehkan. Ia merasa bersalah bukan karena ia jahat, tapi karena takdir telah memaksanya menjadi seorang pengingkar janji.
Di bawah hamparan langit yang sama, di sudut kota yang berbeda, ia yakin gadis itu—si "Senja" atau "Arunika" yang namanya masih samar di ingatannya—juga sedang menatap langit yang sama dengan hati yang patah. Arka mengepalkan tangannya di atas dada. Ia berjanji pada dirinya sendiri, sebelum fajar menyapa esok hari, ia harus menemukan cara untuk menjelaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud pergi. Bahwa ia selalu mencoba untuk kembali, meski harus menempuh jalan sunyi selama tiga tahun lamanya.
Arka bangkit dari tempat tidurnya, menyalakan lampu meja yang temaram, dan dengan tangan gemetar mencoba memasukkan potongan kecil sim card itu ke slot ponsel barunya. Ia menahan napas saat menekan tombol daya. Layar menyala, menampilkan logo provider, namun setelah beberapa saat, muncul peringatan dingin di layar: "SIM Card Tidak Terbaca" atau "Kartu Rusak".
Arka mendesah frustrasi. Ia mencoba membersihkan lempengan kuningan itu dengan ujung kausnya, memasukkannya berkali-kali, namun hasilnya tetap sama. Chip tua itu tampaknya sudah terlalu lelah, terkikis oleh waktu dan benturan keras kecelakaan tiga tahun lalu.
"Sial," umpatnya pelan, melempar ponselnya ke atas kasur.
Ia kembali menatap langit dari balik jendela. Kegagalan teknis ini tidak memadamkan api di dadanya, justru semakin membakar rasa penasarannya. Ia tahu ia tidak bisa melakukan ini sendirian. Otaknya mungkin stuck, dan teknologi di tangannya pun sedang mogok.
"Besok akan aku bawa ke Rio, dia pasti bisa," ucapnya pada diri sendiri dengan nada penuh keyakinan.
Rio bukan sekadar rekan kantor; dia adalah orang yang paham seluk-beluk teknis dan, yang paling penting, Rio adalah saksi kunci yang ada di lokasi saat nyawa Arka nyaris hilang. Jika ada orang yang bisa memaksa chip tua itu bicara, orang itu adalah Rio.
Arka kembali berbaring, kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih tenang meski ganjalan di hatinya belum hilang sepenuhnya. Ia membayangkan apa yang akan ia temukan di dalam kartu itu besok. Apakah sebuah nama? Sebuah foto? Atau pesan singkat yang dikirim oleh gadis di halte tadi?
Satu hal yang pasti, Arka merasa sedang berpacu dengan waktu. Rasa sakit yang ia rasakan setiap kali gadis itu menangis memberitahunya bahwa "orang yang ia sakiti" sudah mencapai batas ketahanannya.
Pagi itu di Yogyakarta, suasana terasa begitu berat. Arunika duduk di teras rumah dengan tatapan kosong, sementara Erlina duduk di sampingnya, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya selama di Bandung.
"Gimana di Bandung, Run? Kamu ketemu nggak sama dia?" tanya Erlina hati-hati.
Arunika menoleh perlahan, dahinya berkerut kecil. "Dia siapa?"
Erlina menghela napas, mencoba mengingatkan. "Ya cowok Bandung yang dulu itu, Run. Yang kalian kenalan lewat aplikasi pas kamu baru lulus. Kamu kan sampai nekat ke Bandung buat nemuin dia, tapi dia nggak pernah muncul di hari pertemuan kalian. Kamu inget, kan?"
Arunika terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Aku... aku bener-bener nggak ingat wajahnya, Er. Namanya pun aku lupa. Memori tentang cowok dari aplikasi itu kayak udah kehapus gitu aja di kepalaku."
Arunika menatap ke arah pohon mangga di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Satu-satunya yang aku ingat cuma cowok yang nggak sengaja aku temuin di Bandung tempo hari. Cowok yang aku kira adalah masa depanku... tapi ternyata dia sudah meninggal."
Arunika menceritakan bagaimana ia menemukan alamat dan mendatangi makam pria tersebut. Baginya, pencarian singkat di Bandung kemarin adalah akhir dari segalanya. Ia merasa hatinya telah tertambat pada sosok yang ia temui di sana—sosok yang ia yakini sebagai pria yang ia cari—tanpa menyadari bahwa memorinya telah bercampur aduk akibat trauma penantian selama tiga tahun.
Ia tidak sadar bahwa pria yang ia temui di aplikasi (yang ia lupakan wajahnya) adalah jiwa yang sama dengan pria yang ia temui di halte tempo hari (Arka). Baginya, satu-satunya kebenaran yang ia pegang sekarang adalah: pria yang ia cintai telah meninggal dunia, dan ia telah membuang waktu tiga tahun untuk menunggu sebuah nisan.
"Aku mau berhenti, Er. Aku mau hapus semua tentang Bandung," bisik Arunika lirih. "Aku nggak mau lagi mengingat orang yang bahkan sudah nggak ada di dunia ini."
Arunika benar-benar menyerah. Ia tidak tahu bahwa saat ia berusaha melupakan, di Bandung, Arka baru saja sampai di depan meja kerja Rio dengan membawa sim card tua yang rusak itu, berharap Rio bisa mengembalikan memori tentang seorang gadis yang Arka sendiri belum tahu namanya.
Di sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan peralatan teknis dan aroma kopi yang sudah mendingin, Arka duduk dengan gelisah. Ia memperhatikan Rio yang sedang berkutat dengan sebuah perangkat pembaca kartu khusus yang terhubung ke komputer. Mata Rio tampak serius di balik kacamatanya, sementara jarinya dengan lincah menekan beberapa tombol perintah.
Arka terus meremas tangannya sendiri. Baginya, setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam. Ia berharap chip tua itu segera memuntahkan semua rahasianya agar beban di dadanya bisa sedikit terangkat.
Rio menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap layar monitor yang menampilkan barisan kode berwarna merah—pertanda kegagalan sistem.
"Ini rusak, Ka. Perlu satu bulan buat benerin," ucap Rio sambil memijat pangkal hidungnya.
Arka tertegun. "Satu bulan, Yo? Nggak bisa lebih cepet? Gue ngerasa... gue ngerasa nggak punya waktu selama itu."
Rio memutar kursinya menghadap Arka. "Chip-nya korosi, Ka. Jalur datanya banyak yang putus kena air dan tekanan pas kecelakaan dulu. Gue harus pakai metode manual jumper buat nyambungin sirkuitnya satu-satu di bawah mikroskop. Kalau gue paksa sekarang, datanya malah bisa wipe total dan kita nggak bakal dapet apa-apa."
Arka tertunduk lesu. Satu bulan adalah waktu yang sangat lama bagi seseorang yang setiap harinya merasa sekarat karena rasa bersalah yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Ia tidak tahu bahwa dalam satu bulan itu, Arunika bisa saja sudah benar-benar menghapus jejaknya di Yogyakarta.
"Sabar, Ka. Gue bakal usahain," tambah Rio lembut. "Tapi sementara gue kerjain ini, mending lo coba cari cara lain. Lo bilang lo ngerasa dia ada di sekitar halte kemarin, kan? Coba lo balik ke sana. Siapa tahu semesta ngasih petunjuk lewat cara manual, bukan lewat kartu rusak ini."
Arka terdiam. Kalimat Rio ada benarnya. Namun, ia tidak tahu bahwa saat ini Arunika sudah berada ratusan kilometer jauhnya, berusaha mengubur semua ingatan tentangnya di kota lain.
Arka terpaku. Matanya menangkap sesuatu yang tersembunyi di sudut meja kayu tersebut. Sebuah ukiran kecil, sangat halus namun terasa dalam, seolah dibuat dengan penuh perasaan menggunakan ujung benda tajam.
S & A.
Dua huruf itu seperti sengatan listrik yang merambat dari ujung jarinya ke seluruh saraf di tubuhnya. Arka mengusap ukiran itu berulang kali. S dan A. Ia tahu namanya adalah Arka, tapi siapa S? Dan siapa A? Kepalanya mulai berdenyut lagi, pintu-pintu memori yang berkarat di otaknya mencoba terbuka secara paksa.
Tepat saat itu, pelayan kafe datang membawa secangkir kopi hitam dan satu piring kecil camilan. Ia melihat Arka sedang memperhatikan ukiran tersebut. Pelayan itu menghela napas panjang, matanya menatap ukiran itu dengan tatapan hormat sekaligus sedih.
"Itu Mas yang suka buat sketsa yang buat," ucap pelayan itu tiba-tiba, suaranya merendah. "Dia pelanggan setia kami dulu. Setiap sore dia duduk di sini, menunggu seseorang sambil terus menggambar di buku sketsanya."
Arka mendongak, menahan napas. "Mas yang buat sketsa?"
"Iya, Mas. Tapi... kata orang-orang, dia meninggal karena kecelakaan tiga tahun lalu," lanjut si pelayan dengan nada getir. "Makanya kursi dan meja ini sengaja nggak dibuang dan nggak diganti posisinya oleh pemilik kafe. Anggap saja sebagai penghormatan buat dia. Dia orang baik, Mas."
Arka membeku di tempatnya. Dunia seolah berhenti berputar.
Dia meninggal karena kecelakaan.
Kalimat itu menghantam Arka tepat di jantungnya. Ia tahu ia baru saja bangun dari koma setelah kecelakaan hebat tiga tahun lalu. Tapi pelayan ini bilang, orang yang duduk di sini sudah meninggal. Arka mulai menyadari kebingungan semesta ini: orang-orang mengira jiwanya—yang mereka kenal sebagai "S" atau Senja—sudah mati bersama jasad Senja yang asli.
"Lalu... 'A' itu siapa?" tanya Arka dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Pelayan itu tampak mengingat-ingat. "A itu... mungkin pacarnya. Saya lupa namanya, tapi dia gadis yang manis. Terakhir kali saya lihat, dia datang ke sini beberapa hari yang lalu. Dia duduk di kursi yang Mas duduki sekarang, nangis sesenggukan sambil megang buku sketsa itu. Dia kelihatan hancur banget, Mas."
Arka meremas pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah detaknya berusaha memanggil kembali ingatan yang dicuri paksa oleh maut. Gadis itu. Gadis yang ia temui di halte tempo hari dengan tatapan mata paling pilu yang pernah ia lihat. Gadis yang aromanya seakan masih tertinggal secara magis di kursi ini, kursi yang sama tempatnya sekarang duduk.
Ternyata, baru beberapa hari lalu gadis itu duduk di sini, meratapi "kematian kekasihnya" tepat di meja ini. Sementara itu, Arka duduk di sini dalam raga yang sehat, namun dengan memori yang bersih seperti kertas kosong. Ia menatap ukiran S & A itu dengan perasaan yang campur aduk.
"Jadi... kekasihnya sudah mati," gumam Arka lirih.
Air mata kembali menggenang di matanya, jatuh satu per satu membasahi permukaan kayu meja yang kasar. Rasa sakit luar biasa yang menghantam dadanya semalam kini mulai terasa masuk akal, namun sekaligus membingungkan. Arka belum menyadari bahwa "kekasih" yang ditangisi gadis itu adalah dirinya sendiri. Dalam logikanya yang terbatas, ia berpikir mungkin ia dan gadis itu pernah bertemu di sebuah dimensi lain saat ia sedang koma, atau mungkin ia memiliki ikatan batin dengan Senja, pria yang sudah meninggal itu.
Ia merasa seolah-olah jiwanya adalah sebuah wadah yang menampung sisa-sisa perasaan Senja. Ia berpikir, apakah mungkin rasa sakit ini adalah titipan dari almarhum Senja agar Arka bisa menjaga gadis itu? Ataukah mereka sebenarnya telah menjalin janji di dunia bawah sadar selama tiga tahun ia tertidur?
"Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa duka kamu rasanya seperti dukaku juga?" bisik Arka pada kursi kosong di depannya.
Ganjalan di hatinya kini terasa semakin nyata. Ia bukan sekadar merasa kasihan, tapi ia merasa bertanggung jawab atas air mata gadis itu. Arka merasa seolah semesta sedang mempermainkannya dalam sebuah labirin; ia berdiri di depan pintu keluar, namun ia tidak tahu kunci mana yang harus digunakan karena ia tidak mengenali wajahnya sendiri di masa lalu.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍