NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Ruang Ajaib
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Kekuatan yang Tersembunyi

Di kamar yang dulu jadi kamar tidur nenek, Suyin merasakan seluruh tubuhnya gemetar saat energi hitam pekat itu menghantam barrier spiritualnya.

CRASH!

Gelombang kejut membuatnya terpental ke belakang, punggungnya membentur dinding dengan keras. Rasa sakit menjalar, tapi yang lebih menakutkan—barrier-nya retak!

Pria tinggi besar itu melangkah masuk dengan santai, seolah sudah yakin menang.

"Barrier-mu lumayan untuk pemula. Tapi tidak cukup untuk menghadapi kultivator tingkat menengah seperti aku." Dia mengangkat tangan lagi—energi hitam berkumpul lebih besar dari sebelumnya. "Sekarang, serahkan gelang itu dengan baik-baik, atau aku akan mengambilnya dari tanganmu yang patah."

Suyin berdiri dengan susah payah, satu tangan memegangi punggung yang sakit, tangan lainnya melindungi gelang giok.

"Tidak akan," ucapnya dengan napas tersengal. "Ini milikku. Warisan nenekku."

"Nenekmu sudah mati. Dia tidak peduli lagi."

Kata-kata itu menyalakan sesuatu dalam diri Suyin—amarah yang mendidih.

"JANGAN BICARA TENTANG NENEKKU!"

Tanpa sadar, Qi dalam tubuh Suyin meledak—jauh lebih kuat dari biasanya. Gelang giok di tangannya bersinar sangat terang, cahaya hijau zamrud memenuhi seluruh ruangan.

Pria itu mundur satu langkah, terkejut. "Apa—"

Dari dalam gelang, sesuatu keluar—bukan fisik, tapi energi. Energi yang berbentuk seperti bayangan seorang wanita tua.

Bayangan nenek Lin.

"Nenek..." bisik Suyin dengan air mata mengalir.

Bayangan itu tidak bicara—tapi dia merentangkan tangan, dan tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi dengan aura pelindung yang sangat kuat. Aura yang membuat pria tinggi besar itu tidak bisa bergerak—seperti terikat oleh kekuatan tak kasat mata.

"Ini... ini Kesadaran Sisa dari kultivator tingkat tinggi!" teriak pria itu panik. "Tidak mungkin! Keluarga Lin sudah tidak punya kultivator tingkat tinggi lagi!"

Bayangan nenek Lin menatap Suyin dengan tatapan penuh cinta—lalu perlahan menghilang, menyatu kembali dengan gelang giok.

Tapi sebelum menghilang sepenuhnya, Suyin mendengar suara lembut di kepalanya—suara nenek:

"Kamu lebih kuat dari yang kamu kira, Suyin. Percaya pada dirimu sendiri. Dan jangan lupa—kamu tidak sendirian."

Energi pelindung yang ditinggalkan nenek masih menyelimuti Suyin—barrier-nya yang tadi retak sekarang pulih dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Pria tinggi besar itu akhirnya bisa bergerak lagi setelah bayangan nenek menghilang. Tapi sekarang dia terlihat ragu—tidak lagi percaya diri seperti sebelumnya.

"Kamu... kamu bukan kultivator biasa," ucapnya sambil mundur perlahan ke arah pintu. "Keluarga Lin memang masih menyimpan rahasia."

"Pergi. Sekarang. Dan jangan pernah kembali." Suyin berbicara dengan suara yang jauh lebih tenang dari yang dia rasakan—tapi di dalam hatinya masih berdebar keras.

Pria itu menatapnya sebentar—lalu memutuskan bahwa ini bukan pertarungan yang bisa dia menangkan. Dia berbalik dan berlari keluar dari kamar.

Begitu dia pergi, Suyin langsung merosot ke lantai. Kakinya lemas, seluruh tubuhnya gemetar—bukan karena takut lagi, tapi karena pelepasan adrenalin yang tiba-tiba.

"Nenek..." bisiknya sambil memeluk dirinya sendiri. "Terima kasih."

Pintu kamar terbuka lebar—Xiao Zhen muncul dengan napas tersengal, wajah penuh kekhawatiran.

"SUYIN!"

Dia langsung berlutut di samping Suyin, memeriksa kondisinya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Kamu terluka? Di mana? Ada yang sakit?" pertanyaannya cepat, matanya menyapu seluruh tubuh Suyin mencari luka.

"Aku... aku baik-baik saja," jawab Suyin dengan suara lemah. "Ada kultivator tingkat menengah yang masuk tapi... nenek melindungiku."

"Nenek? Apa maksudmu?"

Suyin menceritakan apa yang terjadi—bayangan nenek yang muncul dari gelang, energi pelindung yang tersisa, suara yang dia dengar.

Xiao Zhen mendengarkan dengan serius, lalu dia menatap gelang giok di tangan Suyin dengan tatapan baru—penuh respek.

"Kesadaran Sisa. Itu adalah teknik kultivator tingkat sangat tinggi—menanamkan sebagian kesadaran mereka dalam artefak untuk melindungi pewaris bahkan setelah mereka meninggal." Dia menyentuh gelang itu dengan lembut. "Nenekmu... dia jauh lebih kuat dari yang semua orang kira."

"Dia masih menjagaku," bisik Suyin dengan air mata yang kembali mengalir.

Xiao Zhen menarik Suyin ke dalam pelukannya—erat tapi lembut.

"Kamu mengalami banyak hari ini. Tapi kamu bertahan. Kamu sangat kuat, Suyin." Suaranya bergetar sedikit. "Aku minta maaf meninggalkanmu. Aku seharusnya tetap di sisimu."

"Kamu harus melawan Madame Hei. Aku mengerti." Suyin membalas pelukan itu, membiarkan dirinya merasa aman sebentar di pelukan Xiao Zhen.

Mereka bertahan seperti itu beberapa saat—sampai suara langkah kaki cepat mendekat.

Chen Ling muncul di pintu dengan napas tersengal. "Tuan Muda! Zhao Mei terluka—dia butuh ramuan penyembuhan segera!"

Suyin langsung bangkit—melupakan rasa lelah dan sakitnya sendiri.

"Di mana dia?"

"Di koridor. Liu Peng sedang menahannya tapi luka di perutnya cukup dalam."

Suyin mengambil tas kecil berisi kit ramuan darurat yang masih menggantung di bahunya—untungnya tidak rusak saat pertarungan tadi.

Mereka berlari ke koridor. Zhao Mei terbaring di lantai dengan tangan menekan perut—darah merembes di antara jarinya. Wajahnya pucat tapi dia masih sadar.

"Zhao Mei!" Suyin langsung berlutut di sampingnya, membuka tas dan mengeluarkan Ramuan Pemulih Cepat.

"Aku... baik-baik saja," ucap Zhao Mei lemah. "Cuma luka kecil."

"Ini bukan luka kecil!" Suyin membuka botol ramuan dengan tangan gemetar. "Minum ini dulu."

Zhao Mei minum ramuan itu—wajahnya langsung terlihat sedikit lebih baik. Ramuan bekerja cepat, menghentikan pendarahan dan mulai menutup luka dari dalam.

"Ramuan buatanmu... benar-benar kuat," ucap Zhao Mei dengan senyum lemah. "Terima kasih."

Liu Peng yang berdiri di sampingnya menghela napas lega. "Aku pikir dia akan... syukurlah kamu punya ramuan itu."

Suyin mengeluarkan satu botol lagi—Ramuan Penghilang Rasa Sakit—dan meneteskannya di luka luar Zhao Mei setelah membersihkan darah. Luka mulai menutup dengan cepat, meninggalkan hanya bekas luka tipis yang akan hilang dalam beberapa hari.

"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Xiao Zhen pada Chen Ling.

"Wei Hao dan Zhang Wei masih di luar—mereka berhasil menangkap tiga kultivator Organisasi Bayangan yang mencoba kabur lewat belakang. Liu Peng dan aku berhasil melumpuhkan empat di dalam rumah—mereka sekarang terikat dengan formasi penahan di ruang tamu." Chen Ling melaporkan dengan efisien. "Madame Hei dan satu kultivator tingkat menengah lainnya berhasil kabur."

"Total yang berhasil kabur dua orang. Yang tertangkap tujuh." Xiao Zhen mengangguk. "Cukup baik. Kita bisa interogasi yang tertangkap untuk dapat informasi tentang Organisasi Bayangan."

"Bagaimana dengan rumah?" tanya Suyin khawatir. "Dan keluargaku?"

"Keluargamu aman—formasi Wei Hao berhasil membuat mereka semua berkumpul di ruang makan belakang dan taman samping tanpa menyadari ada pertarungan. Mereka pikir ada gempa kecil." Chen Ling tersenyum tipis. "Wei Hao sudah mulai perbaiki kerusakan dengan teknik kultivasi—dalam satu jam, rumah akan terlihat seperti tidak pernah rusak."

Suyin menghela napas lega yang sangat panjang. "Terima kasih. Terima kasih semuanya."

Satu jam kemudian, situasi sudah lebih terkendali.

Tujuh kultivator Organisasi Bayangan yang tertangkap sudah diikat dan dijaga oleh Wei Hao dan Zhang Wei di ruang basement—jauh dari pandangan tamu.

Rumah sudah diperbaiki—Wei Hao ternyata punya kemampuan kultivasi tanah dan kayu, jadi dia bisa memperbaiki dinding, lantai, dan furnitur yang rusak dengan relatif cepat.

Keluarga besar Lin perlahan kembali ke ruang tamu—masih sedikit bingung dengan "gempa kecil" tadi tapi tidak mencurigai apa-apa.

Paman Cheng mendekati Suyin dengan wajah khawatir. "Suyin, kamu tidak apa-apa? Tadi sempat terasa ada getaran keras."

"Aku baik-baik saja, Paman. Cuma sedikit kaget dengan gempa tadi." Suyin tersenyum meyakinkan—walau tubuhnya masih terasa sakit di beberapa bagian.

"Syukurlah. Oh ya, apa kamu lihat sepupumu Meifeng? Dia tadi sempat terlihat sangat pucat."

Suyin langsung waspada. "Dia di mana sekarang, Paman?"

"Tadi aku lihat dia berjalan ke teras depan dengan suaminya. Sepertinya mau pulang lebih awal."

Suyin pamit dari Paman Cheng dan langsung berjalan ke teras depan—Xiao Zhen mengikuti di belakangnya.

Meifeng memang ada di sana, berdiri dengan suami dan kedua anaknya yang bermain di halaman. Wajahnya pucat, matanya merah—seperti habis menangis.

"Kak Meifeng," panggil Suyin.

Meifeng berbalik—begitu melihat Suyin, air matanya langsung jatuh lagi.

"Suyin... kamu selamat..." bisiknya dengan suara bergetar. "Aku... aku sangat takut. Aku mendengar suara keras dari dalam tapi tidak bisa masuk—ada sesuatu yang menghalangi. Aku pikir kamu..."

"Aku baik-baik saja." Suyin melangkah mendekat. "Dan kamu juga selamat. Keluargamu juga."

Meifeng mengangguk sambil mengusap air mata. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Terima kasih sudah melindungi kami semua. Aku tahu kamu bisa saja membiarkan kami terluka sebagai balasan atas apa yang aku lakukan..."

"Aku tidak akan melakukan itu. Kita keluarga." Suyin menyentuh bahu Meifeng. "Yang sudah terjadi sudah terjadi. Sekarang, yang penting adalah kita semua aman."

Meifeng menatap Suyin dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya—tidak ada lagi iri hati atau kebencian. Hanya penyesalan dan rasa hormat.

"Kamu sudah berubah, Suyin. Kamu jadi lebih kuat. Lebih dewasa." Dia tersenyum lemah. "Nenek pasti bangga padamu."

Kata-kata itu menyentuh hati Suyin lebih dalam dari yang dia kira. "Terima kasih, Kak."

Mereka berdiri dalam keheningan sebentar—keheningan yang tidak canggung lagi.

"Aku harus pulang," ucap Meifeng akhirnya. "Anak-anak lelah. Tapi... boleh aku hubungi kamu lain kali? Untuk ngobrol? Sebagai keluarga yang seharusnya?"

"Boleh." Suyin tersenyum tulus. "Kapan saja."

Meifeng dan keluarganya pergi dengan mobil mereka. Suyin melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang di tikungan jalan.

Xiao Zhen berdiri di sampingnya, diam saja—membiarkan Suyin memproses emosinya sendiri.

"Aku rasa..." Suyin berbicara pelan. "...aku rasa hubungan kami bisa diperbaiki. Suatu hari nanti."

"Aku rasa begitu juga." Xiao Zhen menyentuh punggung Suyin dengan lembut. "Kamu punya hati yang besar, Suyin. Tidak semua orang bisa memaafkan seperti itu."

"Nenek pernah bilang—keluarga itu segalanya. Bahkan saat mereka menyakitimu, mereka tetap keluarga. Dan keluarga harus saling memaafkan."

Xiao Zhen tersenyum—senyum yang jarang orang lain lihat. Senyum yang hanya untuk Suyin.

"Nenekmu wanita yang bijak."

"Dia memang."

Acara reuni berlanjut sampai sore—walau dengan suasana yang sedikit lebih tenang setelah "gempa kecil" tadi. Tamu-tamu perlahan mulai pulang satu per satu.

Suyin menghabiskan waktu berbincang dengan keluarga besar—paman, bibi, sepupu jauh yang tidak sering ketemu. Banyak yang memuji betapa anggunnya Suyin sekarang, betapa sukses bisnisnya (Suyin hanya tersenyum tanpa menjelaskan detail), dan betapa pasangannya—maksudnya Xiao Zhen—sangat tampan dan sopan.

Xiao Zhen menjalani peran "pasangan" dengan sangat baik—sopan pada keluarga, protektif pada Suyin, tapi tidak terlalu menunjukkan kasih sayang di depan umum. Hanya sesekali menyentuh punggung Suyin atau mengambilkan makanan untuknya—gestur kecil yang terlihat natural.

Tapi mata mereka yang sesekali bertemu menceritakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar peran.

Saat matahari mulai terbenam dan tamu terakhir pulang, Suyin akhirnya bisa menghela napas panjang.

Selesai.

Hari yang ditakuti itu sudah selesai.

Dan mereka menang.

Paman Cheng menghampiri Suyin saat dia sedang duduk di teras belakang—menatap taman yang tadi jadi medan pertarungan tapi sekarang terlihat normal lagi.

"Suyin, terima kasih sudah datang. Aku tahu nenek pasti senang kalau tahu semua keluarga berkumpul untuk mengenang dia." Paman Cheng duduk di samping Suyin. "Dan aku senang lihat kamu bahagia sekarang. Dengan pria yang baik di sampingmu."

Suyin tersenyum. "Terima kasih, Paman."

"Nenek pernah bilang padaku sebelum dia meninggal—dia bilang kamu adalah cucu terkuatnya. Aku tidak terlalu mengerti waktu itu. Tapi sekarang..." Paman Cheng menatap Suyin dengan mata berkaca-kaca. "...sekarang aku mengerti. Kamu memang kuat, Suyin. Kuat dalam cara yang tidak semua orang bisa lihat."

Suyin tidak tahu harus menjawab apa—jadi dia hanya memeluk Paman Cheng dengan erat.

Saat malam tiba dan semua anggota tim Xiao berkumpul di ruang tamu untuk briefing terakhir, Suyin duduk di antara mereka—bukan lagi sebagai orang yang dilindungi, tapi sebagai bagian dari tim.

"Hari ini berhasil," ucap Xiao Zhen membuka diskusi. "Tujuh kultivator Organisasi Bayangan tertangkap. Dua kabur tapi sudah terluka—mereka tidak akan berani datang lagi dalam waktu dekat. Formasi berhasil melindungi sipil. Tidak ada korban jiwa."

"Dan kita punya Suyin yang ternyata bisa mengeluarkan Kesadaran Sisa dari gelang gioknya," tambah Chen Ling sambil tersenyum pada Suyin. "Itu cukup mengesankan."

"Aku tidak sengaja," ucap Suyin jujur. "Itu muncul sendiri saat aku dalam bahaya."

"Kesadaran Sisa memang dirancang seperti itu—akan muncul otomatis saat pewaris dalam ancaman hidup-mati," jelas Wei Hao. "Tapi fakta bahwa nenekmu bisa menanamkan kesadaran sekuat itu berarti dia kultivator tingkat sangat tinggi—mungkin mendekati level tertinggi."

Suyin menyentuh gelang giok dengan perasaan campur aduk—bangga, terharu, dan sedikit sedih karena nenek menyimpan rahasia sebesar ini sendirian.

"Sekarang pertanyaannya—apa yang kita lakukan dengan tujuh kultivator yang tertangkap?" tanya Zhang Wei.

"Interogasi dulu," jawab Xiao Zhen. "Kita perlu tahu struktur Organisasi Bayangan—siapa pemimpin mereka, berapa banyak anggota, apa rencana mereka selanjutnya. Setelah dapat informasi, kita serahkan ke Aliansi Kultivator untuk diadili."

"Aliansi Kultivator?" Suyin bingung.

"Organisasi yang mengatur dunia kultivator—semacam pemerintahan tersembunyi," jelas Liu Peng. "Mereka yang menangani kejahatan kultivator dan menjaga keseimbangan antara dunia kultivator dengan dunia biasa."

"Oh." Suyin banyak belajar hari ini tentang dunia yang tidak pernah dia tahu sebelumnya.

Diskusi berlanjut beberapa menit lagi—detail teknis tentang penanganan tahanan, laporan ke Aliansi, dan langkah-langkah antisipasi kalau Organisasi Bayangan mencoba balas dendam.

Tapi akhirnya, semua setuju bahwa ancaman terbesar sudah lewat.

Setidaknya untuk saat ini.

Malam itu, di perjalanan pulang ke villa, Suyin duduk di samping Xiao Zhen dalam keheningan yang nyaman.

Tubuhnya lelah—setiap otot terasa sakit, bekas memar mulai muncul di beberapa tempat. Tapi hatinya... tenang.

"Xiao Zhen."

"Ya?"

"Terima kasih. Untuk hari ini. Untuk segalanya."

Xiao Zhen meraih tangan Suyin—menggenggamnya dengan lembut.

"Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Dia menatap Suyin. "Dan lebih dari itu—aku melakukan apa yang aku ingin lakukan. Karena kamu penting bagiku."

Jantung Suyin berdetak lebih cepat.

"Kamu juga penting bagiku," bisiknya.

Mereka sampai di villa dalam keheningan—tapi keheningan yang penuh dengan perasaan yang tidak terucapkan.

Xiao Zhen mengantarkan Suyin sampai ke pintu kamarnya.

"Istirahatlah. Kamu butuh tidur yang panjang setelah hari seperti ini." Dia menyentuh pipi Suyin sebentar—gestur yang sangat lembut. "Bermimpi indah, Suyin."

"Kamu juga."

Suyin masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu bersandar di sana dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajah.

Hari ini adalah hari terberat dalam hidupnya.

Tapi juga hari di mana dia menemukan kekuatan yang tidak pernah dia tahu dia miliki.

Hari di mana dia tahu—apapun yang akan datang selanjutnya, dia siap.

Karena dia tidak sendirian.

1
Datu Zahra
kelas restoran dan kafe kemang butuh sayuran 20kg per minggu, enggak mnalar amat. sepi banget dong itu tempat. kalo perhari masuk akal
Mak Gemoy
semangat🔛🔥🔛🔥
Mak Gemoy
kok ibu rumah tangga yg diceraikan? bukannya baru tunangan trus gagal nikah?
Andira Rahmawati
lanjuttt thorrr💪💪💪
Wahyu🐊: Aku Buat Novel baru Mampir yah Judulnya, Kumpulan Carpen Romantis First Date
total 1 replies
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!