NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Warisan dalam Detak

Toko instrumen Arthur tidak lagi hanya berbau kayu dan pernis, kini ada aroma bedak bayi dan minyak telon yang samar di antara rak-rak biola. Kehidupan mereka telah bergeser porosnya. Di sudut bengkel kerja Arthur, sebuah buaian kayu ek buatan tangannya sendiri berayun pelan. Di dalamnya, bayi perempuan mereka, Lyra, tertidur lelap.

Namun, Lyra bukanlah bayi biasa. Sejak lahir, ia tidak pernah menangis karena suara keras. Ia justru akan terbangun dan menoleh dengan presisi luar biasa setiap kali ada frekuensi yang tidak harmonis di sekitarnya—gesekan kursi yang kasar atau dengungan lampu neon yang mulai rusak.

"Dia mewarisi 'pendengaran' itu, Arthur," bisik Elara suatu malam, sambil memperhatikan Lyra yang tampak tenang mendengarkan detak jam dinding seolah itu adalah simfoni terbesar di dunia.

Arthur menghela napas, ada kecemasan yang tumbuh di dadanya. Ia tahu betapa beratnya hidup dengan telinga yang mampu menguliti setiap lapisan suara. "Kita tidak akan membiarkan dia menjadi 'Arsitek' berikutnya, El. Dia akan belajar mencintai kebisingan sebelum dia mengenal frekuensi."

Tamu dari Masa Lalu London

Kedamaian itu terusik ketika sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan toko yang biasanya sepi. Dari dalamnya keluar seorang pria tua kurus dengan rambut perak yang disisir rapi. Arthur mengenalnya sebagai Thomas, mantan teknisi kepala di studio London tempat ia dan Marcus pertama kali merintis karier sepuluh tahun lalu.

Thomas tidak membawa ancaman, ia membawa keputusasaan.

"Arthur, aku tidak datang untuk meminta algoritma," ucap Thomas, suaranya parau. "Aku datang karena cucu perempuanku, Mia. Dia menderita kondisi langka yang disebut misophonia akut. Baginya, setiap suara di dunia ini terasa seperti tusukan pisau di otaknya. Dia tidak bisa keluar rumah, tidak bisa sekolah. Dia hidup dalam isolasi total."

Arthur mengepalkan tangannya di bawah meja. "Kau tahu aku sudah berjanji tidak akan menyentuh manipulasi suara lagi, Thomas."

"Ini bukan manipulasi untuk industri, ini untuk kemanusiaan!" Thomas memohon. "Hanya kau yang tahu cara membangun 'ruang aman' dalam spektrum suara. Aku tidak minta kau merilis apa pun. Aku hanya minta kau membuatkan sebuah alat bantu dengar yang bisa memfilter dunia agar dia bisa bertahan hidup."

Dilema Sang Arsitek

Elara, yang berdiri di balik tirai dapur, mendengar semuanya. Ia tahu ini adalah ujian terakhir bagi prinsip mereka. Jika Arthur membantu Mia, ia berisiko membuka kembali pintu menuju teknik-teknik yang dulu hampir menghancurkan jiwanya. Namun jika ia menolak, ia membiarkan seorang anak kecil menderita dalam penjara sunyi yang mengerikan.

Malam itu, Arthur berdiri di depan perangkat elektroniknya yang sudah berdebu dan tersimpan di loteng. Ia menatap solder dan papan sirkuit itu seolah-olah itu adalah senjata terlarang.

"Jika kau melakukannya untuk menolong, itu bukan obsesi, Arthur," Elara muncul di ambang pintu, menggendong Lyra yang terbangun. "Itu adalah penebusan. Gunakan bakatmu untuk menyembuhkan, bukan untuk mempesona dunia."

Frekuensi Penyembuh

Arthur akhirnya setuju. Selama satu bulan, toko instrumen itu berubah menjadi laboratorium rahasia. Namun kali ini, tujuannya berbeda. Ia tidak mencari nada yang bisa menyatukan jutaan orang; ia mencari "frekuensi pribadi" milik Mia.

Ia merancang sebuah perangkat yang disebutnya "The Gentle Filter". Alat itu tidak mematikan suara, tapi mengubah frekuensi yang kasar menjadi tekstur yang lebih lembut—seperti mengubah suara klakson menjadi denting piano yang jauh.

Saat Mia, gadis kecil berusia delapan tahun itu, pertama kali mencoba perangkat tersebut di toko Arthur, keajaiban terjadi. Untuk pertama kalinya, Mia tidak menutup telinganya dengan ketakutan. Ia tersenyum mendengarkan suara tawa Lyra yang biasanya akan membuatnya menjerit kesakitan.

"Terima kasih, Paman," bisik Mia pelan.

Lingkaran yang Tertutup

Thomas membawa Mia pulang, meninggalkan Arthur dengan rasa lega yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menyadari bahwa kekuatannya selama ini bukanlah kutukan, melainkan alat yang selama ini salah digunakan.

Ia kembali ke loteng, namun kali ini bukan untuk bekerja. Ia mengambil seluruh perangkat elektronik lamanya, memasukkannya ke dalam kotak, dan menyegelnya dengan selotip.

"Aku akan menyimpan ini untuk Lyra," kata Arthur pada Elara. "Bukan untuk dia gunakan sebagai senjata, tapi untuk dia pelajari jika suatu saat nanti dunia menjadi terlalu berisik baginya. Dia akan tahu bahwa ayahnya pernah berjuang melawan keheningan agar dia bisa mendengar dunia dengan damai."

Bab 28 ditutup dengan Arthur yang duduk di piano tua di tokonya. Ia mulai memainkan melodi sederhana untuk Lyra dan Elara. Tidak ada mesin, tidak ada monitor, tidak ada frekuensi tersembunyi. Hanya ada suara kayu yang bergetar dan cinta yang mengalir lewat nada-nada yang jujur.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!