Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menegangkan
Sky melepaskan dasinya dengan kasar begitu pintu apartemen mewahnya tertutup. Suasana makan siang bersama Anastasia dan ibunya tadi terasa begitu menyesakkan, penuh dengan pembicaraan soal saham dan rencana pertunangan yang membuatnya muak.
Pikirannya tertinggal di kelas tadi, pada kehangatan kulit di balik baju crop Ozora. Tanpa menunggu lama, ia segera merebahkan diri di sofa kulitnya dan menekan nomor Ozora.
Saat nada sambung berhenti dan suara lembut Ozora terdengar di seberang sana, rahang Sky yang biasanya kaku seketika melemas.
"Halo?" suara Ozora terdengar ragu.
"Sudah sampai di mansion?" tanya Sky, suaranya kini jauh lebih rendah dan hangat, tidak ada sisa-sisa nada dingin seperti saat ia bicara dengan Anastasia tadi.
"Sudah... baru saja."
"Sudah makan siang? Jangan bilang kamu hanya makan salad lagi seperti di kampus," Sky memulai basa-basi nya. Ia sebenarnya tidak peduli dengan salad itu, ia hanya ingin mendengar suara Ozora lebih lama.
Ozora tertawa kecil di seberang sana, suara yang membuat Sky memejamkan mata dan tersenyum tipis. "Aku makan sup buatan koki rumah, Sky. Kamu sendiri? Bukannya kamu sedang makan siang mewah dengan... mereka?"
Sky mengembuskan napas panjang. "Hanya formalitas. Rasanya hambar. Aku lebih suka teh di taman mu kemarin."
Hening sejenak. Sky memainkan ujung kemejanya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Ozora?"
"Ya?"
"Boleh aku main ke rumahmu lagi malam ini?" tanya Sky langsung, tanpa putar-putar lagi. "Aku tidak ingin membahas tugas. Aku hanya ingin... duduk di taman itu lagi bersamamu."
Di seberang sana, Ozora terdiam cukup lama. Ia memikirkan risiko jika ada yang melihat mobil Sky, ia memikirkan Anastasia, tapi kemudian ia mengingat bagaimana jemari Sky menari di pinggangnya tadi pagi. Keberanian itu menular padanya.
"Boleh, Sky. Datanglah setelah jam delapan. Ibu sepertinya akan pergi ke acara amal malam ini," jawab Ozora pelan.
"Aku akan di sana jam delapan tepat. Pakai baju yang nyaman, Ozora. Aku ingin melihat seni itu lagi tanpa harus sembunyi di bawah meja kampus," gumam Sky dengan nada menggoda yang membuat Ozora tersipu di kamarnya.
Begitu telepon ditutup, Sky langsung bangkit dan menuju lemari pakaiannya. Ia tidak sabar untuk menanggalkan identitasnya sebagai Remington yang sempurna dan menjadi pria biasa yang hanya ingin menemui gadis dengan tato bunga di pinggangnya.
Malam itu, Ozora sudah menunggu di balik pintu besar mansion sebelum bel sempat berbunyi. Ketika sosok jangkung Sky muncul dengan pakaian santai yang masih terlihat sangat mahal, Ozora memberikan senyum tulus yang kini sudah tidak lagi ia sembunyikan.
"Kamu tepat waktu, Sky," bisik Ozora sambil mempersilakan pria itu masuk ke dalam kemegahan rumahnya.
"Aku tidak ingin melewatkan satu menit pun," jawab Sky rendah, matanya langsung memindai penampilan Ozora. Malam ini Ozora memakai sweater rajut yang sedikit longgar namun pendek, memperlihatkan sedikit kilasan garis tatonya saat ia bergerak.
Baru saja Sky hendak duduk di sofa ruang tengah, Nyonya Bellvania turun dari tangga dengan gaun pesta yang berkilauan. Namun, ekspresinya tampak sedikit terburu-buru.
"Oh, Sky! Senang kamu sudah sampai," sapa ibunya ramah, namun kemudian menoleh ke Ozora dengan cemas. "Ozora, Sayang, Ibu baru saja mendapat kabar kalau beberapa teman dari yayasan amal akan mampir ke sini sebentar sebelum kami berangkat bersama. Ibu khawatir mereka akan terlalu berisik dan mulai menanyakan hal-hal pribadi jika melihat Sky di sini."
Ozora tersentak. Jika teman-teman ibunya, yang juga bagian dari sosialita Moskow, melihat Sky Remington di sini, berita ini akan sampai ke telinga Anastasia dalam hitungan jam.
"Bawa Sky ke atas, ke kamarmu saja, Sayang. Di sana lebih tenang dan tidak akan ada yang mengganggu kalian," lanjut ibunya sambil memberikan kedipan mata rahasia sebelum berlalu menuju pintu depan.
Ozora terpaku. "Ke... kamar?"
Sky yang berdiri di sampingnya tampak berdehem pelan. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, namun detak jantungnya mendadak berpacu lebih kencang dari biasanya.
"Ayo, Sky. Sebelum mereka sampai," ucap Ozora gugup, menarik ujung lengan jaket Sky untuk mengikutinya menaiki tangga marmer yang melingkar.
Saat pintu kamar kayu itu tertutup rapat, suasana mendadak menjadi sangat sunyi, sunyi yang penuh dengan ketegangan elektrik. Sky masuk dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, matanya perlahan memperhatikan sekeliling ruangan yang sangat mencerminkan kepribadian Ozora.
Kamar itu beraroma vanila dan buku lama. Ada rak buku yang penuh hingga ke langit-langit, meja gambar di sudut ruangan, dan sebuah tempat tidur besar dengan sprei abu-abu yang tampak sangat nyaman.
"Maaf, tempat ini agak... berantakan," gumam Ozora, meskipun sebenarnya kamar itu sangat rapi. Ia merasa sangat telanjang karena membiarkan Sky masuk ke ruang paling pribadinya.
Sky berjalan menuju meja gambar Ozora, melihat beberapa sketsa pola bunga yang mirip dengan tato di pinggangnya. "Ini kamarmu?" tanya Sky pelan, suaranya terdengar lebih berat di ruangan yang tertutup itu.
"Iya," jawab Ozora pendek, ia berdiri di dekat pintu, tidak tahu harus berbuat apa.
Sky berbalik, menatap Ozora yang tampak begitu mungil di depan pintu kamarnya sendiri.
"Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar seorang gadis sejak... entahlah, aku tidak pernah melakukannya. Bahkan dengan Anastasia, kami selalu di ruang tamu atau tempat umum."
Sky melangkah mendekat, memecah jarak di antara mereka. Cahaya lampu tidur yang remang-remang membuat suasana semakin intim. "Dan aku merasa terhormat bisa berada di sini, di tempat di mana Ozora yang asli berada."
Sky meletakkan tangannya di dinding, tepat di samping kepala Ozora, membuat gadis itu sedikit terperangkap. "Jadi, Ozora... karena tidak ada teman-teman kita, tidak ada ibumu, dan tidak ada Anastasia... apa aku boleh melihat tato itu dengan lebih jelas sekarang?"
Napas Ozora terasa tercekat di tenggorokan. Permintaan Sky yang rendah dan serak itu seolah melumpuhkan logikanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ozora perlahan mengangkat ujung sweter rajutnya, menyingkap rahasia yang selama ini ia jaga di balik lapisan pakaian.
Di bawah temaram lampu kamar, tato bunga peony dan lili itu tampak begitu hidup. Guratan tintanya mengikuti lekuk pinggang Ozora yang sempurna, menciptakan kontras yang sangat indah dengan kulitnya yang putih pucat.
Sky terpaku. Matanya menggelap, dipenuhi kekaguman yang tak tertahankan. Ia berlutut di depan Ozora, bukan untuk memohon, melainkan untuk memberikan penghormatan pada keindahan yang ada di depannya.
Cup.
Ozora menegang sempurna. Tubuhnya bergetar kecil saat ia merasakan sentuhan bibir Sky yang hangat dan lembut mendarat tepat di atas guratan tinta di pinggangnya. Itu bukan sekadar ciuman, tapi sebuah pengakuan, bahwa Sky memuja setiap bagian dari diri Ozora yang selama ini tersembunyi.
"Sky..." bisik Ozora, suaranya nyaris hilang.
Sky mendongak, menatap mata Ozora dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seluruh dunianya hanya terpusat pada pria ini. Tanpa memberikan waktu bagi Ozora untuk berpikir, Sky berdiri dan meraih tengkuknya.
Detik berikutnya, bibir mereka bertemu.
Ciuman itu tidak seperti ciuman formal yang Sky berikan pada Anastasia di depan publik. Ini adalah ciuman yang haus, penuh kerinduan, dan luapan perasaan yang selama ini ia tekan di bawah meja marmer kampus. Sky menciumnya seolah-olah Ozora adalah satu-satunya udara yang bisa menyelamatkannya dari tenggelam.
Dengan gerakan yang sangat halus namun penuh dominasi, Sky menuntun langkah Ozora mundur hingga bagian belakang lutut gadis itu menyentuh tepi tempat tidur. Sky tidak melepaskan tautan bibir mereka saat ia perlahan merebahkan tubuh Ozora ke atas ranjang yang empuk.
Ozora tenggelam dalam kelembutan spreinya, dengan tubuh tegap Sky yang kini mengurungnya dari atas. Aroma sandalwood dan maskulin dari tubuh Sky memenuhi indra penciumannya, memabukkan dan terasa sangat nyata.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini, Ozora," bisik Sky di sela-sela ciumannya yang kini berpindah ke ceruk leher Ozora. "Hanya kita berdua. Tanpa siapa pun yang melihat."
Di bawah mereka, suara samar tawa tamu ibu Ozora di lantai bawah terdengar, menciptakan kontras yang gila. Di bawah sana ada kepalsuan sosialita, sementara di kamar ini, di atas ranjang ini, semuanya terasa begitu jujur dan membara.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰