Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam pun berlalu. Sinar matahari menyinari kamar dimana Nabila tertidur.
"Hoaammm..." lirih Nabila saat membuka mata, dia melihat tempat itu sama sekali tidak seperti kamarnya.
"Aku ada dimana ini?"
"Astaaaaagaaa bajukuu!" ucap Nabila terkejut melihat pakaian yang dia kenakan berbeda dari kemarin.
"Kalian siapa??.." pekik Nabila menatap dua pelayan yang berdiri diam di sisi ranjangnya.
"Maaf nona, kami pelayan yang diutus untuk mengurus nona," ucap salah satu pelayan dengan sopan.
"Aku ada dimana??" ucap Nabila dengan nada sedikit menekan.
"Nona ada di Istana Mahkota Perak milik Tuan Reynaldo... mungkin nona bisa menanyakannya nanti saat di ruang makan. Mari nona, saya bantu bersiap-siap," ucap pelayan itu.
"Kamar mandinya dimana?"
"Disana nona, mari saya antar," ucap pelayan itu sambil menuntun Nabila menuju kamar mandi di dalam kamar itu.
Saat hendak masuk, pelayan itu ingin mengikuti.
"Kau mau apa??" tanya Nabila kepada pelayan itu.
"Ingin membantu nona bersiap-siap."
Nabila langsung menutupi bagian dadanya dengan tangan.
"Tidakk... aku bisa melakukannya sendiri!" ucap Nabila terkejut, lalu langsung berlari masuk kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit kasar.
Di kamar mandi, Nabila menatap wajahnya di cermin.
"Mengapa aku sampai bisa disini?" gumamnya mencoba mengingat kejadian kemarin.
"Aku harus cepat-cepat... bisa-bisa aku dipecat sekarang! Kejadian kemarin pasti membuat bos marah karena aku tidak mengantar pesanan mereka," ucap Nabila bergegas membersihkan diri. Setelah mandi, dia baru menyadari tidak membawa pakaian sendiri.
Nabila keluar menggunakan handuk kimono yang tersedia. Saat membuka pintu, dia terkejut melihat kedua pelayan masih berdiri setia di depan pintu kamar mandinya.
"Astaggaaa!" pekik Nabila sambil memegang dadanya karena terkejut.
"Hampirr saja kalian membuatku terkejut parah!" lirih Nabila kepada mereka.
"Ma-maafkan kami nona, tapi ini pakaian untuk nona," ucap pelayan itu sambil memberikan sebuah paperbag.
"Apa ini?" tanya Nabila yang masih bingung.
"Pakaian nona..." jawab pelayan itu singkat.
"Ohh baiklah, kalian tunggu disana saja, aku akan segera keluar," ucap Nabila lalu masuk kembali ke kamar mandi.
Sekali lagi Nabila terkejut – dress putih yang diberikan sangat cantik, bahkan tag harga masih tertera jelas: 25.000$.
"Haaa??? Baju ini seharga 25.000$?" gumamnya terkejut melihat angka itu.
Nabila memakai dress tersebut lalu keluar kamar mandi. Saat hendak menyisir rambutnya, pelayan itu menghampirinya.
"Nona, biar kami bantu..." ucap pelayan itu.
"Aku masih punya tangan, kau tidak perlu membantuku," ucap Nabila.
"Tapi nona, tuan menyuruh kami melayani nona dengan baik. Jika tidak kami lakukan, kami akan mendapat hukuman berat dari tuan," ucap pelayan itu dengan wajah takut.
Mendengar kata itu membuat bulu kuduk Nabila berdiri.
"Apa dia gila? Hukuman berat hanya karena tidak melayaniku?! Jangan omong kosong!" ucap Nabila.
"Kami mohon nona, kami masih ingin hidup..." pinta kedua pelayan itu dengan tangan bergandengan.
"Baiklah baiklah! Aku tidak tahan melihat orang memohon seperti itu!" ucap Nabila pasrah.
Kini para pelayan mulai mendandani dirinya – hanya dengan sedikit sentuhan riasan membuat Nabila terlihat sangat cantik.
"Nona sangat cantik..." puji pelayan itu.
"Jangan panggil aku nona saja, panggil saja Nabila," ucapnya kepada pelayan.
"Dimana aku bisa menemui tuanmu? Aku ingin meminta izin untuk pulang," tanya Nabila.
"Mari saya antar Nabila," ucap pelayan itu sambil mengantarkannya menuju ruang makan.
Di sana Reynaldo sudah duduk. Aura dinginnya membuat seluruh pelayan merasa takut, tapi berbeda dengan Nabila yang menganggap dia sebagai sumber masalah kemarin.
"Ini sangat berlebihan sekali," ucap Nabila pelan kepada Reynaldo.
"Makanlah! Aku tidak suka ada suara saat sedang makan," ucap Reynaldo dengan nada datar.
Nabila sedikit kesal mendengarnya.
"Ingin sekali aku menepuk wajahnya," gumamnya dalam hati.
Dia mulai memakan pancake yang tersedia di depan dirinya, kemudian meminum jus buah yang disediakan. Dia sangat ingin segera pergi dari istana itu, tapi harus menunggu Reynaldo menyelesaikan sarapannya.
"Apa-apaan ini... mengapa hari-hariku akhir-akhir ini sangattt burukkk!!" gumamnya frustasi mengingat kejadian dua hari terakhir.
Akhirnya Reynaldo selesai makan. Nabila mengikutinya menuju ruang tamu.
"Apa aku sudah bisa bicara sekarang??" tanya Nabila kepada Reynaldo.
"Hemp..." hembusan napas Reynaldo yang membuat Nabila semakin kesal.
"Aku merasa semua ini terlalu berlebihan. Aku mau mengucapkan terima kasih, tapi sekarang aku ingin pulang!" ucap Nabila tegas.
"Baiklah! Riooo dimana?" ucap Reynaldo merentangkan tangan, meminta sesuatu dari asisten pribadinya.
"Ini tuan..." ucap Rio memberikan sebuah cek dan pulpen.
Reynaldo menuliskan angka 1,5 juta dolar di dalam cek itu, kemudian memberikannya kepada Nabila.
"Ini sebagai ganti rugi atas kejadian kemarin," ucap Reynaldo sambil meletakkan cek di depan Nabila.
Nabila mengambilnya dan melihat jumlah yang tertera, lalu langsung mengembalikannya.
"Ini berlebihan! Kau cukup bayar sesuai kerusakan yang kau buat saja! Aku bukan wanita yang mau menerima uang secara sembarangan!" ucapnya dengan tegas.
Padahal uang itu bisa saja dia gunakan untuk membeli rumah sendiri dan keluar dari rumah yang dia anggap menjijikan.
"Ambil saja, itu tidak seberapa bagiku," ucap Reynaldo memberikan kembali cek itu.
"Aku tidak bisa menerima ini!"
"Tapi aku tidak suka penolakan!"
"Kau cukup bayar 600$ saja, bukan 1,5 juta$!" ucap Nabila menatap tajam ke arah Reynaldo.
Reynaldo melihatnya dengan heran. Di luar sana banyak wanita yang mendamba dirinya karena kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki. Bahkan dulu pacarnya, Maya, selalu menginginkan uang darinya sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.
"Apa kau wanita gila!?" ucap Reynaldo dengan nada santai.
"Kau yang gila!!!" pekik Nabila.
"Jelas kau yang gila! Aku mau mengganti rugi lebih banyak tapi kau malah menolaknya!!" bentak Reynaldo.
"Kau kira aku wanita pemeras?! Aku hanya ingin kau mengganti kerugian yang terjadi, bukan membeli diriku!" teriak Nabila.
"Sekarang berikan aku uang yang aku minta saja! Lama-lama disini membuatku kesal!" umpat Nabila kesal.
"Berikan apa yang dia minta!" perintah Reynaldo kepada Rio.
Rio kemudian memberikan 6 lembar uang 100$ – untuk mengganti biaya pesanan yang tidak terkirim dan memperbaiki motornya.
Tiba-tiba Nabila teringat akan motornya. Setelah menerima uang itu, dia segera mengambil pakaiannya yang sudah disiapkan pelayan dari loker karyawan kafe. Saat ingin mengecek ponselnya, ternyata baterainya sudah habis, jadi dia memutuskan untuk pulang dan beristirahat terlebih dahulu. Uang 600$ itu kemudian dia gunakan untuk membayar sebagian uang sekolahnya.