NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Nama yang Mulai Berbisik

Dua hari setelah pertemuan itu, semuanya masih terasa normal.

Terlalu normal.

Aruna tetap buka café pagi-pagi.

Arven tetap duduk dekat jendela.

Arkana sibuk dengan laptop kecilnya.

Arsha lagi latihan bikin desain stiker baru.

Arka pulang pergi. Jakarta–kota kecil itu.

Adrian dan Nadira belum mengumumkan apa pun.

Tapi dunia bisnis bukan dunia yang sabar.

Di Jakarta, ruang rapat utama Alveros Group terasa lebih dingin dari biasanya.

Seorang pria paruh baya, sepupu jauh Adrian, membuka pembicaraan.

“Isu ini sudah beredar.”

Adrian menatap datar.

“Isu apa?”

“Bahwa Arka punya tiga anak di luar pernikahan.”

Sunyi.

Beberapa direksi mulai saling pandang.

“Kita belum membuat pernyataan resmi,” lanjut pria itu. “Tapi foto mobil keluarga Bapak terlihat di kota kecil itu.”

Adrian menyilangkan tangan.

“Dan?”

“Pasar sensitif. Investor mempertanyakan stabilitas.”

Adrian tersenyum tipis.

“Stabilitas perusahaan tidak ditentukan oleh status pernikahan anak saya.”

Pria itu mendengus pelan.

“Tapi ahli waris ditentukan oleh garis yang jelas.”

Arka yang duduk di sisi kanan meja akhirnya bersuara.

“Garisnya jelas.”

Semua mata tertuju padanya.

“Tiga anak itu anak saya.”

Ruangan mendadak sunyi total.

Beberapa wajah tampak terkejut. Beberapa tampak tidak senang.

“Apakah sudah ada tes hukum?” tanya salah satu direksi.

Arka menjawab tenang.

“Sudah.”

Adrian menoleh sedikit. Ia memang sudah mengurus itu diam-diam.

Hasilnya tidak terbantahkan.

Sepupu Adrian menatap tajam.

“Dan Anda berencana membawa mereka masuk ke struktur warisan?”

Adrian berdiri perlahan.

“Jika kemampuan mereka melampaui generasi berikutnya, mengapa tidak?”

Kalimat itu seperti bom kecil.

Karena semua orang tahu—

Beberapa keluarga besar Alveros sudah menyiapkan anak-anak mereka untuk posisi pewaris.

Dan sekarang…

Tiga anak berusia lima tahun muncul.

Dengan kecerdasan yang sudah membuat Adrian terkesan.

---

Sementara itu, di kota kecil—

Arven menatap layar laptopnya.

“Ada peningkatan traffic.”

Arkana mendekat.

“Berapa persen?”

“Empat ratus.”

Arsha mengangkat kepala.

“Itu banyak ya?”

“Banget,” jawab Arkana.

Aruna keluar dari dapur.

“Ada apa?”

Arven memutar layar.

“Blog bisnis lokal nulis tentang café ini. Katanya dimiliki keluarga Alveros.”

Aruna membeku.

“Apa?”

Arkana membaca cepat.

“‘Diduga tiga anak jenius yang memiliki kemiripan dengan pewaris Alveros terlihat mengelola bisnis kecil di kota X.’”

Arsha mengerutkan dahi.

“Jenius? Kita cuma kerja.”

Aruna langsung mematikan layar.

“Kita nggak butuh perhatian seperti ini.”

Pintu café terbuka tiba-tiba.

Beberapa orang masuk dengan ponsel mengarah.

“Boleh foto?”

“Benar ini anaknya Pak Arka?”

Aruna berdiri di depan anak-anak.

“Tidak ada wawancara.”

Arven berbisik pelan,

“Dimulai.”

---

Malamnya, Arka datang lebih cepat dari biasanya.

Wajahnya tegang.

“Ada media ke sini?”

Aruna menatapnya.

“Sudah mulai.”

Arka menghela napas panjang.

“Aku minta maaf.”

Arven menyela cepat.

“Kita nggak kaget.”

Arkana menambahkan,

“Justru cepat dari perkiraan.”

Arsha duduk diam.

Arka berlutut di depan mereka.

“Kalian masih bisa mundur.”

Arven menggeleng.

“Kita nggak lari.”

Arkana menatapnya lurus.

“Tapi kamu harus pastikan kita nggak dijual.”

Kalimat itu tajam.

Arka menahan napas.

“Aku nggak akan pernah—”

“Aku tau,” potong Arkana pelan. “Tapi dunia kamu beda.”

Sunyi.

Aruna melihat pertarungan tak terlihat itu.

Bukan tentang harta.

Tapi tentang kendali.

Ponsel Arka berdering.

Nama sepupunya muncul.

Ia menjawab.

“Ya.”

Suara di seberang terdengar tegang.

“Media mulai menyebut soal calon pewaris. Beberapa anggota keluarga tidak senang.”

Arka menjawab datar.

“Masalah mereka.”

“Ini bukan cuma masalah keluarga. Saham naik tajam karena rumor ‘generasi jenius’. Investor tertarik.”

Arka terdiam.

Arven memperhatikan ekspresinya.

“Papa.”

Arka menutup telepon.

“Iya?”

“Kalau kita bikin pernyataan sendiri gimana?”

Aruna menoleh cepat.

“Maksudnya?”

Arkana sudah membuka laptop lagi.

“Kita klarifikasi. Kita bukan bagian struktur perusahaan. Kita cuma anak-anak yang punya café.”

Arsha mengangguk semangat.

“Dan kita nggak mau warisan.”

Arka terdiam.

Adrian pernah bilang—

Nama bisa jadi beban.

Tapi sekarang…

Tiga anak ini justru ingin melepasnya.

“Kalau kalian bilang begitu,” tanya Arka pelan, “kalian siap konsekuensinya?”

Arven mengangguk.

“Kita udah biasa hidup tanpa nama itu.”

Aruna menatap Arka.

“Biarkan mereka pilih.”

Arka menatap anak-anaknya lama.

Lalu akhirnya mengangguk.

“Oke. Tapi aku berdiri di belakang kalian.”

Arkana tersenyum kecil.

“Kita tau.”

Malam itu—

Tiga anak berusia lima tahun membuat video sederhana.

Tanpa logo mewah.

Tanpa latar belakang perusahaan.

Arven bicara duluan.

“Kami Arven, Arkana, dan Arsha.”

Arkana melanjutkan.

“Kami bukan bagian dari manajemen Alveros Group.”

Arsha menutup dengan senyum kecil.

“Kami cuma anak-anak yang lahir tanpa nama itu. Dan kami baik-baik saja.”

Video itu diunggah.

Dan dalam waktu satu jam—

Viral.

Bukan karena sensasi.

Tapi karena ketenangan mereka.

Di Jakarta, Adrian menonton video itu berulang kali.

Nadira tersenyum haru.

“Mereka tidak minta apa-apa.”

Adrian mengangguk pelan.

“Mereka tidak mengejar nama.”

Ia menatap layar lebih lama.

“Mereka menjaga martabatnya.”

Dan untuk pertama kalinya—

Ia merasa bukan hanya menemukan cucu.

Tapi menemukan penerus yang tidak serakah.

Namun—

Di sudut lain keluarga besar Alveros,

Seseorang menonton video yang sama dengan ekspresi berbeda.

Tidak bangga.

Tidak terharu.

Tapi terancam.

Dan ancaman itu…

Tidak akan diam lama.

---

Video itu bukan cuma viral.

Video itu memecah dua kubu.

Di kantor pusat Alveros Group, grafik saham memang naik. Media menyebutnya “Fenomena Tiga Bocah Jenius Pewaris Alveros.”

Tapi di ruang makan besar rumah keluarga utama—

Suasana jauh dari kata hangat.

Rafael Alveros, keponakan Adrian yang selama ini digadang-gadang sebagai calon penerus lini investasi, meletakkan tablet dengan keras.

“Ini lelucon.”

Ibunya, tante jauh Arka, menyilangkan tangan.

“Anak lima tahun dijadikan simbol perusahaan?”

Adrian duduk di ujung meja, wajahnya datar.

“Mereka tidak minta itu.”

Rafael mendengus.

“Tapi pasar sudah membentuk opini. Investor bicara soal ‘generasi baru’. Itu ancaman langsung ke struktur warisan.”

Arka berdiri di samping ayahnya.

“Ancaman buat siapa?”

Tatapan Rafael tajam.

“Buat orang-orang yang sudah bertahun-tahun dipersiapkan.”

Arka tersenyum tipis, dingin.

“Kalau kompetensi kalian kuat, kenapa takut sama anak lima tahun?”

Sunyi.

Beberapa anggota keluarga terlihat tidak nyaman.

Adrian akhirnya bicara.

“Yang takut biasanya yang merasa tidak cukup.”

Kalimat itu seperti palu.

Rafael mengepalkan tangan.

“Ini bukan soal takut. Ini soal stabilitas.”

Adrian menatapnya lama.

“Stabilitas dibangun dari kemampuan. Bukan urutan lahir.”

---

Sementara itu—

Di kota kecil, café mulai lebih ramai dari biasanya.

Bukan cuma pelanggan biasa.

Ada yang datang cuma buat lihat.

Ada yang pura-pura pesan, tapi sibuk merekam.

Aruna mulai membatasi jam buka.

“Kita nggak perlu ramai begini,” katanya pelan.

Arven mengangguk.

“Traffic online naik lagi.”

“Negatif atau positif?” tanya Arkana.

“Campur.”

Arsha duduk sambil menggambar.

“Ada yang bilang kita cuma pencitraan.”

Arkana menoleh.

“Biasa.”

Aruna memperhatikan mereka.

Yang bikin hatinya berat bukan komentar orang.

Tapi fakta bahwa anak-anaknya harus membaca itu.

Arka datang sore itu dengan wajah serius.

“Ada yang kirim email ke kantor pusat.”

“Apa?” tanya Aruna.

“Permintaan audit informal. Katanya ingin memastikan tidak ada pengalihan dana perusahaan ke café ini.”

Aruna terdiam beberapa detik.

“Kita nggak pernah minta apa-apa.”

“Aku tau.”

Arven berdiri.

“Berarti ada yang mau cari celah.”

Arkana membuka laptop.

“Aku cek alamat IP komentar negatif. Banyak yang terhubung ke satu sumber.”

Arka menatapnya.

“Kamu bisa lacak?”

Arkana mengangguk kecil.

“Minimal pola.”

Beberapa menit sunyi.

Lalu Arkana mengangkat wajah.

“Ini bukan random.”

“Siapa?” tanya Arven.

Arkana memutar layar.

Nama perusahaan konsultan media muncul.

Perusahaan itu…

Dimiliki Rafael.

Arven tersenyum tipis.

“Ketauan.”

Aruna menutup mata sebentar.

“Jangan balas.”

Arka menatapnya.

“Kamu mau diam?”

Aruna mengangguk.

“Kalau kita melawan, kita masuk permainan mereka.”

Arven terlihat tidak puas.

“Tapi mereka mulai duluan.”

Arka berlutut di depan mereka.

“Dengerin Papa.”

Nada suaranya lembut tapi tegas.

“Dunia bisnis itu kejam. Tapi bukan berarti kita harus jadi sama.”

Arkana menatapnya lurus.

“Kalau mereka ganggu Mama?”

Arka tidak ragu.

“Baru aku bergerak.”

Sunyi.

Arsha berdiri pelan dan mendekat ke Arka.

“Papa.”

“Iya?”

“Kita nggak mau perang.”

Arka tersenyum kecil.

“Papa juga nggak.”

Arven masih terlihat berpikir.

“Kita bikin lebih baik aja.”

“Maksudnya?” tanya Aruna.

Arkana tersenyum tipis.

“Kita bikin program literasi anak gratis tiap minggu di café.”

Arsha langsung semangat.

“Aku ajarin desain!”

Arven menambahkan,

“Aku ajarin dasar coding.”

Aruna tertegun.

“Kalian yakin?”

Arven mengangguk.

“Kalau nama itu mau nempel, kita pakai buat hal baik.”

Arka menatap mereka dengan perasaan campur aduk.

Bangga.

Takut.

Takjub.

Anak-anak ini bukan cuma pintar.

Mereka punya arah.

---

Di Jakarta, Adrian menerima laporan baru.

“Pak, alih-alih meredam isu, tiga anak itu justru menaikkan citra perusahaan.”

Adrian tersenyum tipis.

“Bagaimana?”

“Publik melihat keluarga Alveros sebagai dinamis. Modern. Tidak menutup darah sendiri.”

Nadira tersenyum lembut.

“Mereka bahkan bikin program edukasi kecil.”

Adrian menatap layar berita yang menampilkan foto anak-anak di café, duduk melingkar bersama anak-anak kota kecil lainnya.

Tanpa logo besar.

Tanpa sorotan berlebihan.

Murni.

Rafael masuk ke ruangan tanpa permisi.

“Om, ini makin liar.”

Adrian menatapnya.

“Yang liar itu rasa takutmu.”

Rafael mengepalkan tangan.

“Kalau nanti mereka masuk ke perusahaan—”

Adrian memotong tegas.

“Kalau nanti mereka masuk, itu karena mereka layak.”

Sunyi.

“Dan kalau kamu merasa terancam oleh anak lima tahun…”

Adrian mencondongkan badan sedikit.

“…maka kamu belum siap memimpin apa pun.”

Rafael terdiam.

Di kota kecil—

Malam turun perlahan.

Aruna duduk di teras café.

Arka duduk di sampingnya.

“Kamu tenang?” tanya Arka pelan.

Aruna mengangguk pelan.

“Mereka kuat.”

Arka tersenyum tipis.

“Mereka keras kepala.”

“Turunan siapa?”

Arka terkekeh kecil.

Sunyi sebentar.

“Ka,” ujar Aruna pelan.

“Kalau suatu hari mereka benar-benar ditarik ke dunia kamu…”

Arka menoleh.

“Aku pastikan itu pilihan mereka. Bukan tekanan.”

Aruna mengangguk.

Di dalam café—

Arven sedang menjelaskan sesuatu ke Arkana.

Arsha tertawa kecil sambil menggambar logo baru.

Cahaya lampu hangat menyinari mereka.

Dan untuk pertama kalinya—

Nama besar itu bukan ancaman.

Bukan juga tujuan.

Hanya latar belakang.

Yang menentukan arah tetap tiga anak kecil itu sendiri.

Namun di sudut lain kota—

Seseorang menatap café dari dalam mobil gelap.

Bukan media.

Bukan keluarga.

Tatapannya berbeda.

Lebih dingin.

Lebih penuh hitungan.

Dan kali ini—

Permainannya mungkin tidak lagi sekadar opini.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!